Warning,,,!!!! 21+, harap bijak mencari bacaan.!
Delia Larasaty, gadis cantik berusia 22 tahun itu tidak pernah menyangka jika dirinya akan menikah dengan kakak iparnya sendiri, atau lebih tepatnya menikah dengan suami kakaknya.
Dia adalah Bramantyo Sanjaya atau Bram. Pria dengan wajah tampan yang saat ini berusia 30 tahun tapi masih terlihat muda.
Anak tunggal dari Tuan Sanjaya, pemilik Sanjaya's Group. Salah satu perusahan terbesar dikota jakarta.
Bram menikah dengan Ditha Larasaty, kakak kandung Delia. Tapi 6 bulan yang lalu saat Ditha melahirkan, kondiri Ditha melemah hingga dia dinyatakan koma. Hingga saat ini Ditha belum juga sadar dari komanya.
Kedua orang tua Bram tidak tega melihat kondisi anaknya yang semakin tidak terawat dan terus berlalur dalam kesidihan karna tepukul atas kejadian yang menimpa istrinya. Maka dari itu kedua orang tua Bram meminta Bram untuk menikah dengan Delia, agar Bram tidak berlarut - larut dalam kesedihan karna terus memikirkan Ditha yang belum tentu akan bangun dari komanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Wullandarrie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Laki - laki itu
Delia sedang menyuapi Alea di taman belakang. Setelah Bram mengerjainya, Delia langsung turun ke bawah. Dia memilih untuk tidak memakaikan dasi Bram, biar saja hari ini dia tidak mendapat imbalan. Kekesalannya pada Bram masih menguap, hingga membuatnya enggan menemani Bram sarapan.
Delia menyuapi Alea sambil terus menyerocos. Mengadukan kekesalannya pada Alea, akibat ulah papanya itu yang menyebalkan.
"Papamu itu sangat menyebalkan, Alea. Jangan sampai kamu mengikuti jejak papamu yang tukang jahil itu." Gerutu Delia.
Alea tertawa kecil, tentu saja dia tidak paham apa yang Delia katakan. Alea janya tau jika Delia sedang mengajaknya berbicara.
"Kenapa kamu kewata.? Apa kamu puas karna aunty di kerjai oleh papamu.?" Tanya Delia.
"Tentu saja sangat puas.!"
Delia mendengus kesal kala mendengar suara yang tidak asing baginya. Siapa lagi kalau bukan suara orang yang sudah membuatnya kesal setengah mati pagi ini.
Memutar bola matanya malas, Delia menengok kebelakang untuk menatap wajah tampan yang sudah membuatnya emosi jiwa di pagi hari.
"Ckk,,," Delia bedecak kesal. Karna yang dirilik sedang menebarkan senyum maut padanya. Delia kembali fokus menyuapi Alea. Bram duduk di samping Delia, namun Delia membuang muka ke sisi yang lain. Dia enggan melihat wajah Bram yang terkadang mengaduk - aduk perasaannya.
"Kamu sudah pantas memiliki anak, tapi sikapmu masih seperti anak - anak." Ujar Bram.
Delia tau jika Bram sedang menyindirnya, karna tidak ada orang lain lagi disana. Tidak mungkin jika kata - kata Bram ditujukan untuk Alea.
Tak mau ambil pusing, Delia memilih tidak menanggapi ucapan Bram. Dia sedang pura - pura tidak mendengarnya.
"Aku sedang berbicara denganmu Delia,," Kata Bram lembut.
"Aku sedang tidak ingin berbicara denganmu mas." Ujarnya, Delia menirukan nada bicara Bram yang lembut.
Bram mengulum senyumnya, dia sangat gemas dengan istri mudanya yang kekanakan. Dulu saat Delia masih menjadi adik iparnya, dia sangat kesal dengan sifat kekanakan Delia. Tapi semua itu berubah setelah Delia menjadi istrinya. Sifat Delia yang kekanakan justru membuatnya semakin mencintai Delia. Hingga dia terus saja menjahili Delia hanya untuk melihat sifat kekanakannya yang menggemaskan.
"Jangan seperti ini, atau aku akan menciummu disini." Kata Bram gemas.
"Jangan seperti itu, atau aku akan memukulmu mas.!" Geram Delia.
Dia semakin kesal saja dibuatnya, sedangkan Bram bertambah gemas dan ingin terus menggodanya.
"Delia,,," Bram menggeser duduknya semakin dekat, dia merangkul pundak Delia.
"Mas.!!" Pekik Delia.
"Buruan pergi kekantor. Jangan membuatku semakin emosi, itu bisa membuatku hipertensi.!" Ketusnya.
Entah kenapa rasanya kesal sekali pada Bram pagi ini. Padahal sudah menjadi hal yang lumrah saat Bram menjahilinya. Tapi kali ini kekesalannya berkali - kali lipat dari biasanya.
Terus berdebat dengan Bram hanya akan menaikan tekanan darahnya.
"Kamu sensi sekali pagi ini. Apa kamu sedang kedatangan tamu bulanan.?" Tanya Bram.
Delia tertegun, ternyata ini yang membuatnya berapi - api. Delia sampai lupa jika dia baru saja haid tadi malam. Melihat ekspresi Delia, Bram bisa menebak jika ucapannya benar.
Tapi tetap saja dia merasa senang meskipun kekesalan Delia belum juga mereda. Ambekan Delia yang lucu, justru menambah semangat untuknya
Bram pamit pada Delia, kemudian beralih pada Alea. Bram jongkok didepan Delia agar bisa sejajar dengan Alea. Dia mengucapkan beberapa kata pada Alea, lalu menciumnya berkali - kali.
"Aku berangkat dulu. Hari aku ini pulang malam,," Ujar Bram sembari menegakkan dirinya. Dia mendaratkan kecupan di kening Delia.
Delia mengangguk, dia meraih tangan Bram untuk mencium punggung tangannya.
"Jangan cemberut, aku akan tetap memberimu imbalan." Kata Bram, dia mengusap pucuk kepala Delia. Delia mendongak, tersenyum tipis pada Bram.
Bram sudah berajak dari sana, sedangkan Delia masih mematung. Ucapan Bram mengusik hatinya. Bram akan pulang malam hari ini.
Delia tau Bram akan kemana, dan itu yang sudah berhasil mengusik hatinya saat ini.
Ada kecemburuan dalam hatinya, dia juga merasa tidak rela jika Bram pulang malam.
Untuk apa lagi jika bukan untuk menjenguk Ditha di rumah sakit.
'Kenapa aku egois sekali.! Kamu harus sadar diri Delia. Jangan mengambil sesuatu yang bukan hakmu.!' Ingat jika dia hanya milik mba Ditha. Kamu akan bercerai setelah mba Ditha kembali.!' Lupakan cintaimu padanya dan hilangkan kecemburuanmu itu.!'
Delia merutuki dirinya sendiri atas kecemburuannya yang tidak masuk akal.
...*****...
Bram keluar dari kantor pukul 5 sore. Karna hari ini dia ingin mengunjungi Ditha, tadi pagi Bram berangkat ke kantor tanpa diantar oleh supir.
Bram sudah berada di dalam mobilnya, dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit.
Semenjak memberikan kepastian pada hubungannya dan Delia, Bram harus membagi waktunya untuk Delia dan Ditha. Bram tidak lagi tidur dirumah sakit setiap hari, hanya tiga kali dalam satu minggu dia tidur dirumah sakit. Selebihnya dia hanya menjenguknya dari sore hingga malam, itu pun sesuka hatinya.
"Siapa kau.!!" Triak Bram.
Bram berlari kearah ruangan Ditha. Laki - laki berbaju rapat mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam ruangan Ditha, dia kembali menutup pintu dan segera berlari sekencang mungkin untuk menghindari kejaran Bram.
"Siall..!!" Umpat Bram.
Bram melayangkan tinjuan keudara. Bram sangat penasahan dengan laki - laki itu. Kenapa akan masuk keruangan Ditha, dan harus kabur saat Bram memergokinya.
"Siapa dia.? Apa dia berniat mencelakai Ditha.? Tapi siapa yang ingin membuat Ditha celaka." Bram bertanya - tanya pada dirinya sendiri. Ada kecemasan dihatinya, dia takut sesuatu terjadi pada Ditha.
Bram masuk keruangan dimana Ditha dirawat. Perawat yang sedang menjaga Ditha, menyambut kedatangan Bram.
Bram menatap perawat itu dengan penuh tanya.
"Apa selama ini ada orang lain yang sering menjenguk istriku.?" Pertanya Bram membuat perawat terkesiap.
"Ti,,tidak ada Tuan. Hanya keluarga Tuan dan keluarga Nyonya Ditha saja."
"Apa kamu yakin.?" Tanya Bram sekali lagi.
Perawat itu mengangguk.
Bram memijat pelipisnya. Dia masih tidak puas dengan jawaban perawat itu.
Memilih berlalu, Bram menghampiri Ditha dan duduk dikursi yang berada disisi ranjang.
"Ditha, sampai kapan kamu akan membuatku menunggu seperti ini.? Bangunlah, aku sangat merindukanmu."
Bram mengecup punggung tangan Ditha yang ada di genggamannya.
Meskipun Delia sudah masuk kedalam hatinya, tapi Bram tidak melupakan cintanya pada Ditha. Ditha dan Delia sama - sama memiliki ruang dihati Bram. Saat ini kakak - beradik itu adalah istrinya, Bram sebisa mungkin membagi cinta dan perhatiannya secara adil. Walaupun hingga saat ini Ditha lah yang menempati ruang paling banyak dihatinya. Bram dan Ditha sudah banyak menghabiskan waktu bersama selama bertahun - tahun, tidak mungkin semudah itu dia menggeser sebagian hatinya untuk ditempati oleh Delia.
Malam ini Bram memutuskan untuk menginap, dia ragu untuk meninggalkan Ditha setelah melihat ada orang mencurigakan yang akan masuk ke ruangan Ditha.
Bram mengambil ponsel di saku celananya, dia ingin mengabari Delia jika dia tidak pulang malam ini.
"Sayang, kamu sudah makan.?" Tanya Bram begitu panggilannya terhubung.
"Baru saja. Mas Bram jangan lupa makan."
"Aku akan makan setelah ini." Bram dia sejenak, dia tidak enak hati mengatakannya. Takut jika Delia kecewa karna tiba - tiba dia ingin menginap.
"Malam ini aku harus menginap." Ujar Bram hati - hati.
Hening, Delia tidak menjawab.
"Sayang,,," Panggil Bram. Delia berdehem.
"Aku akan menginap disini. Aku baru saja melihat orang yang mencurigakan akan masuk keruangan Ditha. Aku takut dia berbuat sesuatu malam ini." Jelas Bram.
"Bagaimana kamu bisa tau.?" Tanya Bram
Bram tertegun mendengar jawaban dari Delia. Matanya membulat sempurna.
"Apa.?!" Pekik Bram. Sesaat kemudian wajahnya dipenuhi dengan amarah. Dia menatap tajam pada sosok perawat yang sedang duduk di sofa, yang terletak dipojok ruangan itu.
"Iya aku mengerti." Kata Bram.
"Selamat malam sayang, maaf tidak menepagi janjiku." Bram merasa bersalah. Tapi untung saja Delia mau mengerti.
...***...
Sekedar memberi tahu, novel ini masih 0 penghasilan. Bisa liat pict nya di bawah.😄
Meluangkan waktu untuk merangkai kata dan mengetik tidaklah semudah bayangan😆.
Tolong beri Author semangat dengan cara memberi poin sebanyak - banyaknya di novel ini, agar bisa up tiap hari.😊🙏
Terima kasih.😘