Dikhianati. Ditinggalkan. Dipisahkan dari anaknya.
Sekar kehilangan segalanya karena cinta yang mendua.
Saat ia bangkit dan menemukan dirinya kembali, seseorang dari masa lalu hadir, membawa kesempatan kedua yang tak pernah ia duga.
Tapi setelah semua yang terjadi
masih beranikah Sekar mencintai lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Pesan dari Aji masuk saat malam mulai turun, singkat, tanpa basa-basi, seolah Sekar memang selalu tersedia setiap kali ia butuh. Baru sepekan lalu Sekar mentransfer uang untuk biaya persalinan Mila, jumlah yang tidak kecil dan sekarang, dengan entengnya Aji kembali meminta.
Tidak ada penjelasan yang jelas, hanya kalimat menggantung yang membuat Sekar langsung kehilangan sisa kesabarannya. Ia membaca pesan itu berulang kali, rahangnya mengeras, tapi jarinya tidak bergerak untuk membalas. Ada keinginan untuk menegur, untuk bertanya ke mana uang sebelumnya pergi, tapi Sekar menahannya. Ia lelah. Terlalu lelah untuk masuk lagi ke lingkaran yang sama. Akhirnya, ia meletakkan ponsel itu begitu saja, memilih diam bukan karena tidak peduli, tapi karena ia mulai belajar bahwa tidak semua hal harus ia tanggapi.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Ponselnya kembali berdering. Kali ini nama yang muncul membuat dadanya langsung deg degan. ibu Aji.
Sekar menjawab dengan cepat. “Halo, Bu?”
Suara di seberang terdengar panik. “Kar… Sea sakit.”
Jantung Sekar seperti berhenti sesaat. “Sakit apa, Bu?”
“Demam dari kemarin… sekarang makin tinggi. Ibu bingung…”
Tanpa berpikir panjang, Sekar langsung berdiri, meraih tas dan kunci mobil. “Saya ke sana sekarang, Bu.”
Perjalanan yang biasanya terasa biasa saja malam itu berubah jadi panjang dan menegangkan. Sekar memacu mobilnya lebih cepat dari biasanya, pikirannya penuh oleh satu hal, Sea. Tidak ada lagi ruang untuk marah pada Aji, tidak ada lagi ruang untuk memikirkan hal lain. Yang ada hanya rasa takut yang menekan dari dalam.
Begitu sampai, Sekar hampir berlari masuk ke dalam rumah. Pemandangan yang ia temui membuat dadanya terasa diremas, Sea terbaring lemah, wajahnya pucat, matanya setengah terpejam. Tubuh kecil itu terlihat semakin kurus, semakin rapuh.
“Ibu…” suara Sea lirih begitu melihatnya.
Sekar langsung mendekat, memeluknya hati-hati. “Sayang… ini kenapa?” suaranya bergetar, tangannya menyentuh dahi Sea yang panas.
“Ibu…” hanya itu yang bisa diucapkan Sea sebelum kembali lemas.
“Kenapa nggak dibawa ke dokter dari kemarin?” tanya Sekar, mencoba menahan emosinya.
Ibu Aji terlihat serba salah. “Ibu pikir cuma demam biasa, Kar…”
Sekar tidak menjawab. Ia tidak ingin menyalahkan siapa pun sekarang. Waktunya bukan untuk itu. “Kita ke rumah sakit sekarang,” tegasnya.
Tanpa banyak perdebatan, mereka langsung berangkat. Sekar menggendong Sea sendiri ke mobil, tidak mau melepaskannya sedikit pun. Sepanjang perjalanan, ia terus mengusap rambut putrinya, berbisik pelan, menenangkan padahal sebenarnya ia sendiri yang sedang berusaha tidak panik.
Sesampainya di rumah sakit, Sea langsung ditangani. Setelah pemeriksaan, dokter menyampaikan dengan nada tenang, “Radang tenggorokan, cukup parah. Harus diobati dan dijaga betul kondisi makan dan istirahatnya.”
Sekar mengangguk, meski dadanya masih sesak.
Di sampingnya, Mila tiba-tiba bersuara, nadanya terdengar menyindir halus tapi cukup jelas. “Selama sama saya, Sea nggak pernah sakit, lho. Giliran habis nginap di tempat ibunya… kok langsung sakit, ya?”
Kalimat itu seperti sengaja dilempar untuk melukai.
Sekar menoleh sebentar. Ia bisa saja membalas. Bisa saja meluapkan semua yang sejak tadi ia tahan. Tapi ia memilih diam. Bukan karena tidak mampu, tapi karena ia tahu ini bukan tentang menang atau kalah dalam percakapan.
Ia menarik napas panjang, menahan dirinya sendiri. Lalu dengan tenang, ia justru mengalihkan pembicaraan. “Mila… jadi operasi cesarnya kapan?” Pertanyaan itu membuat suasana berubah.
Ibu Aji langsung menoleh. “Cesaar? Kata siapa?” wajahnya bingung. “Kok bisa? Kamu saja dulu melahirkan normal, Kar. Kenapa Mila harus cesar?”
Mila terlihat kaget. Wajahnya langsung pucat, matanya bergerak gelisah. “Eh… itu… dokter bilang sih… tapi… mas Aji belum punya uang…”
Sekar mengernyit. “Bukannya sudah aku transfer minggu lalu?”
Sunyi. Ibu Aji langsung menatap Mila, lalu perlahan wajahnya berubah. “Lho… iya juga, ya…”
Beberapa detik yang hening itu terasa berat. Lalu dengan nada pelan, tapi penuh kecurigaan, ibu Aji berkata, “Jangan-jangan… dipakai judi online lagi…”
Sekar terdiam.
“Pantesan beberapa hari ini dia nggak pulang…” lanjutnya lirih, lebih seperti bicara pada diri sendiri.
Sekar tidak mengatakan apa-apa lagi. Tapi di dalam hatinya sesuatu runtuh, sekaligus mengeras. Bukan hanya tentang uang. Bukan hanya tentang kebohongan. Tapi tentang satu hal yang kini semakin jelas, Sea… tidak berada di tempat yang aman.
***
Malam itu terasa panjang, lebih panjang dari biasanya. Sekar duduk di samping ranjang rumah sakit, matanya tidak pernah benar-benar lepas dari wajah kecil yang terbaring dengan selang infus di tangan. Sea tertidur, napasnya pelan, tapi setiap helaan itu justru membuat dada Sekar terasa semakin sesak. Tangannya menggenggam jemari putrinya dengan hati-hati, seolah takut jika ia melepas sedikit saja, anak itu akan kembali jauh darinya.
Di tengah keheningan ruang rawat, pikiran Sekar berputar tanpa henti. Ia tahu jalur hukum sedang berjalan, pengacaranya sudah bekerja, bukti-bukti sudah dikumpulkan tapi semua itu terasa terlalu lambat. Terlalu jauh. Terlalu dingin dibandingkan dengan kenyataan yang ada di depan matanya sekarang. Sea sakit. Lemah. Dan selama ini… tidak benar-benar terjaga.
“Aku nggak bisa nunggu lagi…” bisiknya dalam hati.
Tatapannya mengeras perlahan. Ia tidak mau lagi hanya berharap. Ia harus bertindak. Dan di situlah ide itu muncul, sederhana, tapi berani. Sekar mengangkat wajahnya, menatap ibu Aji dan Mila yang duduk tidak jauh dari sana. “Bu… Mil,” panggilnya pelan, tapi tegas.
Keduanya menoleh.
“Selama Sea sakit ini… biar aku saja yang rawat,” lanjut Sekar tanpa berputar-putar.
Ruangan itu langsung terasa berbeda.
Ibu Aji terlihat bingung, sementara Mila bereaksi lebih cepat. “Nggak usah, Mbak. Saya masih sanggup kok,” jawabnya, nadanya sedikit defensif. “Nanti Mas Aji juga marah kalau tahu.”
Sekar menatap Mila sebentar. Tatapan yang tenang… tapi tidak lagi bisa dianggap remeh. “Marah?” ulangnya pelan. Ia tidak meninggikan suara, tapi kata-katanya mulai terasa tajam. “Mila… kamu sendiri lagi hamil besar,” lanjutnya. “Kamu butuh tenaga. Butuh istirahat.”
Mila terdiam, tapi wajahnya masih menolak.
Sekar tidak berhenti di situ. Kali ini, nadanya berubah lebih dalam, lebih menekan, tapi tetap terkontrol. “Atau… jangan-jangan kamu belum lahiran sampai sekarang karena terlalu capek ngurus Sea?”
Kalimat itu membuat Mila langsung menegang.
“Padahal kita semua tahu… operasi cesar itu nggak murah,” lanjut Sekar, perlahan tapi pasti. “Pemulihannya juga lama. Kamu butuh kondisi yang benar-benar siap.”
Ibu Aji mulai terlihat gelisah. Ia saling pandang dengan Mila. Sekar menangkap itu. Ia melanjutkan, lebih lembut, tapi justru semakin masuk. “Tapi Ibu pasti siap, kan… jagain Mila sama bayinya nanti?”
Ibu Aji mengangguk refleks, meski wajahnya masih diliputi kekhawatiran.
Ruangan kembali sunyi beberapa detik.
dan berulang terus kejadiannya.. dari Sekar di sakiti si Aji & Mila.. terus berusaha legowo demi kepentingan Sea.. dan terus aja MAU di manfaatin terus sama si Aji dan keluarga nya atas nama Sea.....
yg ada malah gampang di bodohin melulu 😤
Saat tersakiti, terus bangkit, tapi ujung-ujungnya mau aja terus di gituin lagiiii.... hadeuhhhh.. cape bacanya juga bolak-balik terus demi kepentingan nya Sea 🤦♀️🤣
.Damar 🤩🤗