NovelToon NovelToon
Lovely Rain, Sweet Heart

Lovely Rain, Sweet Heart

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Idola sekolah
Popularitas:587
Nilai: 5
Nama Author: Liana29

Diantha dan Althaf saling mengenal dan menjadi sahabat di bangku SMA..
di sekolah, mereka benar benar tidak terpisahkan, bahkan satu sekolah mengira mereka pacaran.
sebenarnya mereka sama sama memiliki perasaan cinta, hanya saja , mereka sepakat untuk selalu menjadi sahabat dan tidak akan pernah pacaran, agar persahabatan mereka langgeng..
Sayangnya Diantha tidak sanggup untuk menahan perasaannya lagi hingga membuat jarak di antara meraka..
bagaimana kisah Diantha dan Althaf dalam cinta yang rumit dan persahabatan yang ingin di jaga..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liana29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aturan yang tak tertulis

Langkah kaki Diantha bergaung pelan di sepanjang koridor sekolah yang mulai ramai.

Tas yang bertengger di bahunya terasa lebih berat dari biasanya, tetapi beban di dalam dadanya jauh lebih menghimpit. Begitu melangkah melewati ambang pintu kelas, pandangannya langsung tertuju pada sosok Sari yang sudah duduk manis di bangkunya. Sari tampak sedang memoles lip balm tipis di bibirnya sembari sesekali melihat layar ponsel.

Melihat kehadiran Diantha, raut muka Sari seketika berubah cerah. Ia menyimpan lip balm-nya cepat-cepat dan melambaikan tangan dengan riang.

"Diantha! Pagi! Sini, sini!" seru Sari antusias, suaranya melengking khas anak SMA di pagi hari sebelum bel masuk berbunyi..

Diantha memaksakan senyum tipis, lalu melangkah mendekat dan mendudukkan dirinya di samping Sari. Ia menaruh tasnya di atas meja dengan gerakan mekanis.

"Tha! Aku udah nggak tahan mau nanya dari semalam," ujar Sari tanpa buang waktu. Tubuhnya mencondong ke arah Diantha, matanya membelalak penasaran.

"Kemarin sore pas Althaf ngomong gitu... kamu beneran mau nyoba kasih kesempatan buat Kak Reyhan? Maksudku, kemarin kamu kan ketus banget sama dia. Tapi semalam Kak Reyhan chat aku, bilang makasih banget karena udah dapet alamat rumahmu.. Terus... tadi pagi kamu berangkat bareng dia, kan? aku liat dari jendela kelas pas kalian jalan dari parkiran!"..

Diantha menghela napas panjang, merapikan letak almamater sekolahnya yang sedikit kusut. Pertanyaan Sari ibarat menggaruk luka yang baru saja mengering. Namun, Diantha sudah meneguhkan hatinya sejak semalam. Ia tidak boleh terlihat lemah, terutama di depan orang-orang yang menganggap keputusannya ini sebagai hal yang wajar.

"Iya, Sar," jawab Diantha pelan namun tegas. Pandangannya lurus menatap papan tulis yang masih bersih dari coretan spidol. "Aku berangkat bareng Kak Reyhan pagi ini. Dan soal yang kemarin... aku mikir, ada benarnya juga ucapan Althaf."

"Beneran?!" Sari menutupi mulutnya yang ternganga, terkejut sekaligus senang karena usahanya menjadi perantara Reyhan seolah membuahkan hasil. "Wah, gokil sih... jujur aku kaget banget waktu Althaf mendadak ngomong gitu kemarin. Tapi bagus deh, Tha! Kak Reyhan tuh beneran tulus banget sama kamu. Ya hitung-hitung kamu buka lembaran baru. Siapa tahu setelah makin kenal, kamu beneran bisa suka sama dia.."

Diantha hanya tersenyum tipis—senyuman hambar yang menyimpan beribu arti. Buka lembaran baru? batinnya miris. Bagi Diantha, ini bukan tentang membuka lembaran baru, melainkan tentang pembuktian. Ia ingin melihat sejauh mana Althaf sanggup bertahan menyaksikan sandiwaranya. Ia ingin membakar habis sisa-sisa harapannya pada Althaf dengan cara membenturkan dirinya sendiri pada kenyataan. Jika Althaf memang tidak peduli dan benar-benar menginginkannya bersama Reyhan, maka Diantha akan memastikan Althaf mendapatkan apa yang ia minta.

Sementara itu, suasana di koridor luar kelas terasa jauh lebih dingin dan menyesakkan.

Setelah Reyhan berpamitan menuju kelasnya di lantai dua dengan wajah berbinar-binar penuh kemenangan, Althaf masih berdiri membeku di tempatnya. Matanya menatap kosong ke arah deretan loker di sepanjang koridor. Genggaman tangannya pada tali ransel melemah, sementara dadanya seperti ditindih bongkahan batu besar yang membuat bernapas saja terasa begitu menyiksa.

Puk!

Sebuah tepukan mantap mendarat di bahu kanan Althaf. Rian merangkul sahabatnya itu, menariknya pelan agar tidak menyumbat jalan di koridor. Rian membawa Althaf berjalan menuju tempat yang sedikit lebih sepi, tepat di bawah naungan pohon mangga di samping lapangan basket.

"Thaf," panggil Rian serius. Raut wajah konyol yang biasanya menghiasi paras Rian kini sirna sepenuhnya. Yang tersisa hanyalah tatapan seorang sahabat yang sangat mengkhawatirkan kondisi temannya. "Lo nggak apa-apa?"

Althaf terkekeh pelan, terdengar begitu pusing dan sengsara. "Nggak apa-apa gimana, Ian? Gue yang nyuruh dia berangkat bareng Kak Reyhan secara gak langsung. Gue yang minta Diantha buka hati. Gue... gue sendiri yang ngancurin semuanya."

Rian menghela napas berat. Ia menyandarkan punggungnya pada batang pohon mangga, mengamati Althaf yang menunduk dalam-dalam dengan rahang menegak menahan emosi.

"Dengerin gue baik-baik, Thaf," kata Rian dengan suara rendah namun sangat dalam. "Gue tahu lo lagi hancur banget sekarang. Tapi lo harus denger kata-kata gue ini, biar lo nggak makin gila ke depannya."

Althaf diam, tak bergeming, namun matanya mengarah pada Rian, mendengarkan.

"Lo harus mulai belajar melupakan perasaan lo ke Diantha. Sekarang juga," tegas Rian tanpa tendeng aling-aling. "Lo tahu sendiri gimana gigihnya si Reyhan. Tiga bulan dia dimusuhi, dicuekin, di dinginin sama Diantha, dia tetep nggak mundur sedikit pun. Sekarang, begitu Diantha kasih celah kecil—meskipun cuma mau diajak berangkat sekolah bareng—lo pikir Reyhan bakal melepas itu gitu aja? Nggak akan, Thaf!"

Rian memajukan tubuhnya, menatap Althaf tepat di manik mata. "Reyhan bakal berjuang mati-matian buat mempertahankan Diantha. Dan kalau Diantha akhirnya lumer atau minimal terbiasa sama kehadiran Reyhan, mereka bakal jadian. Di titik itu, lo cuma bakal jadi penonton yang makin tercekik kalau lo nggak buang rasa suka lo dari sekarang."

Kata-kata Rian merambat seperti racun yang membakar habis sisa-sisa harapan Althaf. Setiap patah kata sahabatnya itu benar, dan kenyataan itu terasa sangat menyakitkan.

"Tapi, Ian..." Althaf bersuara lirih, suaranya agak serak. "Gimana kalau Diantha emang nggak bisa suka sama Kak Reyhan? Gimana kalau nanti mereka nggak berjalan mulus?"

Rian menggelengkan kepala lambat-lambat, tatapannya menyiratkan rasa kasihan yang begitu mendalam untuk Althaf.

"Nah, ini dia jebakan paling parah yang ada di otak lo," potong Rian cepat. "Katakanlah skenario terburuknya terjadi. Diantha sama Reyhan jadian, terus hubungan mereka kandas di tengah jalan karena Diantha emang gak nyaman. Lo pikir, setelah itu lo punya kesempatan buat maju?"

Althaf terdiam membisu.

"Enggak, Thaf. Lo tetep NGGAK AKAN punya kesempatan," tekan Rian pada kata 'nggak akan'. "Ingat posisi lo. Reyhan itu tetangga lo, teman main lo dari kecil, kakak kelas yang udah lo anggap abang sendiri. Di dunia tongkrongan dan pertemanan kita, ada aturan tidak tertulis yang sangat keras: nggak etis dan haram hukumnya menyambut mantan kekasih atau cewek yang pernah dijajaki sahabat sendiri."

Rian menepuk-nepuk dada Althaf pelan. "Kalau lo maju mendekati Diantha setelah dia selesai sama Reyhan, lo bakal dicap penikung. Hubungan lo sama Reyhan bakal hancur lebur. Keluarga lo sama keluarga Reyhan yang tetanggaan bisa canggung. Lo bakal kehilangan dua-duanya: sahabat lo dan cewek yang lo suka."

Bumi seperti berhenti berputar bagi Althaf. Penjelasan Rian membenturkan kesadarannya pada sebuah tembok tebal tanpa celah. Jalan Althaf menuju Diantha telah tertutup rapat—bukan karena jarak atau orang ketiga, melainkan karena batas-batas etika dan keputusan konyol yang ia ambil sendiri demi sebuah kata 'kesetiakawanan'.

Althaf menyandarkan kepalanya pada dinding tembok di belakangnya. Ia menengadah menatap dedaunan pohon mangga yang bergoyang ditiup angin pagi. Matanya memanas, namun tak ada air mata yang jatuh. Hanya ada penyesalan yang membakar jiwa.

"Jadi... gue emang udah kalah sebelum mulai, ya, Ian?" gumam Althaf sangat pelan, hampir tenggelam oleh suara riuh murid-murid yang berlarian di lapangan.

Rian menatap Althaf dengan tatapan prihatin, lalu menepuk bahu Althaf sekali lagi dengan kencang. "Lo nggak kalah, Thaf. Lo cuma memilih buat mengalah. Dan sekarang, lo harus tanggung akibatnya dengan cara merelakan. Ayo masuk kelas, bel bentar lagi bunyi."

Rian berbalik dan melangkah lebih dulu menuju kelas. Sementara Althaf masih berdiri sendirian di bawah rindangnya pohon mangga. Ia menarik napas panjang, mencoba menata kembali dadanya yang telah hancur berkeping-keping, sebelum akhirnya melangkah perlahan menyusul Rian.

Di dalam kelas sana, Diantha sedang duduk menunggu. Namun Althaf tahu, mulai hari ini dan seterusnya, Diantha bukan lagi tempatnya untuk pulang..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!