Sebuah trauma kelam di usia dua belas tahun mengubah hidup Lova sepenuhnya. Sejak kejadian mengerikan itu, ia menderita fobia akut yang membuatnya ketakutan setengah mati, bahkan hanya untuk sekadar berdekatan atau disentuh oleh seorang pria. Baginya, semua pria adalah ancaman.
Sampai akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Arnold, seorang psikiater genius dengan reputasi mentereng. Berbeda dengan pria lain, pembawaan Arnold yang sedikit gemulai justru memberikan rasa aman yang tak pernah Lova rasakan sebelumnya. Arnold menjadi satu-satunya pria di dunia ini yang bisa menyentuh kulit Lova tanpa memicu kepanikannya.
Demi menyembuhkan trauma Lova secara total dan sah di mata hukum, Arnold mendesak sebuah keputusan nekat: *Pernikahan Medis*.
Sebuah pernikahan yang menutupi alasan sebenarnya, menikahi wanita penuh trauma bahkan tak dicintai.
Bagaimana kedok psikiater pecinta lagu India ini? Apakah ia berhasil menyembuhkan Lova? Atau ia sendiri terjebak dalam rencana yang ditutup rapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Runtuhnya Kerajaan Sang Ular
Malam pun semakin larut. Di dalam kabin sebuah mobil sedan mewah hitam yang melaju membelah jalanan protokol, suasana justru terasa sangat kontras. Hangat, penuh dengan aura kemenangan, dan tawa sinis yang sesekali pecah.
Tania menyandarkan punggungnya pada jok kulit yang empuk dengan pose yang sangat anggun. Sebelah tangannya bergerak santai, meraba tas branded keluaran terbaru yang baru saja ia beli. Sebagai perayaan atas harapan besar yang sudah ia bangun dengan kelicikan selama bertahun-tahun. Di sampingnya, Leticya sibuk memperhatikan kuku-kuku jarinya yang baru saja selesai dipoles di salon kecantikan langganan mereka usai bertemu Teddy tadi.
"Mama benar-benar hebat," ucap Leticya memecah keheningan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman puas. "Melihat reaksi Teddy di kafe tadi, aku bertaruh pria bodoh itu sedang mengamuk di tempatnya sekarang. Logikanya mati seketika begitu melihat foto-foto masa lalu Arnold."
Tania terkekeh pelan. Ia membuka kaca pelindung matahari di atas kepalanya, lalu mulai merapikan lipstik merah menyala yang menghiasi bibirnya di depan cermin kecil. "Teddy itu tipikal pria yang dikendalikan oleh ego dan rasa cemburu, Sayang. Laki-laki mana yang tidak akan murka jika mengetahui wanita yang dipujanya dinikahi secara paksa oleh pria yang memiliki kelainan? Kita hanya perlu memberi sedikit bumbu, dan dia sendiri yang akan dengan sukarela menghancurkan pernikahan Arnold dan wanita itu."
"Lalu, apa rencana kita pada wanita tua itu? Kalau tau begini, ngapain juga capek-capek menangkapnya?" Leticya menoleh, matanya berbinar penuh keserakahan.
"Hmmm, ibu wanita itu kita singkirkan dan lempar saja. Dia hanya akan menjadi sumber masalah ke depannya, lebih baik ..." Tania memberi isyarat memotong leher dengan tangannya.
Leticya menepuk tangannya. "Mamaku memang terbaik untuk hal begini. Tak heran, nyonya besar keluarga Darmawan, tersingkir dengan mudah tanpa menyentuhnya sama sekali."
Lalu, Tania kembali pada rencana yang sedang berlangsung.
"Mama sudah membuat skenario kemungkinan besar setelah pernikahan bohongan itu hancur. Tentu saja Lova pergi dan tak mempercayai Arnold lagi. Arnold tidak akan lagi memenuhi syarat untuk mengklaim warisan utama Charless," ucap Tania dengan nada suara yang penuh kemenangan.
"Ayah tirimu itu masih terbaring sekarat di atas ranjang ICU. Tanpa adanya istri sah di samping Arnold, seluruh dokumen pengalihan aset yang pernah kita susun akan otomatis menjadi legal. Setelah itu, rumah ini, perusahaan, dan seluruh kemewahan keluarga Darmawan akan jatuh ke tangan kita secara mutlak. Pria tua itu tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi."
Leticya tersenyum lebar, membayangkan masa depan mereka yang bergelimang harta tanpa perlu berbagi dengan anak kandung Charless yang sangat mereka benci itu. Mobil sedan mereka akhirnya berbelok, memasuki kawasan perumahan elit yang sepi dan eksklusif. Sorot lampu mobil perlahan menerangi jalanan aspal menuju gerbang tinggi kediaman utama keluarga Darmawan.
Namun, saat mobil semakin dekat, kening Tania mendadak mengernyit dalam. Ada sesuatu yang tidak beres.
Mansion yang biasanya memancarkan cahaya lampu terang benderang dari halaman depan, malam ini terlihat sedikit temaram. Suasananya begitu sunyi, bahkan cenderung mencekam. Yang paling mengejutkan adalah gerbang besi hitam yang menjulang tinggi, yang biasanya selalu terbuka lebar menyambut kedatangan mobil mereka, malam ini tertutup rapat dan terkunci kokoh dari dalam.
Mobil mewah itu pun berhenti tepat di depan gerbang.
"Kenapa gerbangnya ditutup rapat seperti ini?" gumam Leticya dengan nada kesal. Ia menurunkan kaca mobil, mencoba mengintip ke arah pos penjagaan yang tampak gelap.
"Di mana para pengawal bodoh yang kita bayar itu? Kenapa mereka tidak bersiap di depan untuk membukakan jalan?"
Tania tidak menjawab. Namun, ada keganjalan yang merebut rasa percaya diri yang tadinya meluap-luap. Dengan perlahan, berubah menjadi firasat buruk.
Ia membuka pintu mobil, melangkah turun dengan sepatu hak tingginya yang mengetuk permukaan aspal dengan suara yang menggema di keheningan malam. Leticya pun ikut turun, berjalan terburu-buru di belakang ibunya.
Brak!
Brak!
Leticya menggedor jeruji besi gerbang itu dengan kasar menggunakan tasnya. "Heii! Para penjaga bodoh, cepat buka pintunya! Ini kami baru pulang! Dasar tidak becus, apakah kalian semua tidur di jam kerja?!" teriaknya melengking.
Tidak ada sahutan dari dalam pos jaga. Namun, beberapa detik kemudian, terdengar suara derap langkah kaki yang tidak teratur. Langkah kaki itu terdengar sedikit kacau. Tak seperti biasa yang terdengar berat berirama.
Dari balik kegelapan taman depan, dua orang pria yang tak ia kenal berjalan keluar secara aneh. Sorot lampu taman yang temaram mulai memperlihatkan siluet tubuh mereka yang meliuk-liuk. Sontak, mata Tania dan Leticya terbelalak lebar.
Kedua pria itu sama sekali bukan orang-orang berseragam hitam yang mereka kenal. Mereka berdua mengenakan pakaian yang sangat mencolok untuk seorang pria. Dan, gaya mereka tampak sangat aneh, persis yang suka ngamen di perempatan.
Tania secara refleks mencengkeram besi kokoh dari gerbang itu. "Hei! Kenapa ada banci nyasar di rumah saya?" bentak Tania, dengan angkuh.
"Pengawal! Pengawal! Kenapa kalian begitu bodoh membiarkan makhluk aneh ini masuk ke rumah saya?!" umpat Tania menggoyang kasar pintu gerbang itu.
Salah satu dari mereka berjalan melenggak-lenggok, seolah menarik rambut ke belakang telinga. Padahal kepalanya plontos.
"Eh, Tante! Jangan berisik, ih! Tuan Besar eikeh lagi bonyak, bobo nyenyak di dalam," ucap pria botak berbaju pink itu. Suaranya terdengar cempreng dan melengking, membuat Tania dan Leticya saling berpandangan.
"Heeei, banci kaleng! Keluar dari rumah kami sekarang juga?!" Leticya yang kesal mengulurkan tangan seakan ingin mencakar, berharap bisa menangkap mereka. Akan tetapi, tangannya tak cukup panjang, hanya sekedar menangkap angin.
Om-Om pink yang melihat mereka murka, tertawa geli dan mencibir. "Mulai malam ini, ..."
*bersambung*
kalau memang kamu udah ga bisa sembuhin lova
lepas aja lah🥹
judulnya terapi cantik ku yg rupawan
itu aja Thor
gemulai mah... terlalu klise😍😍
jadi bayangin
aduuh ternoda dah pikiran aye cyiiin🤣🤣🫣
lova si udah mulai sembuh
ga terlalu perlu lu juga si...
tapi gimana yaaa???
keplak kali palanya biar balik normal🤣🤣
cyiin nya diilangin🫣🤣🤣
geplak lagi ninpake anduk
vote otw ka😍
kyk korban pelecehan
🫣🤣🤣🤣