"Dasar anak Kunti!"
"Aku bukan anak Kunti! berhenti memanggilku anak Kunti! namaku Kalingga Arsana!"
Kalingga sering di panggil anak Kunti oleh teman temannya dan para warga di tempat dia tinggal, bukan tanpa alasan, itu karena dia lahir dari rahim seorang perempuan yang sudah di kubur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salbiah keluar
Kaelan sampai tidak bisa tidur setelah mendengar Karna ingin menikahkan dia dengan Kinanti, bukan karena Kaelan tidak menyukai Kinanti, tapi karena selama ini Kaelan menjaga Kinanti sebagai adiknya, Kaelan pasti akan merasa canggung kalau status itu tiba tiba saja berubah.
Di tambah Kaelan juga punya rencana hidup yang banyak bersama Kalingga, dia ingin merawat Kalingga sampai dia besar, memastikan kehidupan Kalingga terpenuhi dan pendidikannya juga bagus, Kaelan bahkan tidak memasukkan rencana menikah lagi di dalam daftar rencana jangka panjangnya bersama Kalingga.
"Kalingga, ayah sedang dalam masalah besar, lebih besar dari masalah si kuyang Salbiah yang sering mengedipkan matanya saat lewat di depan rumah dan melihat ayah" ucap Kaelan memeluk tubuh anaknya itu
"Ibu kamu cemburu tidak ya kalau ayah menikah lagi, kuburannya bahkan masih basah tapi kakek kamu malah membicarakan pernikahan" gerutu Kaelan
"Maryani tidak cemburu kang" ucap Maryani yang berada di atas atap rumah Jamal
"Iya lah kamu tidak cemburu, kamu sudah punya yang baru" sinis Kaelan
Kalingga menggenggam telunjuk tangan Kaelan dengan erat, bahkan anak bayi itu malah ikut begadang bersama ayahnya sambil menyedot botol susunya. Kaelan juga masih setia menemani putrinya itu yang matanya terus menatap ke arah atas lemari, seperti sedang menatap sesuatu yang begitu menarik dan membuatnya tidak bisa berpaling.
"Kenapa nak?" tanya Kaelan yang menyadari arah tatapan Kalingga
Kaelan melihat ke arah lemari, lemari itu terlihat sedikit mengeluarkan cahaya merah dan Kaelan baru ingat kalau di sana tersimpan beberapa helai rambut Salbiah si kuyang.
"Apa dia sedang berkeliaran mencari tumbal sekarang" gumam Kaelan
"Tapi... kalau tidak nanti aku malah salah langkah dan justru membuat kesempatan melenyapkan kuyang itu hilang"
Kaelan terus berpikir di dalam kamarnya, dia ingin membuktikan tapi tidak mungkin dia membawa Kalingga tengah malam itu untuk keluar mencari kuyang, harus kuyang itu sendiri yang mencarinya baru mereka bisa menghabisi Salbiah.
"Maryani, panglima Parta, apa kalian merasakan kehadiran kuyang?" tanya Kaelan
"Tidak kang, hanya saja rumah Salbiah menang terlihat mengeluarkan cahaya merah, sepertinya dia sedang melakukan ritual atau sedang memulihkan tenaganya" jawab Maryani
"Andai aku bisa ke sana" gumam Kaelan yang ingin tahu ritual apa yang sedang di lakukan Salbiah sampai sampai rambutnya yang ada di rumah Jamal juga terlihat mengeluarkan cahaya merah.
"Mungkin dia sedang jadi kuyang kang, tapi bukan untuk mencari tumbal, mungkin mencari ari ari Kalingga" ucap Maryani
"Saya akan ikuti dia" ucap Parta
"Apakah panglima bisa?" tanya Maryani
"Bisa, aku di minta untuk melindungi Kalingga kan, itu artinya ari ari itu juga bagian dari Kalingga, akan aku pastikan kemana Salbiah pergi" jawab Parta
Kaelan mendengar semuanya, tapi hatinya tetap merasa tak tenang, apalagi Kalingga juga terus menatap rambut Salbiah yang ada di dalam lemari pakaian Kaelan, jadi Kaelan memutuskan akan pergi bersama Parta untuk mengikuti Salbiah.
"Ini kesempatan terakhir kita kan? kuyang itu juga berbahaya untuk kamu, dia mungkin akan mengancam kamu di masa depan, jadi ayah akan melenyapkan dia hari ini juga" ucap Kaelan dan Kalingga tersenyum manis.
"Maryani jaga Kalingga, aku akan pergi dengan panglima Parta mumpung warga desa sudah pada tidur" perintah Kaelan
"Baik kang"
°°°°°°°°°°°°
Di rumah Salbiah.
"Aarrgghhh..."
Kepala Salbiah hampir terlepas dari tubuhnya, dia memang sedang melakukan ritual menjadi kuyang karena malam itu dia di perintahkan Narno untuk mencari ari ari Kalingga yang masih belum di temukan, bahkan Narno, Malak dan Jayandanu sudah berkeliling seluruh aliran sungai itu tapi ari ari Kalingga tidak mereka dapatkan meskipun hanya sedikit saja.
"Aku tidak percaya si Narno memintaku untuk mencari ari ari itu, apa dia tidak bisa mengerahkan pasukan Malak untuk melakukan itu, dan tidak mungkin juga ari ari itu tidak bisa di temukan dengan energi yang begitu besar, anak Kunti itu bahkan bisa melenyapkan aku kalau sampai dia tumbuh besar dengan energi emas yang ada di tubuhnya" kesal Salbiah setelah kepalanya terlepas dan dia mamastikan keadaan aman terlebih dahulu baru dia keluar melalui jendela ruang tengah yang dia buka.
Salbiah tidak sadar kalau Parta dan Kaelan sedang mengikutinya, bahkan keduanya berjalan dengan santai karena kuyang itu juga terbang tanpa tergesa gesa seperti malas atau mungkin memang belum pulih dari luka akibat hampir di makan harimau di hutan cadas.
"Kesempatan ini tidak akan datang dua kali, kita harus menggunakannya dengan baik" ucap Parta
"Baik kakek" jawab Kaelan
"Kenapa memanggilku Kakek? aku lebih suka kamu memanggilku Om seperti pengeran Lintang memanggil ku, itu katanya panggilan orang kota" protes Parta
"Om itu artinya paman" jawab Kaelan
"Aku tahu tapi Om itu lebih keren, aku merasa jadi orang kota" balas Parta membuat Kaelan tepuk jidat.
"Terus nanti aku panggil Maryani apa? Tante begitu?" tanya Kaelan
"Itu boleh juga" jawab Parta menyeringai
"CK... jangan harap!" kesal Kaelan
Mereka kembali konsentrasi mengikuti Salbiah, tidak ada gerakan berbahaya karena memang Salbiah hanya menyelusuri sungai kampung cadas sambil sesekali pergi ke arah tengah untuk memastikan jika ada sesuatu yang membuatnya curiga dengan sebuah bungkusan atau gundukan yang tersangkut di batu ataupun ranting di sungai itu.
"Hhhrrr.... kemana ari ari itu" gumam Salbiah
Srak. Srak.
"Kenapa malam malam begini ada pemuda yang mencari ikan, apa dia tidak tahu kalau malam itu adalah tempat para makhluk gaib bermain" gumam Salbiah saat melihat seorang pemuda sedang menjaring ikan di sungai.
"Hahaha... lumayan darahnya bisa membuatku terlihat lebih awet muda" ucap Salbiah terbang ke arah pemuda itu
"Itu korbannya, ayo kita tolong" ucap Parta
"Om saja yang tolong, Kaelan punya ide lebih bagus" jawab Kaelan
"Maksud kamu apa?" tanya Parta
"Om cukup pastikan kuyang itu tidak pergi ke arah kampung, Kaelan akan meminta Kalingga menggenggam rambut Salbiah supaya kuyang itu terbakar" jawab Kaelan
"Tapi kan harus saling berhadapan dengan kuyang itu baru bisa" ucap Parta
"Kaelan akan bawa Kalingga" jawab Kaelan langsung berlari ke arah kampung lagi
"Nekat sekali dia, bagaimana kalau Narno nanti malah menghukum dia sampai bertahun tahun tidak bisa keluar kampung" ucap Parta khawatir
Parta berjalan di atas air, dia menatap ke dalam air itu, ari ari Kalingga sebenarnya ada di sekitar sungai itu, hanya saja para mahluk jahat tidak bisa merasakan energinya, hanya mahluk baik yang bisa dan Parta bisa merasakannya.
"Tetaplah di sana dan bersembunyi biarkan Kalingga tumbuh besar dengan baik supaya nanti dia bisa bebas pergi kemanapun" gumam Parta mengusap air yang sedang mengalir cukup deras itu.
"Aakkhhh! kuyang! toloong! ada kuyang toloong!"