"Kami tidak bisa melihat masa depan dengan sempurna – kemampuan itu hanya dimiliki [Divine Insight]. Namun, kami menyimpan segala pengetahuan semesta. Sebagai hadiah untukmu, dan sebagai salam sampai jumpa dariku, kuberitahu kau satu hal: Mengesampingkan Edenia, makhluk terkuat dalam semesta adalah Vermyna Hellvarossa dan Fie Axellibra. Namun, di antara semuanya, hanya kau saja yang bisa menyerap semua Supreme Magic tanpa memerlukan Air Ethereal ataupun Throne of Heaven. Bahkan, kau bisa meraihnya... pendewaan tanpa Throne of Heaven."
—"Mother of Nature" to Xavier von Hernandez—
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Near, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3: Into Imperial Academy, part 3
Begitu Harnel kembali dari belakang dengan segelas air di tangan, Nizivia menyandarkan tubuhnya di dinding yang menghalangi kedua orang itu dari melihatnya, tetapi ia bisa melihat dan mendengar perbincangan mereka. Anak itu memiliki kapasitas [mana] yang besar, sihirnya pun sangat berbahaya. Nizivia tidak tahu sihir apa itu, tetapi darinya Nizivia merasakan ancaman yang sama dengan yang ia rasakan dari vampire itu. Tetapi berbeda dengan vampire itu, Nizivia tidak merasakan kejahatan dari dalam diri anak itu.
“Kedua orangtuaku sudah meninggal, dibunuh. Aku tidak punya pilihan lain selain pergi sendiri.”
Nizivia melebarkan kedua matanya mendengar pernyataan anak berambut merah itu. Seperti dirinya, ternyata kedua orangtua anak itu juga dibunuh. Nizivia sangat mengerti bagaimana rasanya itu, pasti itu jugalah yang membuat anak itu punya sihir yang kuat. Mungkin nasib mereka tak begitu berbeda, memikirkan itu kembali mengingatkan Nizivia akan kejadian empat tahun yang lalu.
“Oh, ada apa, wahai bocah, bukankah dirimu ingin membunuh diriku? Mengapa diam saja, mengapa tubuhmu bergemetaran seperti itu? Ayo ke sini, serang diriku ini.”
“Jangan, Via! Jangan mendekat, lari dari sini, selamatkan dirimu!”
“Lari, Via, lari sekuat dan sejauh mungkin, selamatkan dirimu!”
“Diri kalian berdua tidak perlu khawatir. Diriku tidak berniat membunuh dirinya, dirinya tidak mencuri apa pun dari diriku. Diriku hanya akan membunuh diri kalian, karena diri kalian yang mencuri dari diriku. Ayo, serang diriku, wahai bocah, serang diriku yang akan membunuh ayah dirimu lalu meminum darah ibu dirimu hingga dirinya mati.”
Nizivia masih mengingat kata-kata vampire itu dengan sangat jelas. Ia masih mengingat bagaimana vampire itu memandang rendah dirinya, mencemooh dirinya. Ia masih ingat tatkala dengan sadisnya vampire itu menebas leher ayahnya dengan kukunya yang tajam. Nizivia masih ingat sewaktu vampire itu memutilasi tubuh tak bernyawa ayahnya, lalu membakarnya menjadi abu. Pun Nizivia tidak pernah lupa kala vampire itu memotong kedua tangan dan kaki ibunya, lalu menampung darah ibunya dalam gelas mewah. Ia sangat ingat senyum puas vampire itu ketika menyesap darah ibunya, ia tidak pernah bisa melupakan pandangan ibunya yang meredup.
“Ah, dirimu tidak bisa apa-apa, ya? Sayang sekali, padahal diriku tidak keberatan membiarkan dirimu melampiaskan emosimu pada diriku sampai puas. Oh, begini saja: jika dirimu sudah merasa kuat, datanglah ke istana diriku di Kerajaan Vampire, diriku akan membiarkan dirimu menyerang diriku sampai puas. Diriku sangat bijaksana, bukan begitu? Nah, sekarang diriku harus pergi, sampai jumpa lagi.”
Kedua tangan Nizivia terkepal erat. Kedua kelopak matanya terbuka sempurna. Sorot matanya menajam. Gigi-giginya bergemeretak, tubuhnya bergemetaran. Rasa dendam dan amarah di hatinya kembali memuncak. Ia akan membunuh vampire itu. Ia akan memotong-motong tubuhnya. Ia akan merendahkan dan menghinanya. Lalu ia akan membakarnya menjadi abu. Nizivia akan membalas semua perlakuan vampire itu atas apa yang telah dia lakukan pada kedua orangtuanya. Nizivia tidak akan pernah melupakan hal itu, dan ia tidak akan pernah memaafkan vampire itu.
“Akan akan pergi ke ibukota kekaisaran, aku ingin mengikuti seleksi masuk Imperial Academy. Aku akan bergabung dengan Imperial Army, lalu menjadi bagian dari para Commander.”
Mata heterokromia Nizivia mengerjap.
Imperial Academy, ia tahu tempat itu. Ia sempat mendengar pembicaraan tentang hal itu dari beberapa orang yang berkunjung ke desa pada tahun lalu. Itu adalah tempat di mana orang-orang yang ingin menjadi kuat pergi. Setiap tahunnya diadakan seleksi masuk, dari ribuan peserta yang ikut tes, hanya tiga ratus yang akan dipilih. Tetapi Nizivia tidak tahu kapan tepatnya tes itu diadakan dan ia pun belum pernah ke ibukota, karenanya ia tidak pernah memikirkan untuk pergi ke sana. Tetapi, jika ia mengikuti anak itu, ia akan bisa memasuki Imperial Academy, lalu menjadi lebih kuat dan lebih kuat lagi.
“I…ikut,” ucapnya, melangkah mendekati Harnel dan anak itu. “I…Imperial Academy, i-ikut. I…Imperial Academy, Ni…Nizivia ikut.”
***
Xavier menolehkan pandangannya menghadap gadis yang kini berdiri di sampingnya ini. Gadis ini tiba-tiba datang dan mengatakan kalau dia ingin ikut bersamanya pergi mengikuti seleksi masuk Imperial Academy. Tetapi, sorot mata itu, Xavier sangat mengenalnya. Namun demikian, itu bukan berarti ia harus memenuhi keinginan gadis itu. Jika dia ingin pergi, dia bisa pergi sendiri.
Gadis itu menunjuk dirinya. “Ni…Nizivia Clasta.” Lalu dia menunjuk ke wajah Xavier. “Si…siapa?”
Sangat sopan sekali kalau ia mengabaikan pengenalan diri dari tuan rumah. Karena ia akan menginap di sini, ia harus memperlakukan tuan rumah ini dengan baik.
“Xavier, Xavier Hernandez.” Xavier menjawab, lalu kembali menghadapkan pandangannya pada Harnel. “Aku tidak akan menginap secara gratis, aku akan membayarnya. Apa satu koin perak cukup untuk sekali bermalam dan makan malam ditambah makan pagi?” tanyanya.
Harnel tak lekas menjawab. Pandangannya tertuju pada Nizivia yang masih memandang Xavier, menunggu persetujuannya. Tentu saja ia tahu mengapa Nizivia ingin mengikuti seleksi itu, sangat tahu malah. Gadis itu sudah berlatih siang malam tak kenal lelah seorang diri, ia sebagai pamannya sungguh tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantunya karena ia sama sekali tidak berbakat dalam sihir.
Harnel kembali memandang Xavier yang masih menunggu responnya. Ia perhatikan anak berambut merah gelap itu baik-baik. Tidak mungkin secara kebetulan anak itu tidak bertemu pencuri, pasti bos atau salah seorang yang bisa menggunakan sihir sensorik dari sindikat pencuri itu menyadari kalau anak ini bukan anak biasa. Ia memang tidak mengerti banyak tentang sihir, tetapi Nizivia tidak akan pernah waspada seperti saat membuka pintu tadi terhadap orang-orang yang tidak akrab dengan sihir. Dari pembawaan anak itu pun Harnel mengerti kalau anak itu sangat percaya diri.
“Begini saja,” putus Harnel, “kau boleh menginap di sini sesukamu, makan sesukamu, tetapi sebagai gantinya aku ingin kau membawa Nizivia ke ibukota bersamamu. Tentu saja kau tidak perlu melindunginya dari bahaya, Nizivia bisa melindungi dirinya sendiri.”
Nizivia mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ni…Nizivia kuat,” ucapnya seraya mengeluarkan dua pisau kembar entah dari mana—pisau itu bagian atasnya bergerigi, pisau yang mirip dengan yang sering digunakan oleh bos-bos dari para pencuri.
“Jika dia kuat, mengapa tidak pergi sendiri? Dan mengapa pula kau sebagai pamannya tidak mengantarkannya ke sana?”
Harnel hanya tersenyum simpul mendengarkan pertanyaan itu. “Percaya atau tidak, ini pertama kalinya Nizivia mengatakan keinginannya itu. Usia minimal yang diizinkan untuk mengikuti seleksi itu adalah dua belas tahun, Nizivia baru berumur dua belas tahun dua minggu yang lalu. Selain itu, aku ini kepala desa, aku tidak bisa meninggalkan desa dalam jangka waktu yang lama. Lagipula, jika kau akan ke sana, mengapa tidak sekalian, bukankah berdua lebih baik daripada sendiri?”
“Bagaimana kalau tiba-tiba aku kesal dengannya, lalu membunuhnya saat di tengah perjalanan nanti?”
“Nizivia memiliki sihir yang bisa membuatnya mengetahui apakah seseorang itu berhati baik atau jahat dalam jarak tertentu, ia tidak akan mendatangimu seperti ini kalau kau punya hati yang jahat.”
Xavier melirik ke arah gadis yang bersangkutan. Ia memandangnya lekat-lekat, menerka-nerka sihir yang dimaksud Harnel. Sihir negatif sensorik, atau sejenisnya, mungkin?
“Xa…Xavier tidak ja…jahat…?”
“Aku jahat, aku akan meninggalkanmu di tengah perjalanan, aku bahkan akan membunuhmu kalau aku nanti kesal.”
“Xa…Xavier bohong, Ni…Nizivia tidak me-merasakan ke…kesungguhan dalam pe-perkataan Xavier.”
“Kalau kau tidak mau menemani Nizivia ke ibukota, desa ini tidak akan menerimamu. Aku akan mengusirmu sekarang juga, kau bisa bermalam di luar sana. Meskipun kau membayar agar seorang warga desa memperbolehkanmu menginap, aku pastikan mereka tidak akan menerimamu.” Harnel berkata sambil bersedekap dada, memandang penuh kemenangan pada Xavier.
Seketika Xavier memandang tajam Harnel. Orang tua ini… beraninya dia memanfaatkan posisinya sebagai kepala desa untuk hal seperti itu?! Tunggu, tunggu, bukankah ini akan menjadi kamuflase yang bagus untuknya? Jika ia pergi bersama Nizivia, bukankah identitasnya akan semakin terjaga? Ah, tapi ia tidak boleh membuatnya terlihat kalau ia memanfaatkan situasinya saat ini untuk kepentingannya. Ia harus membuat dirinya terlihat terpaksa.
Xavier menghela napas berat. “Sepertinya aku tidak punya pilihan lain,” ucapnya pasrah.
“Me…mengapa Xavier me-menyembunyi…kan kesenangan Xa…Xavier?”
Mata Xavier sedikit mengerjap, anak ini… dia juga bisa mengenali suasana hati?! Aku harus berhati-hati selama di dekatnya, aku juga harus selalu menenangkan pikiran tidak peduli dalam kondisi apa pun.
“Mwahahahahaha…, ternyata kau ini sebenarnya tidak ingin pergi sendirian, bukan? Tidak perlu malu, tidak perlu gengsi dan jual mahal, mwahahahaha….”
Xavier mengabaikan tawa Harnel dan memandang intens Nizivia. “Besok pagi-pagi sekali aku akan langsung pergi, kalau kau memang berniat untuk ikut, sebaiknya persiapkan dirimu dengan baik. Jika esok pagi kau belum bersiap diri, aku akan langsung meninggalkanmu.”
Nizivia menganggukkan kepalanya. “Ni…Nizivia akan sepenuhnya si-siap,” ucapnya, menundukkan kepala lalu melangkah pergi meninggalkan Xavier dan Harnel.
“Jadi, Paman, bisa aku beristirahat sekarang?” tanya Xavier berterus-terang.
Harnel berdiri dari kursinya, menginstruksikan agar Xavier mengikutinya. Xavier langsung mengikuti lelaki itu tanpa banyak kata. Mereka berhenti di depan sebuah pintu coklat. Harnel membuka pintu, menyuruh Xavier masuk.
“Ini kamar tamu, kau bisa menggunakannya untuk beristirahat,” ucapnya. “Sekarang beristirahatlah, akan kubangunkan saat makan malam nanti.”
Xavier mengangguk, berterima kasih pada Harnel lalu masuk ke kamar. Ia meletakkan tasnya di sampingnya, melepas sepatu dan jaket, lalu merebahkan dirinya di ranjang.
Mata Xavier terpejam, ia terlelap.
***
“Xa…Xavier…?”
Kelopak mata Xavier perlahan-lahan terbuka, menampilkan iris merah darah ke dunia fana. Yang pertama kali dilihatnya adalah sepasang iris heterokromia, hijau di kanan dan biru di kiri. Mata itu memandang polos dirinya, seolah ia adalah sebuah objek yang tidak dimengerti oleh pemilik mata itu.
“Xa…Xavier su…dah bangun?”
Mata Xavier mengerjap, membuat kedua mata beda warna itu ikut mengerjap.
Hening.
Mata Xavier kembali mengerjap, kedua mata beda warna itu ikut kembali mengerjap. Kali ini Xavier mengerjap dua kali, kedua mata itu dengan setia ikut mengerjap dua kali. Apa ini, main tiru-tiruan mimik wajah?
“Kalau kau memandangku sedekat itu, aku tidak bisa bangun tanpa membentur wajahmu,” gumam Xavier.
“Oh…., Xa-Xavier sudah ba-bangun.” Gadis itu berdiri tegak, bibirnya melengkung lembut. “Wa-Waktu ma…makan malam tiba, Xa-Xavier juga a…ayo makan,” ucapnya, memandang intens Xavier.
Xavier bangkit dari tidur nyenyaknya, turun dari ranjang. Namun Nizivia masih belum beranjak, kedua irisnya masih memandang dirinya dengan intens.
“Apa?” tanya Xavier.
“Xa-Xavier juga a…ayo makan,” katanya.
Apa dia menungguku merespon?
“Ayo,” ucap Xavier, seketika bibir Nizivia merekah, lalu dia segera berbalik dan melangkah ke luar kamar. Melihat itu Xavier hanya mengangkat sebelah alis matanya, lalu melangkah mengikuti Nizivia.
Itu adalah ruang makan yang sederhana, berbatasan langsung dengan dapur. Sebuah meja persegi berukuran sedang berdiri di sisi kiri ruangan, bersebelahan dengan jendela yang sepertinya sengaja dibuka. Di atas meja kayu itu sudah tertata rapi hidangan santap malam, yang dari penampilannya sudah cukup menggugah selera. Di samping meja kayu itu tersusun beberapa kursi, Harnel dan Nizivia sudah menduduki dua dari beberapa kursi yang ada.
Xavier mendudukkan dirinya di salah satu kursi, satu kursi di samping Nizivia dan berhadap-hadapan dengan Harnel.
“Nah, ayo kita berterima kasih pada Edenia yang telah memberikan kita kesempatan untuk menikmati hidangan malam ini,” kata Harnel sembari menyatukan kedua telapak tangannya, memejamkan mata.
Nizivia ikut menyatukan kedua tangannya, mereka berdua tampak kusyuk berdoa.
Xavier hanya diam memandang keduanya, ia tidak tertarik berterima kasih pada Edenia. Satu-satunya hal yang akan membuatnya berterima kasih pada Edenia adalah jika “sesuatu” yang diagung-agungkan sebagai dewa itu mengirimnya ke masa lalu agar ia bisa menyelamatkan kedua orangtuanya.
Tatkala Harnel dan Nizivia selesai berdoa, barulah acara santap malam dimulai. Xavier mengambil satu potong roti, satu poting daging rusa bakar, lalu mengisi mangkuk yang kosong dengan sup rusa. Xavier menyantap hidangan itu dengan tenang, dan ia sama sekali tidak malu untuk mengambil sepotong daging rusa lainnya setelah isi piringnya habis.
“Makanan ini sangat lezat, terutama rusa bakar ini,” komentar Xavier, tidak ada secuil kebohongan pun dalam ucapannya.
“Tentu saja!” Harnel berucap bangga. “Aku tidak menghabiskan setahun di restoran bintang lima tanpa mempelajari satu dua hal.”
“Oh, kau dulunya seorang pelayan?”
“Tentu saja tidak!” ingkar Harnel. “Tugasku adalah memastikan semua persedian bahan mentah selalu tersedia untuk diolah oleh para koki.”
“Tak terlalu berbeda dengan pelayan,” celetuk Xavier.
“Sangat berbeda malah!” komentar Harnel tak setuju.
Xavier menghendikkan bahunya dan menikmati daging bakarnya. Sekilas ia melirik Nizivia, gadis itu makan dengan pelan dan rapi. Dia sudah menghabiskan roti gandum dan daging rusa bakarnya, sekarang gadis itu sedang menikmati supnya dengan santai.
Menyadari dirinya dirilik, Nizivia menoleh memandang Xavier.
Xavier mengerjapkan matanya, lalu kembali fokus pada makanannya.
gas maraton, buat nambah referensi. apalagi ini udah tamat.
• Stabilitas Pembaruan: ★★★★★
• Pengembangan Cerita: ★★★★★
• Desain Karakter: ★★★★★
• Latar Belakang Dunia: ★★★★★
Ulasan: Yes, sama dengan pemikiran pembaca yang lainnya, saya juga merasa ini adalah salah satu Novel terbaik yang pernah saya baca dalam hidup saya.
Dan alasan saya memberikan bintang lima untuk semua kriteria tersebut alasannya jelas.
Untuk kualitas penulisan: Author (Against The World) sendiri memiliki gaya penulisan yang berbeda dengan banyaknya Author pada umumnya, selain kata-kata nya yang terkadang memiliki makna tersirat di dalamnya, Author juga memiliki cara tersendiri untuk membuat penjelasan secara detail tanpa mengurangi atau melebihi makna yang terkandung di dalam penjelasannya tersebut.
Untuk stabilitas pembaruan: Kalian bisa cek sendiri tanggal kapan Author (Against The World) meng-upload setiap chapternya, dan itu menunjukkan bahwa dia hampir sama sekali tidak absen untuk meng-upload setiap chapter perharinya.