NovelToon NovelToon
Setelah Janda Menjadi Ibu Si Kembar

Setelah Janda Menjadi Ibu Si Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Janda / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:19.1k
Nilai: 5
Nama Author: Niskala NU Jiwa

Ditinggalkan ,dihina, dan dicap mandul, Azura kembali ke desa kerumah orang tuanya dengan hati hancur setelah 5 tahun pernikahan diceraikan suaminya . Namun saat hidupnya mulai bangkit, rahasia besar keluarga terungkap, ancaman, dan musuh berbahaya . Di tengah badai itu, Azura bertemu Rayyan ,duda kata dengan dua anak kembar dan luka masa lalu . Akankah Azura mempertahankan harga diri, keluarga, dan cintanya? Atau masa lalu kembali meruntuhkan segalanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Niskala NU Jiwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Taring-taring Keserakahan

Setelah semalam suntuk melampiaskan amarah dan harga dirinya yang hancur di klub malam, Dimas pulang ke rumah dengan langkah gontai dan kepala yang berdenyut hebat. Aroma alkohol masih menguar dari pakaiannya yang kusut. Ia hanya ingin satu hal: merebahkan diri di tempat tidur dan melupakan penghinaan keluarga Azura di desa kenanga.

Baru saja kakinya menginjak ruang tamu, ia tidak disambut dengan kehangatan, melainkan todongan daftar keinginan yang tak berujung.

Annita, istrinya yang sedang hamil besar, langsung menghadapnya dengan wajah cemberut.

"Mas,! Mana uang satu miliar yang aku minta? Aku harus DP gedung buat pesta ulang tahunku bulan depan, sekalian persiapan biaya persalinan dua bulan lagi. Aku nggak mau di rumah sakit biasa!"

Belum sempat Dimas menjawab, mertuanya, pak Surya, ikut menimpali tanpa memedulikan kondisi menantunya yang berantakan. "Dimas, apartemen yang tempo hari Bapak bicarakan jangan lupa segera dilunasi. Mobil Bapak juga sudah mulai sering masuk bengkel, Bapak butuh ganti yang keluaran terbaru."

Dimas memijat pelipisnya, napasnya memburu. "Bisa tidak kita bicara nanti? Aku sedang pusing!"

Tiba-tiba, kakak perempuan Dimas muncul dengan wajah sembab dibuat-buat. Ia langsung menegang lengan Dimas dengan nada memohon. "Dimas, tolong kakak... Kakak butuh pinjaman sepuluh miliar sekarang juga. Calon suamiku sedang kekurangan modal untuk perusahaanya. Dia bilang kalau uang itu tidak ada Minggu ini, ia terpaksa membatalkan pernikahan kami bulan depan. Kamu nggak mau kan kakak malu?"

Ibu Ratih, ibu kandung Dimas, bukannya menenangkan suasana justru membela anak perempuannya dan menantunya. "Dimas, kamu kan baru menang tender besar. Masa bantu kakak sendiri dan istrimu saja perhitungan? Ingat Annita itu sedang mengandung cucu pertama di rumah ini!"

Pertahanan Dimas runtuh. Rasa lelah, malu karena Azura, dan tekanan dari keluarganya yang parasit membuat emosinya meledak seketika.

"CUKUP!" teriak Dimas hingga suaranya menggema di seluruh ruangan.

Ia menatap mereka satu per satu dengan tatapan muak. "Kalian pikir aku ini bank berjalan?! Tender itu belum cair sepeser pun!"

Dimas berbalik menatap ibunya dengan tajam.

"Kalau ibu mau cucu itu lahir dengan fasilitas mewah, ibu saja yang bayar! Ibu kan punya banyak tabungan, kenapa selalu aku yang ditekan?!"

Lalu ia menoleh pada kakaknya. "Dan kamu, Kak! Tolong buka matamu! Selidiki calon suamimu itu. apa benar dia butuh uang untuk perusahaan, atau dia cuma penipu yang mau memeras keluarga kita? Sepuluh miliar bukan uang receh!"

Pak Surya yang merasa otoritasnya sebagai mertua diabaikan, ikut meradang. "Dimas! Jaga bicaramu! Kamu memperlakukan kami seperti pengemis, apalagi permintaan Annita itu demi anakmu sendiri!"

"Anakku?!" Dimas tertawa getir yang terdengar mengerikan. "Kalian semua hanya peduli uangku, bukan padaku! Jangan sampai aku kehilangan kesabaran dan menarik semua fasilitas di rumah ini!"

Dimas meninggalkan mereka yang terpaku di ruang tamu, membanting pintu kamarnya dengan keras. Di dalam kamar, ia merosot ke tepi ranjang, memegangi kepalanya yang terasa mau pecah. Tetapi, ketenangan yang ia cari sirna seketika Annita menyusul masuk dengan wajah merah padam, matanya melotot tajam menuntut penjelasan.

"Mas! Apa maksudmu bicara begitu di depan Papa dan Mama? Kamu mau mempermalukan aku?!" teriak Annita sambil berkacak pinggang di depan Dimas.

Dimas mendongak, menatap istrinya dengan tatapan lelah yang mendalam. "Annita, aku memohon... mengertilah keadaan finansialku sekarang. Perusahaanku sedang di ambang kebangkrutan karena tender 40 triliun itu butuh modal awal yang besar. Setidaknya kurangi gaya hedonmu dulu. Kalau semuanya sudah stabil, apa pun yang kamu mau pasti aku berikan!"

Tetapi, Annita justru mendengus sinis.

"Kebangkrutan? Itu masalahmu, bukan masalahku! Aku tidak mau tahu, aku sudah terlanjur bilang ke teman-temanku kalau ulang tahunku tahun ini bakal mewah!"

Mendengar kekerasan hati istrinya, ingatan Dimas tiba-tiba melayang pada sosok yang dulu selalu ada untuknya. tanpa sadar, sebuah kalimat meluncur dari bibirnya.

"Bisa tidak kamu sedikit saja menurut seperti Azura?" gumam Dimas pelan, tetapi terdengar jelas di telinga Annita. "Kamu selalu menuntut tapi tidak pernah mau membantu saat aku ada masalah. Dulu, kalau aku capek pulang kerja, Azura pasti melayaniku, memijatku, menyiapkan kopi tanpa aku minta. Sedangkan kamu? Apa yang kamu lakukan selain meminta uang?"

Wajah Annita seketika berubah murka. "Mas Dimas! Jaga mulutmu! Aku bukan Azura, istri babu mu yang dulu dan mandul itu! Aku ini istri sah kamu, dan aku sedang hamil anak kamu! Kamu dengar?!"

"Anak ... Anak.. Dan anak lagi," desis Dimas muak. "Selalu kandungan itu yang kamu jadikan tameng setiap kali kita debat. Aku bosan mendengarnya, Annita!"

Daripada perdebatan itu semakin panjang dan meledak, Dimas memilih menarik selimut dan rapat memunggungi istrinya, menutup mata rapat-rapat meski hatinya bergejolak.

Di sisi lain ranjang, Annita berdiri mematung dengan napas memburu, mata rapat-rapat meski hatinya bergejolak

Di sisi lain ranjang, Annita berdiri mematung dengan napas memburu. kebenciannya pada nama Azura kini mencapai puncaknya. Ia merasa terhina karena dibanding-bandingkan dengan wanita yang selama ini ia anggap "sampah," masa lalu suaminya.

Dengan tangan gemetar karena emosi, Annita mengambil ponselnya, ia mengirimkan pesan singkat kepada seseorang, seorang informan gelap yang biasa ia gunakan.

"Cari info lengkap tentang wanita Azura di desa kenanga. Aku ingin setiap inci kelemahannya. Beri aku laporan dalam dua hari. Aku ingin menghancurkannya sampai tidak bersisa."

Annita tersenyum licik. Jika dinas ingin menjebak Azura agar kembali, maka Annita memiliki rencana lain, ia memastikan Azura benar-benar lenyap agar tidak ada lagi bayang-bayang masa lalu yang mengganggu singgasananya.

Sedangkan Dimas sendiri, dalam diamnya, merencanakan kerja sama dengan Bramasta untuk menyabotase usah Azura. Ia ingin membuat Azura bangkrut agar ia bisa muncul sebagai penyelamat dan memaksa Azura kembali kepadanya. Dimas sama sekali tidak mengenal siapa Rayyan sebenarnya karena ia hanya fokus pada diri sendiri.

......................

Di belahan kita lain, Clarissa duduk di balkon hotel dengan cemas. Tekanan dari suaminya di luar negeri untuk segera membawa si kembar semakin menggila. Ia segera menghubungi Bramasta, sepupu jauh dari pihak ibu ya.

"Bran! Bagaimana kabar para penculik itu?

Kenapa mereka tidak bisa di hubungi?" teriak Clarissa histeris.

Bramasta tampak sangat bingung. "Aku juga tidak tahu, Clarissa. Mereka menghilang bak ditelan bumi. Aku sudah menghubungi si pengasuh di rumah Rayyan, dia bilang Rayyan dan ayahnya belum ada tanda-tanda pulang dari luar negeri."

"Apa kamu sudah cek bandara?!"

"Sudah! Aku mengerahkan orang untuk mengecek seluruh data manifes penumpang. Hasilnya nol! Tidak ada nama Rayyan, ayahnya, atau asistennya," jelas Bramasta.

Bramasta menatap layar laptopnya dengan dahi berkerut. Ia tidak tahu bahwa Dika, anak buah Azura, sudah meretas sistem dan menghapus seluruh jejak kepulangan Rayyan sehingga tidak bisa dilacak.

"Ini aneh. Kebiasaan Rayyan memang menonaktifkan ponsel jika sedang dinas, tapi mustahil mereka tidak meninggalkan jejak di bandara. Cctv pun tidak menangkap wajah mereka," gumam Bramasta. "Ketenangan ini ... Rasanya seperti ketenangan sebelum badai besar datang, Clarissa. Aku merasa kita sedang diawasi oleh sesuatu yang tidak bisa kita lihat."

Clarissa memeras ponselnya. "Aku tidak peduli! Jika Rayyan masih di luar negeri, ini kesempatan kita!"

Clarissa, tidak menyadari bahwa Rayyan dan Azura kini telah bersatu, siap menghancurkan mereka semua.

1
Dila Dilabeladila
syafakilah thor.
biar banyak up lagi🤭🤭
Nifatul Masruro Hikari Masaru
akhirnya up juga
Gadis Pekan baru
semangat kk💪👍
Gadis Pekan baru
semangat kk/Ok/
Nifatul Masruro Hikari Masaru
up lagi dong
Nifatul Masruro Hikari Masaru
kalian salah lawan kawan
Junita Lempoi
cerita wanita tangguh aku banget,jadi suka sekali😄
Nifatul Masruro Hikari Masaru
wah. lumayan si angga dapat rejeki nomplok
Nifatul Masruro Hikari Masaru
laki2 gak tau diri. cuma bisa memanfaatkan orang saja
Darlysese
Aamiin ya Allah...
mohon maaf lahir dan batin juga 🙏
Elia Rossa
Aamiin yra...selamat lebaran juga kak mohon maaf lahir dan batin 🙏
Roos Penerut's
cerita bagia
Evi Lusiana
terharu thor,walopun slm 5 thn azzura bgi burung d dlm sangkar bgtu kluar dia ttp bs jd penerang bgi kluargany yg sdg kesusahan
Evi Lusiana
ayo zura bangkit dn lawan musuh²mu dg elegan,kau org cerdas
bilik166
💪💪💪💪💪💪
Niskala NU Jiwa: terimakasih
total 1 replies
Elia Rossa
aku suka cerita kalo wanitanya tangguh gini...👍
Niskala NU Jiwa: terimakasih kak. 😍
total 1 replies
naya siswanto
keren
Darlysese
di tunggu lanjutannya
Darlysese
semangat ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!