Dalam satu waktu, Giana kehilangan dua hal paling berharga dalam hidupnya. Bayi yang ia nantikan sejak lama, dan suami yang memilih pergi saat ia sangat rapuh. Di tengah duka yang belum sembuh, satu-satunya penghiburnya hanyalah suara tangis bayi yang baru lahir.
Namun, takdir justru mempertemukannya dengan Cameron Rutherford, presdir kaya dan dingin yang tengah mencari ibu susu untuk keponakannya yang baru lahir. Sebuah kontrak pun disepakati. Giana mendadak jadi Ibu susu bagi keponakan sang presdir.
Awalnya, semua berjalan seperti biasa. Giana melakukan tugasnya dengan baik. Tetapi kemudian, semuanya berubah saat Cameron merasa terpesona oleh ibu susu keponakannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 06
Cahaya lampu di ruang kerja itu masih menyala terang, kontras dengan gelapnya langit di luar jendela kaca besar. Kota telah berubah menjadi lautan cahaya, namun Cameron Rutherford masih duduk di balik mejanya, tenggelam dalam tumpukan dokumen yang seolah tidak ada habisnya.
Jasnya sudah lama ia lepaskan, hanya menyisakan kemeja yang kini sedikit kusut di bagian lengan. Dasi yang biasanya terpasang rapi kini mengendur, memberi ruang bagi napas yang terasa semakin berat.
Tangannya terus bergerak tanpa henti, membalik halaman demi halaman, menandatangani berkas, lalu sesekali mengetik sesuatu di laptopnya. Semua dilakukan dengan ritme cepat dan efisien, seolah ia tidak memberi dirinya kesempatan untuk berhenti.
Baginya, selama ia sibuk, ia tidak perlu menghadapi hal-hal yang berusaha diabaikannya. Namun, percakapan itu tetap saja menyelinap masuk ke dalam pikirannya seperti sebuah kaset rusak. Dan keputusan yang ia anggap benar mulai terasa salah sekarang.
“Bagaimana bisa kakak mengatakan hal seperti itu?” gumamnya mengacak rambutnya sendiri, merasa bersalah sekaligus frustasi.
Rahang Cameron mengeras. Ia menarik napas dalam, lalu kembali memaksa dirinya fokus pada pekerjaan. Ia menunduk, menatap layar di depannya lebih lama dari yang seharusnya, seolah di sana ada jawaban untuk meredam kekacauan yang tidak ingin ia akui.
Waktu berlalu tanpa terasa. Detik berubah menjadi menit, lalu menit menjadi jam. Hingga akhirnya, suara seseorang memecah keheningan di dalam ruangan itu.
“Sir.”
Cameron tidak langsung menoleh. Matanya masih terpaku pada layar laptop. “Ada apa?” tanyanya singkat.
Asistennya melangkah mendekat dengan sikap hati-hati. “Ini sudah lewat jam sembilan malam.”
Kalimat itu membuat Cameron akhirnya berhenti. Ia mengangkat pandangan dan melirik jam di dinding. Angka yang tertera membuatnya terdiam sejenak. Ia benar-benar tidak menyadari waktu telah berlalu sejauh itu.
“Anda terus bekerja hingga lupa waktu. Anda bahkan belum makan sejak siang,” lanjut asistennya pelan. “Dan besok Anda masih memiliki jadwal yang padat.”
Cameron mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Di saat itulah ia merasakan kepalanya berdenyut, rasa lelah yang sejak tadi ia abaikan kini menuntut perhatian. Ia mengangkat tangan, mengusap pelipisnya perlahan, mencoba meredakan nyeri yang mulai mengganggu.
“Pulanglah, Sir. Sisa pekerjaan bisa saya urus. Anda sebaiknya pulang dan beristirahat,” ujar asistennya lagi.
Cameron terdiam beberapa saat, tetapi kali ini ia tidak menolak. Ia mengangguk singkat, lalu berdiri dari kursinya.
“Rapikan ini dan jangan sampai ada yanh terlewat,” katanya, menunjuk tumpukan berkas di atas meja.
“Tentu, Sir.”
Ia meraih jasnya dan mengenakannya kembali dengan gerakan yang sudah terbiasa, lalu berjalan keluar dari ruang kerja itu tanpa banyak kata. Untuk sementara, ia meninggalkan segala sesuatu yang sejak tadi ia jadikan pelarian.
Perjalanan pulang terasa lebih sunyi dari biasanya. Cameron duduk di kursi belakang mobil, pandangannya tertuju ke luar jendela, namun pikirannya tidak benar-benar berada di sana. Lampu-lampu kota berlalu begitu saja, menjadi garis cahaya yang kabur di matanya.
Kepalanya masih terasa berat, tetapi kali ini bukan hanya karena pekerjaan. Ia memejamkan mata sejenak dan menyandarkan kepalanya ke kursi. Untuk pertama kalinya hari itu, ia tidak melakukan apa pun. Namun justru dalam diam itu, kelelahan yang ia tahan sejak tadi terasa semakin nyata.
Mobil akhirnya memasuki gerbang rumah. Lampu taman menyala lembut, menyambut kepulangannya dengan keheningan yang khas. Setelah mobil berhenti, Cameron membuka mata dan keluar tanpa banyak bicara.
Langkahnya sedikit lebih lambat dari biasanya saat ia memasuki rumah. Beberapa pelayan rumah menyapanya dengan sopan, namun ia hanya membalas dengan anggukan singkat. Ia berjalan melewati lorong panjang menuju lantai atas, hingga langkahnya terhenti di depan sebuah pintu yang sedikit terbuka.
“Kenapa dia belum tidur?”
Tanpa sadar, pandangan Cameron tertarik ke celah kecil itu. Dan di sanalah ia melihatnya. Wanita itu duduk di tepi tempat tidur, tubuhnya sedikit membungkuk, dengan bayi kecil dalam pelukannya.
Lampu kamar menyala redup, menciptakan suasana hangat yang terasa berbeda dari seluruh bagian rumah lainnya. Tidak ada kemewahan yang mencolok di sana, hanya ketenangan sederhana yang terasa hidup.
Cameron terdiam sesaat. Ia tidak bermaksud melihat, namun ia juga tidak segera berpaling. Gerakan Giana terlihat begitu lembut dan hati-hati, seolah ia sedang menjaga sesuatu yang sangat berharga.
Wajahnya tampak tenang, meski kelelahan masih tersisa di sana. Sementara itu, bayi dalam pelukannya terlihat begitu kecil, begitu damai, seolah dunia di luar sana tidak ada artinya.
Untuk beberapa saat, Cameron hanya berdiri tanpa bergerak. Hingga akhirnya, sesuatu dalam dirinya mendorongnya untuk bertindak. Ia mengangkat tangan dan mengetuk pintu itu pelan.
“Siapa? Masuk saja, pintunya tidak dikunci,” sahut Giana sedikit tersentak, ia lalu menoleh ke arah pintu.
Pada saat yang sama, ia baru saja selesai menyusui. Dengan gerakan hati-hati, ia membenarkan posisi Cayden dalam pelukannya, memastikan bayi itu tetap nyaman.
Ketika matanya bertemu dengan Cameron, ia tersenyum. “Kau baru pulang? Cayden baru saja tertidur,” ucapnya pelan.
Cameron melangkah masuk ke dalam ruangan dengan tenang, seolah tidak ingin mengganggu suasana. Pandangannya langsung tertuju pada bayi itu.
“Ya. Terima kasih sudah menjaganya hari ini. Apakah dia masih sering menangis seperti saat di rumah sakit?” tanyanya penasaran.
Ia melihat Cayden yang sudah tertidur pulas. Napasnya terdengar teratur, dan wajah kecilnya tampak damai dengan pipi yang sedikit kemerahan.
Giana menggeleng pelan. “Tidak sesering saat di rumah sakit, menurutku dia bahkan sangat tenang hari ini.”
“Benarkah? Itu bagus sekali,” katanya tersenyum lembut
Dan tanpa Cameron sadari, rasa lelah yang sejak tadi membebaninya perlahan menghilang. Ada kehangatan yang menjalar di dadanya, sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.
Ia berdiri di dekat tempat tidur, menatap bayi itu lebih lama dari yang seharusnya. Tatapannya melembut, meski hanya sedikit. Tangannya terangkat perlahan, seolah ingin menyentuh pipi kecil itu.
Namun di detik terakhir, ia menghentikan dirinya sendiri.
Tangannya menggantung sesaat sebelum akhirnya ia turunkan kembali.
Giana memperhatikan gerakan itu dengan sedikit heran. “Kenapa?” tanyanya pelan.
Cameron mengalihkan pandangannya, seolah baru tersadar dari sesuatu. “Aku baru saja pulang kerja dan belum membersihkan diri,” jawabnya singkat. “Aku sebaiknya tidak menyentuhnya, bukan? Dia bisa sakit nanti, iya, kan?”
Giana mengangguk pelan. “Kalau begitu kau sebaiknya membersihkan diri dulu,” katanya lembut.
Cameron hanya mengangguk sebagai jawaban. Namun, ia tidak segera pergi. Ia tetap berdiri di sana, menatap bayi itu sekali lagi, tetapi kali ini dengan tatapan sendu.
“Tidak apa-apa, Cayden. Jika Ibumu tidak menginginkanmu. Pamanmu ada di sini, akan kupastikan kau tidak akan pernah kekurangan apapun, baik itu materi maupun kasih sayang,” gumamnya seperti janji pada dirinya sendiri.