INSPIRASI DARI BULAN RAMADHAN.
Seorang gus bernama Ali Mahendra adalah putra kiyai kharismatik yang dipersiapkan menjadi penerus pesantren—jatuh cinta pada Nayla Malika seorang gadis yang terjebak dalam dunia Mafia karena masa lalunya yang rumit antara ibunya wanita Indonesia dan sang ayah pria Arab Saudi.
Sang Kiyai yang tahu jika Putra tunggalnya mencintai Nayla, berusaha mencarikan calon istri yang baik---anak dari Kiyai di pesantren lain.
Ning Syifa Maulida seorang anak Kiayai yang akan di nikahkan oleh Gus Ali.
Mampukah Ali dan Nayla bersama dalam perbedaan dunia sosial dan lingkungan. Atau Bagaimana Ali mengatasi masalah ini agar tak kehilangan Nayla
Cinta mereka bukan hanya tentang dua hati, tapi tentang dua dunia yang saling bertolak belakang: sajadah dan senjata, doa dan darah, dzikir dan dendam semuanya menjadi satu dalam novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Siang yang panas suasana di Polres malang semua tampak formal, sebuah mobil hitam diikuti mobil lainnya berhenti di parkiran.
Parkiran yang di depan Polres malang, dari dalam mobil turun dua pria dengan aura berbeda.
Namun, keduanya sama-sama kuat karena terikat darah ayah dan anak.
Syekh Khalid bin Muhammad berjalan lebih dulu, pria yang sudah cukup berumur itu masih terlihat gagah.
Diikuti putranya dari istri pertama di belakangnya---Fahad bin Khalid.
Khalid berjalan dengan wajah tenang, tubuhnya terbalut gamis biru muda yang jatuh membuat kesan wibawanya terasa, tak lupa mengenakan kuffiyeh kotak-kotak hitam putih di kepalanya.
"Ya Baba, madha law tamaradat Nayla, la buda 'ana almafya qad 'aetatha slahaan." ("Baba bagaimana jika Nayla berontak, pasti para mafia sudah memberikannya senjata.")
Fahad bicara sambil berjalan di samping ayahnya.
Sementara, Khaled hanya diam dan tak terlalu menanggapi putranya.
"Baba!" panggil Fahad yang berjalan di belakangnya.
Di sampingnya, Fahad tampil lebih modern dengan kemeja putih bersih dengan celana hitam rapi.
Rahangnya mengeras dengan jambang, tapi wajahnya menyembunyikan emosi yang jauh lebih sulit.
"La tatakalam alan ya binay, li'ana dhalik sayashatat tarkizi." ("Jangan bicara sekarang, Nak. Karena fokusku akan terganggu.")
"Sanadkhul ghurfat alqarsanat wanunqidh 'akhaki." ("Kita masuk ke ruang hacker dan selamatkan saudarimu,") ujarnya yang berjalan dengan tergesa-gesa.
Keduanya masuk ke ruang rapat dengan para Bodyguard menunggu di luar.
Ruang rapat itu khusus bersama beberapa pejabat kepolisian, yang di tugaskan presiden untuk membasmi para Mafia.
Bisnis-bisnis ilegal mereka yang merugikan banyak masyarakat.
Kemarin bisnis prostitusi mereka di Lampung yang menyebabkan angka penyakit semakin tinggi, tapi beruntungnya pemerintah masih bisa mengatasinya.
"Syekh Khaled," ucap Inspektur Jendral Polisi.
"Kami sudah melacak keberadaan Nayla Malika, dirinya terlibat dalam penjualan wanita ke Mexico baru-baru ini."
Seorang Inspektur menjelaskan karena sudah banyak dari keluarga mereka yang melapor.
Syekh Khalid yang menikahi wanita Indonesia, jadi dirinya mengerti bahasa Indonesia sedikit.
"Dan dimana posisi Nayla?" tanya Syekh Khalid menatap inspektur kepolisian.
Di dalam ruangan itu kepolisian Indonesia sudah dengan monitor dan posisi jalan, monitor terus berdetak.
Memperlihatkan transaksi para Mafia, bisnis ilegal mereka yang tak terdaftar di pemerintahan.
Seorang perwira kepolisian membuka berkas, dia Aiptu Kamaruddin.
"Lapor Jendral," hormatnya kepada inspektur kepolisian.
"Ya Aiptu apa yang kamu dapatkan," ujarnya.
Sementara Fahad dan Khaled hanya terdiam melihat Nayla yang sudah menjadi DPO, karena kasus penjualan tujuh wanita ke Mexico.
"Saya melacak Nayla lewat ponselnya berada di wilayah Jawa Barat, tapi berpindah-pindah, dengan identitas samaran."
Fahad menatap sang ayah, lalu mendekati kedua perwira kepolisian Indonesia.
"Laa yuhumuna kayfi, kula ma nahtajuh hu almawqae!" ("Kami tidak peduli bagaimana caranya, kami hanya butuh lokasinya!") ungkap Fahad yang tegas.
Apa yang Fahad katakan hanya Inspektur Jendral yang mengerti, karena sudah beberapa kali dirinya menghadapi laporan dari warga negara asing.
Sekaligus memiliki banyak pengalaman, terutama saat dirinya bersama sang istri sedang ibadah haji di Arab saudi.
"Sid fihad, la yumkinuna 'an nakun mutahawirina. 'iidha kunaa mutahawirina, fasayakun hunak alkathir min 'iiraqat aldima'i." ("Pak Fahad, kita tak bisa gegabah. Kalo gegabah maka akan ada banyak pertumpahan darah.")
Inspektur Jendral memberitahu Fahad, sementara Khaled yang sedang memantau foto-foto Nayla yang terlihat di Bandara, Pelabuhan, dan tempat penyelundupan barang terlarang lainnya.
"Laa yuhimuni ya mufatish, 'urid faqat aleuthur ealaa 'ukhti wa'akhdhaha beydan!" ("Aku tak peduli, Inspektur aku hanya menginginkan saudariku di temukan dan membawanya pergi!") Ungkap tegas Fahad yang sudah muak dengan tingkah Nayla.
Khaled melirik putranya, berjalan mendekat dengan tatapan putranya sekilas hanya diam.
Seolah itu adalah peringatan.
"Ayuha almufatishi, 'arju mink altaeawuna, abhath ean abnti." ("Inspektur saya minta kerjasamanya, tolong temukan putriku.")
Khaled mendekati Inspektur sambil membawa foto-foto Nayla.
Sungguh Khaled tak menyangka Nayla bisa berbuat sejauh ini, dan dirinya siap mendidik Nayla kembali dari nol.
Karena selain Ratna yang membuat Nayla masuk ke dalam dunia Mafia.
Dirinya juga ikut ambil andil untuk kehidupan Nayla.
Seandainya dulu dirinya tak mencampakan Ratna mungkin Nayla sudah menikah, dan menjadi gadis yang baik.
Seorang penyidik berpangkat Bripka menatap layar monitor yang memperlihatkan---tiba-tiba posisi Nayla menghilang.
"Pak lapor, posisi Nayla tiba-tiba menghilang!" ucap Bripka Frengky.
Mereka semua menatap layar monitor itu, dan melihat bagaimana data-data itu tiba-tiba menghilang begitu saja.
"Rupanya para Mafia sudah tahu jika kita mengincar gudang Narkotika mereka," ucap Inspektur Jendral memijit pelipisnya.
“Ada aktivitas mencurigakan di beberapa titik distribusi ilegal. Nama Nayla sering muncul di sekitar jaringan itu. Tapi belum ada bukti kuat.”
Fahad mengepal tangannya di atas meja, seolah sudah muak dengan semua ini.
"Hadha yaeni 'ana nayla la takhtabi fahasbu, bal la buda 'anahum 'aeaduu khutatan!" ("Berarti Nayla bukan hanya bersembunyi pasti mereka menyiapkan rencana!") ucap Fahad matanya menatap layar monitor.
Dugaan inspektur benar ternyata Nayla sudah lebih dulu mengambil tindakan, sebelum pihak kepolisian kembali bergerak.
Nayla sendiri pernah di ciduk dan baku tembak dengan aparat, perihal dirinya membuat film dewasa.
Para polisi berhasil menciduk keberadaannya lewat hacker, namun Nayla yang licik berhasil melepaskan diri meski tubuhnya penuh luka.
Tentu saat itu Nayla di tolong oleh Gus Ali, dan jika tak di tolong mungkin nyawa Nayla sudah tak selamat.
Khaled menatap peta digital yang menampilkan beberapa titik merah, disana aktivitas kriminal seperti penjualan sabu dan ganja berjalan sesuai yang di jalankan Nayla dan Gani.
"Jika terlibat maka semakin di temukan semakin baik," kata Khaled membenarkan kuffiyehnya.
Namun dalam hati seorang ayah, Khaled merasa harus ada pertempuran hanya demi mempertahankan putrinya.
Nayla memang terkenal cerdas dalam membuat strategi, ini di buktikan dengan bisnis Aditya Suradinata yang berkembang pesat.
Namun sayang, kecerdasan Nayla hanya di buat untuk bisnis yang merugikan orang lain.
Fahad sendiri tak hanya memikirkan bagaimana cara membawa saudarinya kembali, namun tengah memikirkan bagaimana agar Nayla tak menjadi ancaman bagi nama keluarganya.
Di ruang kepolisian itu, kerjasama resmi terjalin, dengan tujuan masing-masing yang tak sepenuhnya sama.
*
*
*
*