Takdir membawa seorang gadis yang polos harus mengorbankan masa mudanya demi kesembuhan sang nenek.
Tawaran dari majikan tempat ia bekerja sangat menggoda. Dengan berbagi pertimbangan gadis itu menyetujui tawaran majikanya.
"Lahirkan seorang cucu buat saya."
"Cucu, bagaiman caranya nyonya?" tanya gadis yang bernama Laras.
"Meniakh dengan putra saya."
"Tapi tuan muda bukanya sudah punya istri nyonya, harusnya yang melahirkan seirang anak itu istrinya." sanggah Laras.
"Kalau dia mau saya tidak akan menawari kamu."
Laras yang sangat membutuhkan uang untuk biaya pengobatan neneknya menandatangi kontrak dari majikanya.
Apakah hidup Lars akan bahagia atau sebaliknya.
Di tunggu komentar dari kk² semua😘😘🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ima susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Laras dikagetkan oleh bunyi ponselnya. Ia mengambil ponselnya yang terletak di malas dan meliaht siapa gerangan yang mengirim ia pesan. Tertera anak asisten nyonya Veronica.
"Kenapa tuan Alex mengirim saya pesan? ada apa gerangan?Apa ini suruhan nyonya Veronica?" gumam Laras. Ia agak ragu membuka pesan itu tapi juga penasaran.
"Buka ga ya? Mana tau penting." gumamnya sendiri. Tanganya menekan pesan yang baru saja masuk dan membaca pesan yang masuk.
"Temui saya di taman, sore ini. Jika kamu tak datang ada konsekwensi yang harus kami tanggung. Jangan buat saya marah." begitulah bunyi pesan itu.
"Ngapain juga tuan Alex ingin bertemu di taman. Kenapa ga langsung saja ke rumah." ucapnya lirih sambil berpikir tapi ia tak menemukan jawabnya.
Laras tidak membalas pesan itu meskipun ia sudah membacanya. Ia binggung mau mengadu sama suaminya atau tidak? tapi jika ia tak memberitahu suaminya tentu akan menimbulkan masalah. Pernah bathin membuat kepala Laras berdenyut.
"Kamu kenapa?" tanya Dafa yang sudah rapi dengan pakain kantornya.
"Yang, boleh ga nanti sore aku jalan - jalan ketaman?" tanya Laras menekankan suaranya.
"Mau ngapain di taman?" tanya Dafa lalu duduk di samping istrinya dan mengelusnya masuk kedalam pelukanya.
"Kepengen aja, mana tau ada sesuatu yang ingin aku beli." Laras mencoba memberi alasan yang ia sendiri merasa janggal.
"Kalau mau beli sesuatu tinggal bilang aja bik Siti, ngapain juga ketaman?"
"Kepengen aja."
"Kalau gitu tunggu aku pulang ya, biar kita bersama ke taman. "
"Ga udah yang, biar aku sendiri aja, dekat ini." kekeh Laras menetralisir hatinya yang deg degan karna harus berbohong sama suaminya.
"Kalau ga kamu di temani bik Siti. Nanti aku nyusul." perkataan Dafa sudh tak bisa di bantah, Laras hanya bisa mengangguk dari pada jika mendapat ijin. Nanti ia akan pikirkan caranya bertemu denganpak Alex.
Laras tiap sebentar meliaht jam, rasanya jam terlalu lama berputar. Tak sabar rasanya waktu berubah sore. Selesai sholat ashar, Laras berusia ke taman di temani bik Siti.
Mata Laras menoleh kanan dan kiri mencari keberadaan pak Alex. Indra penglihatannya meliaht seorang lelaki bertopi dan memakai masker memberi suara dirinya agar duduk di bangku taman yang agak tersembunyi.
"Akhirnya kamu datang juga." bisik Alex yang duduk tepat di belakang Laras.
"Baik tolong ambilin ponselnya yang ketinggalan di mobil." Laras memang sengaja meninggalkan ponselnya di mobil agar punya alasan untuk menyuruh bik Siti menjauh.
"Baik, non." Bik Siti berjaln menuju mobil dan mengambil ponsel Laras.
"Kamu tau isi perjanjian antara kamu dan tian muda?" tanya Alex.
"Iya, tuan." angguk Laras.
"Jangan sampai terlalu berharap pada tuan muda. Nyonya Veronica tidak akan pernah merestui jika kamu jadi menantunya. Mereka itu kalangan atas tidka cocok bagi kamu yang hanya seorang pelayan. Nyonya memianta agar kamu segera meningalakan tuan muda setelah ia menceraikan nyonya Mila." tegas Alex membuat hati Laras terasa perih.
"Tapi anak ini belum lahir, tuan?"
"Nyonya ga butuh anak itu, nyonya cuma ingin kamu pergi dan beliau akan memberi kamu uang yang banyak agar kamu bisa menjalani kehidupan baru bersama nenek kamu." air mata Laras luruh begitu saja, ia tersadar jika harusnya ia tak melibatkan perasan. Bagaiman ia bisa meninggalkan Dafa yang perlahan telah mengisi relung hatinya.
"Bukanya di perjanjian saya harus pergi saat anak ini selesai saya susui?" ujar Laras.
"Point paling bawah kami tidak membacanya, kamu itu harus pergi bila pihak pertama sudah tak menginginkan kamu. Jadi perjanjian itu agar gugur meski belum sepenuhnya usai."
"Tapi saya mencintai tuan muda, tuan." ungkap Kara dengan air mata yang makin deres.
"Liat dirimu Laras, kamu itu tak pantas bersanding dengan tuan muda. Sebelum terlau sakit lebih baik secepatnya kamu siap - siap pergi ."
"Siapa yang mau pergi?" ada suara yang tiba - tiba dari arah samping Alex.
"Tuan muda. " gumam Alex dengan tubuh sedikit gemetar.
"Sayang." ucap Laras lirih.
"Bik, bawa Laras pulang ke rumah! titah Dafa."
Alex yang hendak bangun dari duduknya langsung di tarik oleh Dafa dan menyebabkan lelaki itu terjatuh dan bokongnya mendarat cantik mencium tanah.
Dafa yang sudah kalap menendang dan memukul Alex hingga babak belur. Ia sama sekali tak memberi kesempatan Alex menjelaskan sesuatu.
"Kamu urus ini, beri dia pelajaran yang tidak bisa ia lupakan." Perintah Dafa pada asistennya. Lelaki itu memandnag Alex sekials lalu berlalu meninggalkan Alex bersama asistennya.
...****************...
Assalamualaikum kk terimakasih supportnya dan jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen serta vote yang banyak biar thor semakin semangat untuk melanjutkannya bab berikutnya 🙏😘💪