(AWAS. KHUSUS ***++ ADA BANYAK ADEGAN MEMANCING GAIRAH. JANGAN YA DEK YA) Dia dikhianati pacarnya. Dia berusaha menenangkan diri di kamar sebuah hotel. Tapi dia malah diperkosa oleh Gerson, seorang CEO sombong karena suatu kesalah-pahaman.
Bella hamil dan diusir orang tuanya dari rumah. Dia harus melahirkan dalam kondisi sulit.
Tujuh tahun kemudian, Bella kembali dipertemukan dengan Gerson dan harus bekerja di kantornya Gerson.
Di saat yang sama, Bella melihat wawancara Gerson di Youtube. Dia meminta anak-anaknya untuk menjauh kalau melihat Gerson.
Tapi anak kembarnya yang jenius itu, memilih untuk bertindak sebaliknya. Bukannya menjauh, mereka malah terus menyerang Gerson.
Sejak itu, hidup Gerson tidak lagi tenang karena terus diganggu oleh si kembar jenius.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gregorious, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30 Kecil-Kecil jadi Provokator
Masih FLASH BACK ON
Tanpa menunggu waktu lama, hanya 2 jam saja Tony berhasil menemukan keberadaan Leon dan Tika, wanita yang dipacari Leon itu.
Gerson langsung menuju ke alamat yang dibilang oleh Tony di sebuah apartemen.
Saat sampai di apartemen itu, rupanya Tony sudah berkonfrontasi dengan Leon dan juga pacarnya Leon.
Hanya saja Leon dan pacarnya itu sudah kabur secara terpisah dan Tony hanya bisa mengejar pacarnya Leon itu.
Tony berhasil mengikuti langkah pacarnya itu ke sebuah hotel dan mengetahui nomor kamar yang dibooking oleh pacarnya Leon itu.
Kali ini, Tony memilih untuk tidak melakukan konfrontasi langsung dengan Tika. Dia memilih untuk menyerahkan semuanya pada Gerson.
Setelah mendapatkan nomor kamarnya Tika, Tony menunggu kedatangan Gerson di parkiran hotel.
Ternyata saat Gerson melakukan pengejaran kepada Leon dan Tika itu, Gerson sengaja meminum minuman keras yang sebenarnya dia sediakan di mobilnya untuk para tamu perusahaannya tetapi karena kalut memikirkan nasib rumah tangga adiknya, maka Gerson menghabiskan minuman-minuman keras itu di dalam mobil.
Karena itu, saat akhirnya Gerson turun dari mobil, dia betul-betul sudah dalam keadaan mabuk.
Untung saja Gerson masih berhasil masuk ke dalam hotel dengan dituntun oleh Tony hingga sampai ke lantai 8 tempat di mana pacarnya Leon berada.
Karena kemarahan yang sudah di ubun-ubun, Gerson segera menuju ke arah kamar pacarnya Leon yang ditunjuk Tony itu.
"Apa yang akan kamu lakukan saat kamu masuk ke kamar pacarnya Leon itu, bos?" tanya Tony sesaat sebelum Gerson masuk ke kamar yang ditunjuk oleh Tony itu.
"Aku akan menghajarnya. Aku akan memukulnya supaya dia kapok mendekati adik iparku, supaya dia tidak lagi jadi perusak rumah tangga adikku!"
Toni langsung menggelengkan kepalanya. "Ingat, Gerson. Kamu baru saja meniti karir. Perusahaanmu sedang berkembang dengan pesat kamu akan menghancurkan karirmu, menghancurkan perusahaanmu kalau kamu melakukan itu. Kamu akan menghadapi persidangan yang sangat lama kalau kamu melakukan itu."
Gerson terdiam mendengar kata-kataku Tony itu. Dia tahu maksud dari kata-kata Tony itu. Dia membenarkan akan analisa dari Tony itu sehingga akhirnya dia berkata, "tapi aku harus membuat dia kapok."
"Lalu apa yang akan kamu lakukan, Gerson?" tanya Tony.
"Aku akan memarahinya, mengancam dia supaya dia tidak lagi berhubungan dengan adik iparku."
"Kalau ini aku setuju."
Gerson kemudian mendorong Tony untuk berjalan menuju ke arah pintu kamar yang tadi ditunjuk Tony.
Tony sendiri memilih untuk menunggu di luar kamar.
Gerson mengetuk pintu kamar dan pintu kamar langsung dibukakan oleh seorang gadis cantik.
Begitu masuk, Gerson langsung menutup dan mengunci pintu dari dalam.
Setelah itu, Gerson tidak menepati janjinya pada Tony, begitu masuk, dia melakukan apa yang ada di pikirannya. Dorongan yang dia rasakan saat mabuk, yaitu memperkosa gadis itu.
Tony sendiri sempat mondar-mandir gelisah di depan pintu kamar. Dia takut Gerson berbuat macam-macam pada wanita di kamar itu.
Pintu terkunci sehingga Tony tidak bisa masuk ke dalam kamar saat dia berusaha masuk.
Sementara peredam suara yang cukup bagus di kamar itu membuat suara teriakan gadis yang berada dalam kamar tidak terdengar oleh Tony.
Kemudian Tony putuskan untuk melangkah di koridor untuk menuju ke arah ujung dari kamar-kamar di lantai ini.
Saat Tony berbalik, dari kejauhan, dia melihat seorang gadis yang sedang berjalan menuju ke arah lift.
"Gadis itu sudah keluar dari kamar. Berarti Gerson tidak memukulnya. Syukurlah." gumam Tony.
Tapi untuk memastikan, Toni berjalan mendekat. Saat garis itu sudah berada di dekat lift, dia mengenali gadis itu sebagai selingkuhannya Leon.
Tony lega karena terlihat wajah gadis itu tidak apa-apa, tidak terlihat bekas dipukul atau semacam itu.
Tony mendapatkan kesimpulan kalau Gerson tidak melakukan suatu apapun kepada selingkuhannya Leon itu, karena itu dia biarkan gadis itu masuk ke dalam lift.
Tony kembali ke kamar di mana Gerson masuk tapi ternyata kamar itu terkunci.
"Mungkin Gerson yang mabuk berat itu langsung tidur di kamar. Biarlah. Lebih baik dia disini dulu. Aku pulang saja, nanti aku telepon dia besok," gumam Tony.
Setelah itu, Toni pun beranjak menuju ke arah lift.
FLASHBACK OFF
Gerson tersadar dari lamunannya. Dia merasa mirip dengan pria yang memperkosa si ibu cantik seperti yang diceritakan oleh Ayu tadi.
Tapi kemudian Gerson segera menepis perasaannya itu. "Aku berbeda dengan pemerkosa itu. Pemerkosa itu mungkin melakukannya dengan menuruti nafsunya tapi aku melakukannya untuk memberi pelajaran kepada wanita itu supaya tidak lagi mengganggu rumah tangga adikku," batin Leon.
Setelah itu, Gerson kembali mengangguk. "Ya. Perbuatanku berbeda. Aku melakukannya untuk menegakkan keadilan. Lagipula, aku melakukan itu bukan kepada seorang wanita perawan tapi aku melakukan itu kepada seorang wanita yang suka merusak rumah tangga orang. Dan sudah jelas dia bukan perawan."
Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu dan terdengar suaranya Ayu. "Ini loh, Pak Ganteng. Aku mau kenalin dengan yang namanya si ibu cantik. Nah, ini orangnya."
**
Di tempat lain, Julian sudah berada di sebuah gedung apartemen baru, yang salah satu unit apartemennya baru saja dibelikan Tony untuk Gerson tinggal, setelah Gerson tidak mau lagi tinggal di apartemen lamanya.
"Ada yang bisa kubantu, dik?" tanya petugas resepsionis. Dia melihat seorang anak kecil imut mendatangi mejanyam
"Kenalkan, namaku Julian Sutanto. Aku adalah anaknya papaku, Gerson Sutanto," jawab Julian sambil mengerjap-gerjapkan matanya.
"Anaknya siapa?"
"Gerson Sutanto. Ayahku baru membeli apartemen di lantai 9 di apartemen ini."
Resepsionis ini kemudian memeriksa laptop dan memeriksa daftar pemilik apartemen. Kemudian dia berkata, "oh iya. Papamu adalah penghuni baru di apartemen ini tapi katanya dia baru akan masuk 2 hari lagi di apartemen ini."
"Iya, aku tahu. Begini, aku datang kesini untuk memberitahukan kepada semua di sini tentang papaku."
"Memang kenapa, dik? Papamu kenapa?" tanya resepsionis itu.
"Begini, sebelumnya papaku tinggal di apartemen yang lain bersama aku dan kakakku juga ibuku. Tetapi secara diam-diam papaku membeli apartemen di sini karena papaku ingin bebas dengan selingkuhannya."
"Selingkuhan?"
"Iya. Papaku selingkuh dari mamaku. Huhuhu." Julian mulai akting. "Papaku jahat. Dia tidak peduli dengan air mata mamaku dan juga aku serta kakakku. Huhuhu. Orang tuaku akan bercerai karena kelakuan papaku itu. Huhuhu." Julius mulai akting menangis.
Ini membuat sang resepsionis jatuh dalam iba. Dia kemudian keluar dari mejanya, dia mendekati Julian, memeluk Julian serta berkata, "kakak bisa mengerti, dik. Karena kakak juga berasal dari keluarga broken home. Papa kakak juga selingkuh dari mama kakak. Bahkan papa kakak suka memukul aku dan mama. Karena kami berusaha untuk memisahkan papa dengan selingkuhannya."
"Berarti apa yang kakak alami, sama seperti apa yang aku alami sekarang. Apakah papanya kakak juga meninggalkan kakak dan mamanya kakak?"
"Iya, dik. Pada akhirnya, orang tua kakak berpisah. Papa kakak lebih memilih untuk menikahi selingkuhannya itu dan meninggalkan kakak dan ibu kakak. Dia bahkan membawa semua hartanya dari kami sehingga kami jatuh miskin. Kakak harus bekerja sejak usia muda untuk membantu mama kakak menghidupi adik-adik kakak."
Mendengar itu, Julian mulai terbawa emosi. Dia akting dengan emosional.
Julian mulai berteriak-teriak, "nampaknya itu juga akan terjadi padaku. Aku yang masih kecil ini harus mulai bekerja untuk membantu mamaku. Huhuhu."
"Kalau begitu, apa yang bisa kakak lakukan untukmu, dik?"
"Lapor kepadaku kalau papaku datang bersama seorang wanita. Atau kalau ada wanita yang ingin menemui papaku. Kalau perlu, halangi wanita itu, supaya dia tidak bisa masuk ke apartemen papaku."
"Tapi kalau kakak lakukan itu, bisa-bisa kakak kehilangan pekerjaan kakak di sini, dik. Kakak tidak bisa melakukan itu. Kakak cuma bisa melapor kepada adik kalau memang papamu membawa wanita ke tempat ini."
"Iya. Kalau papaku membawa wanita di tempat ini, maka itu sudah pasti itu bukan mamaku, karena aku dan mamaku sudah ditinggal di apartemen yang lama. Ehm, kalau begitu berikan aku kesempatan untuk bicara dengan tetangga-tetangganya papaku di lantai 9 di atas sana."
"Untuk apa, dik?"
"Supaya aku bisa memohon kepada mereka untuk mereka merintangi atau kalau perlu meneriaki wanita yang datang bersama papaku. Karena kalau papaku datang bersama wanita di apartemen ini, maka itu berarti wanita itu adalah selingkuhan papaku. Jadi, para tetangga itu harus membelaku dalam hal ini."
Resepsionis ini terlihat sangat semangat. "Oke. Kalau itu bisa aku lakukan. Kalau begitu, aku akan membawamu ke atas supaya adik bisa mempengaruhi penghuni apartemen yang lain supaya mereka mengusir perempuan yang datang bersama papamu."
"Terima kasih, kak. Kalau begitu, ayo kita segera ke atas."
Resepsionis itu kemudian memanggil seorang temannya yang lain untuk berjaga di meja resepsionis sementara dia sendiri mengantar Julian untuk menuju ke arah lantai 9 di apartemen ini.
"Jangan khawatir, kebetulan kakak mengenal banyak penghuni di lantai 9. Mereka terdiri dari kakek-kakek dan nenek-nenek. Ada juga sih yang masih berumur 40 tahunan dan mereka itu sangat mementingkan keluarga. Mereka pasti akan tersenyum mendengar ceritamu dan akan membantumu, dik."
"Terima kasih, kakak. Terima kasih atas semua bantuan kakak. Tolong temani aku saat aku menjelaskan semuanya kepada para penghuni di lantai 9 itu."
"Pasti, dik. Nasib yang kamu alami sama seperti yang pernah kakak alami. Karena itu, kakak akan membantumu sebisa kakak."
Begitu berada di lantai 9, maka resepsionis yang bernama Norma ini segera mengetuk pintu dari semua penghuni di lantai 9.
Kemudian Norma mengumpulkan mereka semua di salah satu apartemen di lantai 9, tepatnya berada di kamar nomor 9020.
Setelah itu, Norma mulai menjelaskan tentang Julian dan cerita Julian tentang keluarganya Julian.
Julian dengan mimik yang menggemaskan juga ikut membantu Norma untuk menjelaskan apa yang terjadi pada keluarganya.
Mendengar cerita dari Julian yang dibantu oleh Norma ini, maka pasangan-pasangan tua yang tinggal di lantai 9 ini langsung mengungkapkan ekspresi mereka.
"Kami pasti akan membantumu, nak. Kami akan terus memantau ayahmu. Kalau dia berani membawa cewek di sini, maka kami akan segera bertindak," kata Willy, pria berumur 60 tahunan yang sempat kerja lama di luar negeri dan memutuskan pensiun di Indonesia dan tinggal di apartemen ini.
"Ya. Kami akan pastikan wanita itu tidak akan bisa masuk ke kamar papamu. Kalau dia datang, akan ada orang yang bicara dengan papamu dan yang lain akan membawa wanita itu ke ruangan lain kemudian kami akan takut-takuti dia supaya dia segera pergi meninggalkan papamu," kata Rima, istrinya Willy.
"Iya, jangan takut, nak. Kami akan segera bertindak. Tiap kali dia membawa perempuan di apartemennya, maka kami akan bertindak."
Julian sangat senang melihat semangat dari para tetangga barunya ayahnya itu. Dia sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada ayahnya saat para tetangga yang julid ini bertindak untuk memisahkan para wanita yang ingin mendekati ayahnya Julian itu.
"Pokoknya, kalau ada wanita yang berani bertamu ke kamarnya papamu, maka kami akan segera bertindak. Jadi, kamu jangan takut. Kami akan berusaha supaya papamu tidak menghancurkan keluarganya, tidak meninggalkan keluarganya," tambah Dorce, seorang nenek berumur 70 tahun.
"Aku akan memantau terus supaya papamu tidak digoda oleh wanita-wanita tidak benar," tambah Olga.
Julian sangat puas karena hasil kerjanya pada saat ini berhasil sukses dan tidak menjadi sia-sia
**
Di tempat lain, Bella yang baru saja tiba di panti asuhan, diajak Ayu untuk masuk ke ruang tamu panti asuhan.
Sebelumnya, Ayu sempat berkata kepada Bella, "donatur tampan yang sangat baik itu yang aku juluki pria idaman, lagi berada di ruang tamu. Aku ingin mengenalkan dia denganmu."
"Kenalan? Untuk apa, Bu Ayu?" tanya Bella.
"Ya supaya kamu bisa memberitahu dia apa saja yang harus direnovasi di panti asuhan ini. Kamu kan sudah membuat daftarnya. Iya kan? Bella, ibu cantik?"
"Iya, Bu Ayu. Kalau soal itu, oke. Aku akan bertemu dengannya."
'Eh, dia masih bujang, lho. Si pria idaman itu masih bujang. Dia belum pernah menikah. Umurnya sudah 30 tahun ini dan sangat sukses. Tapi dia belum menikah."
"Kenapa begitu, Bu? Dia kan sudah mapan, harusnya dia sudah menikah. Harusnya ada banyak wanita yang mengejarnya. Iya kan?"
"Temannya yang namanya Pak Tony bilang, memang ada banyak wanita yang mengejarnya tapi si pria idaman itu belum mau menikah karena dia pernah mengalami trauma berat."
"Trauma berat?"
"Iya. Cinta pertamanya di masa SMA, selingkuh darinya. Dia juga ditinggal kekasihnya saat kuliah karena kekasihnya lebih memilih pria lain. Karena itu, dia mengalami krisis kepercayaan kepada para wanita. Dia takut wanita yang datang menawarkan cinta kepadanya, kemudian akan pergi meninggalkan dia karena selingkuh dengan wanita lain."
"Kasihan juga dia. Nampaknya dia pria yang baik." Mulai ada rasa simpati di hati Bella untuk sang pria idaman.
"Iya, ibu cantik. Makanya dia cocok denganmu, ibu cantik."
"Hush. Dia pasti gak mau aku. Oh iya, jangan terus memanggil ibu cantik ke aku, Ibu Ayu. Aku tidak cantik, kok."
"Siapa bilang? Semua orang yang melihatmu pasti akan bilang kalau kamu cantik, karena itu aku terus memanggilmu ibu cantik."
Saat ini, Ayu dan juga Bella sudah berada di depan pintu masuk ruang tamu panti asuhan.
"Dan aku rasa, ibu cantik sangat cocok dengan si pria idaman ini." Ayu tersenyum dan mengetuk pintu dan tanpa menunggu suara dari dalam, Ayu segera membuka pintu.
"Ini loh, Pak Ganteng. Aku mau kenalin dengan yang namanya si ibu cantik. Nah, ini orangnya," kata Ayu sambil menoleh ke arah Gerson.
Bella masuk ke dalam dan dia jadi sangat kaget saat dia melihat pria yang disebut pria idaman yang berada di dalam ruang tamu panti asuhan ini
Jarena Bella mengenal pria ini, bahkan sangat mengenal pria ini.
dia tukang celap celup dan itu menjijikan
kuharap ada tokoh yang lebih baik dari dia buat jadi jodohnya Bella
dari judul cerita ini tuh menceritakan anak kembar yang jenius, jadi saya harap jodoh nya Bella bukan gersang
kalo aku jadi Bella sih kuludahin aslii
karna ga bakal ada laki laki yang bisa benar benar lepas dari kebiasaan nya apalagi ini soal kenikmatan duniawi