Sepasang mata berwarna coklat tampak menyorot tajam menatap seorang laki laki yang masih berdiri memaku tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya semula, seakan tatapn mata berwarna coklat itu mampu menelannya hidup hidup saat ini juga.
"apa kamu tidak ingin menjelaskan semuanya stave...?"
suara yang baru saja keluar dari laki laki tersebut terdengar seperti sebuah kilatan petir, membuat stave semakinn menundukkan kepalanya semakin dalam.
"apa yang harus aku katakan setelah kamu sudah melihat semuanya."
kepalan tangan dan tonjolan urat yang terlihat jelas saat steave memberanikan diri menatap kearah di mana tangan leon dia letakkan di atas meja, steave rasanya ingin segera menghilang dan berlari dari depan leo, dia tahu dan paham akan tabiat leon ketika marah seperti sekarang.
"jika kamu tidak ingn menjelaskan siapa dia, maka..."
Leon menghentikan ucapannya, terdengar bunyi deritan kursi yang bergeser. seketika steve memberanikan diri menatap ke arah leon, yang kini dekatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_1411, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan dari Liona dan patric.
“Steve…”
suara berat dan terdengar menggeram terdengar dari ujung telpon, Steve masih setia terdiam dia merasa enggan menjawab telpon Leon.
“Jika kamu tidak mau menjawabnya, oke…. Aku akan cari sendiri.”
Leon mengeram kesal, dia tahu jika ancamannya saat ini bisa membuat Steve mengatakan semuanya.
“Dia… dia calon istriku.” Jawab Steve dengan suara yang terdengar lirih.
“Shit…” ucap Leon merasa kesal.
Bunyi suara telpon yang terputus membuat Steve menghela nafasnya, mungkin memang sudah saatnya Leon bisa mengetahui akan rahasia yang dia sembunyikan.
Steve tidak paham dengan dirinya sendiri, dia merasa sangat bersalah dengan kejujurannya di depan Leon.
“Mungkin sudah saatnya dia tahu, aku juga tidak menghalangi keputusannya yang akan bertunangan dengan kak dias.”
Steve menyugar rambutnya kasar, tatapannya kosong, seakan banyak masalah yang dia pikirkan saat ini.
Di negara lain, Leon yang kesal mendengar jika Steve sudah mempunyai calon istri segera membanting ponselnya ke bawah lantai. Ponsel mahalnya tampak berantakan, dengan layar yang tampak pecah.
Leon tidak peduli dengan nasib ponselnya nanti, dia kini hanya ingin melampiaskan kekesalan saat mengetahui jika steve selama ini menyembunyikan sesuatu hal yang begitu penting dari Leon.
“Apa setidaknya begitu pentingnya gue buat lo Steve….!!!” Teriak Leon seperti orang gila.
“Gue sudah ngorbanin semuanya, dan lo dengan se enak hati membuat hati gue sesakit ini….!!!” Geram Leon berusaha kembali melempar barang apapun yang ada di sampingnya.
Pertunangan Leon yang akan di laksanakan beberapa hari ternyata sudah dia batalkan, perselingkuhan dias yang di lakukan dengan salah satu karyawan di tempat kerjanya baru saja terbongkar.
Leon merasa Tuhan tidak berpihak dengannya, Leon yang tampak kacau memilih berjalan ke mini bar yang terletak di samping dapur. Dia menggambil sebotol minuman yang dia simpan di lemari atas, rasanya sudah lama Leon tidak merasakannya, terhitung sejak Steve tinggal di apartemennya.
Air yang berwarna merah mengucur dengan deras, saat Leon menuangkan ke atas gelas kristal miliknya. Tanpa menunggu lama, Leon menenggak minuman yang bisa membuatnya melupakan segala masalahnya.
Satu gelas, dua gelas, sampai satu botol Leon menghabiskannya.
“Kenapa kalian kejam sama gue, apa salah gue sampai kalian bermain di belakang gue.”
Ocehan dari mulut Leon yang sudah terlihat mabuk keluar tanpa bisa dia kontrol, rasanya Leon ingin melupakan semua masalahnya.
“Steve… steve…” lirih Leon yang sudah hampir hilang kesadarannya.
Mata terpejam dan mulut yang masih menggumamkan nama Steve, menjadi tanda jika Leon tampak sudah hilang kesadarannya.
Malam yang begitu dingin, tak menjadi halangan bagi Leon untuk tertidur tepat di atas lantai raungan tengah. Apartemen yang tampak berantakan tidak membuat Leon merasa risih, dia memilih mengistirahatkan pikirannya yang terasa kacau.
Sednagkan di rumah sakit, Steve yang merasakan tubuhnya terasa lelah tak terasa tertidur di sofa panjang yang ada di rumah sakit.
Tepukan berat dan terasa dingin terasa di pundak Steve, senyuman seorang wanita terlihat jelas di wajah cantiknya. Steve dapat dengan jelas melihat betapa pucat ya wanita kini yang ada tepat di depannya, Steve membenarkan posisi duduknya.
“Liona… kamu…” ucap Steve setengah terkejut melihat Liona yang menatapnya sambil memperlihatkan senyuman tercantiknya.
“Iya Steve, ini aku… kenapa kamu tidur di sini, apa kamu tidak lelah…?” Tanya Liona dengan suara lembut sambil menatap Steve.
“Liona, bukannya kamu sedang ada di dalam.” Steve menoleh menatap di mana ruang icu berada,
“Aku sudah sembuh Steve, aku sudah tidak sakit lagi. Kamu bisa lihat…?” Liona memutar tubuhnya, agar Steve dapat melihatnya.
Steve mengernyitkan kedua matanya, melihat kondisi Liona yang tampak baik baik saja.
“Syukurlah Liona, aku takut jika terjadi sesuatu denganmu.” Steve menatap Liona dengan intens.
“Tapi Steve, sepertinya aku tidak bisa menemanimu di sini. Dan untuk masalah pernikahan kita, aku tidak bisa menikah denganmu. Maafkan aku…”
Tatapan liona penuh dengan kesedihan, terlihat dari genangan air mata yang ada di pelupuk mata Liona.
“Maksud kamu…?” Tanya Steve dengan nada penuh kebingungan.
“Dia akan bersamaku Steve.” Sela seorang laki laki yang sangat Steve kenal.
“Patric… kamu masih hidup, bukannya kamu sudah…” Steve tidak dapat melanjutkan ucapannya, dia bingung dengan situasi yang kini ada tepat di depannya.
“Kamu tidak usah bingung Steve, kedatangan ku ingin menjemput Liona. Dia akan aman bersamaku, tapi aku ingin meminta satu hal ke kamu Steve.”
Patric menghentikan ucapannya, dia berjalan dan duduk di samping Steve. Liona juga mengikuti patric, Steve yang duduk dengan di apit Liona dan juga patric.
“Kami titip eric, rawat dia seperti anak kamu sendiri. Jangan pernah bilang jika eric adalah anak kami, aku takut jika keluargaku tahu. Pasti mereka akan mencelakai eric, sama dengan mereka yang telah mencelakai ku.”
Steve terkejut mendengar akhir kalimat yang di ucapkan patric, dia tidak percaya ternyata kecelakaan patric di sebabkan oleh keluarganya sendiri.
“Apa…? Kenapa kamu tidak bilang Liona…? Jika ada yang mencelakai patric…?”
Liona tersenyum, dia memegang tangan Steve. Rasa dingin dari genggaman tangan Liona membuat Steve terkejut, dia menatap Liona tajam.
“Untuk apa aku bilang, sama juga aku akan mencelakainya eric. Jika kamu tahu pasti kamu akan membujuki mengusut semuanya sampai habis, biarlah Steve. Mereka yang telah mencelakai kami menerima ganjarannya suaramu saat nanti, dan aku juga mohon. Titip eric, rawat dia menjadi anakmu.”
Ucapan Liona dan eric membuat Steve semakin bingung, saat dia ingin mengatakan sesuatu ke Liona dna patric, terasa lengan Steve di goyangkan oleh seseorang.
“Steve… Steve…” suara alex membuyarkan mimpi Steve, dia segera membuka kedua matanya.
Tatapannya terarah tertuju ke arah alex, kesadarannya yang seutuhnya belum kembali membuat Steve meraup mukanya kasar.
“Cuci muka dulu, setelah itu kita urus pemakaman Liona.” Ucap alex dengan suara yang terdengar perlahan.
“Apa maksud papa…? Apa yang sednag terjadi dengan Liona…?” Steve segera berdiri dari sofa, kini alex dan Steve saling bertatapan satu sama lain.
“Jadi kamu belum tahu jika Liona telah tiada.” Ucap alex tampak bingung.
“Aku dari tadi tertidur di sini pa, dan tadi Liona….” Ucapan Steve terhenti, dia memutar pertemuannya dengan patric dan Liona.
“Ya Tuhan….” Ucap Steve merasa syok.
“Ada apa Steve….? Apa terjadi sesuatu tadi malam….?” Tanya alex penasaran.
“Tidak pa…. Tidak ada apa apa. Kita urus pemakaman Liona.” Ajak Steve mengajak alex segera mengurus pemakaman Liona.
Proses pemakaman yang berjalan lancar, hanya di hadiri oleh beberapa teman Liona dan juga keluarga Steve. Steve sempat menghubungi keluarga Liona, tapi sak satupun dari mereka akan datang menghadiri pemakaman Liona.
Steve menatap gundukan tanah yang masih tampak segar, taburan bunga membuat wangi tercium di makam Liona.
“Sebenarnya apa yang telah terjadi dengan kalian, sampai kalian harus kehilangan nyawa kalian.” Batin Steve sambil menaburkan bunga di pemakaman Liona dan juga patric.
Steve sengaja memakamkan Liona di samping makam patric, dia ingin agar Liona dan patric bisa kembali bersama.