Ini kisah lanjutan #LuckyDaisy yang bercerita keluarga Buwono setelah kelahiran Kenzie. Bagaimana dokter Lucky dan istrinya dokter Daisy menikmati kehidupan rumah tangganya bersama dengan pebinor nya, Winston. Belum kasus dengan divisi kasus dingin termasuk dokter Lucky masih saja takut dengan tim arwahngers. Kemungkinan sampai kehamilan Elina dan kelahirannya yang penuh warna.
Generasi ke 8 klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kasus Menyebalkan
Medical Examiner RS Bhayangkara Jakarta
Ruang Medical Examiner RS Bhayangkara terasa dingin, bukan hanya karena suhu AC yang disetel rendah, tapi juga karena topik yang dibahas pagi itu.
Daisy berdiri di depan meja autopsi, mengenakan jas forensiknya. Di depannya terbentang laporan lengkap. Wajahnya serius, matanya tajam membaca setiap detail.
Iptu Fariz bersandar di dinding, tangan dilipat. “Jadi, kesimpulan awalnya benar bunuh diri?”
Daisy tidak langsung menjawab. Ia melirik ke arah Dokter Wayan yang duduk sambil memegang tablet, lalu ke Mamat yang berdiri agak tegang di sudut ruangan.
“Secara kasat mata, iya,” kata Daisy akhirnya. “Korban ditemukan di kamar, pintu terkunci dari dalam, tidak ada tanda-tanda perlawanan.”
Mamat mengangkat tangan ragu-ragu. “Luka di pergelangan tangan… itu konsisten dengan… bunuh diri, dok?”
Dokter Wayan menghela napas pelan. “Sayatan rapi, arah konsisten, tidak ada tanda dipaksa. Itu biasanya indikasi tindakan sendiri.”
Iptu Fariz mengernyit. “Tapi?”
Daisy tersenyum tipis. “Nah, kamu cepat nangkapnya.”
Ia menunjuk bagian laporan. “Korban ini gadis muda. Tidak ada riwayat depresi berat menurut keluarga. Tidak ada catatan medis psikiatri. Dan …” ia berhenti sejenak, “ada memar kecil di lengan atas.”
Mamat langsung mendekat. “Memar? Seperti bekas pegangan?”
“Bisa jadi,” jawab Daisy. “Atau bisa juga terbentur. Tapi posisinya … agak mencurigakan.”
Iptu Fariz kini berdiri tegak. “Jadi kemungkinan ada orang lain di sana?”
Dokter Wayan menggeleng pelan. “Belum tentu. Kita harus hati-hati. Memar kecil seperti itu bisa terjadi dari banyak hal.”
Daisy menatap Iptu Fariz lurus. “Ini bukan kasus yang bisa ditutup cepat hanya karena terlihat ‘rapi’. Terlalu rapi justru kadang mencurigakan.”
Iptu Fariz menyeringai tipis. “Artinya saya belum bisa santai, ya.”
“Jauh dari santai,” sahut Daisy. “Kita perlu cek toksikologi, riwayat komunikasi korban, dan kondisi psikologisnya dari orang terdekat.”
Mamat terlihat sedikit gugup. “Dok… kalau ternyata ini bukan bunuh diri?”
Daisy menjawab tanpa ragu. “Kalau bukan, berarti seseorang berusaha membuatnya terlihat seperti bunuh diri.”
Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi. Iptu Fariz mengangguk pelan. “Baik. Aku akan dalami dari sisi penyelidikan.”
Dokter Wayan menambahkan, “Saya lanjutkan analisis jaringan dan luka lebih detail.”
Mamat menarik napas dalam. “Saya bantu dokumentasi tambahan, dok.”
Daisy menutup map laporan dengan tegas. “Kita tidak hanya mencari penyebab kematian,” katanya pelan, “kita mencari kebenaran.”
Dan di ruangan dingin itu, kasus yang awalnya terlihat sederhana … mulai berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap.
***
Daisy harus melihat bagaimana seorang ayah hancur hatinya saat tahu putrinya meninggal Dean situasi tidak baik. Undisclosed. Siapapun pasti tidak mau ditinggal orang yang dicintainya dengan situasi seperti itu.
Arti undisclosed adalah tidak diungkapkan. Daisy, Mamat dan dokter Wayan masih meragukan kematian korban adalah bunuh diri.
Daisy tahu semua orang memiliki struggle nya sendiri. Bagaimana bisa mengatasinya. Itu yang utama. Terkadang seseorang tidak berani bercerita karena takut kena judgement dari orang-orang sekitar. Padahal, mereka hanya butuh didengarkan. Tak heran angka kematian yang diakibatkan dari bunuh diri di Konoha semakin meningkat.
Paling dasar alasannya adalah ekonomi. Entah tidak punya pekerjaan atau hutang atau apapun. Pasti berhubungan dengan uang. Hanya saja kasus ini, Daisy belum bisa memutuskan penyebab kematiannya secara resmi.
"Apa Bapak tahu masalah yang dihadapi oleh putri Bapak?" tanya Iptu Fariz yang memegang kasus ini.
"Saya ... tidak tahu ...." Pria paruh baya itu tampak masygul melihat surat kematian yang dipegangnya. "Jika bunuh diri ... pasti tidak akan diusut kan?"
"Tergantung sumber permasalahannya. Dulu tim divisi kasus dingin bisa menghukum orang yang membuat seorang mahasiswi bunuh diri. Dia membully mahasiswi dan melecehkan banyak gadis di luar sana. Jadi tergantung apa yang membuatnya seperti itu," jawab Iptu Fariz.
Daisy mengangguk. "Saya tahu bapak ingin membawa putri bapak pulang tapi berikan kami waktu sekitar setengah jam untuk mendapatkan hasil test laboratorium forensik kami."
"Jika putri saya tidak meninggal karena bunuh diri ... bagaimana?" tanya pria itu.
"Maka kami akan melakukan penyelidikan terbuka. Siapapun pelakunya, dia harus bertanggung jawab!" jawab Iptu Fariz.
***
Kediaman keluarga Buwono
"Kenz ... Papamu kok ngantuk lagi ya?" gumam dokter Lucky sambil melihat Kenzie asyik berjalan sambil memegang pinggir tempat tidur.
"Pa ... Pa ... Alan ... Wok," seru Kenzie.
"Alan itu Opa Paklik kamu, Kenz!" kekeh dokter Lucky. "Lagian ya Paklik tuh malah nikah sama Oma Rayline. Jadinya sudah auto dapat keponakan plus cucu," ujar dokter Lucky sumringah.
Kenzie, bayi sembilan bulan dengan pipi bulat dan mata berbinar, berdiri dengan kedua tangan terangkat, menjaga keseimbangan.
Di hadapannya, dokter Lucky duduk lesehan di atas karpet tebal dengan senyum lebar, kedua tangan terbuka menyambut.
“Ayo, Kenzie… ke Papa,” ucap Lucky lembut, suaranya penuh harap. "Habis ini kita boci ya? Bobok ciang."
Kenzie mengoceh pelan, seolah menjawab. Satu langkah diambil. Sedikit oleng. Lalu langkah kedua, lebih berani.
Dokter Lucky menahan napas.
Satu… dua… tiga…
Dan sebelum jatuh, tubuh kecil itu sudah sampai, jatuh tepat ke pelukan hangat ayahnya.
“Tangkap!” Dokter Lucky tertawa, langsung mengangkat Kenzie tinggi-tinggi. “Anak Papa bisa jalan sekarang!”
Kenzie langsung tertawa heboh khas anak bayi. Dia pun memegang wajah dokter Lucky.
"Pa ... Papa ... Agi," celotehnya dengan heboh.
***
Yuhuuuu up malam yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote in gift
Tararengkyu
kasihan banget flint, padahal dia nggak tau apa-apa
ayahnya itu ampun deh...
ibunya juga kurang aware😓😓😓
lgian,spa jg yg bkln sbar kl ktmu orng ga wrs ky gt....bgus bgt idenya dok gabut yg mau bkin dia gatal2,biar kapok....
yang dikhawatirkan sama kan.... pispot🤣🤣🤣🤣