Si Kecil yang Terbuang
Sejak lahir, Aluna Kirana dianggap sebagai pembawa kesialan hingga keluarganya tega membuangnya di tengah hujan. Beruntung, seorang nenek berhati mulia menemukannya dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang meski hidup dalam keterbatasan.
Bertahun-tahun kemudian, Aluna tumbuh menjadi gadis yang lembut, kuat, dan penuh ketulusan. Tanpa disadari, takdir membawanya kembali bertemu dengan keluarga yang pernah membuangnya. Di saat penyesalan mulai menghantui mereka, Aluna juga dipertemukan dengan Arsen Mahardika, seorang CEO muda yang perlahan mengubah jalan hidupnya.
Ketika rahasia masa lalu terungkap, mampukah Aluna memaafkan mereka yang telah meninggalkannya? Ataukah ia akan memilih orang-orang yang mencintainya tanpa syarat?
Sebuah kisah penuh haru tentang luka, pengorbanan, keluarga, dan cinta yang membuktikan bahwa seseorang tidak ditentukan oleh masa lalunya, melainkan oleh keteguhan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 - Perlombaan Menuju Kapel Tua
Pagi datang lebih cepat dari biasanya. Arsen sudah berada di rumah sakit sebelum matahari terbit. Ia memastikan kondisi Hendra kembali stabil sebelum berangkat.
Dokter mengatakan Hendra masih harus menjalani perawatan beberapa hari.
"Jangan khawatir," kata dokter. "Untuk sementara kondisinya sudah melewati masa kritis."
Mendengar itu, Aluna akhirnya bisa bernapas lega.
Ia menghampiri Hendra yang masih terbaring lemah.
"Pak Hendra, saya akan menemukan buku harian itu."
Hendra mengangguk pelan.
"Hati-hati... Victor pasti sudah mengetahui semuanya."
Arsen yang berdiri di samping tempat tidur ikut mengangguk.
"Kami akan menjaganya."
Tak lama kemudian, Arsen, Aluna, Ratih, Rangga, dan Tiara berangkat menuju Desa Harapan.
Perjalanan memakan waktu hampir tiga jam.
Sepanjang jalan, Aluna memandang keluar jendela mobil. Desa-desa kecil dan hamparan sawah berganti dengan hutan yang lebat.
"Apakah Ibu pernah datang ke tempat ini?" tanyanya pelan.
Tiara mengangguk.
"Dulu Clara sering berdoa di kapel itu."
Aluna menundukkan kepala.
Semakin dekat dengan kebenaran, semakin kuat keinginannya untuk mengetahui seperti apa sosok ibu kandungnya.
Sementara itu, di tempat lain, Victor juga sudah menerima laporan dari anak buahnya.
"Tuan, mereka sedang menuju Desa Harapan."
Victor tersenyum tipis.
"Bagus."
"Apakah kita langsung mengambil buku harian itu?"
Victor menggeleng.
"Biarkan mereka menemukannya lebih dulu."
Anak buahnya tampak bingung.
"Kenapa, Tuan?"
Victor menatap layar ponselnya.
"Karena aku ingin memastikan semua orang yang mengetahui rahasia itu berkumpul di satu tempat."
Senyumnya membuat anak buahnya merinding.
Menjelang siang, rombongan Arsen akhirnya tiba di depan sebuah kapel tua yang sudah lama tidak digunakan.
Bangunannya terlihat sederhana.
Dindingnya dipenuhi lumut, sementara beberapa bagian atap mulai rusak dimakan usia.
"Apakah ini tempatnya?" tanya Aluna.
Hendra yang memberikan petunjuk tidak mungkin salah.
Arsen membuka pintu kayu kapel yang sudah berderit.
Ruangan di dalam terasa sejuk dan sunyi.
Sebuah altar tua masih berdiri di bagian depan.
"Rangga, periksa sekitar."
"Baik, Pak."
Mereka mulai mencari dengan hati-hati.
Beberapa menit kemudian, Rangga menemukan sebuah papan kayu yang tampak berbeda di bawah altar.
"Pak Arsen!"
Arsen segera menghampiri.
Mereka mengangkat papan tersebut dan menemukan sebuah kotak kayu kecil yang tertutup debu tebal.
Aluna menahan napas.
"Inikah..."
Arsen membuka kotak itu perlahan.
Di dalamnya terdapat sebuah buku harian berwarna cokelat yang sudah mulai usang.
Selain itu, ada sebuah surat yang masih tersegel.
Aluna menggenggam buku itu dengan tangan gemetar.
"Ini tulisan Ibu?"
Tiara melihat halaman pertama, lalu mengangguk sambil menitikkan air mata.
"Ya... ini tulisan Clara."
Air mata Aluna langsung jatuh.
Setelah bertahun-tahun hidup tanpa mengetahui asal-usulnya, akhirnya ia memegang sesuatu yang benar-benar berasal dari ibu kandungnya.
Namun, sebelum buku itu sempat dibuka, suara tepuk tangan terdengar dari arah pintu kapel.
"Selamat."
Semua orang menoleh bersamaan.
Victor berdiri di ambang pintu bersama belasan anak buahnya.
Di belakang mereka, beberapa mobil hitam memenuhi halaman kapel.
Victor tersenyum puas.
"Aku sudah menunggu momen ini."
Arsen segera berdiri di depan Aluna.
"Kau memang sengaja membiarkan kami menemukan buku itu."
Victor mengangguk.
"Tentu."
"Karena lebih mudah merebutnya daripada mencarinya."
Anak buah Victor mulai mengepung seluruh ruangan.
Rangga dan para pengawal Arsen bersiap menghadapi mereka.
Victor menatap Aluna tanpa berkedip.
"Serahkan buku harian itu."
Aluna menggeleng tegas.
"Tidak akan."
Victor tersenyum dingin.
"Kalau begitu..."
Ia mengangkat tangannya sebagai isyarat.
Belasan anak buahnya langsung bergerak maju.
Kapel tua yang selama bertahun-tahun sunyi mendadak berubah menjadi medan pertempuran.
Di tengah kekacauan itu, Aluna memeluk erat buku harian milik ibunya.
Ia berjanji dalam hati.
Apa pun yang terjadi, buku itu tidak akan jatuh ke tangan Victor.
Karena di dalamnya tersimpan jawaban yang telah ia cari sepanjang hidupnya.