NovelToon NovelToon
Ogah Kalah Taruhan

Ogah Kalah Taruhan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fanfic / Enemy to Lovers / Idol / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Idola sekolah
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rain (angg_rainy)

Joshua Halim, anak ketua yayasan sekaligus cowok paling berkuasa di Seventeen International School, tiba-tiba menyatakan cinta, Yeri Marliana L. menolaknya tanpa ragu.

Penolakan itu melukai ego Joshua. Terlebih lagi, ia sedang berada di tengah taruhan dengan gengnya VOCAL (Vanguard Of Commanding Alpha Leaders), dan Joshua tidak pernah menerima kekalahan.

Sejak saat itu, ia terus mendekati Yeri dengan berbagai cara, memaksa jarak di antara mereka semakin sempit. Di sisi lain, Yeri justru harus menghadapi konsekuensinya: diincar, dijahili, dan dibully.

Tapi Yeri bukan tipe yang lemah. Ia melawan semuanya tanpa ampun. Namun keadaan berubah saat neneknya membutuhkan biaya operasi besar. Dalam kondisi terpojok, Joshua datang dengan tawaran yang tak bisa ia abaikan—ia akan menanggung seluruh biaya, asalkan Yeri mau menjadi pacarnya.

Dan di balik hubungan yang dimulai dari taruhan dan paksaan itu, satu hal mulai keluar dari kendali—perasaan yang seharusnya tidak pernah ada.

Story by Instagram & Tiktok @penulis_rain

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 29

Joshua baru pulang, ia naik tangga dengan santai, tapi berhenti pas ngeliat seseorang masih duduk di sofa ruang tunggu. Dia ngangkat alis pertanda heran, terus natap nyalang ke arah Yeri.

“Lo masih di sini?” Dia ngelirik jam di dinding. “Udah jam 8 malem.”

Yeri berdiri pelan. Wajahnya keliatan capek, tapi dia bales tatapan itu serius banget. “Gue harus ngomong sama lo,” ucap Yeri datar. Joshua nyengir tipis, smirk khasnya langsung muncul.

“Soal apa? Status pacaran kita?”

Yeri males nanggepin, saat ini cuma pengen to the point. “Soal perjanjian kita.”

Joshua langsung ngerti. Tanpa banyak tanya, dia lanjut jalan. “Masuk,” titahnya. Yeri ngikutin dia ke dalam kamar dan begitu pintu ketutup, Joshua jalan ke meja, ambil ponselnya.

“Berapa?”

“250 juta,” jawab Yeri tanpa ragu sedikit pun. Nggak ada basa-basi, apalagi negosiasi.

Joshua cuma ngangguk. “Oke.” Tangannya langsung gerak cepet di layar ponsel. “Udah gue TF,” katanya santai.

Yeri bengong, matanya memelotot kaget. Ngeluarin duit 250 juta udah kayak bayar parkir yang cuma dua ribuan. “Hah? Segampang itu?”

Joshua ketawa kecil. “Tabungan gue nggak terbatas, Yeri. Segitu mah … receh.”

Kalimat itu langsung nusuk relung hati Yeri. Yeri nunduk, dadanya tiba-tiba sesek. Kenapa hidup bisa se-gak adil ini? Dia harus mati-matian kerja, mikir biaya ini itu, nahan capek, nahan lapar … sementara Joshua? Cuma pencet layar, selesai. Duit kayak anteng banget mendarat di rekening cowok itu.

Air matanya tiba-tiba jatuh tanpa dia sadar, Joshua langsung ngernyit.

“Loh?” Dia maju dikit, mengikis jarak. “Bukannya lo harusnya seneng? Kenapa malah nangis?”

Yeri buru-buru ngusap pipinya. “Siapa juga yang nangis? Dikira gue bayi.”

Joshua makin deket. Sekarang jarak mereka cuma beberapa senti.

“Serius?” tanya Joshua memastikan. Yeri kaget, langsung dorong dada Joshua.

“Jangan deket-deket.”

Bukannya nurut, Joshua malah nangkep pergelangan tangannya. Pegangannya kuat, mencengkeram dan ngunci pergerakan Yeri supaya nggak bisa ke mana-mana.

“Lo beneran nangis?” tanyanya lagi, kali ini lebih serius.

Yeri berusaha narik tangannya. “Lepasin, Josh,” ucap Yeri masih belum meninggikan suara.

Joshua nggak lepas, malah dia narik Yeri mendekat. Dan sebelum Yeri sempet bereaksi, tubuhnya udah ketarik masuk ke pelukan Joshua.

“Lepasin!” Yeri langsung berontak, dorong-dorong dada Joshua. Tapi Joshua nggak goyah. Tangannya malah makin erat melingkari Yeri.

“Berhenti gerak,” katanya pelan, tapi tegas. “Atau gue cium lagi,” ancamnya.

Yeri langsung beku. Nggak bergerak sama sekali. Sunyi beberapa detik. Joshua pelan-pelan nepuk punggung Yeri, ritmenya santai. Agak aneh rasanya, tapi kok hangat? Yeri juga bingung, makanya dia sempat melamun sebentar.

“Kenapa ya, orang-orang jahat banget? Semua nggak adil.”

Joshua mengangguk sambil mengelus Yeri. “Ya, dunia ini emang nggak adil. Gue juga jahat sama lo. Tapi tolong, bertahan ya.”

Dan entah kenapa pertahanan Yeri runtuh. Tangis yang tadi ditahan pun pecah. Dia nangis, beneran nangis terisak sekarang. Pelan, tapi lama-lama makin jelas. Semua capek, beban, dan ketidakadilan yang dia rasain … keluar begitu aja.

Joshua diem. Nggak ngejek. Nggak ngomong aneh-aneh lagi. Dia tahu sekarang apa yang Yeri butuhin cuma peluk. Lumayan, degup jantung Joshua udah cukup nenangin perasaan Yeri. Sempet kacau dan buntu kayak benang kusut, sekarang udah lurus lagi.

***

Angin malam di balkon kamar Joshua berhembus pelan. Lebih adem, tapi juga bikin suasananya makin aneh. Semacam ada hawa-hawa yang nggak biasa. Sayangnya, Joshua dan Yeri nggak punya kemampuan buat jelasin feel itu.

Joshua naruh jaketnya di bahu Yeri tanpa nanya apa-apa, murni secuil perhatian karena peduli. “Pake. Udaranya dingin. Nanti masuk angin terus sakit.”

Yeri cuma ngelirik sekilas. “Gue nggak kedinginan,” tolak Yeri.

“Yaudah, buang aja ke bawah,” balas Joshua ketus. Yeri cuma bisa ngedengkus nahan kesal, tapi tetep pake jaket Joshua. Milih nerima apa aja pemberian cowok itu daripada dicium paksa lagi. Kesel, sih tapi okelah, sama-sama mau.

Mereka berdiri di pinggir balkon. Lampu-lampu kota yang jauh keliatan kayak bintang-bintang berantakan. Untung aja cahaya dari bulan lumayan terang. Ngasih sedikit kehangatan buat suasana canggung yang sunyi ini.

Yeri nyender ke pagar balkon, “Gue nggak nyangka. Ternyata gue kangen juga punya kamar yang punya balkon kayak gini.”

Joshua langsung nyamber. “Oh, jadi kamar lo dulu di lantai dua?”

Yeri otomatis ngangguk kecil, tapi langsung tersentak dan berusaha nutupin, takut banget identitas dia kebongkar. Yeri belum siap menghadapi ayahnya, terlebih ibu tirinya.

“N-nggak, nggak gitu! Gue cuma … berandai-andai aja. Mana mungkin orang miskin kayak gue punya kamar begini.”

Joshua senyum miring, jelas dia nggak percaya. “Ya … ya … berandai-andai. Begitu rupanya.”

Joshua ngelirik ke arah Yeri, tepat satu menit setelah kalimat terakhirnya barusan. “Tadi lo kenapa? Duit yang gue kasih kurang?”

Yeri mendesah panjang. “Bukan. Tadi gue ketemu sama nyokap lo.”

Joshua otomatis nengok cepat, ekspresinya kaget. “Terus?”

“Dia bilang dia khawatir lo nggak bisa kuliah karena lo bego.” Yeri mengutip sambil geleng-geleng.

Joshua pun langsung manyun kesel. “Itu bukan kata-kata yang perlu lo ulang, Yeri.”

“Tapi gue .…” Yeri nelen ludah. “Gue khawatir nggak bisa kuliah karena gue nggak punya biaya."

Joshua diem sebentar, terus ngedengkus.

“Ya ampun. Apa sih yang lo khawatirin? Gue ‘kan udah bilang gue bakal bayarin kuliah lo.”

Yeri ngelirik dengan tatapan datar, lalu gigit bibir bawahnya. Canggung. “Maksud gue, kuliah itu. Apa mungkin gue masih hidup di saat itu? Denger. Gue ... sekarang agak capek aja, hidup begini.”

Joshua nutup mulutnya sebentar, kayak lagi nahan komentar sarkas. Tapi akhirnya dia cuma ngelirik Yeri lama banget.

“Udah, gak boleh ngomong gitu. Gue tau kok caranya bikin lo nggak sedih.”

Nada suaranya datar, tapi matanya jelas-jelas nakal. Agak melirik ke bagian yang pernah dia sentuh dalam. Karena udah pernah, otomatis pengen lagi dan lagi. Sensasinya bukan main, nikmat banget sampai kebawa mimpi.

“Jangan mulai,” Yeri langsung ngasih peringatan. Tapi Joshua udah ngambil satu langkah kecil ke depan. Yeri otomatis mundur setengah langkah. Hawa tubuh Joshua deket banget sekarang, sampai napasnya kerasa.

“Serius.” Joshua bisik pelan. “Gue tau apa yang paling lo butuhin di situasi kayak gini.”

Wajahnya makin mendekat sampai jaraknya cuma beberapa senti. Yeri bisa ngeliat jelas bulu mata Joshua, bibirnya, dan semuanya. Bentuk wajah sempurna, tampan khas ala-ala cowok badboy yang jago bikin semua cewek jatuh cinta.

“Eh, maksud lo apaan? Otak gue nggak mesum, ya.” Yeri buru-buru miring, menghindar. “Lo mau gue tendang lagi?”

Joshua ketawa kecil. “Tapi gue sekarang pacar lo. Kenapa kita nggak boleh ciuman?”

Kalimat itu langsung bikin Yeri diam. Dia nggak punya jawaban. Nggak tau harus marah, malu, atau kabur. Tapi kalau boleh milih, apa bisa dilakuin semuanya? Ah, jelas nggak mungkin banget.

“Harusnya, gue bolehin lo cium gue gitu?”

“Menurut lo?”

Dan dalam sunyi yang aneh itu, Joshua lagi-lagi ngedeketin wajahnya. Pelan. Nggak maksa, kali ini dia biarin tempo itu ngalir sendiri. Beri kesempatan ke Yeri supaya lebih rileks, jadi semuanya berlangsung tanpa unsur paksaan.

Yeri ngerasa dadanya penuh. Nggak nyaman, tapi nggak sepenuhnya nolak. Jarak mereka makin dekat. Napas yang saling berbalas itu, makin terasa oleh masing-masing.

“Joshua .…” Suara Yeri pelan, goyah.

“Hm?” Joshua nunduk sedikit, matanya fokus cuma ke satu titik, bibir Yeri. Merah merona, ranum, dan hampir berbentuk love. Sempurna. Bagian tubuh yang sejak awal udah jadi daya tarik.

Yeri harusnya mundur. Harusnya marah. Harusnya dorong Joshua kayak biasa. Tapi yang kejadian justru aneh. Ya, dia malah merem, semacam udah nunggu momen ini lagi.

Perlahan, beberapa detik kemudian, bibir Joshua akhirnya nyentuh bibir Yeri. Lembut dan hangat, lebih santai dan nggak tergesa-gesa. Nggak agresif kayak di pantai waktu itu. Yeri ngerasa tubuhnya kaku, tapi lama-lama bagian dadanya melunak. Ada rasa aneh campur aduk. Deg-degan, gugup, tapi juga nyaman. Mungkin, dia juga bingung gimana jelasinnya.

Joshua taruh satu tangannya di belakang kepala Yeri, nahan pelan, seolah takut Yeri kabur. Bibirnya nyari posisi yang pas, ngerasain respon Yeri yang masih ragu, tapi nggak menarik diri. Karena sempat ada jeda, ciuman kedua ini rasanya masih kayak first kiss hari itu.

Joshua menekan kepalanya lembut, membenamkan bibirnya jauh ke mulut Yeri. Suara khas dua bibir yang beradu itu terdengar manis, ditangkap oleh telinga mereka sebagai tanda bahwa sama-sama nikmatin. Yeri juga nggak banyak nolak, dia malah ngebales isapan lidah dari Joshua.

Ciumannya pelan, nggak maksa. Dan Yeri tanpa diminta ngelakuin hal yang sama. Dia gigit lembut bibir Joshua, terus ngisap lidah cowok itu. Joshua seneng, dia ngasih perasaanyang lebih. Joshua mendorong kepalanya sampai Yeri juga ikut, tapi badannya masih ditahan. Ciuman semakin dalam, kedua bibir bertaut sempurna tanpa celah.

Dan tanpa sadar, lenguhan itu keluar juga, tepat ketika degup jantung Yeri semakin kencang. Joshua masih di sana, nggak mau berhenti meski cuma sedetik, meski Yeri mulai ngasih pukulan kecil sebagai tanda dia sulit bernapas.

Joshua sengaja masuk keluarin lidahnya. Untung aja, di sini Joshua nggak mau main brutal. Sebagai pemain, dia paham banget kalau cewek rata-rata suka main yang slow. Yeri narik-narik lengan baju Joshua. Joshua terus ngelancarin aksinya itu, dibalas Yeri yang nggak ragu ngeluarin suara demi ngasih makan ego Joshua.

Semacam takut, tapi pengen juga. Tapi nggak mau too much karena Joshua itu the real badboy cabul.

Sampai akhirnya Yeri sadar dia ngelakuin apa, dia buru-buru narik badan, napasnya ngos-ngosan halus. Hal itu bikin Joshua gemes sendiri.

“Stop!” Yeri pegang bibirnya sendiri. “Ini udah berlebihan, anjir! Lo mau mati?”

Joshua cuma senyum pelan sambil ngusap bibirnya, kayak abis dapetin hadiah.

“Masa gue harus mati cuma buat bisa nyium bibir lo?” katanya santai.

“Wah, kayaknya lo beneran mau mati, ya?” balas Yeri jutek.

“Yakin lo mau bunuh gue? Padahal tadi keenakan begitu tuh?” Joshua malah nantang dengan wajah sengaknya. Yeri langsung gerak tanpa mikir, tangannya naik, nge-lock leher Joshua dari samping.

“Nih. gue buktiin sekarang!” katanya sambil ngetat-ngetatin pitingan.

“A–AAAAW! Sakit bego!” Joshua meringis, badannya agak nunduk. “Lepasin!”

“Nggak mau! Gue nggak bakal lepasin!"

“MARCEEEEL!” Dia teriak panik sambil nepuk-nepuk tangan Yeri.

Begitu denger nama Marcel, Yeri langsung ngelepas pitingannya cepat bukan karena kasihan, tapi karena ogah banget kalau sampai ada saksi.

“Jangan manggil-manggil Marcel, lo takut? Pengecut banget sih!” gumamnya sambil ngibasin rambut, sementara Joshua masih pegang lehernya sambil ngeluh pelan.

“Uhuk-uhuk! Gue ... bukan takut, tapi nggak kuat nahan diri. Apalagi lo newbie, pasti masih sealed,” jawabnya sambil natap dada Yeri.

Yeri langsung melotot sambil nutupin dadanya dengan tangan. “ Sealed biji lo! Emang gue barang! Orang gila!”

1
Rosalina Ayyaee
Emg ada aja ide jenius nya dy klo buat ktmu Yeri, intinya nekat ya Josh
Rosalina Ayyaee
Yeri udh capek idupp kaya gitu 😩 ksian
Rosalina Ayyaee
Hah😩 Pacarin itu cuma biar menang taruhan doang dong si Josh
Rosalina Ayyaee
Jijik tapi pas adu bibir semangat btul🤭
Rosalina Ayyaee
Johan tu suka🤭 cuma nggak se gercep Shua aj
Rosalina Ayyaee
aih ciumannya nah mantep btul🤭
Rosalina Ayyaee
Kesian bgt pdhl lu kaya Yeri, apa gk bsa dikuat2in aj dsono
SuryaNingsih
si Josh ini, nggak ada yg belagak kaya ratu🤣 dia aja yg sensitif bgt
SuryaNingsih
Waduh udh kena kunci 🤣 Kalau udh di cium sih udh pasti ngga bkal bsa lolos
Wulandarry
Lo ngape bahas suami😩 pacaran aja belom kalian
Wulandarry
Hadeuh, romantisnya abis nganu dipukul deh bijinya🤭
Fitri Pujianti
Kenapa tiba2 bahas istri dah😄 Joshua udh mau bawa yeri kawin kah🤭
Fitri Pujianti
Sedapp Joshua dapett first kissnya Yeri🤭
Fitri Pujianti
tadi ngusir🤣 pas udh mau plg malah mo ikutan 🤣 Josh ini gengsi apa moody
Fitri Pujianti
Nggak ditulis jelas emg karena ngga mau ktawan
Yerim Naira
🤣🤣 Malah brantem lagi... tapi emg Josh nya curi ksmpatan itu🤣
Yerim Naira
Yeri lumayan kebawa arus juga🤭
Yerim Naira
Masa lalunya kaya gitu ya ... Hmm trus itu yg bkin Yeri kabur dari rmh
Yerim Naira
ketahuan sama josh😩
Nurani Putri
ngomongnya sih najis ya tapi pas di kokop yg semangat yg blg najis🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!