Di usia kepala tiga dan tak kunjung naik pelaminan membuat Manda merasa resah. Dihantui perasaan takut justru dirinya mulai beranggapan telah terkena sebuah kutukan.
Lantas kesalahan besar apa yang telah Manda perbuat di masa lalu hingga dia punya pikiran seperti itu?
Maka ikuti saja kisahnya...
SQUEL DARI NOVEL SENANDUNG IMPIAN
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARyanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Sembilan
"Tante ngapain disitu?"
Manda telonjak kaget mengelus dadanya mendapati Nagita telah berdiri di belakangnya. Entah sejak sedari kapan anak itu terbangun, yang jelas Manda tak sadar karena asyik menguping pembicaraan Akram dengan Maharani yang berujung dengan rasa penasaran yang menyelubungi hati dan pikirannya.
Manda membuang napasnya perlahan, menormalkan detak jantungnya dan berusaha bersikap biasa saja di depan Nagita.
Berdehem, Manda kemudian berujar, "Cuci muka dulu, habis itu temuin Papa. Buat pamit, besok Papa gak ada di rumah."
Bukannya menuruti ucapan Manda, Nagita justru berlari cepat ke arah pintu dan spontan meraih gagang pintu lalu membukanya. Dan benar saja, anak itu langsung berlari keluar kamar, menghambur menubruk untuk memeluk Akram sambil merengek.
"Papa— Tante bilang Papa mau pelgi!"
Manda memejamkan matanya sesaat, ingin rasanya dia menampar mulutnya sendiri akibat keceplosan.
Mengambil napas, Manda akhirnya memilih keluar pintu mencoba memperbaiki situasi. "Papa kan mau berangkat kerja, itu maksud Tante," ucap Manda yang kemudian mencoba membujuk Nagita dengan memegangi kedua bahu anak itu. "Jangan peluk-peluk Papa dulu, Nagita kan belum mandi. Nanti kalau baju Papa kusut gimana? Kasihan kan kalau harus repot-repot ganti dengan yang baru."
Anak itu masih saja tak menghiraukan Manda, masih menangis dengan memeluk Akram. Hingga akhirnya Akram mengangkat dan menggendong bocah itu untuk ditenangkan.
"Bangun-bangun kok malah nangis. Harusnya cuci muka dulu, mandi dan setelah bersih baru keluar kamar."
Ucapan Akram kini justru terdengar sebuah sindiran di telinga Manda, dia mengakui kondisinya sekarang yang masih dalam keadaaan kacau. Bahkan dia telah berdiri dengan gelisah ingin melihat bagaimana penampakan wajahnya yang sekarang. Dan yang jelas tanpa sedikit terpoles dengan make-up.
"Papa mau pelgi!" rengek Nagita dengan masih sesenggukan membenamkan kepalanya dalam pelukan Akram.
"Papa kan kerja, seperti yang tadi Tante Manda katakan. Tapi malam ini Nagita janji sama Papa harus nurut sama Tante Manda, Nenek dan Mbok Suti."
"Papa gak boleh pelgi. Nagita ikut!"
"Iya Papa janji. Nanti Nagita akan Papa ajak, tapi bukan sekarang karena Papa ada tugas pekerjaan. Kalau Papa sudah ambil cuti libur ya?"
"Janji?" ucap Nagita yang sudah menarik diri menatap Akram dengan mata berkaca-kaca.
Seulas senyum di bibir Akram pun terbit. Tangannya terulur mengelus puncak kepala Nagita lalu menciumnya. "Iya Papa janji. Tapi Nagita sekarang sepertinya harus mandi, karena Papa cium sudah gak wangi. Bau acem!" ucap Akram yang kemudian menekan hidungnya, sontak hal itu menjadikan wajah Nagita berubah cemberut masam.
Perlahan anak itu langsung merosot meminta turun untuk menghampiri Manda. "Tante— cepetan Gita mau mandi!" ujarnya menarik tangan Manda untuk masuk ke kamar mandi.
Tiba di kamar mandi pun dua orang wanita berbeda usia itu sudah sama-sama heboh. Nagita ingin cepat-cepat selesai mandi tapi karena berhubung anak itu sedang pup dan lama akhirnya waktu yang dibutuhkan di kamar mandi sangatlah lama.
"Tante jangan semplot-semplot!" Bentakan itu sudah sangat Manda hafal disaat ketika si bocah bernama Nagita menunjukkan penolakan atas apa yang tengah dilakukannya, seperti kala membantu anak itu membersihkan bagian belakang bekas pup Nagita.
"Ya biar bersih," sahut Manda mengarahkan kran air yang sudah disetel suhunya.
"Tapi airnya basah-basah badan Gita, Tante —."
"Udah nurut aja sama Tante, katanya mau cepet. Keburu Papa kamu berangkat kerja."
Dengan mulut yang tertutup rapat dan tak membalas perkataan Manda, anak itu melayangkan tatapan kesal ke arah Manda dan sesekali menghentakkan kaki saking benar-benar merasa kesal. Sementara Manda dia hanya bisa menahan senyum merasakan kemenangannya.
Keluar dari kamar Nagita sudah tak sabar keluar dari kamar, padahal bajunya saja belum selesai dikenakan. "Tante jangan lama-lama."
"Iya, ini celananya dipake dulu nanti habis ini pake bedak, baru keluar."
Belum sempat mengambil bedak khusus untuk Nagita, anak itu sudah lari bergegas turun dari ranjang karena mendengar deru suara mobil. Dia panik lari keluar kamar dan benar saja yang ditakutkan anak itu terjadi, Papanya telah pergi lebih dulu.
Dengan menangis histeris sambil melihat ujung mobil keluar dari pintu gerbang bersamaan itu Manda keluar untuk menyusul Nagita.
"Papa!" teriak Nagita dengan meraung menangis berlari ke halaman rumah. Manda ikut mengejar berusaha membujuk Nagita, hingga terlihat Mbok Suti berlari tergopoh mendekat.
"Kok Akram langsung pergi gitu aja Bik, gak pamit sama anaknya. Tuh kan malah jadi begini, harusnya kan tadi bilang, malah pergi gitu aja." Manda mengomel dan berusaha membawa paksa masuk Nagita ke dalam rumah, tapi anak itu tetaplah menolak masih menangis meraung memanggil Papanya.
"Tadi ada telpon Mbak, yang Bibik dengar dari perusahaan. Makanya Bapak langsung berangkat," jelas Bik Suti yang juga mencoba menenangkan Nagita yang malah semakin tantrum, menangis hingga tiduran di atas aspal jalan.
Manda sudah merasa kuwalahan ikutan emosi juga bingung dengan apa yang akan dia perbuat. "Bajunya kotor kalau tiduran disitu, ayo nangisnya di rumah aja," ucap Manda berdiri tak lagi memegangi anak itu malah berkacak pinggang tak tahu lagi apa yang akan dia perbuat.
"Papa—"
"Papa udah berangkat kerja, yuk Bibik gendong," bujuk Bik Suti tapi anak itu menggeleng menepis tangan Bik Suti kala mencoba untuk menggendong.
Manda mendesah, diperhatikan oleh beberapa orang yang lewat disitu dia merasa tak lagi peduli. Karena yang dia tahu kalau anak sudah berada di masa tantrum memang sulit untuk ditenangkan, seperti apa yang dikatakan oleh sahabatnya kemarin.
"Udah Bik biarin aja dulu. Bibik masuk aja ke rumah, biar Manda yang tungguin disini. Nanti kalau udah capek, bakalan berhenti sendiri nangisnya," ujar Manda yang membuat Bik Suti mengernyit bingung.
"Anak nangis kok malah didiemin Mbak, itu gak baik. Nanti kalau Bapak tahu bisa marah."
"Biar, nanti jadi urusan saya bila Akram marah," ucap Manda tanpa menatap lawan bicaranya.
To be Continue