Setelah berhasil membantu kerabat Selo mengalahkan Arya Penangsang, Ki Wirojoyo seorang jagoan dari kerabat Selo hendak pulang untuk memboyong keluarganya pindah ke Alas Mentaok bersama kerabat Selo lainnya. Namun ketika sedang bersiap untuk pindah, rumahnya didatangi oleh kelompok Kelelawar Hitam yang hendak membantai Ki Wirojoyo beserta keluarganya. Ki Wirojoyo berusaha mempertahankan dirinya namun ia kalah kemudian terbunuh oleh pemimpin Kelelawar Hitam yang bernama adalah Ki Rono Tikusilo.
Putra Ki Wirojoyo yang bernama Surodipo berhasil diselamatkan oleh Ki Suryo Alam, seorang pertapa sakti dan aneh dari Gunung Sindoro dan diangkat murid olehnya. Setelah menurunkan seluruh ilmunya Ki Suryo Ngalam pun memerintahkan agar Surodipo untuk mengabdi di Mataram sebagai pemenuhan janjinya pada Ki Pemanahan karena ia sahabat Ki Pemanahan dan pernah berjanji untuk menggembleng seorang murid untuk menjadi abdi Mataram, dan menumpas Ki Rono Tikusilo yang ternyata adalah mantan muridnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fariz Pradipta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30 – Amanat Sang Guru (3)
“Kekuatan apa guru?” tanya Surodipo yang sangat penasaran, karena dulu dari Almarhum ayahnya ia mendengar cerita bahwa Sunan Giri Prapen pernah mengeluarkan satu Wiryatuya bahwa kelak di Mataram akan terbit matahari perkasa yang bersinar sangat terang, bahkan sinarnya akan meredupkan matarahri di Pajang dan akan bersinar terik ke seluruh tanah Jawa.
“Wibawa…” jawab Kyai Suryo Alam dengan menyiratkan penuh kebanggaan. “Pengaruh dan kecerdesaan yang memancar dari wajah Angger Senopati. Putra Sulung Adi Pemanahan.” lanjut Kyai Suryo.
Orang tua ini kemudian meneguk Wedang yang dibuatkan muridnya, kemudian melanjutkan ceritanya. “Aku tidak mengatakan bahwa pemerintahan Pajang telah kehilangan kewibawaannya. Atau wahyu keraton seolah-olah mau pindah ke Mataram. Sama sekali tidak… Tapi kalau kekuatan yang tersembunyi tadi sudah mulai muncul, maka bukan tidak mungkin semua Adipati dan Demang yang ada di bumi Pajang ini bisa berpaling ke Mataram. Jika hal itu terjadi, peperangan pasti tidak bisa dihindarkan… Ini memang sulit… Tapi itulah tugasmu untuk selalu membela Mataram dari siapapun yang mengganggu Mataram.”
Surodipo mengangguk takzim pada perintah gurunya tersebut. “Tapi kuharap tidak akan terjadi apa-apa… Sebab sekecil apapun peperangan itu, selalu akan menyengsarakan rakyat.” pungkas Kyai Suryo.
Orang tua sakti penunggu puncak Gunung Sindoro ini kemudian meneguk lagi Wedangnya sampai habis, dalam hatinya ia terharu sekali karena mungkin kali inilah ia bisa menikmati wedang buatan muridnya dan melihat sosok muridnya yang tampan lagi gagah tersebut.Setelah menghela nafas, kemudian ia mengambil peti yang berisi Keris Kyai Guntur Geni dan mengajak Surodipo keluar.
“Angger Surodipo, coba kau lemparkan batu itu ke atas!” perintah Kyai Suryo sambil menunjuk sebongkah batu raksasa sebesar pelukan dua orang dewasa.
Surodipo mengangguk, kemudian dengan tenaga dalamnya ia lemparkan batu raksasa tersebut ke angkasa. Kyai Suryo langsung menghunus Keris Kyai Guntur Geni dan menyabetkannya ke udara, sebuah petir raksasa berwarna biru yang teramat panas keluar dari keris dan menyambar batu raksasa tersebut! Blaarrr!!!
Batu Raksasa itu hancur, dan luar biasanya, kepingan atau serpihan batu tersebut terus hancur sampai menjadi abu! Itulah kehebatan Keris Kyai Guntur Geni yang dapat mengahncurkan suatu benda secara terus-menerus sampai menjadi abu! Surodipo terkesima melihat kehebatan Keris pusaka milik gurunya tersebut. Pantaslah Rono
Tikusilo sangat bernafsu menginginkan keris pusaka tersebut!
“Nah Surodipo muridku… Ambilah keris ini sebagai ageman dan piyandel untuk menjalankan tugasmu. Tapi ingatlah untuk tidak sembarangan menggunakannya karena seperti yang kau lihat tadi bagaimana berbahayanya keris ini. Kau baru boleh menggunakannya jika nyawamu benar-benar dalam bahaya atau terdesak!” ucap Kyai Suryo sambil memberikan Keris Pusaka Kyai Guntur Geni setelah menyarungkannya ke dalam warangkanya yang terbuat dari kayu Cendana Wangi yang sangat tua.
Surodipo pun berlutut dan menerimanya. “Ingatlah juga bahwa salah satu syarat untuk dapat memiliki keris ini adalah memiliki ajian Rajah Penyangga Langit yang berinti es atau berhawa dingin, karena Keris ini berhawa sangat panas. Jadi tidak sembarangan orang yang dapat memilikinya… Kau pun harus berhati-hati dan harus getol untuk berpuasa dan bertirakat agar hawa panas dari keris ini tidak menguasaimu!”
“Baik guru….” jawab Surodipo. Dalam hatinya, sang murid berpikir bahwa nama gelar pada Keris Kanjeng Kyai Guntur Geni ini sangat ironis, paradoks, sangat berlawanan dengan bentuk dapurnya.
Bagaimana tidak? Keris ini bergelar Kanjeng Kyai Guntur Geni, namun dapurnya bernama Sempono Bungkem luk tujuh dengan pamor ceprit ngintip khas Mojopahit. Dapur keris yang filosofinya adalah untuk membungkam lawan dengan cara sang pemilik tidak terlalu banyak bicara hal yang tidak penting namun ketika berbicara harus mengandung kepastian berdasarkan ilmu pengetahuan yang bisa dipertanggung jawabkan sehingga ia akan mampu membungkam lawan bicaranya. Di lain pihak, gelarnya adalah Guntur Geni, yang pada waktu itu adalah sebutan untuk meriam bagi orang Jawa.
“Dan ambilah ini juga…” Kyai Suryo memberikan sebuah seruling bambu pada Surodipo. “Seruling itu milik Rono Tikusilo yang dia tinggalkan di dekat mayat ayahmu setelah ayahmu meninggal. Kelak saat kau bertemu dengan Rono, kembalikanlah seruling ini pada saat yang kau anggap tepat kepadanya.”
“Baik Guru….” jawab Surodipo sambil menerima seruling bambu tersebut dengan perasaan aneh, karena selama ini dia sering memainkan seruling tersebut tanpa mengetahui bahwa ternyata itu adalah seruling milik Ki Rono!
“Nah sekarang berangkatlah ke Mataram, sampaikan juga salamku pada Ki Juru Mertani dan Angger Senopati!” ucap Kyai Suryo yang tiba-tiba berubah menjadi lemas, wajahnya nampak sangat pucat.
Surodipo terkejut melihat wajah gurunya yang nampak sangat pucat dan lemah tersebut. "Guru..." ucap Surodipo sambil menangkap tubuh gurunya yang tiba-tiba nyaris ambruk jika tidak ditangkap oleh Surodipi.
"Aku hanya sangat letih muridku, sepertinya telah tiba waktunya bagiku untuk beristirahat...Aku lega karena telah menemukan dan menggembleng pebggantiku, aku lega telah menyelesaikan tugasku." Ucap Kyai Suryo.
"Guru..." lirih Surodipo.
"Waktunya sudah tiba... Aku yang tua ini akan mengalah, mengikhlaskan tempatku di dunia fana ini untuk yang lebih muda..." pungkas Kyai Suryo dengan lemas yang kemudian ia tutup dengan ucapan dua kalimat syahadat sambil dibimbing oleh Surodipo. Setelah itu Surodipo pun menguburkan jenasah Sang Kyai di samping gubuknya yang sederhana.
***
Kereta cokelat yang diatarik oleh dua ekor kuda yang dikawal sekiat enam orang pria berkuda tersebut melaju dengan cepatnya melintasi lembah bukit karang di perbukitan Menoreh, keadaan tempat yang senantiasa selalu ditutupi oleh debu dari karang yang tertiup angin itu memang sangat sepi lagi menyeramkan, karena jarang dilewati oleh manusia.
Enam pengawal terpercaya mengawal kereta ini, dua didepan, dua disamping masing-masing satu di kiri-kanan, dua dibelakang, mereka semua memasang kewaspadaan tinggi karena harus melintasi lembah tersebut dengan cepat namun dengan berhati-hati pula. Dilihat dari bentuk serta jenis kereta kuda tersebut, nampaklah mereka adalah seorang pedagang bersama keluarganya yang dikawal oleh para pendekar bayaran.
Debu menggebubu sepanjang jalan yang mereka lalui. Setelah sekitar dua jam perjalanan meninggalkan wilayah Mataram jalan yang ditempuh mulai banyak lobang-lobang dan batu-batunya. Kusir memperlambat jalan kereta terutama ketika melewati satu pengkolan tajam. Selewatnya sebuah penurunan jalan yang mereka lalui baik kembali dan menyusuri tepi sebuah kali kecil berair jernih.
Pengawal di depan sebelah kanan melambaikan tangan memberi tanda berhenti. Ketika kereta itu berhenti maka tersibaklah tirai jendela dan sebuah kepala berparas jelita remaja yang berkulit sawo matang munculkan diri ke luar.
“Ada apa berhenti?” Suara gadis ini bertanya begitu merdu.
Kepala pengawal menjura sedikit dan menjawab, “Kuda-kuda kita perlu diberi minum, Den Ayu…”
Si gadis belia berkata pada seseorang didalam kereta, “Katanya kita beristirahat sebentar untuk memberi minum kuda-kuda kita Romo.”
Dari dalam kereta terdengarlah suara seorang pria yang dari suaranya dapat ditaksir bahwa ia adalah seorang pria paruh baya yang berbadan cukup tambun. “Baiklah Cempluk, kita memang sudah berjalan cukup jauh. Tapi kita
juga harus cepat karena jalan pintas menuju Pajang ini jarang dilalui oleh manusia!”
Gadis yang bernama Cempluk Ayu itu terdiam sejenak lalu mengangguk dengan hati diliputi perasaan tidak enak. Memang mereka terpaksa melewati wilayah yang oleh orang-orang disebut sebagai daerah “Karang Hantu” saking angker dan berbahayanya karena mereka harus cepat kembali ke Kademangan Wonggo setelah kemarin kemalaman di daerah Watu Galuh.
Gadis manis nan ayu ini menutupkan tirai jendela kembali setelah menganggukan kepalanya pada si kepala pengawal. Kusir turun dari kereta dan membawa kedua ekor kuda coklat ke tepi kali. Delapan ekor binatang itu kemudian seperti berebutan memasukkan mulutnya ke datam air kali yang bening sejuk.
Beberapa waktu berlalu maka rombongan bersiap-siap untuk melanjutkan kembali. Namun belum lagi kusir naik ke atas kereta sepuluh orang penunggang kuda muncul di tempat itu. Badan tegap-tegap dan muka mereka tak dapat dikenali karena kepala masing-masing tertutup dengan kerudung kain hitam yang dilubangi di bagian matanya “Perjalanan kalian hanya sampai di sini!” kata penunggang kuda paling depan. Suaranya berat dan parau, disertai dengan tenaga dalam sehingga tak mungkin untuk mengenali suaranya yang asli.
jin gak ngaruh Thor
bagi umat islam
matur nuwun 🙏🌷
penggabungan sejarah dan drama nya mantap sekali