Pratama Attarilah Putra Wijaya (Tama), adalah seorang yang usil dan jahil. Sejak kecil dia sering menjahili anak dari sahabat ibunya, Kiara. Akankah kejahilan itu terus berlanjut dan menumbuhkan cinta?
Mikhaila Azzariyah Putri Wijaya(Mikha), dia lahir lebih lambat 2 menit dari saudara kembarnnya Tama. Mikha yang memiliki sifat lugu dan polos bertemu dengan seorang pemuda bernama Dion Sebastian yang memiliki sifat jutek dan temperamental. Dan suatu kesalah pahaman membuat mereka terpaksa harus menikah. Akankah keduanya saling jatuh cinta, ketika ternyata di hati Dion sudah ada wanita lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudra lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Kiara masuk ke dalam rumahnya dengan otak yang masih di penuhi dengan berbagai macam pertanyaan akan hubungan Tama dan Meisya.
Kiara melempar tasnya ke atas tempat tidur miliknya. Dia juga merebahkan dirinya di atas tempat tidur tersebut.
"Siapa Meisya? Kenapa Tama begitu akrab dengan dia?" kembali pertanyaan itu muncul di kepala Kiara.
Kiara memejamkan matanya, dia kembali mengingat masa SMA dulu ketika dia dan Tama begitu akrab. Tama selalu ada untuk dirinnya dan Mikha. Laki-laki itu selalu meluangkan waktu disaat dia memerlukannya.
Iya, hampir setiap waktu Tama selalu ada untuk dirinya. Kecuali di hari itu, di hari ketika dia hampir di lecehkan oleh beberapa pemuda berandalan, saat itu Kiara yang baru saja pulang dari ekskul di sekolahnya tiba-tiba di hadang oleh beberapa pemuda yang tidak dia kenal.
Kiara betul-betul merasa takut saat beberapa pemuda berandalan mulai menghadang jalannya. Dan ketakutan itu bertambah ketika salah satu berandalan tersebut mulai berusaha menyentuhnya.
Kiara sudah berteriak meminta tolong, namun karena memang kondisi jalan tersebut dalam keadaan sepi, tidak ada satupun orang yang datang untuk menolongnya. Dan saat itulah Zeno tiba-tiba muncul dan menolongnya. Dan sejak saat itu pula Zeno yang memang sejak SMP sudah menaruh hati pada Kiara, mulai menunjukkan eksistensinya.
Zeno yang dari dulu hanya mencintai Kiara dalam diam, mulai gencar memberikan perhatiannya kepada Kiara. Dan membuat Kiara tidak bisa menolak saat pria itu menyatakan cinta kepadanya.
Kiara menarik napasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya, dan itu dia lakukan berkali-kali. Seolah hendak melepaskan segala sesak di dalam hatinya.
Sesak karena melihat keakraban Tama dengan Meisya.
Kiara mengambil foto yang ada di atas nakas, dia menatap foto tersebut dan membelainya dengan lembut. Kemudian dia membawa foto itu kedalam pelukannya. Perlahan tapi pasti Kiara mulai memejamkan matanya.
******
Mikha benar-benar kesal terhadap suaminya, Dion. Pasalnya sudah 1 jam lebih suaminya itu belum juga kembali.
kruyuk...kruyuk...kruyuk
Perut Mikha sudah mulai demo minta untuk diisi.
"Cowok nyebelin itu kemana saja sih? Nggak tahu apa kalau aku sudah kelaparan," gerutu Mikha. "Bener-bener tidak bertanggung jawab, katanya sebentar sampai sekarang belum juga balik."
Mikha berjalan mondar mandir di dalam apartemen. Dia membuka kunci layar ponselnya dan mencari fitur WA di dalamnya.
Baru saja dia mengetikkan pesan di layar ponsel miliknya, orang yang di tunggu akhirnya datang juga.
"Cowok nyebelin! Kamu itu beli makanan di mana sih?" tanya Mikha dengan nada kesal.
"Maaf, tadi aku ada urusan sebentar," jawab Dion berbohong.
"Urusan apa?" tanya Mikha. "Harusnya kalau kamu ada urusan bilang saja. Jadi aku bisa dilevery dan tidak kelaparan seperti ini." dengus Mikha pasalnya sejak membereskan apartemen pagi tadi perutnya hanya diisi dengan sepotong roti.
"Maaf," ucap Dion.
Mikha segera mengambil piring dan menyajikan makanan yang Dion beli di atas piring tersebut. Mereka pun mulai menyantap makanan itu bersama-sama.
Dion terus menatap wajah Mikha yang menurutnya makin menggemaskan. Dia semakin berpikir, apakah dia akan bisa bertahan dengan janjinya yang tidak akan menyentuh gadis itu sampai dia menjadi dokter.
Padahal baru beberapa hari dirinya tinggal satu kamar dengan Mikha, tapi gadis itu sudah bisa mengalihkan sedikit dunianya yang dulu bahkan tidak bisa di lakukan oleh Cantika. Mikha berhasil membangkitkan gairahnya, tanpa dia melakukan sesuatu untuk merayunya.
"Cewek resek! Jika aku berubah pikiran soal yang itu bagaimana?" tanya berhati-hati.
"Soal apa?" tanya Mikha yang memang tidak mengerti dengan arah pembicaraan Dion.
"Soal...soal..."
Uhukk... Uhukk... Uhukk
Sebelum Dion menyelesaikan kalimatnya Mikha sudah terbatuk dan memintanya mengambilkan air minum untuknya.
Dion bangkit dari tempat duduknya dan memberikan segelas air putih kepada istrinya tersebut.
"Makanya hati-hati kalau makan." Dion mengusap punggung istrinya pelan.
"Terimakasih," ucap Mikha. Entah kenapa sikap manis Dion kali ini, mampu membuat jantung Mikha berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Kamu bisa kembali duduk dan melanjutkan makanmu!" seru Mikha kepada suaminya.
Sesuai permintaan istrinya, Dion kembali duduk dan melanjutkan makannya.
*****
Malam harinya...
Saat ini, Dion dan Mikha sudah berbaring di atas tempat tidur yang sama. Mata keduanya juga masih terjaga.
"Cewek resek! Apa kamu sudah pernah pacaran?" tanya Dion tiba-tiba.
Mikha menatap ke arahnya sejenak.
"Umurku sudah 20 tahun, tentu saja sudah pernah."
"Berarti kamu juga sudah pernah dong, ciumam?"
"Maksudmu?"
Dion memperagakan dengan menyatukan kedua jari-jarinya.
"Tentu saja pernah," jawab Mikha berbohong. Padahal selama dia berpacaran dulu, jangankan berciuman, gandengan tangan saja cuma beberapa kali. Karena Tama selalu mengawasinya.
Tama tidak pernah sekalipun membiarkan saudara kembarnya pergi berdua dengan kekasihnya. Kemanapun Mikha hendak pergi berdua dengan pacarnya, Tama selalu berhasil memaksa Mikha untuk mengajaknya ikut serta.
"Benarkah? Dengan siapa?"
"Tentu saja dengan pacarku, kamu ini benar-benar aneh."
"Aku yakin, kamu hanya diam saja ketika pacarmu melakukannya," cibir Dion.
"Kata siapa aku diam saja, aku selalu membuat dia merasa kecanduan dengan bibirku ini," kata Mikha yang berusaha menunjukkan pada Dion kalau dia jago dengan itu.
"Aku tidak percaya," kata Dion lagi.
"Kalau kamu tidak percaya, sini aku tunjukkan kemampuanku!" Mikha langsung menghadap ke arah Dion, Namun Mikha langsung terdiam saat menyadari kalau Dion sengaja memancingnya.
"Kenapa diam? Katanya mau menunjukkan kemampuanmu!" tantang Dion, dia bahkan semakin mendekatkan wajahnya ke arah Mikha.
"Aku tidak mau melakukannya denganmu, apalagi bibirmu itu bekas orang lain." Mikha berusaha untuk mengelak.
"Bukankah kita sama, bibirmu juga bekas orang lain dan aku tidak keberatan," pancing Dion lagi.
"Siapa bilang bibirku bekas orang lain," tanpa sadar Mikha mengakui kalau dirinya belum pernah berciuman dengan siapapun dan hal itu membuat Dion merasa senang. Karena itu berarti ciuman pertama istrinya akan jatuh di tangannya.
"Mak...maksudku aku tidak mau melakukannya denganmu karena aku yakin kamu tidak akan bisa mengimbangi kemampuanku itu."
Jawaban Mikha kali ini menjadi boomerang baginya, karena Dion semakin memaksa dirinya untuk menunjukkan kemampuannya.
"Kita belum mencobanya, bagaimana kamu bilang kalau aku tidak bisa mengimbangi kemampuanmu," kali ini Dion sudah menarik Mikha ke dalam pelukannya.
"Bukannya kamu sudah janji padaku untuk tidak meminta hakmu sebelum aku menjadi dokter?"
"Aku memang tidak akan meminta hakku sekarang, aku hanya ingin tahu seberapa hebat kemampuan istriku dalam berciuman. Bukankah kamu bilang kalau aku tidak akan mampu mengimbangimu?"
Gleg!
Mikha menelan salivanya susah payah, bagaimana mungkin dia terprovokasi oleh perkataan suaminya.
"Duh, kenapa aku harus bilang itu sih?" Mikha menyesali perkataannya sendiri.
Dion semakin mendekatkan wajahnya ke arah Mikha. Dia menatap bibir mungil istrinya yang berwarna merah meski tanpa memakai lipstik di atasnya.
"Buktikan padaku sekarang!" serunya.
Saat bibir itu tinggal satu senti lagi, tiba-tiba ponsel miliknya berdering. Awalnya Dion tidak ingin memperdulikan dering ponsel miliknya. Namun karena ponsel itu tak kunjung berhenti berdering, Dion menunda ke inginannya untuk menjajal kemampuan istrinya.
"Tunggu sebentar!" seru Dion. Dia beranjak dari tempatnya untuk menjawab telpon tersebut.
Huft...Mikha merasa lega karena akhirnya Dion menjauh darinya.
Wajah Dion sedikit panik setelah menerima telpon tersebut. Dia segera mengambil laptop dan menyalakannya.
"Ada apa?" tanya Mikha yang juga ikut mendekat ke arah suaminya. Mikha ikut menatap ke layar laptop tersebut.
Matanya membulat sempurna melihat foto serta artikel yang ada di dalamnya.