NovelToon NovelToon
VENA - AIR YANG MATI

VENA - AIR YANG MATI

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Fantasi / Tamat
Popularitas:148
Nilai: 5
Nama Author: Catnonimous

Aris hanyalah seorang petugas instalasi pipa bawah tanah yang dibayar murah untuk melakukan pekerjaan kotor yang dihindari semua orang. Namun, upah rendahnya tidak sebanding dengan apa yang ia temukan.
Seekor tikus yang berubah setelah meminum tetesan air dari pipa.
Tubuhnya mengeras lalu meledak tapi sisa tubuhnya masih bisa bergerak.
Apakah benar hanya tetesan air itu yang membuat tikus itu berubah?
Bagaimana dengan manusia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Catnonimous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 : Matinya keserakahan

Malam yang sama, mobil SUV hitam milik Walikota Yunus melesat membelah jalanan yang mati, hingga akhirnya mengerem mendadak di pelataran sebuah gedung tua yang terbengkalai. Di balik dinding retak gedung inilah terdapat salah satu akses darurat yang terhubung langsung dengan bunker bawah tanah.

Yunus melompat keluar dari mobil bersama tiga pengawal setianya yang memegang senjata dengan siaga. Namun, langkah walikota itu terhenti tepat di depan pintu besi yang menuju ke bawah tanah. Ia mendadak tidak berani melangkah masuk. Ingatan tentang makhluk-makhluk cacat yang mengamuk di koridor bunker malam itu membuat nyalinya ciut. Ia takut jika pintu itu dibuka, monster-monster tersebut akan langsung menerjang dan mengoyak tubuhnya.

Dengan tangan gemetar, Yunus merogoh ponselnya dan langsung menghubungi nomor pribadi Axel. "Axel! Saya sudah di atas. Saya tidak bisa turun ke bawah. Cepat kamu dan Nyonya Stela naik ke atas." perintah Yunus dengan nada panik yang tertahan.

Di bawah, Axel yang sedang berdiri di dekat Dr. Stela menurunkan ponselnya. Ia menoleh ke arah wanita itu dengan cemas. "Ibu... maksudku, Stela. Walikota Yunus sudah sampai di atas. Dia menunggu kita."

Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Stela langsung bangkit berdiri. Dengan ekspresi datar, ia melangkah pasti menuju pintu keluar ruangannya.

Axel yang melihat itu seketika panik. "Hei! Apa yang kamu lakukan? Di luar lorong penuh dengan makhluk-makhluk itu!" seru Axel menahan langkah.

Stela berhenti sejenak di ambang pintu, menoleh sedikit dengan pandangan matanya yang dingin. "Kalau kamu masih ingin hidup, ikuti saja aku," ucap Stela tenang, sebelum mendorong pintu besi itu hingga terbuka lebar.

Dengan langkah kaki yang ragu dan dipenuhi ketakutan, Axel terpaksa mengekor di belakang Stela. Begitu mereka melangkah keluar ke koridor utama, pemandangan yang membuat bulu kuduk Axel berdiri tidak bisa terbantahkan lagi.

Ratusan makhluk mengerikan berdiri diam memenuhi sepanjang lorong rahasia yang mengarah ke pintu keluar permukaan. Lorong yang semula menjadi jalur evakuasi kini menjelma menjadi koridor kematian. Namun, sebuah keanehan terjadi. Ketika Stela berjalan melewati mereka, makhluk-makhluk tersebut tidak bereaksi sama sekali. Mereka berdiri kaku, menundukkan kepala seolah tunduk, atau bertindak seolah Stela tidak terlihat oleh radar berburu mereka.

Sebaliknya, situasi berbeda terjadi ketika Axel melintas di belakang Stela. Aroma tubuh manusia biasa yang menguar dari Axel memicu insting liar makhluk-makhluk itu. Mereka bergerak spontan, menjulurkan cakar dan memajukan kepala dengan suara gigi yang beradu keras mencoba menggigit.

Klak! Klak! Klak!

"Sialan!" umpat Axel setengah berbisik, tubuhnya spontan berkelit dan menghindar dengan sangat tegang agar tidak menyentuh kulit makhluk-makhluk menjijikkan tersebut. Beruntung, gelombang pikiran Stela masih menahan mereka untuk tidak benar-benar menerkam.

Setelah melewati ketegangan yang menguras mental, Stela dan Axel akhirnya sampai di pintu atas gedung tua. Walikota Yunus yang sudah menunggu tampak mondar-mandir dengan cemas. Begitu melihat sosok Stela yang nampak normal kembali, Yunus mengembuskan napas lega.

Stela menatap Yunus dengan pandangan menyelidik. "Apakah sudah ditemukan?" tanya Stela tanpa basa-basi.

Yunus mengusap wajahnya yang penuh keringat dingin, lalu menggelengkan kepala dengan frustrasi. "Belum Nyonya. Terlalu banyak orang yang ikut campur dalam urusan ini sekarang."

"Apa maksudmu?" tanya Stela, nadanya mulai meninggi.

"Hasil laboratorium itu... sekarang bukan hanya kita yang mengincarnya. Pihak militer juga sepertinya sedang melakukan pencarian," jelas Yunus dengan nada mendesak. Ia kemudian menjeda kalimatnya sejenak sebelum melanjutkan, "Dan satu lagi... ada seorang perempuan yang sepertinya mengetahui tentang sampel itu."

"Saya yakin, itu Liora." potong Stela dingin. Nama itu membuat senyum sinis kembali terukir di wajahnya. "Biarkan tikus kecil itu menjadi urusanku nanti. Fokusmu sekarang adalah mengambil hasil lab itu dari mana pun tempatnya, Yunus."

Walikota Yunus tampak ragu-ragu. "Masalahnya, saya tidak tahu di mana tepatnya Ferdi menyembunyikan dokumen dan sampel hasil analisis lab tersebut. Rumahnya sudah diobrak-abrik oleh anak buah saya, tapi hasilnya nihil dan belum ada informasi dari anak buah saya yang memeriksa rumah sakit juga."

Mendengar ketidakmampuan pria di depannya, aura di sekitar Stela mendadak berubah mencekam. Ia melangkah maju, menekan mental sang walikota dengan tatapan mata yang perlahan menggelap di setiap sudutnya.

"Jika kamu tidak bisa memberikan hasil lab beserta sampel itu kepadaku, maka nyawamu yang akan menjadi gantinya, Pak Walikota," bisik Stela dengan nada mengancam yang sangat nyata. "Lagipula... aku sudah mengetahui semua rencana busukmu dengan Axel."

Mendengar kalimat itu, langkah kaki Walikota Yunus mendadak kaku. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Ia menoleh perlahan, menatap Axel dengan pandangan tidak percaya sekaligus penuh amarah. Axel sendiri tidak bisa berkata apa-apa; ia hanya berdiri diam mematung, memalingkan wajahnya ke arah lain untuk menghindari tatapan Yunus.

Stela mulai membuka satu per satu skenario rahasia yang selama ini mereka sembunyikan di belakangnya. "Mulai dari rencanamu menjadikanku alat untuk memperluas kekuasaanmu di kota ini, menjual sampel darah kloninganku sebagai senjata biologi ke pasar gelap, sampai kerja sama rahasiamu dengan Axel... semuanya sangat memuakkan."

Yunus mencoba menguasai kepanikannya. Ia mundur selangkah, mengangkat kedua tangannya sambil membela diri dan berpura-pura tidak mengerti. "T-Tunggu dulu, Nyonya! Anda pasti salah paham. Saya tidak pernah berniat seperti itu! Jangan dengarkan omong kosong Axel!"

Tanpa aba-aba dan tanpa peringatan apa pun, kulit telapak tangan Stela merobek kasar. Dua ikat tentakel berlendir hitam melesat keluar dengan kecepatan luar biasa dari kedua tangannya.

Sret! Jleb!

Dua pengawal walikota langsung tewas seketika dengan dada berlubang sebelum sempat menarik pelatuk senjata mereka. Pengawal ketiga mencoba berbalik, namun ujung tentakel tajam Stela telah merobek lehernya hingga roboh bersimbah darah. Dalam hitungan detik, tiga pengawal terlatih itu tewas mengenaskan. Di saat yang sama, satu lengan tentakel utama milik Stela melilit kuat, mencekik leher Walikota Yunus hingga tubuh pria paruh baya itu terangkat sedikit ke udara.

"Ugh! Uhuk!" Yunus mencengkeram tentakel yang melilit lehernya. Wajahnya memerah, matanya terbelalak ngeri. Ia benar-benar tidak paham kenapa Stela yang ia bangkitkan bisa memiliki kekuatan seperti ini.

"Axel... jelaskan, apa yang sebenarnya terjadi," perintah Stela dingin tanpa melepaskan cekikannya.

Axel menatap walikota yang sedang sekarat itu dengan pandangan dingin. "Satu dulu yang pasti, anda akan mati, Pak Walikota. semua perjanjian kita sudah diketahui oleh Stela, tidak ada lagi alasan untuk mempertahankan diri anda."

Mendengar pengkhianatan total itu, Yunus mengumpat dengan sisa tenaganya di sela cekikan. "B-Bajingan kau, Axel! Uhuk... Axel, ingat janji saya! Saya bisa memberikan kedudukan tertinggi dan kekayaan yang tidak akan pernah habis kepadamu setelah ini selesai! Nyonya tolong, dengarkan dulu.."

Axel memotong ucapan walikota itu dengan lambaian tangan yang tak acuh. "Aku tahu tentang semua janji itu, Pak Yunus. Tapi sepertinya, saat ini aku jauh lebih memilih untuk tetap hidup ketimbang harus mati demi mengikuti keserakahan Anda yang tidak ada ujungnya."

Dr. Stela tersenyum mendengar ucapan Axel. Pandangannya kembali terkunci pada wajah Yunus yang mulai membiru. "Dan satu hal lagi yang perlu kamu tahu, Yunus. Aku sebenarnya sudah tidak membutuhkan sampel itu lagi. Kalau pun sampel itu ada di tanganku, aku akan memberikannya kepada Axel. Tubuhku sudah beradaptasi dengan sempurna. Sekarang, aku hanya butuh satu hal, menguasai orang-orang seperti kalian."

Dalam keputusasaannya, Yunus mencoba merayu untuk terakhir kali. "Nyonya... biarkan saya ikut... saya bisa membantu rencanamu... saya punya akses ke pemerintahan..."

Stela tertawa lepas, sebuah tawa yang terdengar sangat kejam. "Aku tidak ingin ada orang lain yang ikut campur dalam duniaku yang baru nanti. Apalagi dicampuri oleh orang-orang pemerintahan sepertimu. Orang-orang munafik yang seharusnya sudah membusuk di dalam neraka sejak lama! Tapi sebelum mereka membusuk, aku ingin sedikit bermain dengan mereka."

Axel memalingkan pandangannya ke arah dinding, ia merasa akan menyaksikan eksekusi yang akan segera terjadi di depan matanya.

Mata Dr. Stela sepenuhnya berubah menjadi putih pekat yang mengerikan. Lilitan tentakel di leher Yunus mengencang drastis, memutus pasokan udaranya secara total. Yunus meronta-ronta dengan liar, namun kekuatannya tidak sebanding. Perlahan, tentakel itu menarik tubuh walikota mendekat, tepat di depan wajah Stela.

"aku akan memberi contoh, bagaimana aku bermain dengan mereka." ucap Stela.

Sebuah cabang tentakel baru yang ujungnya runcing dan tajam setajam belati keluar dari lengan Stela. Tentakel tajam itu merayap naik ke wajah Yunus, lalu memaksa masuk menembus mulut sang walikota yang terbuka. Yunus mencoba melawan, namun setiap gerakan tangannya justru membuat cekikan di lehernya semakin mematikan.

Jleb!

Tentakel tajam itu melesat masuk ke dalam mulut, menembus tenggorokan, dan diakhiri dengan tusukan brutal dari arah dalam yang menembus hingga ke punggung belakang jas Walikota Yunus.

"Gahrg..."

Walikota Yunus akhirnya tewas seketika. Suara serak terakhir lolos dari tenggorokannya bersamaan dengan muntahan darah segar yang keluar membanjiri mulutnya. Tubuhnya mendadak lunglai dan tak bernyawa lagi.

Stela menarik kembali tentakelnya, membiarkan jasad Walikota Yunus jatuh berdebam di atas lantai berdebu gedung tua itu seperti rongsokan tidak berguna. Stela menyeka sedikit sisa darah di tangannya, lalu berbicara sendiri dengan nada suara yang bergaung.

"Aku bisa membunuh siapa pun yang aku inginkan di kota ini... termasuk kamu suatu saat nanti, Axel," ujar Stela, matanya melirik tajam ke arah Axel yang langsung menelan ludah ketakutan. "Tapi tentu saja tergantung situasi siapa yang sedang aku hadapi dan seberapa berguna mereka untukku."

Stela berjalan perlahan menuju tepi jendela gedung yang pecah, menatap hamparan pemukiman kota di bawah langit malam yang mendung. Urat-urat hitam di wajahnya kembali berdenyut samar.

"Mulai hari ini, aku akan melepaskan seluruh makhluk di bawah sana tanpa terkecuali. Kita hancurkan kota ini sampai tidak tersisa," ucap Stela dengan seringai kemenangan.

...****************...

1
THE GIRL COOL😑
bagus novel nya👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!