NovelToon NovelToon
Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk Di Era Orba

Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk Di Era Orba

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Ibu Tiri / Fantasi Isekai
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Iseng mampir ke lapak dukun rongsok di Tanah Abang sepulang kerja adalah keputusan paling sinting yang pernah Sukma buat.

Besoknya, kontrak miliaran gol.

Sehari kemudian, truk kargo menghancurkan mobilnya di tol.

Rahimnya diangkat.

Ruang spasial seluas sepuluh hektar tiba-tiba muncul di kepalanya.

Dan mimpi keparat tentang Malang di era orba mulai menggerogoti tidurnya tiap malam.

Mimpi tentang perempuan bernama Sukma Ayu. Ibu tiri yang mati diseruduk sapi. Suaminya gila. Anak-anaknya hancur. Semua orang bilang itu memang sudah nasibnya.

Sukma tahu ke mana ini mengarah. Ia pembaca novel fantasi. Ia tahu persis apa artinya mimpi seperti ini.

Jadi sebelum berangkat, ia jual rumahnya di Kemang cash keras. Borong seratus karung beras, seratus jerigen minyak, sapi, ayam, obat-obatan, joglo Jepara yang dibongkar utuh, dua puluh drum bensin.

Kalau memang harus masuk ke novel picisan itu, ia tidak mau pergi dengan tangan kosong.

Masalahnya, ia masuk bukan sebagai pahlawan wanita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Nyonya Ratna

Sukma memegangi sisi kepalanya. Nyeri sialan. Sisa hantaman gagang sapu mertuanya tadi masih berdenyut gila-gilaan menembus tengkorak. Keringat dingin merembes membasahi kerah dasternya.

Pria jangkung berseragam loreng pudar itu masih berdiri kaku di dekat pinggiran dipan. Tangannya merogoh saku celana, mencari sebatang rokok, lalu mengurungkan niatnya.

"Masih pusing? Kita ke mantri puskesmas saiki."

"Ndak usah." Sukma menolak pelan. Tangannya membetulkan letak bantal kapuk yang kempes. "Dibuat rebahan bentar juga hilang."

"Kepalamu benjol sebesar kepalan dibilang hilang. Dagingmu bukan besi."

"Ya terus piye? Lapor polisi? Mertuaku sendiri sing mukul."

Sutrisno mendesah kasar. Kursi kayu reyot di sebelah ranjang ditarik mundur. Dia duduk menjatuhkan bobot tubuhnya. Ujung botnya mengetuk-ngetuk lantai berirama cepat.

"Bapak keterlaluan. Koen ndak iso balas tangannya orang tua. Nanti malah dituduh anak durhaka satu kampung. Gini saja..." Dia mencondongkan badan ke depan. "Besok aku suruh Sigit panggil bapakmu."

Kening Sukma berkerut bingung. "Pak Purnomo?"

"Iyo. Biar bapakmu sing hajar bapakku. Sama-sama tua. Kakek-kakek adu jotos di tengah kampung. Pas toh? Aku pasti belain bapakmu nanti."

Gila. Sukma melongo menatap suaminya. Lelucon macam apa ini?

"Mas Trisno waras?! Lek bapakku jantungan piye?! Malah nambah masalah!"

Tawa serak dan berat lolos dari tenggorokan Sutrisno. Bahu bidangnya bergetar pelan.

"Loh, kan bagus. Masalahnya langsung kelar."

Sukma mencibir sinis. "Ndak usah ngono. Pukul kepalaku sekali lagi, aku langsung mati. Mas Trisno iso langsung sebar undangan tahlilan, masalahnya kelar pisan."

Candaan itu mati di udara. Sutrisno buru-buru membuka ransel kanvas di lantai. Botol kaca kecil kekuningan berpindah ke tangannya. Aroma tajam akar-akaran hutan dan rempah menyengat hidung. Minyak urut Dayak asli kalimantan.

"Tengkurap."

Refleks, Sukma menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Mau ngapain?!"

"Punggungmu juga kena sabet tadi. Cepat, atau aku bopong paksa ke puskesmas malam ini juga."

Badannya memang remuk redam. Sukma mengalah, perlahan membalikkan badan menyamping. Jari-jarinya gemetar membuka kancing daster dari belakang, menurunkannya sampai batas pinggang. Hawa dingin malam menampar kulit punggungnya yang hanya terbalut tali kutang katun usang.

Sutrisno menuang minyak ke telapak tangannya yang kapalan. Menggosoknya sebentar memancing hawa panas, lalu menekan bahu Sukma.

"Aw! Sakit, Mas!"

"Tahan. Biar darah matinya hancur."

Jemari kasar itu menekan belikatnya. Tenaganya pas. Panas dari minyak perlahan meresap ke dalam pori-pori, membongkar simpul-simpul otot yang tegang bak batu. Tatapan Sutrisno turun ke area pinggang bawah Sukma. Ada bekas luka memanjang berwarna putih pucat di sana. Jejak cambukan rotan Lasmi bertahun-tahun lalu.

Otot rahang Sutrisno berkedut. Dia mengusap bekas luka lama itu perlahan. Kulit Sukma meremang disengat sentuhan asing suaminya.

Pria itu menarik pinggiran selimut, menutupi punggung istrinya sebatas leher.

"Baju merah tadi aku beli dari pasar malam kota." Sutrisno meletakkan bungkusan gaun katun di sebelah bantal. "Pakai kapan-kapan kalau suka. Aku mau urus bapak dulu. Tidur."

Langkah berat sepatu bot itu menjauh. Pintu ditutup rapat.

Sukma meremas ujung selimutnya. Jantungnya berantakan berdetak tak karuan. Bungkusan gaun merah menyala itu diselipkannya cepat-cepat ke dalam lemari kayu di sudut kamar sebelum memejamkan mata.

Di ruang depan, lampu teplok berkedip tertiup angin malam dari celah jendela bambu. Empat anak duduk melingkar di atas karung goni bekas yang dialasi tikar pandan.

Mobil-mobilan kayu dan tank kaleng tergeletak di tengah-tengah mereka. Sigit menatap mainan itu nyaris tak berkedip. Tangannya gatal ingin menyentuh, tapi takut dimarahi.

Sutrisno melangkah keluar kamar. Ujung botnya sengaja diseret pelan ke lantai agar anak-anak itu tahu dia datang. Bertahun-tahun jarang pulang, dia sadar betul posisinya tak lebih dari orang asing menyeramkan berseragam tentara.

"Hooop!"

Tangan besarnya tiba-tiba menyambar ketiak Syaiful, mengangkat balita gempal itu tinggi-tinggi ke udara.

Syaiful menjerit kaget. Kakinya menendang-nendang panik. Detik berikutnya, tawa melengking pecah. Sutrisno menangkap tubuh kecil itu, mendekapnya erat ke dada. Bau tembakau murahan, peluh, dan debu jalanan bercampur jadi satu. Asing, tapi anehnya terasa sangat kokoh dan aman.

Sigit, Gito, dan Sinta terpaku. Mulut mereka setengah terbuka menatap tontonan langka di depan mata.

"Wes lupa cara manggil Bapak?" Sutrisno menyentil hidung Syaiful.

Syaiful mengalungkan lengannya ke leher Sutrisno kuat-kuat. "Bapak!"

Tiga kakaknya saling senggol. Suara mereka keluar nyaris berbarengan, pelan dan canggung. "Bapak."

Sutrisno tersenyum tipis. Tangan kirinya terulur, mengacak rambut Sigit yang kaku dan lengket karena debu layangan.

"Jagain Ibu. Bapak mau keluar sebentar."

***

Malam di pelosok Malang selalu dingin menusuk tulang. Angin membawa bau kotoran sapi dan sisa bakaran daun bambu kering. Sutrisno berjalan dengan langkah lebar menembus kegelapan jalan tanah. Tangannya mengepal keras di dalam saku jaket militer.

Rumah tua keluarga Priyanto berdiri bisu di ujung gang. Lampu kuning lima watt di teras berayun-ayun ditiup angin, melemparkan bayangan panjang ke halaman berpasir.

Di ruang tamu, suasana pengap bak ruang interogasi polisi.

Pak Parno duduk bersila di atas balai bambu. Asap rokok klobotnya mengepul tebal, tak mampu menutupi keringat dingin yang membasahi dahi keriputnya. Lasmi duduk merapat ke sudut tembok, meremas ujung daster batiknya kuat-kuat.

"Pak." Suara Lasmi bergetar ketakutan. "De'e beneran tahu kejadian malam iku? Bocah iku tahu lek de'e dudu anak kandung kita?"

Pak Parno membuang sisa klobot ke lantai plester, menggilasnya kasar dengan tumit.

"Biarin tahu! Kenapa rupanya?!" Parno membusungkan dada kerempengnya. "Di atas kertas, aku tetep bapaknya! Nama dia masuk di Kartu Keluarga kita! Dia harus tunduk sama orang tua!"

"Tunduk matamu, Pak." Lasmi menggigit bibir bawahnya bergetar. Bau anyir darah memenuhi mulutnya. "Anak iku tentara saiki. Lek de'e ngamuk bawa bedil..."

"Ngamuk piye?! Modal dari mana de'e iso hidup lek ndak ada kita dari bayi?!"

"Dari wesel Nyonya Ratna tiap tanggal satu, Pak!" jerit Lasmi tertahan. Pikirannya terseret paksa mundur dua puluh tahun lalu.

Malam berangin di sebuah rumah bersalin rahasia di pinggiran kota. Seorang perempuan muda dari keluarga priyayi Jakarta bernama Ratna, menangis sesenggukan menyerahkan bayi merah berselimut kain mahal. Keluarga besar Ratna adalah pejabat ibu kota. Kehamilan di luar nikah itu adalah aib busuk luar biasa yang harus dikubur dalam-dalam sebelum pemilu tiba.

Parno dan Lasmi, yang saat itu hanya buruh serabutan pemetik kopi, disodori amplop cokelat tebal berisi uang kertas yang jumlahnya tak pernah mereka bayangkan seumur hidup. Syaratnya gampang: bawa bayi ini jauh-jauh ke pelosok Malang. Besarkan pura-pura sebagai anak sendiri. Jangan pernah hubungi keluarga Ratna. Tutup mulut rapat-rapat sampai mati, dan wesel bulanan akan terus mengalir ke kantor pos desa.

Sutrisno bukan hasil keringat mereka membesarkan anak. Dia adalah proyek bisnis seumur hidup. Uang tutup mulut Nyonya Ratna adalah nyawa dapur mereka.

BRAK!

Pintu depan didorong paksa dari luar. Engsel tuanya nyaris jebol.

Lasmi terlonjak memekik. Pak Parno refleks berdiri limbung.

Sutrisno masuk membelakangi angin malam. Sepatu larsnya meninggalkan jejak tanah basah di lantai semen. Dia menarik kursi kayu di seberang balai bambu, membanting kakinya ke lantai agar posisinya stabil, lalu duduk.

Mata hitamnya menatap lurus dua orang tua pembohong di depannya.

"Ndak usah tegang." Suara Sutrisno rendah, berat, mematikan.

"Siapa sing tegang?!" Parno memaksakan suaranya keluar walau pecah. "Ngapain Koen malam-malam ke sini gedor pintu kayak rampok?!"

"Aku ndak akan teriak-teriak bawa urusan ini ke warga desa. Tapi Bapak sama Ibu harus jawab jujur malam ini juga."

Pak Parno buang muka. Tangannya sibuk meraih toples kaca, mencoba meracik tembakau baru walau jemarinya gemetar hebat.

"Bapak merasa berkuasa penuh atas hidupku karena merasa membesarkan bayi yang dibuang keluarga kaya Jakarta?"

Parno terhenyak. Toples di tangannya merosot. "Trisno! Jaga mulutmu! Bapakmu iki sing ngasih Koen makan dari bayi! Nyekolahin Koen!"

"Yang ngasih aku makan itu ibuku. Nyonya Ratna. Bukan Bapak."

Sutrisno mencondongkan badan ke depan. Urat lehernya menonjol. "Duit wesel bulanan dari ibu kandungku sing dipakai Bapak buat beli sawah, beli motor bekas, sampai bayar utang judi merpati. Betul?"

"Koen... dari mana Koen tahu nama iku?" Lasmi kehabisan napas. Punggungnya merosot ke lantai. Rahasia terbesar mereka meledak malam ini.

"Beliau hidup tenang di Jakarta sekarang. Aku dinas di sana tahun lalu." Sutrisno menatap Parno lurus-lurus tanpa berkedip. "Aku cari rumahnya. Aku tahu siapa bapak kandungku, kenapa aku dibuang ke desa ini, dan kenapa uang tutup mulut itu mengalir deras ke kantor pos desa setiap bulan."

Parno memaksakan diri membantah. "Aku... aku sing rawat Koen pas sakit! Sing ngajarin Koen jalan! Keluarga aslimu cuma ngasih duit! Aku sing keluar keringat!"

"Bapak merawat mesin uang." Sutrisno menyela dingin. "Bapak memastikan mesin pencetak wesel dari Nyonya Ratna tetap hidup. Lek aku mati, uang tutup mulut itu berhenti mengalir. Iya kan?"

Parno bungkam seribu bahasa. Kebanggaannya sebagai kepala keluarga dikuliti habis-habisan tak bersisa di depan anak buangannya sendiri.

Sutrisno perlahan bangkit berdiri. Jaket lorengnya tersingkap, menampakkan postur tubuhnya yang tinggi besar, mendominasi total ruangan sempit itu.

"Aku ndak akan stop wesel itu."

Lasmi mendongak kaget. Setitik harapan rakus muncul di matanya yang memerah.

"Uang jatah bulanan dari ibu kandungku biar tetap mengalir. Bapak sama Ibu iso terus makan enak, beli daster baru, pamer emas ke tetangga pasar."

Sutrisno melangkah satu tindak ke depan. Kaki kanannya melayang, mendarat telak menghantam meja tamu kayu jati pemisah mereka.

KRAK! PRANG!

Meja itu patah terbelah dua di bagian tengah. Gelas kaca dan toples tembakau terbang membentur dinding bambu. Pecah berantakan berkeping-keping. Kopi hitam pekat menyiram lantai. Lasmi menjerit histeris menutup kepala dengan kedua tangannya. Pak Parno terjengkang jatuh ke belakang.

Ujung sepatu lars Sutrisno kini menginjak sisa serpihan kayu tepat di depan kaki Parno yang gemetar.

"Tapi dengerin baik-baik." Sutrisno menunduk. Wajahnya hanya berjarak dua jengkal dari hidung bapak angkatnya.

"Lek sampai ada satu orang dari rumah ini yang berani nginjak pekarangan rumah bataku maneh. Lek sampai enek sing wani nyentuh ujung rambut istri dan anak-anakku mulai besok pagi..."

Sutrisno menunduk. Sorot matanya setajam belati, siap memotong leher siapa saja yang membantah.

"Makam umum di ujung kampung ini masih sangat muat buat nampung mayat kalian sekeluarga."

1
Ai_Li
Saya mampir kak
INeeTha: Makasih Kaka, semoga suka dan baca sampai tamat🙏
total 1 replies
SENJA
kabur kan bisanya 🤣
SENJA
naaah iya
SENJA
waaah sutrisno tau 🤭
SENJA
ayoklah dilawan! 💪
SENJA
dua perempuan bau tanah yang jahat 🤬
SENJA
ini jahat banget udah tua juga🤬
SENJA
maruk semua weeeh 🤬
SENJA
wakakaa hayo sono apa lagi lakonmu? 🤭🤣
SENJA
apa ada kelainan ingatan ipul? masa udah lupa lagi kan baru ketemu 🤭
SENJA
astaga keluarga apaan ini 🤬
SENJA
bagussssss 💪
SENJA
hajar aja si parno ini ancen gateli tenan tuek iki 🤬
SENJA
hmmm ada rahasia toh 🤭🤬
SENJA
wakaaka beda konteks itu maj nyupang 🤣
SENJA
lu jangan mau disuruh suruh urus aja nak anak sama wati
SENJA
wah mana pendidik kabur lho 🤬🤣
SENJA
laaaah sok mendidik padahal kurang terdidik 🤭
Dewiendahsetiowati
mantab hajar aja keluarga benalu
Musdalifa Ifa
mau nanya Thor jangan tersinggung yah karna ini cerita sudah pernah saya baca tapi bukan bahasa begini, apakah ini karya asli author ?
INeeTha: Hehe gini kak, temanya memang cukup sering dipakai di banyak cerita 😄 Di sini aku coba bawain dengan versiku sendiri, terutama dari gaya dan settingnya. Semoga Kakak tetap enjoy bacanya yaa.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!