Demi mendapatkan uang untuk membiayai pengobatan Adiknya, Savana rela menerima pekerjaannya sebagai bodyguardnya untuk menjaga seorang putri kerajaan di sebuah negara.
Bukan hanya menjadi bodyguardnya putrinya kerajaan itu, ia juga dipinta oleh nenek dari cucunya itu untuk menikah kontrak selama satu tahun dengan putranya yang bernama princes Malik yang sudah berstatus duda itu. Savana harus bertahan menjadi istri princes Malik hingga princes Malik bisa menemukan wanita yang akan menjadi ibu dari putrinya untuk selamanya.
Bagaimana kisah hidup perawan dan duda itu saat hidup bersama dalam membesarkan dan menjaga putrinya Raniah? adakah cinta tumbuh diantara mereka atau pernikahan itu berakhir sesuai masa kontraknya? simak cerita ini sampai selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sindya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Pidato Alma
Kedua pria dengan stelan jas rapi memperkenalkan diri mereka kepada Alma yang bersiap-siap ingin mendorong pintu itu agar menghindari diri dari hal yang tak terduga.
"Maaf nona...! Kami dari maskapai penerbangan ingin menyampaikan kepada anda bahwa kakak anda yang bernama Savana Kasandra Rayan Syah saat ini menjadi salah satu korban tewas dari kecelakaan pesawat penerbangan jurusan Amman Yordania- New York Amerika," ucap salah satu pria itu yang mengaku salah satu petugas bandara.
Deggggg....
"Tidak. Itu tidak mungkin..!" sentak Alma sambil memegang dadanya karena sangat syok.
"Anda bisa ikut kami ke bandara, nona Alma..!" tawar pria itu namun Alma masih terpaku di tempatnya berdiri dengan tangan menahan gagang pintu agar tubuhnya tidak mudah jatuh.
"Jangan dengarkan mereka Alma...! Mereka hanya seorang pembual," cegah Sharon yang baru tiba di unit kamar apartemennya Alma.
Keduanya menengok ke arah Sharon. Sharon memberi isyarat pada Alma agar gadis itu segera menutup pintu rumahnya. Alma menuruti permintaan Sharon. Kedua lelaki itu saling menatap lalu menyerang Sharon karena mereka gagal menculik Alma.
"Serang dia...!" titah salah satu pria itu pada rekannya.
Sharon memasang kuda-kuda untuk menyerang lawan. Perkelahian tidak terelakkan oleh ketiganya. Saling pukul dan tendang berlangsung sengit.
Alma menghubungi petugas keamanan apartemen untuk menangkap kedua pria asing yang diduga suruhan anak buahnya pihak istana entah itu siapa.
"Pak. Segera ke unit kamar 720 karena saat ini ada dua orang penyusup yang ingin melakukan kejahatan pada saya dan keduanya sedang berkelahi dengan kakak saya," ucap Alma buru-buru.
"Baik nona. Rekanku akan menuju ke atas," ucap salah satu penjaga di pos keamanan.
Dibandingkan dengan kekuatan Sharon dua pria yang menyerang Sharon ini tidak ada apa-apanya membuat Sharon bisa melumpuhkan keduanya dengan mudah dan cepat. Tidak lama muncul empat orang petugas keamanan apartemen. Keduanya diringkus oleh petugas keamanan apartemen itu.
"Tunggu...! Aku mau tahu siapa yang telah mengutus kalian untuk membawa pergi nona Alma?" tanya Sharon sambil menatap keduanya.
Belum sempat keduanya menjawab pertanyaan Sharon, keduanya di tembak dari jarak jauh oleh seseorang yang menutupi wajahnya dengan masker dan kacamata membuat keduanya langsung meregang nyawa.
"Kejar orang itu...!" pekik petugas keamanan pada rekannya.
Penembak itu langsung menuju ke lantai atas di mana helikopternya sedang menunggu. Ketika petugas keamanan apartemen tiba di atas atap apartemen, helikopter itu sudah langsung menjauh.
"Sial....! Bagaimana kita bisa ceroboh menjaga apartemen ini hingga kejahatan bisa terjadi di dalam sini," umpat salah satu petugas apartemen.
"Sepertinya nona Alma sedang dalam bahaya. Tapi mengapa mereka mengejar gadis itu?" tanya petugas keamanan itu.
"Entahlah. Sebaiknya kita tidak usah ikut campur lebih jauh urusan orang lain. Yang penting nona Alma dan tamunya baik-baik saja saat ini," ujar rekannya sesama petugas keamanan apartemen Alma.
Mereka berpamitan pada Sharon yang masih terlihat syok dengan kejadian barusan. Ia memikirkan bagaimana dengan keadaan Savana di hotel sana.
"Sebaiknya aku memberi kabar pada Savana untuk berhati-hati karena bisa jadi dirinya juga sedang diincar saat ini," gumam Sharon mengirim pesan singkat buat Savana.
Sharon mengetuk pintu kamar Alma dan gadis itu membuka perlahan pintu itu dengan wajah masih terlihat pucat. Sebenarnya Alma juga memiliki ilmu bela diri. Hanya saja saat ini kondisi tubuhnya belum seratus persen kuat usai menjalani transplantasi ginjal beberapa bulan yang lalu.
"Sudah aman Alma," ucap Sharon dan Alma langsung membuka pintu itu dan menghamburkan tubuhnya dalam pelukan Sharon.
"Aku akan menjagamu. Mereka tidak akan berani menyentuhmu. Apakah aku boleh menginap di sini?" tanya Sharon yang merasa Alma belum aman.
"Iya kak. Tapi kakak tidurnya di ruang tamu ya," pinta Alma karena dua pelayannya kebetulan sedang berlibur saat mengetahui Savana akan datang.
"Tidak masalah bagiku," ucap Sharon.
Keduanya kembali ke dalam apartemen. Sharon duduk di meja makan bersama Alma yang terlihat sangat sedih. Keduanya memilih makan malam sendiri tanpa kehadiran Savana.
"Jadi kak Savana tidak bisa datang karena alasan keamanan ya?" tanya Alma sambil menangis.
"Begitulah."
"Jadi kabar pesawat kak Savana jatuh tidak benar?" tanya Alma.
"Pesawat itu kehilangan kontak. Belum tahu jatuh atau tidak. Dan Savana tidak ada di dalam pesawat itu karena dia tidak jadi berangkat ke New York," ucap Sharon.
"Alhamdulillah. Aku tidak apa wisuda sendiri. Asalkan kak Savana tidak mengalami hal buruk," imbuh Savana yang mulai memaklumi keadaan kakaknya yang tidak disukai oleh pihak kerajaan.
"Masih ada aku yang bisa mendampingi kamu wisuda besok. Yang penting kamu sudah membuat kakak kamu bangga padamu," ucap Sharon membesarkan hati Alma.
Alma mengangguk lemah. Keduanya menghabiskan makan malam mereka dan ngobrol apa saja hingga keduanya memutuskan untuk istirahat.
"Selamat malam Alma..! Semoga mimpi indah," ucap Sharon lalu merebahkan tubuhnya di sofa dengan bantal dan selimut yang sudah disiapkan Alma untuk pria tampan itu.
Keesokan paginya, Alma sudah berhias diri di depan cermin. Wajahnya terlihat sangat cantik. Ia mengenakan dress yang dibelikan Savana beberapa bulan yang lalu untuk hari bahagianya itu.
Bobot tubuh Alma yang kembali lagi normal sebelum ia jatuh sakit beberapa tahun yang lalu. Sekarang ia tinggal mengenakan baju toganya. Alma keluar menemui Sharon yang juga sudah tampil rapi dengan tuxedo bewarna hitam.
"Wah...! Kamu cantik sekali Alma!" puji Sharon membuat Alma tersipu.
"Terimakasih kak. Apakah kita akan berangkat sekarang?" tanya Alma.
"Ok. Silahkan tuan putri Salma Elfira..!" ucap Sharon sambil melebarkan tangannya memberikan jalan pada Alma ala pelayan putri raja.
"Yang ratu kerajaan itu kakakku Savana, bukan aku kak," ucap Alma sambil terkekeh.
Keduanya sudah berada di dalam mobil menuju kampus. Sementara Savana baru saja berangkat dari hotel menggunakan mobil hotel yang di antar sendiri oleh petugas hotel.
Savana mengenakan dress berwarna senada dengan Alma yaitu coklat gold bagian hitam berbentuk selempang dari pundak mencapai pinggangnya yang ramping. Hijabnya di bentuk cantik menjuntai indah menutupi dadanya hingga tidak memperlihatkan asetnya yang mengundang mata lelaki menatapnya nanti.
Di dalam gedung acara sudah dibuka oleh pemimpin sidang yaitu bapak rektor universitas tempat Alma menempuh pendidikannya selama dua tahun.
Sesaat kemudian, pembacaan peserta mahasiswa berprestasi dengan nilai summa cumlaude yang salah satu pesertanya adalah Salma Elfira Rayan Syah.
Salman diminta untuk memberikan pidatonya di hadapan rektor dan jajarannya dan teman wisudawan wisudawati serta tamu undangan lainnya diantaranya para wali dari wisuda tersebut.
Alma menatap semua yang hadir sesaat lalu membuka kertas pidato yang sudah ia siapkan beberapa hari yang lalu untuk ia baca saat ini.
"Sebagai seorang muslim ijinkan saya mengucapkan salam kepada saudara saya yang mungkin beragama Islam dengan saya. Assalamualaikum. Selamat pagi untuk semuanya..!
Hari ini saya tidak didampingi siapapun kecuali sahabat terbaik kakak saya. Kedua orangtuaku telah tiada dan yang tersisa adalah kakak Perempuanku yang selama ini mencurahkan semua hidupnya hanya untukku.
Bahkan aku tidak tahu penderitaan apa saja yang telah ia lalui demi berjuang mempertahankan hidupku yang hampir dijemput ajal beberapa bulan yang lalu.
Kakakku. Aku sudah sarjana. Hanya ini yang bisa aku persembahkan untukmu. Prestasiku yang kuraih tidak seberapa dibandingkan dengan perjuangan yang penuh cinta untukku, bahkan nyawamu akan kau berikan demi aku...hiks...hiks..! Dalam sakit aku terus berdoa. Walaupun tubuhku tidak bisa melakukan apapun, namun aku berharap doaku menembus pintu langit."
Salma diam sesaat lalu memalingkan wajahnya karena tidak kuasa menahan tangisnya yang akan pecah jika dia terus bersuara.
Tanpa di sadari Alma, Savana mendengarkan semuanya sambil menahan tangisnya.
"Sayang kuh...!" jerit Savana berderai air mata.
semoga Mak Mak rempong itu sholat tarawih nya khusuk,,GK kepikiran ma pangeran Malik 😂🤭