NovelToon NovelToon
Reany

Reany

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Wanita Karir / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam
Popularitas:58.5k
Nilai: 5
Nama Author: Aerishh Taher

Selama tujuh tahun, Reani mencintai Juna dalam diam...meski mereka sebenarnya sudah menikah.


Hubungan mereka disembunyikan rapi, seolah keberadaannya harus menjadi rahasia memalukan di mata dunia Juna.

Namun malam itu, di pesta ulang tahun Juna yang megah, Reani menyaksikan sesuatu yang mematahkan seluruh harapannya. Di panggung utama, di bawah cahaya gemerlap dan sorak tamu undangan, Juna berdiri dengan senyum yang paling tulus....untuk wanita lain.

Renata...
Cinta pertamanya juna
Dan di hadapan semua orang, Juna memperlakukan Renata seolah dialah satu-satunya yang layak berdiri di sampingnya.

Reani hanya bisa berdiri di antara keramaian, menyembunyikan air mata di balik senyum yang hancur.


Saat lampu pesta berkelip, ia membuat keputusan paling berani dalam hidupnya.

memutuskan tidak mencintai Juna lagi dan pergi.

Tapi siapa sangka, kepergiannya justru menjadi awal dari penyesalan panjang Juna... Bagaimana kelanjutan kisahnya?


Jangan Lupa follow penulis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aerishh Taher, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 : Reany

Beberapa hari kemudian, Reani keluar dari rumah sakit dengan langkah pelan namun mantap.

Gerald berjalan di sisi kirinya. Doroti di belakang mereka, membawa tas dan masih mengomel soal prosedur administrasi. Udara siang terasa terang, terlalu normal untuk seseorang yang baru lolos dari kematian.

Begitu mereka melewati pintu otomatis, Reani berhenti.

Di seberang halaman rumah sakit, Juna berdiri sambil menggenggam tangan Renata. Keduanya tampak rapi dan hangat, Renata mengenakan gaun hamil longgar berwarna krem, wajahnya dibuat lembut, hampir rapuh.

Renata yang lebih dulu melihat Reani.

Matanya membesar sesaat, lalu ia menarik lengan Juna pelan.

“Juna,” ucapnya dengan suara dibuat khawatir, “sepertinya Reani sakit. Apa ini… karena kita? Karena kita nggak bermaksud menipunya?”

Juna menghela napas cepat, jelas tidak nyaman. “Rere, ini nggak ada hubungannya sama kita.”

Doroti mendengus keras. Satu langkah ke depan, suaranya naik satu oktaf.

“Tidak perlu memulai Drama mu,” katanya tajam. “Aku tau kamu kan yang—.”

Renata menegang. Tangannya refleks melindungi perutnya.

“Doroti,” kata Reani pelan, tapi cukup membuat Doroti berhenti, “Sudahlah.”

Doroti menoleh, masih panas. “Rea—”

“Tidak ada gunanya berdebat dengan pasangan yang tidak bermoral,” lanjut Reani. Nada suaranya terdengar datar tanpa emosi namun justru itu yang membuat perkataan Reani sangat menusuk di telinga Renata.

“Lebih baik kita makan, ini sudah waktunya makan siang.”

Doroti mendecak, lalu menghela napas panjang. “Ya? Tapi Rea wanita ini-kan yang sudah—”

Reani menatap lurus ke depan, tidak lagi ke arah Juna dan Renata. “Kita keluarga terhormat, Doroti. Setiap perkataan dan tingkah laku kita membawa nama keluarga, tidak seperti mereka.”

Gerald yang sejak tadi diam, akhirnya berbisik di telinga Reani yang masih bisa terdengar oleh Doroti.

“Jangan sampai dia tau, bahwa kamu sudah tau tentang hubungannya dengan kecelakaan itu dan kau Doroti! tutup mulutmu atau.....”

Ucapan Gerald membuat Doroti tegang seketika. Reani menahan tawa saat melihat wajah Doroti yang memerah seperti kepiting rebus.

Juna mengatupkan rahang sedangkan Renata menundukan wajahnya yang telah pucat pasih, bukan karena kata-kata Doroti...tapi karena sesuatu yang berusaha ia tutupi.

Reani melangkah lagi, meninggalkan mereka tanpa menoleh.

“Kita makan di tempat biasa saja,” katanya sambil berjalan. “Aku lapar.”

Doroti langsung berubah ekspresi. “Setuju.”

Gerald tersenyum kecil, singkat. Ia membuka pintu mobil untuk Reani.

Juna masih berdiri menatap kepergian mobil itu, tangan yang mulanya menggenggam erat jemari Renata perlahan mengendurkan genggaman nya.

Renata menarik tangannya dari genggaman Juna. Wajahnya yang tadi dibuat lembut kini mengeras dan memerah.

“Sialan,” desisnya. “Memangnya kalau mereka kaya bisa seenaknya! merendahkan siapa pun?”

Juna tidak langsung menjawab. Pandangannya masih tertuju ke arah jalan, seolah berharap Reani menoleh kembali. Harapan yang jelas sia-sia.

“Juna,” suara Renata meninggi, “katakan sesuatu, mereka menghina aku dan Juga calon anak kita.”

Juna akhirnya menoleh. Alisnya berkerut, menahan kekesalan pada Renata yang terus saja merengek.

“Lalu?” katanya dingin. “Kenapa kamu tidak membela diri tadi, Renata? Kamu hanya diam saat dia merendahkan mu!”

Renata terperanjat. “Kamu membentakku?”

Juna menghela napas kasar. “Bukan… bukan begitu.”

Renata menyilangkan tangan di depan dada. “Lalu? Apa maksud mu sebenarnya?”

Juna mengusap wajahnya, nada suaranya turun, dibuat sabar. “Kita nggak mungkin melawan mereka. Keluarga Wijaya itu sangat kuat. Jadi ya… tahan saja, aku akan mencari jalan keluar nya! Aku tidak akan membiarkan mereka selamanya merendahkan kita.”

Renata menatapnya tajam. “Tahan? Setelah semua yang mereka katakan? Baiklah kali ini aku akan mendengarkan mu,”

Ia lalu menyipitkan mata, mengingat satu sosok asing disamping Reani tadi. “Siapa pria yang bersama Reani?”

Juna terdiam sejenak. “Aku tidak mengenalnya.”

“Pria barunya?” Renata menduga, nadanya tajam.

“Omong Kosong,” jawab Juna cepat. Lalu bibirnya melengkung tipis. “Aku yakin dia masih punya perasaan padaku.”

Renata tertawa geli bercampur sinis.

“Apa-apaan sih kamu?” katanya. “Kamu itu sudah tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Sekarang aku ini calon istrimu.”

Ia melangkah lebih dekat. “Dan aku mau kamu segera menikahiku, Juna.”

Juna menghela napas panjang. Matanya turun ke perut Renata, lalu kembali ke wajahnya.

“Sudahlah,” katanya, mengakhiri. “Hari ini kita periksa kandunganmu, sekarang bukan waktunya untuk berdebat.”

Ia meraih tangan Renata lagi, kali ini dengan genggaman yang lebih mengikat.

“Ayo.”

Renata menuruti langkahnya, meski rahangnya mengeras.

Di benaknya, wajah Reani yang tenang itu terus terbayang

___

Mobil melaju tenang di jalan utama.

Reani duduk di kursi belakang. Sandaran ditegakkan, jendela sedikit terbuka. Udara siang masuk tipis. Ia memejamkan mata sebentar, menata napas.

Ponselnya bergetar.

Nama Arian muncul di layar.

Reani mengangkat panggilan.

“Ada apa?”

Suara Arian terdengar jelas dan cepat, seperti biasa.

“Sidang lanjutan sudah dijadwalkan. Terkait pemalsuan dokumen Buku nikah palsu yang Juna lakukan.”

Reani membuka mata. Pandangannya fokus ke depan.

“Kapan?”

“Minggu depan, Jaksa akan melakukan sidang dan Kasusnya akan naik.”

Doroti yang duduk di samping langsung menoleh. Gerald melirik lewat spion.

“Baik,” kata Reani singkat. “Kita bahas langsung saja.”

“Sekarang?” tanya Arian.

“Iya, aku lagi mau makan siang, bareng Doroti dan Gerald.” jawab Reani. “Kita ketemu di deLure.”

Arian terdiam sepersekian detik. “Baik, Tiga puluh menit.”

Panggilan ditutup.

Doroti bersiul kecil. “deLure lagi. Aku setuju.”

Gerald menatap Reani lewat kaca spion. “Kamu yakin?”

Reani mengangguk. “Aku tidak mau menunda.”

Mobil berbelok menuju pusat kota.

Restoran deLure tenang seperti biasa. Meja mereka berada di Ruang V-VIP terpisah dari keramaian. Cahaya masuk dari jendela besar. Tidak ada musik keras.

Arian datang tepat waktu, mengenakan setelan Jas Rapi, membawa map hitam yang ada di tangannya.

Ia duduk berhadapan dengan Reani.

“Kasus in sudah masuk pemalsuan dokumen negara,” katanya tanpa basa-basi.

Reani menyilangkan tangan di atas meja. “Lalu...”

Arian membuka map.

“Dokumen palsu yang dipakai Juna termasuk pemalsuan dokumen negara. Ancaman hukumannya denda besar dan pidana.”

Doroti menyeringai tipis. “Akhirnya.”

Gerald diam, mendengarkan.

Arian melanjutkan, “Kami juga menemukan alur pembuatannya. Ada pihak ketiga yang membantu. Bukan hanya satu orang.”

Reani menatap map itu lama.

“Tarik semuanya ke meja,” katanya. “Aku tidak mau setengah-setengah.”

Arian mengangguk. “Itu berarti prosesnya lebih panjang.”

“Tidak masalah,” jawab Reani. “Aku sudah terlalu lama dibohongi.”

Pelayan datang menyajikan makanan. Reani hampir tidak menyentuhnya.

“Sidang ini,” lanjut Reani, “bukan hanya soal dendam, tapi tentang hukuman untuk orang yang bersalah.”

Arian menutup map. “Itu sudah cukup kuat sebagai motivasi hukum.”

Reani mengangguk dengan wajah penuh percaya diri.

bersambung...​

1
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
keren thor ceritanya 👍👍💐
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
permisi aku iseng pengen mampir aja.
Noor hidayati
ini masih ada kelanjutanya tidak,kalau memang sudah tidak dilanjut mau saya hapus dari daftar riwayat
drpiupou
nggak tamat kak, lagi nggak enak badan🙏
fitri
cerita yang cukup menarik tapi sayang tamat tanpa tahu macam mana pengakhirannya😔😔😔😔😔😔😔😔😮‍💨😮‍💨😮‍💨😮‍💨😮‍💨
fitri
👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪😘😘😘😘
Kayla Callista
🤣🤣semangat rea
murni l.toruan
Duuuhhh semakin seru saja kakak Author apa dan siapa musuh Lady Rose..
Juna umpan dan untuk mati duluan
murni l.toruan
Keren banget Rose Cavali
cinta semu
wow itu live kan ...heboh di hujat netizen 😂😂
drpiupou: jelas🤣
total 1 replies
Saidah Sappa
Alur yang bagus ♥️♥️♥️♥️
Soraya
mampir thor
Hagia Sophia
kuraaaangggg klo cuma 1 kakaaaaa
drpiupou: berapa jadinya kakak🤣
total 1 replies
Sri chandri Yani
Sangat bagus dan menarJalan ceritanya seru dan menegangkan tapi penuh misteri 🙏🏻
drpiupou: Terima kasih kakak sudah membaca 'REANY' tetap nantikan kelanjutan nya ya☺️
total 1 replies
murni l.toruan
Aku suka karyamu kakak Author...penasaran tingkat tinggi
drpiupou: Reani bakalan mulai membuka lembaran lama, secara perlahan. dan kuharap kamu masih ada bersama Reany.
total 1 replies
murni l.toruan
Rea mengamuk dengan tenang mengalahkan 10 orang pecundang
murni l.toruan
Keren banget...cewek yang tidak menye2
drpiupou
🤣takut dia sama roberto
Diyah Saja
wkkwwk kaburr mereka 🤣
Himna Mohamad
lanjut thoor,,,waww semakin kereen
drpiupou: Sebelumnya saya ucapkan terima kasih yang banyak, telah membaca REANY 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!