NovelToon NovelToon
SENJA TAK BERTUAN

SENJA TAK BERTUAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dokter / Penyelamat
Popularitas:139
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Yasmin selalu percaya bahwa kerapuhannya adalah kutukan, hingga Arya datang membawa kepastian di bawah senja. Di sana, mereka mencuri satu petak langit untuk saling memiliki. Namun, ketika ikrar telah terucap dan senja mulai meredup, semesta seolah menagih kembali kebahagiaan yang mereka dapatkan.

Dan, ketika kegelapan itu datang...

Yasmin tersadar satu hal, mereka tidak sedang memiliki senja, hanya sedang meminjamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEPASRAHAN YASMIN

​Di balik lingerie satin merah marun yang tipis itu, Yasmin merasa seluruh pertahanannya luruh. Ciuman Tama yang menuntut kini mulai turun, menyisir daun telinganya dengan napas yang panas, lalu berpindah ke leher—tepat di atas jejak yang sudah ia buat sebelumnya, hingga turun ke area dadanya yang naik-turun karena napas yang memburu.

​"Mas Tama..." Yasmin melenguh lirih, suaranya pecah antara isakan tangis dan sensasi asing yang mulai menguasai kesadarannya. Tubuhnya terasa lemas, seolah tulang-tulangnya telah berubah menjadi cair. Ia membenci dirinya sendiri karena merasa terenyuh oleh sentuhan pria ini, pria yang seharusnya ia usir dari hidupnya.

​Tama menyeringai di ceruk leher Yasmin, merasakan detak jantung wanita itu yang berpacu liar di bawah kulitnya yang halus. Ia tahu ia telah menang. ​"Kamu menikmatinya, sayang," bisiknya dengan suara rendah yang serak, mengirimkan getaran ngeri sekaligus gairah yang terlarang ke seluruh saraf Yasmin.

​Tangan Tama yang besar tidak berhenti di situ. Dengan gerakan yang penuh penguasaan, jemarinya perlahan turun, menyusup di bawah kain satin yang licin dan mulai menggesek lembut di bawah perut Yasmin. Sentuhan itu membuat Yasmin membusungkan dada, jari-jarinya meremas kemeja Tama kuat, mencari pegangan di tengah badai emosi yang mengoyak batinnya.

​"Sebut namaku, Yasmin. Bukan nama suamimu yang kaku itu," tuntut Tama lagi, bibirnya kini kembali mengunci bibir Yasmin, memaksa wanita itu masuk lebih dalam ke dalam dosa yang mereka ciptakan di kamar yang seharusnya suci bagi pernikahan mereka berdua.

​Yasmin hanya bisa terisak pasrah. Di dalam benaknya, wajah Arya yang dingin dan kecewa pagi tadi terus membayang, namun sentuhan nyata Tama di tubuhnya jauh lebih kuat untuk ia lawan saat ini. Ia merasa telah jatuh ke dalam jurang yang tak berdasar, dan anehnya, ia tidak lagi berusaha untuk mendaki keluar.

​​Tanpa memutus kontak mata yang mengintimidasi namun memabukkan itu, Tama menyusupkan lengannya di bawah lutut dan punggung Yasmin. Dengan satu gerakan dominan, ia mengangkat tubuh mungil Yasmin yang gemetar, membawanya ke tengah ranjang besar yang biasanya menjadi saksi bisu kesetiaan Arya.

​Begitu tubuh Yasmin menyentuh kasur yang empuk, ia merasa seolah dunia di bawahnya runtuh. Tama segera menindihnya, lalu bergerak cepat menanggalkan pakaiannya sendiri satu per satu. Yasmin memalingkan wajah, air matanya kembali luruh membasahi bantal saat ia menyadari bahwa pertahanannya benar-benar telah rata dengan tanah.

​"Jangan menangis," bisik Tama parau, suaranya kini terdengar lebih lembut namun tetap sarat akan kepemilikan.

​Melihat isak tangis Yasmin yang semakin menjadi, Tama tidak menggunakan kekerasan. Ia justru membungkam tangis itu dengan ciuman yang dalam dan membuai. Lidahnya menari dengan ahli, menyapu setiap sudut rongga mulut Yasmin hingga wanita itu merasa kehabisan napas dan hanyut dalam sensasi yang ditawarkan sang predator.

​"Mas Tama..." rintih Yasmin di sela pagutan mereka, suaranya terdengar seperti kepasrahan yang menyakitkan.

​Tama melepaskan ciumannya sejenak, menatap wajah Yasmin yang sembab namun tampak sangat menggoda dalam balutan satin merah marun itu. Dengan gerakan perlahan namun pasti, tangannya mulai menyingkap gaun tidur tipis itu ke atas, mengekspos kulit putih Yasmin yang halus di bawah cahaya lampu kamar yang temaram.

​Tanpa menunggu lebih lama, Tama membenamkan wajahnya, menciumi dada Yasmin dengan rakus. Sentuhan bibir dan kumis tipisnya yang kasar memberikan sensasi kontras yang membuat Yasmin melengkungkan punggungnya, jari-jarinya meremas rambut Tama dengan kuat—sebuah gerakan yang tidak lagi menunjukkan perlawanan, melainkan dorongan dari naluri yang terlarang.

"Mas Tama..." Lenguh Yasmin akhirnya lolos dari bibirnya.

​Di kamar yang seharusnya menjadi milik mereka berdua, Yasmin kini sepenuhnya menjadi tawanan gairah pria yang paling ia benci sekaligus ia takuti.

​Dan, ketegangan di kamar itu memuncak saat Tama benar-benar mengunci tubuh Yasmin di bawah kuasanya. Dengan gerakan yang kasar namun penuh kepuasan, ia menyingkap sisa kain lingerie yang menghalangi, lalu membenamkan miliknya dengan satu sentakan yang dalam.

​"Ah!" Yasmin memekik, rasa sakit yang tajam menghujam ulu hatinya. Tubuhnya menegang hebat, jemarinya mencengkeram seprai hingga memutih. Air mata yang sejak tadi mengalir kini tumpah lebih deras, membasahi bantal di bawah kepalanya.

​Tama tertegun, gerakannya terhenti seketika. Ia menatap wajah Yasmin yang meringis kesakitan dengan sorot mata tak percaya. Napasnya memburu, terasa panas di ceruk leher wanita itu. ​"Kamu... kamu masih perawan?" tanyanya dengan suara serak yang sarat akan keterkejutan.

​Yasmin tidak menjawab. Ia hanya memejamkan mata erat-erat, membiarkan isak tangisnya menjadi satu-satunya suara di ruangan itu. Selama ini, bayangan ancaman Tama selalu membayanginya setiap kali Arya mendekat. Rasa takut bahwa Tama akan menghancurkan hidupnya jika ia menyerahkan diri pada suaminya telah mengotori batinnya, membuat ia selalu menghindar dari sentuhan Arya hingga detik ini.

Kini, ​sebuah seringai puas perlahan terukir di wajah Tama. Fakta bahwa ia—kakak ipar yang seharusnya menjaga jarak—justru menjadi pria pertama yang merenggut kesucian istri adiknya sendiri, memberikan lonjakan ego yang luar biasa. Ia merasa telah benar-benar memenangkan persaingan yang tak terlihat dengan Arya.

​"Ternyata Arya memang sebodoh itu," bisik Tama rendah, tepat di telinga Yasmin.

​Ia mulai menggerakkan tubuhnya lagi, kali ini dengan ritme yang lebih teratur namun tetap dominan. Gesekan demi gesekan itu awalnya terasa menyiksa bagi Yasmin, namun perlahan-lahan, rasa sakit itu mulai memudar, tergantikan oleh sensasi asing yang menyeretnya ke dalam pusaran gairah yang terlarang.

​Yasmin merasa seolah kehilangan pijakan. Rasa bersalah yang tadi menghimpitnya kini seolah tertutup oleh kabut gairah yang ditiupkan oleh Tama. Ia tidak lagi menolak, bahkan tanpa sadar mulai mengikuti irama yang diciptakan pria itu.

"Bagus, sayang..." Lirih Tama dengan suara beratnya.

"Mas Tama, ah..." lenguhan itu lolos kembali. Di bawah sentuhan Tama yang ahli, Yasmin merasa seolah diterbangkan ke tempat yang tinggi, jauh dari kenyataan pahit yang menantinya di bawah sana.

​Tak butuh waktu lama bagi Tama untuk mencapai puncaknya. Dengan satu erangan rendah, ia pun membenamkan wajahnya di dada Yasmin, menumpahkan segala ego dan kepuasannya di sana.

****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!