Hari penentuan tanggal pernikahan, Sinta memilih Wana untuk dijadikan suaminya. Semua itu bukan tanpa sebab. Melainkan, karena hati yang sudah lelah untuk berharap. Hati yang sudah sering terluka oleh sikap Rama yang mementingkan teman barunya.
Bagaimana jadinya saat Rama tahu, Sinta ternyata tidak memilih dia sebagai suami? Yuk! Ikuti kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part *29
Terus memperhatikan dengan penuh takjub apa yang ada di depan mata. Tiba-tiba, mata Sinta menangkap sesuatu yang semakin membuatnya merasa bahagia.
"Itu, bunga tulip?" Nada tak percaya terdengar sangat jelas dari ucapan yang baru saja Sinta lontarkan.
Mata wanita itu terfokus pada sudut ruangan di mana ada tulip kristal yang terpajang dengan indah nan megah. Bukan hanya satu titik saja. Masih ada tulip-tulip kristal yang lainnya. Bahkan, tidak hanya tulip kristal. Tapi juga ada tulip kertas dan tulip yang terbuat dari plastik. Sungguh, itu sangat-sangat indah di mata Sinta.
"Vila ini penuh tulip?" Sinta berucap semakin kagum.
"Iya ... ne-- nenek suka tulip." Lagi, kata itu bohong.
"Benarkah? Nenek kak Wana suka tulip?"
"Iy-- iya. Iya. Suka."
"Wah ... nenek sama kek aku," ucap Sinta berbinar bahagia.
"Ha ... benarkah?" Pertanyaan itu tentu saja hanya sebatas formalitas saja. Karena seorang Wana tentu saja sudah tahu apa yang Dewi bulannya sukai.
Bunga kesukaan Sinta adalah tulip. Jadi, Wana mengumpulkan semua tulip yang sempat dia lihat. Bukan hanya yang sempat ia lihat saja. Sebisa mungkin, pria itu mencarinya untuk menjadikan bunga itu sebagai koleksi yang memenuhi tempat tinggalnya itu.
"Mm ... yang ada di dalam vila hanya hiasan saja. Tidak hidup. Jika kamu suka, yang hidup juga ada."
Seketika, Sinta menoleh dengan cepat.
"Yang hidup?" Wanita itu mengulang perkataan suaminya dengan sangat antusias. "Maksudnya, yang tumbuh di tanam?"
Wana mengangguk kecil. "Iya. Yang hidup di tanam. Yang hidup sungguhan."
"Di mana, kak Wana? Ada di mana yang hidup? Bisakah aku melihatnya?"
"Tentu saja. Dia ada di sana," ucap Wana sambil mengarahkan telunjuk ke pintu samping yang masih tertutup rapat.
"Di situ?"
"Hm." Wana menjawab sambil mengangguk.
"Baiklah. Aku izin lihat ya," ucap Sinta sambil beranjak menuju ke arah pintu samping tanpa menunggu Wana menjawab terlebih dahulu apa yang telah ia katakan barusan.
Sementara itu, Wana hanya bisa menatap dengan tatapan puas sambil terus mengikuti Sinta dari belakang. Hati Wana benar-benar terasa puas sekarang. Ternyata, usahanya selama ini tidak sia-sia. Ia bisa memperlihatkan pada Sinta semua yang telah ia siapkan dengan sepenuh hati selama belasan tahun. Yah. Walaupun sebelumnya, Wana tidak pernah berharap kalau apa yang telah ia siapkan bisa Sinta lihat. Tapi Tuhan ternyata sangat baik padanya. Tuhan berikan Sinta padanya sekarang.
Sementara Wana sibuk memperhatikan Sinta dengan hati yang berbunga-bunga. Yang diperhatikan malah sibuk dengan kebahagiaannya sendiri.
Sinta membuka pintu itu dengan cepat. Saat pintu terbuka, matanya langsung tertuju lurus pada rumah kaca yang ada di depannya. Tadi, saat berdiri di depan vila, rumah kaca itu tidak terlihat. Karena letaknya, telah dilindungi oleh vila tersebut.
Tapi sekarang, rumah kaca yang sangat indah ada di depan mata Sinta. Rumah kaca yang dipenuhi oleh tanaman bunga tulip dengan berbagai warna.
Manik mata Sinta melihat tanpa berkedip karena terlalu takjub akan apa yang ada di depan matanya. Ini sama persis seperti apa yang ada dalam impian Sinta selama ini.
Rumah kaca dengan berbagai warna bunga tulip membuatnya merasa seakan dia sudah ada di ladang tulip di negara impiannya. Sungguh luar biasa perasaan Sinta saat ini. Takjub bukan kepalang.
Sinta berjalan pelan untuk melihat bunga kesukaannya lebih dekat lagi. Langkah itu terhenti saat dia ada di depan pintu dari rumah kaca tersebut. Wana yang ternyata terus mengikuti Sinta sejak tadi langsung berucap. "Jika ingin masuk, masuklah! Dengan begitu, kamu bisa menyentuh mereka."
Sinta menoleh. Tatapan tak percaya langsung ia perlihatkan. "Aku bisa masuk?" Sinta bertanya dengan nada benar-benar tidak yakin. Namun, penuh dengan harap yang tidak bisa ia utarakan secara langsung.
"Kenapa tidak?" Wana malah bertanya balik.
"Sungguh?"
"Tentu saja. Masuklah."
Sinta mengangguk. Senyum manis penuh rasa bahagia dia sungging kan. Rasanya, dia ingin sekali melompat-lompat karena telah diizinkan masuk ke dalam rumah kaca tersebut. Untung saja kesadarannya masih utuh. Jadinya, keinginan itu mampu ia tahan.
"Terima kasih," ucap Sinta lirih.
"Hm. Silahkan."
Tangan Sinta langsung membuka pintu dari rumah kaca tersebut. Indah. Sungguh sangat indah. Sinta melangkah dengan sangat pelan sambil menikmati pemandangan indah di dalam rumah kaca tersebut secara langsung.
Tatapan puas Wana terus mengiringi setiap gerak-gerik Sinta. Pria itu terus mengikuti dari belakang. Namun dengan jarak yang cukup jauh. Karena Wana ingin membiarkan Sinta menikmati bunga kesukaannya itu dengan tenang.
Kekaguman Sinta benar-benar tidak bisa ia sembunyikan lagi. Dia sibuk melihat dan menikmati keindahan dari rumah kaca yang tertata dengan sangat baik. Di pusat rumah kata juga ada meja dan kursi. Benar-benar rumah kaca yang sangat sempurna.
"Benar-benar sangat indah. Rasanya aku ingin tinggal di sini saja selamanya," ucap Sinta tanpa pikir panjang lagi.
Wana yang mendengar ucapan itu malah menjawab. "Jangan. Di sini tidak ada ranjang, tidak ada makanan juga. Kalo kamu tinggal di sini, di mana kamu akan tidur?"
Sontak, Sinta baru sadar kalau dirinya tidak sendirian sejak tadi. Karena terlalu sibuk akan kekaguman, Sinta malah lupa dengan keberadaan Wana.
Saat itu, ketika Sinta bangun dari jongkok setelah mendengar suara Wana. Tepat saat Sinta ingin memutar tubuh, kakinya malah tersandung. Hampir saja Sinta tersungkur jika Wana tidak menahannya dengan cepat.
Suasana seketika berubah. Di tengah taman bunga kesukaan Sinta, waktu terasa sedikit berhenti gara-gara pelukan yang tidak di sengaja.
Aroma harum tubuh Wana memenuhi rongga penciuman Sinta. Aroma itu cukup unik, sampai tidak bisa Sinta jelaskan dengan pasti itu bau apa. Yang jelas, baunya harum.
Tatapan mereka beradu. Detak jantung ikut berirama dengan iramanya sendiri. Berdetak dengan sangat cepat. Padahal, ini bukan yang pertama hal ini terjadi. Ini sudah yang kedua kalinya. Tapi rasa itu tetap sama. Tetap membuat suasana yang tidak bisa langsung mereka lepaskan.
Sesaat kemudian, barulah mereka sama-sama menarik diri dari pelukan itu. Lagi, wajah keduanya sama-sama merona. Namun, rona yang ada di wajah Wana tentu saja tidak akan terlihat. Hanya saja, kedua kuping pria itu tidak bisa disembunyikan. Kuping Wana terlihat cukup jelas perubahan warnanya.
"Ee ... it-- itu ... maaf," ucap Wana terdengar sekali nada gugupnya di sana.
Sinta langsung menggeleng cepat. "Tidak. Yang harus minta maaf bukan kak Wana. Melainkan, aku. Aku ... itu ... tidak sengaja," ucap Sinta langsung menunduk.
Tiba-tiba saja, tangan Wana bergerak tanpa aba-aba dari pikiran lagi. Tangan itu bergerak dengan kemauannya sendiri. Si tangan malah menyentuh pundak Sinta dengan lembut.
"Gak papa. Kamu gak salah."