Dipaksa untuk pulang oleh sang ayah dengan ancaman atas nama pacarnya, Daniel. Membuat Elleta harus pulang ke Indonesia. Entah kesepakatan apa, papanya tega menjualnya ke laki-laki bernama Steve, pewaris utama Danendra group. Fakta baru yang ia tau, Steve pernah menikah.
Hanya untuk keamanan sang pacar, Elleta rela setuju. Akankah Elleta bisa menjalaninya, atau justru masuk lebih dalam ke kehidupan laki-laki itu.
"Selamat datang di kehidupan barumu, Elleta."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovelyiaca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Rahasia di Balik Kalung Anjing
Elleta menatap punggung orang tuanya dengan tatapan sendu. Ada beban berat yang menghimpit dadanya, Sejak pertama kali ia menginjak tanah kelahirannya yang belum genap satu bulan, takdir seakan mencoba mempermainkannya dengan status barunya sebagai Nyonya Danendra.
Di sampingnya, Steve berdiri tegak dengan senyum tipis yang tak pernah luntur dari wajahnya, terlihat seperti senyum kemenangan seakan mendapatkan jackpot karena berhasil menikahinya.
“Kenapa menatapku terus, Elleta? Apa kamu tidak mau memeluk kedua orang tuamu sebagai tanda perpisahan?” sindir Steve tanpa menoleh sedikit pun.
Elleta mengalihkan pandangan ke arah orang tuanya dan abangnya. Matanya berkaca-kaca, menahan luapan air mata yang siap meluncur keluar. “Enggak, aku pasti masih bisa ketemu mereka.”
Tubuh Elleta menegang seketika saat Steve mencengkeram tangannya dengan posesif. “Ayo, El. Pulang ke rumah kita.”
Bukan rumah kita, tapi penjara tempat ragaku akan dikunci selamanya, batin Elleta miris.
Mobil melaju membelah kota, meninggalkan pelataran Katedral yang megah. Sesampainya di kediaman Danendra, langkah Elleta tertahan oleh aura dominasi laki-laki di sebelahnya.
Steve menariknya masuk menuju kamar pribadi yang luas namun terasa mencekik bagi Elleta.
“Kamu pikir aku bakal tidur bareng kamu, karena aku udah ganti status jadi nyonya Danendra? GAK STEVE AKU GAK MAU! aku bakal tidur sendiri!”
Steve membuang muka, tangannya mengepal keras hingga buku jarinya memutih. “Kenapa, El? Bukannya kita udah resmi? Apa kamu takut aku sentuh?”
“Ya! Karena kamu monster yang jerat aku di penjara emasmu!” Urat leher Elleta menegang, menunjukkan puncak kemarahannya.
“Oke, aku bakal izinin kamu. Buat pisah ranjang, tapi ada syaratnya, El. Kamu pakai kalung ini.” Steve menyodorkan kalung merah berukiran S & E.
Bagi Elleta, itu bukan sekadar perhiasan; itu adalah simbol kepemilikan, seperti kalung anjing yang menandai siapa tuannya. Sebelum ia sempat menolak, Steve dengan cepat memasangkannya ke leher Elleta.
“Cantik, kamu memang cocok pakai itu, El.” Steve tersenyum menang, seolah baru saja memberikan tanda pada koleksi berharganya.
Elleta merasa sesak. Saat Steve hendak membantu membuka resleting gaunnya, Elleta tersentak mundur. “Apa-apaan Steve! Aku bisa sendiri! Jangan macam-macam, aku enggak sudi disentuh sama kamu!!” Elleta melenggang pergi meninggalkan kamar itu dengan napas tersengal, menyisakan kekosongan yang dingin.
Di kamar mandi, Elleta mengganti gaunnya dengan dress cokelat yang nyaman. Saat menatap cermin, bayangan dirinya memudar, digantikan oleh memori sepuluh tahun lalu masa di mana senyumnya belum mengenal luka.
10 Tahun Lalu...
"Nael!" panggil Elleta riang.
Nathanael tersenyum hangat, menatap gadis itu dengan binar yang menenangkan. "Bulan depan kita masuk SMA, kamu bakal sekolah di SMA Cempaka Putih, kan?"
Nathanael mengacak poni Elleta dengan gemas. Saat Elleta refleks memeluknya, laki-laki itu membeku kaku, terpaku oleh keberanian Elleta yang mendadak.
"Aku mau kok, jadi pacar kamu. Apa tawaran kemarin masih berlaku?" tanya Elleta antusias.
Wajah Nathanael bersemu merah hingga ke telinganya. "Hm..ya, El. Masih kok."
"Kita resmi nih? Gimana kalau aku mampir ke depot bakso ayahmu?"
Nathanael ragu. Ia sadar betul status Elleta sebagai anak dari keluarga Crassia, konglomerat yang selalu menjadi sorotan media. "El, kamu yakin?"
"Tenang aja. Papa aku selalu kasih kelonggaran kalau aku bilang pergi ke rumah Dania."
Elleta menarik Nathanael ke mobilnya. Setibanya di depan Depot Bakso Cak Hari, Nathanael menggandeng tangan Elleta dengan bangga. Namun, ayahnya segera menarik Nathanael ke sudut depot. "Kamu tahu, Nat? Kamu sedang berhadapan dengan anak siapa? Gadis itu papanya bahaya, Ayah cuman takut kamu diapa-apain."
"Aku gapapa, Yah," tegas Nathanael.
Elleta menikmati bakso itu dengan lahap, mengabaikan tatapan heran pelanggan lain. "Ini enak banget, Nael," pujinya tulus.
"Kapan-kapan ke sini aja, El. Tak jamin kamu bakal ketagihan," sahut Cak Hari ramah.
Saat Elleta hendak membayar dengan kartu ATM hitam miliknya, Cak Hari menolak dengan sopan. "Maaf Non, enggak bisa. Gratis untuk Non Elleta."
Di gudang belakang rumah yang disulap menjadi studio lukis, Nathanael menyerahkan kuas bertuliskan nama Elleta. "Ini kuas khusus buat kamu. Aku bakal jadi mentor gratis."
Momen itu adalah saksi peresmian dua remaja yang sedang jatuh cinta.
3 Bulan Kemudian
"Nael!" Elleta berlari mengejar Nathanael yang terus menghindar.
"Kamu akhir-akhir ini beda. Kenapa ayahmu bilang kamu enggak mau ketemu aku? Aku masih pacar kamu, kan?"
"Maaf, El. Aku enggak bisa jadi tutor kamu lagi. Aku harus bantu ayahku."
"Kalau gitu aku ikut!" Elleta menggenggam tangan Nathanael, namun laki-laki itu melepaskannya perlahan, menolak kontak fisik yang dulu selalu ia dambakan.
"Lebih baik kita break
sementara aja, El. Aku butuh waktu."
Sesampainya di depot, dunia Nathanael hancur. Tempat usaha ayahnya telah hangus dilalap api. Di atas puing-puing, ia menemukan kartu nama hitam berlogo 'C' milik Crassia. “Jauhi anak saya, atau keluargamu selanjutnya.”
"Pulang ke Solo," ucap ayahnya pasrah. "Kamu enggak bisa memaksakan status yang jauh beda sama Elleta. Gadis itu kasihan, hidupnya dipenuhi ketidakadilan."
Keesokan harinya di sekolah, Elleta kembali mengejar Nathanael. "Nael, kita naik taksi aja. Jangan pakai sopir Papaku."
Nathanael melepas pegangan Elleta dengan paksa. "Maaf, El. Kita putus! Aku mau balik lagi ke Solo."
Dunia Elleta runtuh seketika. "Kenapa? Aku salah apa?"
"Status sosial kita beda, El. Aku pamit, jaga diri baik-baik. Jangan lupain melukis ya, melukis sudah jadi bagian dirimu." Nathanael pergi dengan air mata yang ia tahan sekuat tenaga.
Elleta membeku mencerna apa yang terjadi padanya. "Apa Papa puas udah hancurin satu-satu kebahagiaan Elleta?"
Tiba-tiba, terdengar langkah kaki flat shoes yang sangat ia kenali di belakangnya. Aroma mask laut yang tercium di indra penciumannya. "Ayo pulang, El. Dia emang laki-laki yang tidak cocok bersanding denganmu."
Kembali ke realita, lamunan Elleta buyar oleh ketukan di pintu kamar. Ia buru-buru menarik selimut hingga menutupi wajahnya, menyisakan pucuk kepalanya saja agar terlihat seperti orang tidur.
"Non, sudah tidur?" Pelayan rumah itu masuk sejenak, lalu menutup kembali pintu kamar itu demgan perlahan. Meninggalkan Elleta dalam keheningan yang mencekik.
*
*
*
Di dapur, pelayan itu kembali melapor tanpa kehadiran Elleta. Steve mengerutkan dahi, merasa ada yang tidak beres. "Kenapa Bik? Elleta mana?"
"Non Elleta sudah tidur, Tuan."
Steve merasakan kehampaan yang menghantamnya. Ia tahu Elleta sedang dalam mode 'jangan diganggu.' Steve tersenyum kecut, sebuah senyum penuh ironinya. "Gapapa Bik. Nanti kalau lapar, Elleta pasti turun sendiri."
Pelayan itu menunduk sopan untuk pamit. "Iya Tuan, saya permisi."
Malam itu, Steve makan sendirian. Ia menatap kursi di depannya yang biasanya terisi oleh kehadiran Elleta, menyadari bahwa meski ia memiliki segalanya termasuk status 'Nyonya Danendra', ia tetap gagal memiliki jiwa gadis itu.
Dering....
Ponsel di atas meja bergetar, memecah kesunyian malam. Steve menyambar benda itu sebelum dering kedua, instingnya mengatakan ada sesuatu yang salah.
"Halo?"
"Tuan, kita sedang dalam bahaya."
Denting nyaring sendok yang jatuh ke piring menjadi satu-satunya suara di ruang makan yang mendadak beku. Kabar itu seperti hantaman di ulu hatinya. Steve terdiam, ia tidak lagi memedulikan makanannya, karena ia tahu tembok pertahanan yang ia bangun mulai retak.