Satria Wira Pratama adalah Seorang pimpinan perusahaan besar yang terkenal dingin dan juga sangat kejam. Tiba-tiba menjadi tak berdaya menghadapi seorang OG yang super ceroboh. Melinda Permata Sari, seorang gadis yang berasal dari keluarga menengah kebawah memiliki tiga adik laki-laki yang super protektif terhadap kakak perempuan mereka.
Jarak usia keempatnya tidak terlalu jauh sehingga sering Linda (Panggilan Melinda ) dicap sebagai seorang play girl karena gonta ganti pasangan.
Kehidupan Linda yang biasa-biasa saja mulai berubah semenjak dia pindah bekerja di sebuah Perusahaan Adi Kuasa di Kota Metropilitan ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Sembilan
Usai berganti pakaian, akhirnya acara temu manten pun dilanjut kan. Satria yang berjalan bak seorang raja dengan langkah pelan, menuju pelaminan dimana Linda tengah duduk disana.
Ketika Satria sudah nampak dan pembawa acara mengucapkan beberapa kalimat dengan bahasa jawa dengan nada khas. Linda dibimbing untuk menyambut Satria.
Setelah keduanya berjarak sekitar lima meter. dari kedua belah pihak saling melemparkan daun sirih.
Tak lupa ditengah-tengah mereka sudah tertata rapi alat yang biasa dipakai kerbau. Disana juga sudah ada wadah dari kuningan berisi air dengan kembang setaman.
Tak lupa juga telur ayam kampung. Linda pun diarahkan untuk sujud agar nanti membasuh kaki suaminya yang telah menginjak telur ayam itu.
Setelah Satria menginjak telur ayam, dengan lembut Linda membasuh kaki Satria dengan air dari wadah kuningan itu.
Setelah itu, keduanya dibimbing untuk melakukan ritual adat lainnya. Termasuk Satria yang menuangkan uang recehan dengan beras sebagai simbol pemberian nafkah. Hingga acara yang ditunggu yaitu suap suapan.
Dengan malu-malu keduanya saling menyuapi satu sama lain. Dan karena Linda lapar maka dengan semangat dia menyendok kembali nasi di piring hingga semua tamu undangan tertawa melihat tingkah Linda.
"Nak! Kamu itu pengantin wanita. Yang anggun kenapa!" Bisik ibunya memperingatkan anak perempuannya.
Namun Linda cuek saja.
Satria pun tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya.
Cantik sih cantik. Kelakuannya itu...
Sedangkan ketiga adiknya yang tengah memakai beskap, duduk disamping bawah.
Menikmati tarian jawa, dan sesekali tertawa karena tingkah jenaka sang penari.
Bahkan dengan pedenya menunjukkan gigi palsu berwarna hitamnya kepada para tamu.
Sontak semua tamu tertawa terbahak-bahak melihat kekonyolannya.
Sepasang penari itu sukses membuat riuh acara pernikahan Linda. Dari jogetan lucunya, juga mereka yang main jodoh menjodohkan putri domas juga pager bagus nya.
Dengan memakaikan kaca mata hitam kepada salah satu putri domas paling cantik dan mengalungkan kain sampur kepada pager bagus yang paling tampan.
Kemeriahan pun berlangsung hingga sore hari. Hingga semua tamu undangan hadir pulang dan tempat itu menjadi sepi.
Linda dan Satria sudah berada di kamar pengantin untuk istirahat.
Keduanya sangat canggung.
Bagaimanapun bagi Linda, pernikahan ini tidak didasari dengan cinta. Jadi baginya, kemegahan ini terlalu berlebihan baginya.
Tanpa sepatah kata pun keluar dari mulut Linda.
Diluar kamar, sudah berjubel orang yang hendak menguping. Baik dari pintu maupun jendela.
Tidak tua maupun muda, semuanya penasaran dibuatnya.
Terdengar suara teriakan Linda.
Aaawwww
"Sakit? sini aku bantu. Makanya pelan-pelan jangan asal tarik aja."
"Addududuhhhhh niat g sih?" Terdengar suara Linda sedikit kesal
"Iya maaf, ini pertama kali bagi ku." Protes Satria.
"Kan darahnya banyak. Kamu sih nggak ati-ati... Emang kamu pikir aku juga udah pernah? Sama ini juga baru pertama..." Dengus kesal Linda.
Sedangkan yang berada di luar ruangan tengah cekikikan mendengar perbincangan pengantin baru di kamarnya.
"Gimana dong nihhh, mana keluar darah banyak banget lagi... Adduuuhhhh kan jadi berantakan." Linda sepertinya sangat kesal di dalam.
"Iya gimana dong? ada tissu nggak?" Tanya Satria.
"Itu tuh di meja rias ada."
"Sini biar aku yang lap. Naaahhh kan, sudah bersih. Nggak berlepotan lagi." Satria mengambil beberapa lembar tisu dan mengelap darah itu.
"Iiihh jorok amat sih asal banget buangnya."
"Trus mau dibuang dimana? Dikamarmu emang ada tempat sampahnya??"
"Adaa, biasa aku taruh di samping lemari."
"Udah kamu duduk aja, biar aku yang cari. Masih sakit kan?"
"Iya."
"Nah ini dia..."