Novel ini menceritakan tentang wanita cantik yang sangat membenci semua pria. Wanita tersebut mengklaim semua pria sama seperti ayahnya. Kebencian itu disebabkan oleh ayahnya yang meninggalkan ia dan ibunya.
Suatu hari wanita tersebut sangat menginginkan seorang anak, tapi bagaimana caranya punya anak jika ia membenci semua pria?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Adilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ali Pulang
"Assalamualikum, Bu." Ali mengucapkan salam.
"Wa'alaikum salam," Hannum membuka pintu.
"Ali, itu kau Nak?" Hannum mengghamburkan pelukannya. Isak tangis pecah karena rindu kepada sang anak yang sudah lama tidak pulang.
"Siapa yang kau gendong itu?" tanya Hannum penasaran. Ali tidak pernah cerita bahwa Ali sudah punya anak.
Ali menceritakan semua kehidupannya yang selama ini ia tutup-tutupi.
"Ini putra Ali Bu, ini cucu Ibu."
Hannum meneteskan air matanya. Ia mengambil bayi munggil itu dari gendongan Ali.
"Malang sekali nasibmu, Nak. Kasihan putramu, dia tidak dapat kasih sayang dari ibunya." Hannum menghapus air matanya.
"Ini semua karena ibu sakit. Maafkan Ibu, Ali," sesal Hannum.
"Hus! Jangan katakan lagi, Bu. Jangan sesali semua yang telah terjadi," Ali memeluk ibunya lagi.
"Ibu akan membantu membesarkan putramu itu," Hannum mencium pipi cucunya.
"Siapa nama putramu ini, Nak?" tanya Hannum.
"Alvino Wiranata Abriadi, dia dipanggil Vino," ucap Ali yakin dengan nama pemberiannya.
"Kau memakai nama belakang istrimu untuk nama anakmu itu?" tanya Hannum geram.
"Iya Bu, suatu saat Dilah akan bertemu dengan Vino dan mengenali bahwa Vino adalah anaknya melalui nama itu." Ali tersenyum lembut.
Kehidupan Ali berubah semenjak ia tidak tinggal bersama istrinya. Ali menjadi orang tua tunggal untuk Vino. Yang lebih menyakitkan lagi, para tetangga menuding Ali memiliki anak yang tidak sah.
"Ali, itu anak kamu? Mana ibunya?" tanya ibu tersebut ingin tahu ketika Ali menggendong putranya di teras rumah kebetulan ibu tersebut lewat.
"Ibunya di kota," jawab Ali cepat.
"Jadi ibunya tidak ikut denganmu?"
Ali hanya diam, ia tidak mau menjawab pertanyaan ibu tersebut.
"Setelah lama kau meninggalkan ibumu tiba-tiba saja kau punya anak. Apa jangan-jangan anak itu adalah anak yang tidak sah akibat hubungan gelap kau dan gadis murahan," ujar ibu tersebut menuding tanpa mencaritahu kebenarannya.
"Bu cukup! Kau tidak tahu apa-apa tentang hidupku. Vino adalah anak yang sah." Ali menjadi murka, baru kali ini ia berkata meninggi. Ia tidak tahan jika menyangkut putranya.
"Mana bukti kalau kau sudah menikah? Anak zaman sekarang tidak punya norma dan aturan melakukan hubungan di luar pernikahan," ucap ibu tersebut tanpa berpikir sama sekali.
"Aku tidak bisa memberikan bukti, tapi Vino benar-benar anak yang sah."
Ali masuk ke rumah dengan kesal. Ia berusaha menguatkan batinnya. Bukan ibu itu saja yang menuding Vino anak yang tidak sah tapi para tetangga lainnya juga.
Setelah gosip tersebar mengenai Ali. Pemilik kontrakan mengusir Ali dan ibunya atas permintaan para tetangga.
"Sebaiknya kalian pergi dari sini!" usir pemilik kontrakan.
"Ali, kita mau tinggal dimana? Tunjukkan pada mereka semua bahwa tuduhan mereka itu tidak benar. Bahwa kau sudah menikah dan mendapatkan seorang anak dari pernikahanmu," ujar Hannum sambil menggerakkan tubuh Ali.
"Maaf, Bu, Ali tidak bisa menunjukkannya. Mereka pasti tidak percaya. Sebaiknya kita pergi dari sini." Ali mengemas barang-barang miliknya dan ibunya.
"Huu.., Kan benar apa yang aku katakan, Ali yang kita pikir selama ini baik ternyata laki-laki keji. Dia pasti memiliki hubungan gelap dengan gadis murahan. Karena dia merasa bersalah dan sedikit baik dia bawa anak tidak sahnya itu ke sini."
"Ih.. iya memalukan, kita akan kena bencana jika ada orang seperti Ali tinggal di desa kita," ujar ibu tersebut menimpali.
"Sudah Bu, jangan dengarkan kata orang-orang. Ali punya uang sedikit kita akan mengontrak rumah di kota. Di mana orang-orang tidak mengenali kita."