NovelToon NovelToon
Vengeance Of A Killer.

Vengeance Of A Killer.

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Anak Genius / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Ilmu Kanuragan
Popularitas:522
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Lucas, pembunuh bayaran paling mematikan dari Akademi Bayangan Utara, adalah master pisau dengan elemen air yang tak tertandingi. Obsesinya untuk menjadi yang terbaik dan persaingannya dengan Diana, senior ahli pedang es, membentuk dirinya. Namun, kedamaian hancur saat akademi diserang. Master Loe dan Niama gugur, memicu amarah Lucas yang melepaskan kekuatan airnya menjadi badai penghancur. Di tengah reruntuhan, Lucas bersumpah membalas dendam atas kematian mereka. Dengan sebuah lambang spiral gelap sebagai petunjuk satu-satunya, ia memulai misi pencarian dalang di balik kehancuran ini. Akankah balas dendam mengubahnya atau ia menemukan kebenaran yang lebih dalam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelatihan di Goa

Lucas dan Diana berjalan dalam keheningan yang tegang setelah keluar dari menara yang mulai runtuh. Mereka mendengar gemuruh di belakang mereka, namun tidak menoleh. Diana memegang pedang kembarnya erat-erat, dan Lucas menggenggam Kristal Harmoni.

Lucas melirik Diana. "Kita harus bergerak cepat," kata Lucas. "Aku merasakan ada yang datang." Diana mengangguk. Mereka berdua melaju lebih cepat, menyusuri jalan setapak yang gelap di antara reruntuhan sekte.

Tiba-tiba, beberapa bayangan melesat dari balik semak-semak. Mereka adalah anak buah Master Brian yang tersisa, bersenjata lengkap. Lucas dan Diana segera mengambil posisi bertarung.

"Kalian tidak akan lolos!" teriak salah satu anak buah Master Brian. "Master Brian mungkin sudah mati, tapi kami akan membalas dendamnya!" Mereka menyerbu ke arah Lucas dan Diana.

Lucas maju lebih dulu. Pedang bayangannya muncul di tangannya, menebas dengan kecepatan kilat. Ia bergerak seperti bayangan, menghindari serangan dan melumpuhkan lawan satu per satu.

Diana juga menyerang. Pedang esnya menari-nari, membekukan lengan dan kaki musuh. Ia bekerja sama dengan Lucas, melindungi punggung Lucas saat Lucas menyerang musuh di depannya.

Seorang anak buah Master Brian mencoba menyerang Lucas dari belakang. Namun, Diana sudah melihatnya. Ia melesat, memblokir serangan itu dengan pedang esnya. "Fokus!" serunya pada Lucas.

Lucas membalas dengan tebasan bayangan yang kuat, menjatuhkan anak buah Master Brian itu. "Terima kasih," kata Lucas tanpa menoleh. Mereka terus bertarung, saling mendukung.

Pertarungan itu berlangsung sengit. Anak buah Master Brian terus berdatangan, seolah tak ada habisnya. Namun, Lucas dan Diana terlalu kuat bagi mereka. Mereka bertarung dengan sinkronisasi yang sempurna.

Akhirnya, anak buah Master Brian yang terakhir tumbang. Keheningan kembali menyelimuti mereka, hanya suara napas terengah-engah yang terdengar. Diana menyarungkan pedangnya. "Apa kita sudah aman?" tanya Diana.

Lucas mengamati sekeliling. "Belum sepenuhnya," jawab Lucas. "Kita harus lebih jauh lagi." Ia melihat ke arah hutan gelap di kejauhan. "Kita menuju ke sana."

Mereka berdua memasuki hutan. Pepohonan yang tinggi dan rapat menciptakan kegelapan yang pekat. Kristal Harmoni di tangan Lucas memancarkan cahaya redup, menerangi jalan mereka.

"Kau yakin bisa mengendalikan kekuatan iblis itu?" tanya Diana. "Aku tidak ingin kau menghilang seperti Master Brian." Kekhawatiran Diana terdengar jelas dalam suaranya.

Lucas mengangguk. "Aku akan berusaha," kata Lucas. "Aku tidak akan membiarkan diriku menjadi seperti dia." Ia mengeratkan genggamannya pada Kristal Harmoni.

Mereka terus berjalan. Lucas memimpin, dengan Diana mengikutinya dari belakang. Mereka berdua dalam keadaan siaga penuh, siap menghadapi bahaya apa pun yang mungkin muncul.

Beberapa jam kemudian, mereka tiba di sebuah gua terpencil yang tersembunyi di balik air terjun kecil. Air terjun itu menutupi pintu masuk gua, menyamarkan keberadaannya. "Ini tempat yang bagus," kata Lucas.

Diana mengamati gua itu. "Cukup aman," kata Diana. "Tidak ada yang akan menemukan kita di sini." Mereka masuk ke dalam gua.

Di dalam, Lucas meletakkan Kristal Harmoni di sebuah batu datar. Cahaya kristal itu menerangi dinding gua. "Sekarang, saatnya aku berlatih," kata Lucas. Ia mulai memusatkan kekuatannya.

Diana duduk di dekatnya, mengawasi. Ia tahu Lucas membutuhkan fokus penuh. Diana tidak mengatakan apa-apa, ia hanya duduk diam, siap jika Lucas membutuhkan bantuannya.

Lucas menutup matanya. Kekuatan iblis dalam dirinya bergejolak. Bayangan-bayangan mulai muncul di sekelilingnya, menari-nari dengan liar. Lucas mencoba mengendalikannya.

Diana merasakan aura gelap yang kuat terpancar dari Lucas. Ia sedikit bergidik, tetapi ia tetap berada di sana. Ia percaya pada Lucas.

Lucas membuka matanya. Bayangan-bayangan itu kini lebih tenang, mengikuti gerakannya. "Aku bisa merasakan sedikit kontrol," kata Lucas. "Tapi ini masih sangat sulit."

"Pelan-pelan saja," kata Diana. "Kau pasti bisa." Ia memberikan senyum tipis, mencoba menyemangati Lucas.

Lucas mengangguk. Ia terus berlatih, hari demi hari. Bayangan-bayangan itu mulai patuh, membentuk berbagai benda sesuai keinginannya. Kristal Harmoni memancarkan cahaya stabil, membantu menyeimbangkan kekuatannya.

Diana selalu berada di sisi Lucas. Ia kadang-kadang ikut berlatih juga, mengasah kemampuan pedang esnya. Ia tahu mereka berdua harus kuat untuk menghadapi masa depan.

Suatu hari, saat Lucas sedang berlatih, ia merasakan sakit yang tajam di hatinya. Kekuatan iblis itu mencoba menguasainya. Bayangan-bayangan di sekelilingnya kembali menjadi liar.

"Lucas!" seru Diana, khawatir. Ia melihat Lucas berjuang melawan kekuatan gelap itu. "Apa yang terjadi?"

Lucas mengerang. "Kekuatan ini... mencoba mengambil alih," kata Lucas. "Aku harus melawannya." Ia mencoba memusatkan pikirannya pada Diana, pada janji mereka.

Diana segera mendekat, memegang tangan Lucas. "Ingat dirimu, Lucas!" kata Diana. "Kau bukan Master Brian! Kau adalah Lucas!" Ia menyalurkan energi esnya, mencoba menenangkan aura gelap di sekitar Lucas.

Sentuhan Diana dan kata-katanya membantu Lucas. Ia memfokuskan kembali pikirannya. Perlahan, bayangan-bayangan itu kembali tenang. Sakit di hatinya mereda.

Lucas menatap Diana. "Terima kasih," kata Lucas. Suaranya terdengar tulus. "Kau menyelamatkanku lagi." Ia tahu ia tidak bisa melakukan ini sendirian.

Mereka berdua terus berlatih. Lucas semakin mahir mengendalikan kekuatan iblisnya. Ia belajar menyeimbangkan kegelapan dengan cahaya Kristal Harmoni.

Diana melihat perubahan pada Lucas. Mata merah menyala Lucas kini tidak lagi terlihat kosong, ada sedikit kehangatan di sana. Senyum tipis sering terlihat di bibirnya.

"Aku pikir aku mulai mengerti," kata Lucas suatu pagi. "Bagaimana menyeimbangkan kekuatan ini. Ini bukan tentang menolaknya, tapi merangkulnya dan mengendalikannya."

Diana tersenyum. "Aku selalu tahu kau bisa melakukannya," kata Diana. "Kau jauh lebih kuat dari Master Brian."

Lucas mengamati Kristal Harmoni. "Kita masih punya misi," kata Lucas. "Kita harus mengembalikan keseimbangan di dunia ini."

Diana mengangguk. "Aku siap," kata Diana. "Ke mana pun kau pergi, aku akan ikut." Ia menatap Lucas dengan tekad di matanya.

Lucas menatap Diana. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya. "Baiklah," kata Lucas. "Mari kita hadapi ini bersama."

Mereka berdua keluar dari gua. Sinar matahari menyapa mereka, terasa hangat di kulit. Lucas memegang Kristal Harmoni, dan Diana memegang pedang kembarnya.

"Dunia membutuhkan kita," kata Lucas. "Kita akan membawa keadilan." Mereka melangkah maju, memulai perjalanan baru mereka.

Diana berjalan di samping Lucas. "Aku percaya padamu," kata Diana. "Kita pasti bisa."

Lucas mengangguk. Ia merasakan ikatan yang kuat dengan Diana. Mereka adalah tim, dan mereka akan menghadapi apa pun bersama.

Perjalanan mereka akan panjang, dan mungkin berbahaya. Tetapi mereka berdua siap. Dengan kekuatan iblis yang terkendali dan Kristal Harmoni di tangan, Lucas tahu mereka akan berhasil.

Diana menatap Lucas, dan ia tahu bahwa ia telah membuat pilihan yang tepat. Ia tidak akan pernah meninggalkan Lucas sendirian.

Lucas menoleh ke Diana, dan sebuah senyum yang lebih jelas terlihat di wajahnya. Ia tidak lagi sendirian dalam kegelapannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!