Judul: RAMALAN CINTA YANG TERKUNCI
Sub-judul: Takdir bukan untuk diubah, tapi untuk dijalani.
~~~~~~ ~~~~~~~ ~~~~~~~~
Langit malam yang gelap dengan bulan berwarna merah darah (Gerhana). Di kejauhan, siluet kota tua dengan arsitektur menara yang tinggi dan misterius.
▪︎Objek Utama:
- Di tengah, terdapat sebuah gembok antik yang besar dan berkarat, namun terbuat dari emas murni yang berkilau samar.
- Gembok itu terbelah dua, dan dari celah di antara keduanya memancarkan cahaya yang sangat terang, perpaduan antara warna Perak (Elara) dan Merah Gelap (Kael).
- Sebuah kunci tua melayang di udara, tepat di atas gembok, seolah baru saja membukanya atau hendak menguncinya.
.
.
.
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jasmine Oke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Lautan Bintang dan Pulau Terapung
Perjalanan melintasi ruang dan waktu kali ini terasa lebih panjang dari biasanya. Elara dan Kael tidak menentukan tujuan spesifik saat membuka portal; mereka membiarkan arus energi alam semesta yang membawa mereka ke tempat yang paling membutuhkan bantuan.
Saat cahaya portal meredup dan kaki mereka kembali menyentuh tanah yang padat, mereka terbelalak takjub melihat pemandangan di depan mata.
Mereka tidak berada di daratan biasa, dan juga tidak di dunia yang tertutup awan. Mereka berada di sebuah pulau besar yang... melayang di udara!
Di bawah pulau tempat mereka berdiri, terbentang hamparan luas yang bukan air laut, melainkan lautan awan putih yang tebal dan lembut. Dan di kejauhan, terdapat ratusan pulau terapung lainnya dengan berbagai ukuran, terhubung oleh jembatan-jembatan batu dan rantai besi yang kokoh.
Namun yang paling memukau adalah langit di atas mereka.
Langit itu gelap pekat seperti malam, namun dipenuhi oleh jutaan bintang yang bersinar sangat terang dan jelas, seolah-olah mereka sedang berdiri tepat di luar angkasa. Tidak ada matahari, tapi cahaya dari bintang-bintang itu sudah cukup untuk menerangi seluruh wilayah dengan cahaya keemasan yang magis.
"Wow..." Elara mengangkat wajahnya, matanya berbinar memantulkan keindahan langit itu. "Ini indah sekali, Kael. Rasanya seperti berada di dalam lukisan."
Kael juga tersenyum kagum sambil memandang sekeliling. "Ini adalah Dunia Zephyria. Dunia para pengembara dan ahli navigasi bintang. Konon, orang-orang di sini bisa membaca arah hanya dengan melihat pergerakan bintang."
Mereka mulai berjalan menyusuri jalan setapak yang terbuat dari batu apung. Suasana di sini sangat unik. Angin berhembus kencang namun sejuk, membawa suara musik tiup yang merdu dari kejauhan. Penduduknya terlihat ramah dan ceria, kebanyakan dari mereka mengenakan pakaian ringan berwarna-warni dan aksesoris dari cangkang kerang langit serta kristal meteor.
Namun, saat mereka berjalan lebih dalam menuju pusat kota utama, suasana yang tadinya terlihat damai itu perlahan berubah menjadi aneh.
Mereka melihat banyak penduduk yang berdiri atau duduk diam menatap langit dengan tatapan kosong. Wajah mereka tampak bingung dan gelisah.
"Ada apa dengan mereka?" bisik Elara.
"Ayo kita tanya," jawab Kael.
Mereka mendekati seorang pria tua yang sedang duduk memegang sebuah kompas besar yang jarumnya berputar kacau tanpa arah.
"Selamat siang, Kek," sapa Elara lembut. "Maaf mengganggu. Kenapa semua orang tampak begitu cemas?"
Orang tua itu menoleh, menghela napas panjang dengan wajah lesu.
"Ah, kalian pasti orang asing ya? Kalian tidak tahu apa yang terjadi..."
"Apa yang terjadi, Kek?" tanya Kael.
"Bintang-bintang kami..." tunjuk orang tua itu ke langit dengan tangan gemetar. "Mereka mulai hilang. Dan yang lebih parah... mereka mulai bergeser dari tempatnya!"
Elara dan Kael langsung mendongak menatap langit. Benar saja! Jika diperhatikan dengan seksama, bintang-bintang itu tidak diam. Mereka bergerak perlahan, bergeser tidak menentu, dan beberapa yang paling redup memang terlihat semakin pudar dan menghilang.
"Dulu," lanjut orang tua itu, "Bintang-bintang adalah peta kami. Mereka memberi tahu kami kapan musim berubah, kapan badai datang, dan arah pulang. Tapi sekarang... mereka berantakan! Kompas tidak berfungsi, navigasi lumpuh, dan kami takut... takut jika semua bintang hilang, dunia kami ini akan jatuh ke dalam kehampaan di bawah!"
Jantung Elara terasa mencelos. Jadi ini masalahnya. Dunia ini hidup dan bergantung pada keteraturan konstelasi bintang. Jika bintang berantakan, kehidupan mereka pun ikut kacau.
"Jangan khawatir, Kek," kata Elara dengan yakin. "Kami bisa melihat apa yang salah. Kami akan membantu memperbaikinya."
"Kalian bisa?" mata orang tua itu berbinar sedikit. "Tapi para penyihir dan ahli sihir terbaik kami sudah mencoba. Tidak ada yang bisa menyentuh bintang. Itu terlalu jauh!"
"Jarak bukan masalah bagi kami," sahut Kael sambil tersenyum misterius. "Di mana tempat tertinggi di dunia ini?"
"Itu... Menara Pengamat Abadi di pulau pusat. Tapi itu tempat suci yang hanya boleh dimasuki oleh Ratu Bintang kami."
"Kalau begitu, kami harus menemui Ratu Bintang itu," kata Elara tegas. "Ayo Kael, kita harus cepat sebelum bintang terakhir hilang."
Dengan bantuan penduduk setempat, Elara dan Kael segera menuju pulau pusat. Mereka menaiki sebuah perahu layar yang menggunakan sihir angin, meluncur cepat di atas lautan awan menuju menara yang menjulang paling tinggi.
Sesampainya di sana, mereka disambut oleh sosok yang anggun namun terlihat sangat lelah.
Itu adalah Ratu Lyra, penguasa Zephyria. Wanita itu cantik dengan rambut yang tampak seperti terbuat dari debu bintang. Namun wajahnya pucat dan linglung.
"Siapa kalian? Mengapa kalian mengganggu meditasiku?" tanya Ratu Lyra dengan suara lemah.
"Kami datang dari dunia lain, Yang Mulia," kata Elara sopan. "Kami tahu bahwa bintang-bintang kalian sedang bermasalah. Kami ingin membantu."
Ratu Lyra tertawa kecil namun terdengar sedih. "Membantu? Tidak ada yang bisa membantu. Sumber cahaya kami sedang dimakan. Ada sesuatu yang hidup di luar angkasa, sesuatu yang kelaparan, dan ia sedang menggigit ujung-ujung dunia kami satu per satu."
Kael melangkah maju ke tepi balkon menara, menatap jauh ke cakrawala gelap. Matanya yang mampu melihat energi menangkap sesuatu yang tidak terlihat oleh mata biasa.
"Elara, lihat ke sana," tunjuk Kael.
Di jarak yang sangat jauh, di perbatasan dunia ini, terdapat sebuah titik hitam besar yang tidak memantulkan cahaya apa pun. Titik itu bergerak perlahan, dan setiap kali ia bergerak, bintang-bintang di belakangnya hilang ditelan kegelapan.
"Itu bukan bencana alam," kata Kael dingin. "Itu makhluk hidup. Seekor Naga Lubang Hitam."
"Naga?" Elara terkejut. "Makhluk sebesar itu?"
"Ia memakan cahaya dan energi bintang untuk bertahan hidup," jelas Kael. "Masalahnya, jika kita menyerangnya secara kasar, ia bisa meledak dan menghancurkan seluruh dunia ini."
"Kalau begitu bagaimana caranya?" tanya Ratu Lyra panik. "Kita harus menghentikannya sebelum ia memakan Bintang Inti kami! Jika itu hilang, semua pulau akan jatuh!"
Elara memejamkan mata, merasakan getaran dari jauh. Ia tidak hanya merasakan bahaya, tapi juga... rasa lapar yang dahsyat dan kesepian yang mendalam.
"Kael..." bisik Elara. "Naga itu tidak jahat. Ia hanya... lapar dan bingung. Ia tidak tahu bahwa apa yang ia makan adalah rumah bagi jutaan orang."
Elara membuka matanya, bersinar tegas.
"Kita tidak bisa melawannya dengan kekerasan. Kita harus menghadapinya. Kita harus memberinya makan dengan cara yang benar, dan mengembalikannya ke tempat asalnya."
"Kau mau pergi ke sana?" tanya Kael. "Itu sangat jauh dan berbahaya."
"Kalau bukan kita, siapa lagi?" Elara menggenggam tangan suaminya. "Kita terbang, Kael. Kali ini kita akan terbang sampai ke luar angkasa!"
(Bersambung ke Bab 30...)