Diego Xu adalah seorang anak yatim piatu yang hidup di sebuah desa yang jauh dari kota, sejak kecil dia tidak pernah tau siapa orang tuanya.
Di desa ia dirawat oleh kepala desa dan warga sekitar, setelah kepergian kepala desa, dia berjuang mencari uang sendiri, tapi takdir mempertemukan dia dengan peninggalan sang ayah yaitu lima pengawal yang setia menemaninya dan terbantainya keluarganya, membuat dia bertekat untuk membalaskan dendamnya, dua tahun berlalu, dia mencoba mencari keberuntungan di ibu kota dengan modal keahlian beladirinya, dia berhasil menggagalkan aksi penculikan anak semata wayang dari pasangan miliarder perusahaan ternama dan di adopsi oleh keluarga tersebut, melihat bakat Diego diatas rata rata, orang tua angkatnya mendaftarkan Diego di camp militer, dan dari sinilah perjalanan Diego Xu dimulai..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ganesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Kemenangan Mutlak Diego dan Rahasia Keluarga yang Terungkap
Udara di puncak gunung hitam tempat markas Dewan Hitam berdiri mulai terasa lebih ringan setelah pertarungan besar yang baru saja selesai.
Tubuh-tubuh tak bernyawa dari para anggota Dewan Hitam yang dulu sangat ditakuti kini berserakan di sekitar Diego dan keluarganya..
Cahaya keemasan dari kekuatan magis yang digunakan oleh Xander, kakek Diego yang baru saja muncul, masih memancar lembut di udara, seolah menghapus bayangan kegelapan yang telah lama menyelimuti tempat itu.
Diego berdiri di samping Leandro, Selena, dan Xander, melihat ke sekelilingnya. Semua sudah selesai.
Dewan Hitam yang selama ini menjadi ancaman besar bagi dunianya dan dunia keluarganya kini telah hancur. Kemenangan ini terasa manis, namun di balik itu ada banyak pertanyaan yang kini melintasi pikiran Diego.
“Ayah, Ibu…” Diego memecah keheningan, suaranya terdengar penuh rasa penasaran. “Mengapa kalian mengganti nama menjadi Adam dan Devina saat kalian datang ke dunia ini? Mengapa tidak pernah menjelaskan semua ini sebelumnya?”
Leandro, yang dikenal oleh banyak orang sebagai Adam selama di dunia manusia, menoleh kepada putranya. Ada keheningan singkat sebelum dia menjawab..
“Diego, saat aku dan ibumu meninggalkan dunia asal kami untuk bersembunyi di dunia ini, kami tahu bahwa Dewan Hitam akan terus memburu kami. Mereka tahu kekuatan keluargaku, terutama kekuatan yang diwariskan kepada kita dari kakekmu, Xander. Jika mereka menemukan kami, mereka tidak akan berhenti sampai kami hancur.”
Selena, atau yang selama ini dikenal sebagai Devina, melanjutkan. “Nama kami adalah bagian dari perlindungan. Kami menyembunyikan identitas asli kami agar bisa menjalani hidup normal di dunia manusia. Mengubah nama dan menghilangkan jejak masa lalu adalah satu-satunya cara agar kita bisa bertahan hidup.”
Diego mendengarkan dengan seksama, mulai memahami mengapa mereka selalu begitu tertutup tentang masa lalu. “Jadi kalian memilih untuk hidup di dunia manusia untuk melindungi keluarga kita dari Dewan Hitam?”
Leandro mengangguk. “Benar. Kami ingin kau dan saudaramu tumbuh tanpa bayang-bayang teror Dewan Hitam. Tapi kami tahu, suatu saat, mereka akan menemukan kita. Itu sebabnya kami melatihmu secara diam-diam. Namun, kami juga menunggu momen yang tepat untuk melawan balik, seperti yang kau lihat hari ini.”
Diego menunduk, merenung sejenak. Pertanyaan-pertanyaan yang selama ini menghantuinya kini mulai menemukan jawabannya..
Tapi sebelum dia bisa mencerna semuanya dengan lebih dalam, langkah-langkah tergesa terdengar di belakang mereka.
Diego menoleh dan melihat beberapa sahabat dan anggota timnya yang selama ini bertarung di sisinya.
Lenka, Indri, Rex, Dandi, Joe, dan Gio muncul dari balik reruntuhan. Mereka tampak kelelahan, namun mata mereka dipenuhi dengan keterkejutan dan ketidakpercayaan..
Mereka baru saja menyaksikan pertarungan yang jauh melampaui pemahaman mereka, sebuah pertempuran yang melibatkan sihir kuno dan kekuatan yang tak terbayangkan.
Lenka, yang biasanya penuh percaya diri, kini menatap Diego dengan mata yang membelalak. “Diego… apa yang baru saja terjadi? Siapa sebenarnya mereka? Siapa kakekmu itu?” tanyanya dengan nada bingung. “Dan… apa itu semua? Sihir? Kekuatan yang tidak pernah kita lihat sebelumnya?”
Indri, yang lebih pendiam, juga menatap dengan kebingungan. “Kita tahu kau selalu punya kekuatan, Diego, tapi ini… ini sesuatu yang berbeda.”
Diego menarik napas dalam-dalam, menyadari bahwa sekarang waktunya untuk jujur kepada teman-temannya. “Kalian semua pantas mendapatkan penjelasan,” katanya, suaranya tenang meskipun hatinya bergetar. “Selama ini, aku merahasiakan banyak hal dari kalian, bukan karena aku tidak mempercayai kalian, tapi karena aku ingin melindungi kalian.”
Dia melanjutkan, menjelaskan asal usul keluarganya, tentang dunia lain yang penuh dengan sihir dan kekuatan kuno yang jauh lebih besar daripada apa yang pernah mereka bayangkan..
Dia juga menceritakan bagaimana Leandro dan Selena, yang selama ini mereka kenal sebagai Adam dan Devina, sebenarnya adalah penyihir yang kuat dari dunia itu, dan bagaimana mereka melarikan diri ke dunia manusia untuk menghindari Dewan Hitam.
Wajah-wajah teman-temannya berubah-ubah antara keterkejutan dan kekaguman saat Diego melanjutkan ceritanya.
“Kekuatan yang aku miliki, yang kalian lihat selama ini, berasal dari dunia orang tuaku. Tapi hari ini, aku baru menyadari bahwa kekuatan itu jauh lebih besar daripada yang pernah kupikirkan. Dan kakekku, Xander, yang kami semua kira sudah mati, ternyata masih hidup dan baru saja membantu kami menghancurkan Dewan Hitam.”
Gio, yang biasanya selalu penuh semangat, kini hanya bisa berdiri terpaku. “Ini… gila,” gumamnya. “Aku tahu kau spesial, Diego, tapi tidak pernah kusangka akan seperti ini.”
Rex, yang selalu menjadi pelindung tim, menatap Diego dengan tatapan serius. “Jadi selama ini kau tahu tentang semua ini, tapi tidak pernah memberi tahu kami?”
Diego mengangguk. “Ya, karena aku ingin melindungi kalian dari bahaya. Musuh yang kita hadapi, Dewan Hitam, sangat berbahaya. Jika mereka tahu tentang kalian, kalian bisa menjadi target mereka.”
Dandi, yang cenderung lebih pragmatis, hanya menggelengkan kepalanya. “Aku tidak bisa membayangkan betapa beratnya semua ini bagimu, Diego. Tapi kau tetap mempercayai kami dalam pertarungan.”
“Aku tidak bisa melakukannya sendirian,” jawab Diego. “Kalian semua adalah bagian penting dari hidupku. Kita sudah melalui begitu banyak hal bersama, dan meskipun hari ini mungkin mengejutkan, aku harap kita bisa terus bersama melewati semua ini.”
Lenka mendekat, menatap Diego dengan tatapan penuh pengertian. “Diego, tidak peduli seberapa besar kekuatanmu, kita akan tetap di sisimu. Kau bagian dari kita, dan kita akan selalu bertarung di sisimu, tak peduli apapun yang terjadi.”
Mendengar kata-kata itu, Diego merasakan beban di pundaknya terasa lebih ringan..
Meskipun teman-temannya baru saja mengetahui kebenaran tentang dirinya dan keluarganya, mereka tetap berada di sisinya, dan itu adalah hal terpenting baginya.
Pertemuan dengan Sang Kakek
Setelah pertempuran usai dan suasana mulai tenang, Diego dan saudara perempuannya, Intan, akhirnya mendapatkan kesempatan untuk berbicara lebih dalam dengan Xander, kakek mereka yang selama ini dianggap telah tiada.
Bagi Diego, ini adalah pertemuan yang mengubah segalanya. Dia tidak pernah menyangka bahwa sosok kuat seperti Xander masih hidup dan bahkan menjadi kunci kemenangan mereka atas Dewan Hitam.
Xander duduk di salah satu batu besar yang tersisa di reruntuhan markas Dewan Hitam. Wajahnya yang tua dipenuhi dengan kebijaksanaan, namun matanya memancarkan semangat yang kuat.
Diego dan Intan, yang selama ini hanya mendengar cerita tentang kekuatan leluhur mereka, kini berhadapan langsung dengan tokoh legendaris dalam keluarga mereka.
Diego, yang masih terkejut dengan kehadiran kakeknya, mulai berbicara. “Kakek… bagaimana bisa kau masih hidup? Ayah selalu bilang bahwa kau telah tiada.”
Xander tersenyum samar, seolah-olah dia sudah menduga pertanyaan itu. “Apa yang kau dengar memang tidak sepenuhnya salah, Diego. Aku pernah berada di ambang kematian. Saat bertarung melawan Dewan Hitam bertahun-tahun yang lalu, aku terkena kutukan yang membuatku hilang dari dunia ini untuk waktu yang lama. Mereka pikir aku sudah mati, dan itulah yang membuat mereka lengah.”
“Kutukan?” tanya Intan, suaranya dipenuhi rasa penasaran. “Bagaimana kau bisa kembali dari kutukan itu?”
Xander mengangguk. “Kutukan itu sangat kuat, namun tidak sepenuhnya menghancurkan jiwaku. Aku berhasil menemukan cara untuk bertahan, meski dalam bentuk yang sangat terbatas. Aku menghabiskan bertahun-tahun mencari celah untuk membalikkan kutukan itu, dan baru-baru ini, ketika Dewan Hitam mulai menyerang keluargamu lagi, aku menemukan kesempatan untuk kembali.”
Diego terdiam sejenak, merenungkan kata-kata kakeknya. Dia bisa merasakan betapa kuatnya Xander, namun juga betapa besar pengorbanan yang telah dia buat untuk bisa kembali dan melindungi keluarganya.
“Aku merasa terhormat bisa bertemu denganmu, Kakek,” kata Diego dengan tulus. “Tanpa bantuanmu, aku tidak yakin kami bisa memenangkan pertempuran ini.”
Xander tertawa kecil, suaranya dalam dan penuh kebijaksanaan. “Kau dan ayahmu sudah melakukan sebagian besar pekerjaan, Diego. Aku hanya akan datang di saat yang tepat."
buat athor sukses selalu.. beda orang beda imajinasi...