BIANCA DEALOVA, gadis tengil yang suka sekali dengan tantangan,ia menjadi pusat perhatian di SMA Karya Bakti semua murid cowok pasti mengenalinya.Hingga pada akhirnya, dia ditantang oleh teman-temannya untuk menaklukkan hati seorang siswa baru, EDGAR GRISSHAM pemuda berwajah dingin dan misterius.
"apakah Allexa berhasil menaklukkan hati seorang pemuda dingin itu atau tidak.yuk, Kepoin kisah mereka selanjutnya!!"👋🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon crowell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31 Days Of Chasing Love
"Trucuk...krucuk...
bunyi perut Bianca, menandakan bahwa dia lapar. Edgar menahan tawanya.
"Lo lapar?" tanya Edgar, matanya berbinar-binar dengan kesenangan.
Bianca terkekeh malu, menyipitkan jarinya 🤏, "Hehehe, sedikit," bisik nya, suaranya penuh dengan kelembutan.
Edgar tertawa, "Kenapa Lo nggak makan?" tanya Edgar, suaranya penuh dengan rasa ingin tahu.
Bianca menggelengkan kepala, "Ishh, itu... karena gue nggak tau masak," jawab Bianca, menggaruk kepala yang tak gatal
Edgar tersenyum, "Gue bisa ajak Lo makan di luar, atau gue bisa masak untuk Lo," ujarnya, suaranya penuh dengan kesediaan.
Bianca tersenyum, "Beneran? Lo bisa masak?" tanya Bianca, matanya berbinar-binar dengan harapan.
Edgar mengangguk, "Iya, gue bisa masak. apa makanan favorit Lo," tanya Edgar, suaranya penuh dengan keyakinan.
"Ah, ramen sih, tapi berapa minggu ini udah makan ramen, nasi goreng aja deh. Emang Lo bisa?" tanya Bianca, setengah yakin, matanya sedikit meragukan.
Edgar tersenyum yakin, "Bisa, ayo temanin gue ke dapur!" ujar Edgar, suaranya penuh dengan antusias.
Bianca mengangguk, "Oke,tapi harus enak yah!" ujarnya, suaranya penuh dengan peringatan.
Edgar tertawa, "Gue janji, gue akan masak nasi goreng yang paling enak!" ujarnya, suaranya penuh dengan keyakinan.
Mereka berdua kemudian berjalan ke dapur, Bianca memperhatikan Edgar dengan penuh rasa ingin tahu. Edgar mulai menyiapkan bahan-bahan, memotong bawang, dan menggoreng nasi dengan mahir.
Bianca tersenyum tipis dan menopang dagunya dengan tangannya, memandang Edgar penuh kagum.
"Belum aja nikah, udah dimasakin, idaman banget," batin Bianca, fokus menatap Edgar dengan mata yang berbinar-binar.
Tapi tiba-tiba, saat Edgar membalikkan nasi, api di kompor tiba-tiba membesar dan mengenai wajan.
"Wuuusss!" api membakar bagian atas wajan, membuat Bianca terkejut.
"Ed, api! Api!" pekik Bianca, panik karena api yang membesar. Edgar dengan cepat mematikan api dan mengambil wajan dari kompor.
"mana api nya ?!!"tanya Edgar juga ikutan panik
"tadi_
"Bianca, astaga Lo kagetin gue aja api ini memang sengaja gue buat"ujar Edgar bingung mau jelasin nya bagaimana
"ha?, maaf maaf gue kira Lo mau buat apartemen ini kebakaran"ujar Bianca menggaruk tengkuknya yang tak dengan terkekeh kecil
"Udah, ini juga udah matang. Lo duduk aja, biar gue yang ngatur," ujar Edgar, tersenyum lebar, menunjukkan gigi putihnya yang rapi.
"Ed, nggak usah senyum bisa nggak?" tanya Bianca, suaranya penuh dengan guyonan, matanya sedikit terpejam karena kesenangan melihat Edgar tersenyum.
" Lah, kenapa?" tanya Edgar, sambil mengambil piring, suaranya penuh dengan rasa ingin tahu.
"Manis banget, nggak tahan gue lama-lama diabetes," ujar Bianca, terkekeh kecil, menggoda Edgar dengan ekspresi manisnya.
"Ayok, udah siap!" ajak Edgar, memegang dua piring nasi goreng dengan toping yang lengkap, suaranya penuh dengan antusias.
"Ayok!" teriak Bianca dengan senang, mengikuti Edgar dari belakang, suaranya penuh dengan kegembiraan.
Mereka berdua kemudian berjalan menuju meja makan, Edgar meletakkan piring-piring dengan hati-hati. Bianca langsung duduk dan mengambil sendok
"Mmm, bau nasi goreng yang enak!" ujarnya, suaranya penuh dengan antisipasi.
"Gue harap Lo suka, Ca!" ujarnya, suaranya penuh dengan kehangatan.
Bianca mengangkat alis, "suka, gue suka apalagi yang masakin gue itu lo!" ujar Bianca, terkekeh kecil, menggoda Edgar dengan ekspresi lucunya.
Edgar tersenyum menatap wajah Bianca, suaranya penuh dengan kesenangan. Mereka berdua kemudian mulai makan, menikmati nasi goreng yang yang di buat Edgar bersama-sama.
"Maksih ca, udah buat senyum gue kembali lagi"batin Edgar menatap wajah Bianca
"kenapa, gue tau kok gue cantik ngak usah lihat sampai kayak gitu dong Edgar sayang "ujar Bianca berhenti makan menatap wajah Edgar
"ha...ge'er banget si Lo,"ujar Edgar tersenyum kikuk karena kepergok menatap wajah Bianca
Setelah beberapa menit kedua nya selesai makan Bianca mengangkat piring mereka berdua
"Gue yang cuci piring aja, Ed."
Tapi Edgar mencegahnya, "Nggak usah, Ca. Gue yang cuci piring. Lo kan sudah capek masak... eh, salah, gue yang masak!" ralat Edgar, tersenyum.
" besok gue belajar masak!!."ujar Bianca Edgar menggunakan kepalanya "ini biar gue yang cuci"
Edgar menggelengkan kepala, "Nggak perlu, Ca. Gue yang urus ini. Lo duduk aja, santai."
Bianca mengangguk, "Oke, deh. Makasih, Ed." ujar Bianca, tersenyum.
Edgar kemudian mulai mencuci piring, sementara Bianca duduk di sofa, menontonnya dengan senyum.
"ginii yah rasanya di perhatian crush, kasihan banget yang lihat crush nya lari wkwk"Gumam Bianca terkekeh geli
Author:p maksud Lo sindir gue?
Bianca: Bagi yang merasa aja Thor
Author: gue cabut juga yah nyawa Lo
Bianca:dih,atutttt.....
"ca, kayaknya gue nginep di sini"ujar Edgar sambil menghampiri Bianca yang terlihat kesenangan
"satu kamar aja mau ngak?"tanya Bianca antusias
"ngak, gue punya kamar di apartemen ini"tolak Edgar