REVISI...!!
Ketika ketiadaanku menjadi angin segar untuk mu maka aku bersedia pergi dari sisi kehidupanmu.
Dan
Ada cerita yang sejak detik itu harus berubah menjadi kenangan.
Nama nya Azura, wanita ini terpaksa menikah dengan laki-laki yang bernama Elvan. Elvan berjanji akan membiayai semua biaya perawatan ibu Azura selama dia menjadi istri nya.
Laki-laki yang awal nya di kenal sangat baik oleh Azura ternyata seorang yang kejam. Wanita ini memutuskan untuk pergi di saat diri nya tahu bahwa Elvan dan ketiga sahabat nya hanya menjadikan nya seorang wanita taruhan.
Jangan Lupa Like Rate Coment And Vote.
Selamat membaca😊😊
Follow👇🏻
IG:Riani.Vii
FB:Ni R
Tw:Ni R
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29.Aku Sudah Lapar
Waktu terus berlalu, Elvan masih setia mencari istri nya yang tak tahu di mana keberadaan nya. Pria itu bahkan rela membayar mahal semua anak buah yang khusus untuk mencari istri nya.
Elvan, pria pergi berziarah ke makam mertua nya, pria itu duduk bersimpuh sembari meminta maaf karena telah mengingkari janji nya. Nani, wanita paruh baya itu hanya bisa menguatkan Elvan.
"Apa Zura tidak pernah pulang bu?" tanya lirih Elvan.
"Tidak, bahkan nomor telpon nya saja sudah tidak bisa di hubungi." ujar Nani.
"Azura sedang mengandung bu, dan aku yakin jika itu adalah anak ku." tutur Elvan membuat Nani tidak percaya.
"Dari mana kau tahu?"
Elvan kemudian menceritakan apa yang ia alami, "Dimana pun Azura berada, semoga dia baik-baik saja."
Elvan pamit, ia kembali ke hotel karena nanti malam akan ada meeting penting. Sebelum pergi Elvan menabur bunga di atas makam yang telah kering itu.
Di lain tempat, Azura sedang mengidam-idamkan makan ayam bakar, wanita itu bahkan tak berhenti merengek pada Anya.
"Tunggulah sebentar, aku belum menutup toko dan belum mandi." ujar Anya pasrah.
"Cepatlah, aku sudah lapar." ucap Zura mendesak.
Setelah menutup toko, Anya langsung menutup toko mereka kemudian langsung pergi mandi. Setelah selesai, ia membonceng Zura menuju tempat makan langganan mereka. Sesampai nya di tempat makan, Zura langsung memesan dua porsi ayam bakar khusus untuk nya.
"Astaga Zura, kau mengidam atau kelaparan?" ujar Anya bergeleng kepala.
"Sudahlah, aku lapar ayo makan."
Dengan lahap Azura menyantap ayam bakar yang baru saja di hidangkan, wanita itu bahkan tanpa menghiraukan pengunjung yang lain.
Kembali ke Elvan, pria itu tidak focus pada meeting, "Apa kau sudah makan Zura? apa bayi kita sehat?" begitulah pertanyaan kecil yang merasuk dalam otak nya.
Setelah meeting selesai, Elvan mengajak Erkan untuk pergi mencari makan malam di luar. Banyak makanan yang di pesan Elvan, membuat Erkan hanya menggelengkan kepala nya.
"Sudahlah Van, istri dan anak lo pasti baik-baik aja." ujar Erkan.
"Bagaimana bisa aku makan enak sedangkan mereka sangat menderita di luar sana." ucap nya dengan nada sedih.
"Lo mau cari Zura kemana lagi, semua yang berhubungan dengan Zura telah kita temui."
"Entahlah, gue emang gak pantas di maafkan."
"Makan lah, ayo makan." bujul Erkan.
Mau tidak mau Elvan menyantap makanan yang telah ia pesan, pria itu bahkan tak bisa merasakan makan dengan enak sejak kepergian Zura.
Risma, yang mengetahui keadaan Elvan berusaha ikut mencari keberadaan Zura. Wanita itu bahkan mengerahkan banyak orang untuk mencari Zura.
"Kenapa kau ikut mencari Zura kak?" tanya Shinta.
"Azura sedang hamil, aku akan memanfaatkan nya."
"Dari mana tante tahu jika Azura sedang hamil?" tanya Ines penasaran.
Risma tersenyum miring, "Aku telah menyimpan mata-mata hidup di rumah besar itu." jawab Risma.
"Kakak sangat hebat." puji Shinta.
"Kalian tahu, jika aku bisa menemukan Zura, aku bisa menekan Elvan untuk menyerahkan semua harta keluarga nya." jelas Risma.
Shinta dan Ines tertawa seakan mengerti apa yang di maksud oleh Risma, rencana matang telah mereka persiapan kan untuk menyerang Elvan secara halus.
"Apa kau yakin jika mata-matu tidak akan ketahuan?" tanya Shinta.
"Kau tenang saja, dia sudah bekerja di rumah itu belasan tahun sejak aku masuk kedalam rumah itu."
Risma tertawa puas, ia sangat yakin jika semua rencana nya akan berhasil.