"Siapa bilang Mutiara selalu indah berkilau?
Tidak, aku menggeleng. Mutiara yang kumiliki menyakitkan. Bahkan dalam keadaan tak tersentuh sekalipun. Apalagi seandainya bila aku menyentuhnya? Pasti kilauannya membuat kedua mataku buta." Jimmy~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyataan sebenarnya
Melihat raut wajah Mutia yang malah justru gelisah dan tak kunjung menerima lamarannya, membuat Frans kembali berdiri.
"Kamu kenapa? Kenapa setiap kali aku mengajakmu ke jenjang yang lebih serius, respon kamu selalu seperti ini? Apa kurang romantis? Kurang bagus? Kurang mewah? Apa yang kurang hmm?"
Mutia menggeleng.
"Apa kita akan terus seperti ini, sampai kapan kamu menggantungku Mut?"
"Aku belum bisa Frans, tolong sabar menungguku sebentar lagi..."
"Iya, tapi kenapa? Karena Papa? Itu yang selalu kamu katakan?"
Frans menggenggam tangan Mutia. "Aku tulus sama kamu Mut, aku cinta dan sayang sama kamu. Aku ingin kita hidup berdua, membangun keluarga kecil, hidup dalam rumah yang sama. Aku lelah jika harus terus sembunyi-sembunyi. Aku kurang apa Mut? Biar aku perbaiki. Keluargaku juga sudah sangat sayang sama kamu. Mereka memanjakanmu, menganggapmu sama seperti aku, seperti anaknya sendiri..."
"Kita menikah ya?" Frans memohon sekali lagi.
Mutia langsung memeluk Frans dan menumpahkan air matanya disana. "Hiks...."
"Apa sebesar itu Papa menentang kita? Apa alasannya?" Aku benar-benar ingin tahu. Nggak apa-apa kamu jujur biarpun ini menyakitkan."
"Aku hanya minta kamu bersabar itu saja, aku janji secepatnya pasti aku kasih jawaban. Ya? Sabar sebentar lagi ok? ..."
"Aku mau kamu katakan iya, tapi sekarang. Apa begitu susah Mut?"
Mutia melepas pelukannya. "Nggak susah... tapi aku memang belum bisa."
"Apa aku perlu datang ke Papa kamu biar aku yang bicara baik-baik."
"Jangan!!" Jawab Mutia cepat. "Aku saja yang bicara sama Papa. Jangan kamu."
"Maksudku, aku ingin mencoba meyakinkan beliau Mut. Bahwa aku nggak main-main... aku nggak main-main..." ucap Frans meyakinkan.
"Iya aku percaya..."
Sedikit mendongak, Mutia menelisik bola mata indah yang berada di hadapannya, lalu keduanya terkunci dalam satu garis lurus. Entah sejak kapan kini wajah keduanya saling mendekat hingga terasa hembusan nafas yang menyapu wajah mereka, tak lama kemudian kedua bibir itu bertemu dan saling memagut.
***
Dug!
"Aduw!" Pekik Jimmy dan memegangi kepalanya dan menyalahkan pintu.
Ryan berdecak. "Yang salah itu orangnya, bukan pintunya dasar makhluk--"
"Ganteng!" potong Jimmy cepat.
"Untung realita, bukan isu belaka."
"Tumben kamu pulang, memangnya ada apa besok?" Ryan mengunci cafe keseluruhan. Kali ini didalam sana benar-benar kosong karena Edo juga pulang kerumah.
"Kangen keluarga lah Jim..."
"Kosong dong nggak ada yang nempatin selama dua hari ini."
"Hei Jim, dalam sebulan itu cafe ini hanya libur dua hari. Wajar kalau kita gunakan waktu sebaik-baiknya di rumah sama keluarga."
"Maksudnya aku sendirian gitu Yan, nggak ada temen..."
"Kamu ngajak aku berduaan terus, nanti orang-orang bisa curiga!"
"Namanya juga bespren."
"Pran pren pran pren, prentahanmu?"
"Hahaa..." Jimmy terbahak.
"Sudah, ayo antar aku sekalian!" titah Ryan.
"Okelah!" Jimmy mengantarkan Ryan pulang ke rumahnya terlebih dahulu sebelum ia juga pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah...
Jimmy langsung menuju ke dapur bertujuan melepas pakaiannya dan memasukkannya ke mesin cuci. Kebetulan teman-teman cuciannya sudah banyak. Hal ini biasa dilakukan saat malam, supaya paginya dia bisa langsung menjemur tanpa menunggu.
Prang!!
Ya ampun, suara apa itu? Jimmy membatin kemudian langsung mencari sumber suara. Dan suara itu ternyata berasal dari dalam kamar Mutia.
Tok tok tok! "Kamu kenapa Mut? Apa yang jatuh?"
"Bukan apa-apa!" seru Mutia dari dalam, kemudian pintu terbuka.
"Apa yang pecah?" Jimmy bertanya ulang.
Tapi Mutia menggeleng dengan menyembunyikan tangannya dibelakang. "Nggak pa-pa..."
"Sini, lihat kenapa tanganmu?"
"Hanya gelas, tadi aku mau minum terus nggak sengaja jatuh terus pecah. Aku mau ambil sapu dulu."
Tes tes, darah menetes di lantai.
"Tunggu disini!" titah Jimmy, lalu mengambilkan tisu dan plester.
"A-aku bisa pasang sendiri Mas, nggak usah!" tolak Mutia dan menahan tangan Jimmy saat meraih tangannya yang terluka.
"Nggak usah Mas, nggak usah."
"Diam!" tukas Jimmy meninggi.
Dengan telaten, Jimmy membersihkan luka itu dan menempelkan plester di jari jemarinya yang terluka.
"Sudah." ucap Jimmy.
"Kenapa kamu baik sama aku? Aku ini udah jahat banget sama kamu Mas.."
Jimmy tak menjawab.
"Kenapa Mas, kenapa kamu begitu baik sama aku? jawab!" pertanyaan Mutia terdengar menuntut.
Jimmy menatap kedua bola mata Mutia intens, sebelum akhirnya, dia menjawab pertanyaan itu.
"Karena aku cinta sama kamu."
Deg!
"Nggak mungkiiiin... hiks..."
Tubuh Mutia langsung meluruh ke lantai sambil membungkam bibirnya. Jawaban Jimmy begitu menyentak di relung hatinya.
Dia merasa dadanya yang begitu sesak terhimpit saat mendengar pernyataan cinta dari Jimmy. Mutia pikir, apa yang dilakukan Jimmy kepadanya selama ini dan bersedia menampungnya disini hanya sekedar rasa bertanggung jawab saja. Ya, hanya karena Papa. Tapi ternyata ... Jimmy mencintainya?
Apa dia tidak salah dengar? Bagaimana mungkin dia mencintai orang yang terus menerus menyakitinya? Bagaimana mungkin?
Nggak mungkin... apa sebegitu butanya dia sehingga tak bisa melihat cinta yang ada tepat di depan matanya? Kenapa Jimmy tak pernah mengatakannya? Kenapa?
thank author novelnya kereeeeen 👍👍👍
sukses terus yaa😊
tp sdh ada yg nyesek didada🙁
sayangya aku baru Nemu novel ini..Sukses terus Kaka othor 😍
tidak mau membahas masa lalu.
nyesek berada diposisi Jimmy😭