➦➣ISTRI RASA DEPKOLEKTOR 2↻
☔︎︎_FAV, LIKE, COMMENT_☔︎︎
🧨NO BOOM LIKE!🗡
Mencintaimu adalah kebahagiaan sederhana, tetapi memilikimu tuk jadi duniaku. ~Reyhan Aditya.
Rasa ini seperti baru bagiku, rindu yang membelenggu tak tau tuk siapa. Dia atau seseorang yang tak mampu ku ingat. ~ Asma.
Kamu hanya milikku, tataplah disisiku hingga akhir napasku. ~ Kendrick Al Zafran.
Antara rindu dan belenggu dalam cinta semu, kisah lalu merajut asa dalam penantian—perjuangan sang suami menyadarkan rembulan malamnya.
Bak kupu-kupu tak menemukan jalan pulang, langkahnya tertatih mengharapkan dekapan hangat sang kekasih halal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asma Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 29#Al Seatap, Keputusan Rey
Pertanyaan yang ia ajukan pada diri sendiri terasa hambar karena tak ada jawaban pasti. Entah kenapa hati merasa semua hanya khayalan meski menjadi kenyataan. Lara hati yang menggerogoti jiwa bahkan tidak tahu berasal dari mana. Apakah semua itu karena masa yang sudah berlalu atau masa kini.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang membuat gadis itu kembali membuka matanya, lalu menyudahi acara berendam yang sedikit mengurangi rasa lelah di raganya. "Apa harus aku bukakan pintu? Semalam saja biarkan aku sendiri, tidak bisakah."
"Aku juga heran kenapa diriku slalu cepat emosi akhir-akhir ini," Tangan meraih handuk, lalu memakainya hingga menutupi sebagian tubuh yang seharusnya. Tak lupa dengan handuk lain untuk membungkus rambut basahnya.
Langkah kaki keluar dari kamar mandi tetapi langkahnya yang tak hati-hati dengan fokus entah kemana tiba-tiba tubuhnya oleng, terhuyung tak tentu arah. Namun sisa kesadarannya membuat ia berusaha mencari pegangan hingga memegang pinggiran besi.
"Hampir saja jatuh terpelanting," ujarnya bernapas lega setelah merasa tidak oleng lagi.
Suara ketukan pintu semakin terdengar sering membuat Asma yang memang dalam keadaan tidak baik-baik saja harus berjalan sedikit diseret. Apalagi kepalanya justru semakin berputar, beberapa saat ia terdiam tetapi berusaha untuk melanjutkan. Pada akhirnya dia membuka pintu secara perlahan.
Tidak ada kata tetapi tiba-tiba tubuhnya terperangkap dalam tangan kekar yang langsung memeluk dia erat. Ia memahami bagaimana perasaan pria yang kini mendekapnya tanpa ada kata permisi. Al pasti khawatir hanya saja pelukan pria itu terlalu erat membuatnya kesulitan bernapas.
Tak ingin menyakiti perasaan Al, ia berusaha untuk tetap tenang seraya mendorong perlahan dada pria itu. "Apa yang terjadi padamu? Aku hanya diam sebentar dan kamu sudah ketakutan. Bagaimana jika aku pergi selamanya."
"Coba ulangi ucapanmu." pinta Al dengan nada tegas menyiratkan sesuatu dengan tatapan matanya yang setajam elang menghujam netra coklat yang terlihat tak gentar.
"Bagaimana jika aku pergi ...," Asma berhenti tak sanggup melanjutkan ucapannya karena tangan kekar menutup mulutnya hingga tatapan mata saling bertemu menyiratkan setiap rasa yang tidak bisa mereka ungkapkan.
Satu sisi Al yang tidak menginginkan kehilangan gadisnya meski apapun yang terjadi nanti, sedangkan di sisi lain Asma masih mencari jati dirinya yang hilang entah ke mana. Perasaan kedua insan itu saling bertabrakan tanpa arah yang sama maupun tujuan yang sama. Keduanya hanya setatap tetapi tak bisa pergi bersama.
Keadaan hanya ada di dunia nyata tetapi kenyataan itu sendiri hanya sebuah kebenaran yang terkadang disembunyikan. Ia tak ingin mendengar lebih jauh lagi sehingga membekap bibir kekasih hatinya agar tidak mengucapkan kata-kata yang paling ia benci.
Baginya, mereka bersama selamanya adalah kata yang paling terbaik sepanjang hidupnya. Akan tetapi ia tak ingin mendengar mendengar kata-kata 'pergi selamanya'. Dua kata yang sungguh hatinya merasa tak tenang. Bagaimana bisa dia hanya seorang diri tanpa sang kekasih hati?
Keadaan saat ini semakin rumit bahkan terlalu rumit hingga tak bisa diuraikan begitu saja. Rasa sakit di hati Al karena ucapan Asma, tetapi tak sebanding dengan rasa sakit milik ia yang kini menatap seluruh kekacauan dengan mata penyesalan begitu dalam.
Tatapannya sendu, layu, lelah tak mampu mengutarakan apapun lagi selain tetesan air mata yang terus mengalir. Teriakannya tak sanggup keluar dari kerongkongan. Suara terjebak dengan bibir kelu tak mampu lagi berkata-kata hingga seseorang menyentuh bahu mencoba menguatkan meski dalam diam.
Ia sadar telah membuat kekacauan di tengah amarahnya tetapi setelah itu tidak akan menjadi seperti semula. Bingkai kaca yang benar-benar rusak bisa saja di ganti yang baru tapi luka di tangan dan hati, bagaimana?Meskipun ia mengobati tetap saja berbekas.
Luka fisik memang terlihat tetapi bukan rasa sakit itu yang menyiksa. Rasa sesal di dada dengan kecewa itu yang semakin menguasai jiwanya. Apakah ia tak pantas untuk mendapatkan cintanya lagi? Sekali lagi pertanyaan itu datang meski tak ada jawaban.
Hidup dan hatinya semakin tak menentu tetapi orang-orang di sekitarnya masih sangat menyayangi bahkan selalu setia mendukung. Keluarga yang selalu ada di setiap langkah kakinya, lalu apa kekurangan dari semua orang hingga selalu diabaikan. Tidak. Keterpurukan ini seharusnya enyah dari dalam keraguan hati dan pikiran.
Kesadarannya mulai kembali secara perlahan hingga pikiran jernih mulai bisa menetralkan rasa yang membelenggu. "Nando, apa kamu sudah menyelidiki video itu?" Rey menatap nanar pecahan kaca dari bingkai tanpa menoleh ke belakang memberikan pertanyaan pada saudaranya.
Sementara yang ditanya hanya bisa terdiam. Pertanyaan Rey tidak salah tetapi melihat situasi sebelumnya, ia lebih mementingkan menjaga sang saudara terlebih dahulu. Sudah jelas ia masih belum melakukan apapun. Diamnya cukup menjadi jawaban yang membuat Rey memahami tanpa bertanya lagi.
"Aku akan memeriksa sendiri dan urus perusakan untuk sementara waktu. Biarkan aku fokus mencari Asma karena aku tahu, dia sudah ada di sini. Aku yakin istriku akan kembali dengan caraku." Rey meyakinkan diri sendiri tetapi ia juga menginginkan Bagas untuk mundur dari tanggung jawab pencarian yang selama ini juga dilakukan secara bersama-sama.
"Dia, juga adikku." Bagas mencoba menyadarkan Rey agar tidak bertindak gegabah. "Aku juga berhak mencarinya. Bagaimana bisa kamu ingin aku melangkah mundur? Aku tahu, Asma istrimu tapi kita ini keluarga. Satu orang fokus mungkin bagus tapi bersama-sama akan lebih baik."
Rey beranjak dari tempat duduknya seraya menghapus air mata yang membasahi kedua pipinya. Sekali lagi ia mengedarkan pandangan mata melihat hasil dari kekacauan yang ia buat sendiri. Ruang galeri yang biasanya terlihat rapi, indah dan juga sangat nyaman untuk ditempati, kini berubah menjadi seperti kapal pecah yang dan semua itu karena ulah tangannya sendiri.
"Terkadang kita itu harus menjalani ujian seorang diri tanpa ada sandaran, dukungan ataupun pelukan. Seperti saat ini, inilah ujian kami, aku dan Asma dalam mencari jalan yang harus kita tempuh. Butterfly pernah mengatakan padaku sesuatu.
"Di kegelapan malam kita kesulitan untuk melihat karena semua sama, hanya hitam membutakan diri, tapi setitik cahaya sudah cukup memberikan petunjuk. Jangan pernah ragu untuk melangkah ketika kamu terjebak di dalam kegelapan yang nyata.
"Kita memiliki hati, akal dan juga tujuan. Sekali saja tetapkan hati dan pastikan kita meyakini keputusan yang diambil. Jika sudah benar, insya Allah semua akan kembali pada titik yang seharusnya, dimana takdir akan mempertemukan tetapi bisa saja memisahkan.
"Mungkin inilah yang butterfly maksud. Ujian dari setiap hubungan. Jangan khawatir karena aku tidak akan melakukan sesuatu yang membuat kalian harus melakukan hal lain lagi. Semua akan melalui hati dan akan kembali pada hati. Dia juga mengharapkan hal sama.
"Aku tidak tahu bagaimana keadaannya saat ini dan kenapa ia tak kembali padaku. Apakah sesuatu menahannya atau takdir ingin kami belajar arti rindu karena perpisahan. Biarlah esok menjadi awal kehidupan kami."
Penjelasan Rey membuat Bagas berpikir apa terjadi? Apakah benar ujian hidup atau ujian cinta. Dia merasa kehidupan kedua insan itu semakin rumit tak menentu yang membuat orang sekitarnya ikut terseret. Akan tetapi ia juga sadar bahwa Rey sangat mencintai adiknya begitu juga sebaliknya. Ya, dia yakin itu.
"Sesuai keinginanmu tapi kamu tidak berhak melarangku mencari keberadaan Asma. Aku tidak akan mengganggu setiap langkahmu selama itu tidak membahayakan jiwa." Bagas menerima keputusan Rey tanpa melepaskan haknya sebagai seorang kakak.