BEBAS PROMO
Ibuku pernah merusak rumah tangga seseorang dan pergi meninggalkan ayahku, dia lebih memilih melanjutkan hidup bersama selingkuhan nya itu.
Ternyata wanita yang bunuh diri karena ulah ibuku adalah ibu angkat suamiku. Sebelum bunuh diri wanita itu sempat menjadi gila, itulah kenapa presdir ini selalu menyiksaku di dalam istana mewahnya.
Akankah Andin harus menerima siksaan dari suaminya terus menerus? Ataukah takdir berbaik hati menciptakan kebahagiaan setelah ini?
Hanya kisah ciptaan, tak berniat menyinggung atau mencela pihak manapun. Authorinstagram : @sofiatus.gans
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon OppaSuga26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Soal 20 juta
Andin pulang ke villa, Alvin menghentikan mobilnya sebelum tepat di gerbang villa itu karena Andin merasa takut jika dirinya akan di marahi Hans.
"Kak, makasih sudah antar Andin ya,," Andin sedikit membungkuk di kaca mobil yang turun ke bawah.
"Iya ndin, sama sama, kelak jangan keluar malam malam di tempat asing yah"
Andin hanya tersenyum menerima nasihat dari Alvin. Saat baru beberapa langkah, Alvin memanggil namanya kembali.
"Andin"
Gadis itu berbalik.
"Iya kak?" Ucapnya sangat baik.
"Ingatlah dengan obat yang aku berikan."
Andin mengangguk berulang.
"Kalau begitu, kakak akan pulang saat kamu masuk kesana!"
"Tak apa kak, Andin pasti masuk kok"
"Iya kakak tau, kamu masuk sana, nanti kakak bakalan putar mobil dan pulang.."
Andin berbalik dan masuk ke pintu gerbang, Alvin masih memantau nya sampai Andin benar-benar masuk ke dalam villa.
Melewati gerbang dan masuk membuka pintu pelan pelan, tampaknya seperti menahan sakit memar di tubuhnya.
Andin berjalan berusaha meredam suara agar tak terdengar, tetapi disana sudah ada Hans yang duduk menyilangkan kaki di sofa tunggal.
"Dari mana saja?" Hans berbicara dingin.
Andin masih memilih diam karena tak ingin memperbesar masalah.
Hans berjalan mendekat dengan menatap Andin, saat tahu Hans mendekat gadis itu segera tertunduk.
"Kemana Velly??"
"Aa?,,"
"Aku bilang kemana Velly??!" Ujar Hans sedikit berteriak.
"D di dia belum pulang?"
"Dengar ini!, sampai Velly tak pulang hingga pagi dan terjadi sesuatu!, tak akan segan segan aku mengasari ayah mu!" Ucap Hans sesekali menunjuk Andin dengan jari telunjuk yang tergoyang goyang.
Andin mengangguk.
Andin tak duduk sampai Velly datang, sementara Hans sudah naik ke atas kamarnya terlebih dahulu.
Ccklek
Pintu di buka, Andin berbalik dengan semangat.
Terlihat Velly yang mengintip dengan kepala saja yang muncul dahulu dari balik pintu.
"Ehehee.. kakak ipar,," Ujar Velly yang unjuk gigi.
Andin segera berlari dan memeluk Velly.
"Kak? kakak ipar ada apa?.."
"Velly, syukurlah kamu tak apa, aku tak bisa tenang.."
Velly tak bisa membalas pelukan Andin karena salah satu tangannya memegang kantung belanjaan.
"Kakak ipar.. bajumu..."
Mendengar itu Andin segera melepaskan pelukan nya dan meninggalkan Velly tanpa sepatah kata pun.
Ia naik ke kamar dan masuk ke kamar mandi, di sana ia sesekali menggertakkan gigi dengan mata terpejam menahan sakit tatkala tangannya sendiri membersihkan luka memar itu.
Begitu lama Andin di kamar mandi, sayang sekali ia tak mencapai bagian punggung ketika mengloeskan obat luka dari Alvin.
Setelah keluar kamar mandi, gadis itu naik ke atas ranjang, Hans yang duduk di sofa dengan laptop di pangkuannya sesekali melirik Andin.
Andin terbaring tengkurap cukup lama, dan itu membuat Hans bertanya tanya.
"Hei dengar!, apa Velly sudah pulang?"
"Sudah tuan" Jawab Andin masih tengkurap.
"Bisakah jika menjawab bertatap dengan ku?!,,"
Andin bangun perlahan dan sedikit kesulitan.
Hans mendekat dan duduk di tepi ranjang bersama Andin.
"Tuan, Velly sudah pulang.."
"Ada apa dengan punggung mu itu?" Hans masih saja meninggikan ego nya untuk berbicara.
"Tidak ada tuan,,"
"Biar aku lihat!"
Tak banyak bicara, Hans berpindah tempat ke belakang Andin dan membuka kasar baju Andin.
"Astagaa.. ckckck memar memar begini kena apa?"
Andin mencoba meraih bajunya yang tertahan oleh Hans di belakang, sial nya Andin tak dapat menggapai.
"Apa kamu mempunyai obat atau apalah itu.."
Andin menggeleng berulang lantaran tak suka dengan Hans yang menahan bajunya.
Hans berdiri dengan lutut nya dan membuka baju Andin, lalu melempar baju itu ke depan Andin, spontan gadis itu mengambil bajunya dan menutupi kedua gundukan nya menyilang.
Hans turun mencari kotak p3k nya kesana kemari tak ketemu, sampai sampai ia melihat di tangan Andin ada obat yang ia maksud kan (heparin sodium).
Dengan kasar ia mengambil itu dan kembali bersila di balik punggung Andin.
Saat Hans membuka kaitan bra nya, Andin sempat menolak namun itu tak membuat Hans berhenti.
"Tuan, jangan, saya.."
"Sudahlah!, kamu pendek, lengan mu yang kecil mana sampai ke bagian memar yang ada di bawah sini." Hans mengloeskan dari yang paling bawah membuat Andin menggelinjang tak nyaman.
Hans mengloeskan dari bagian satu ke bagian yang lainnya, ia merasa sedikit terheran ketika mendapati memar yang seperti pukulan begitu banyak.
"Andin, bagaimana ada banyak luka memar disini? seseorang menghajar mu?"
Seketika Andin terdiam saat Hans menanyakan itu.
"Halo?? apa kamu ini tuli??"
Hans melambaikan tangan ke wajah Andin.
Andin menggeleng geleng membubarkan diam nya.
"Tuan,,"
Dengan memberanikan diri gadis itu memulai bicara dengan Hans.
"Hmm?"
"Bagaimana sshh-" Ujar Andin terpotong.
"Apanya?"
"Tuan bisakah jika aku minta kembali uangku yang anda simpan hari itu..?" Lirih Andin.
Andin segera memejamkan matanya karena ia tak sanggup jika mendengar jawaban tak enak dari mulut Hans, sementara Hans di balik punggungnya masih berfikir keras mengingat uang apa?
"Uang yang mana?"
Andin membuka satu matanya terheran bagaimana Hans bisa lupa akan uang itu.
*Astagaa.. sungguh kah jika dia sudah lupa? bagus jika begitu!, mungkin aku akan mendapat uang itu kembali..
"Saat itu tuan minta orang orang itu menyimpan nya, jadi apa boleh jika saya minta kembali?"
*Uang itu? mungkin saja gadis ini...
"Andin!, katakan padaku!"
"Apa tuan?"
Hans menghentikan gerakan tangan nya dan berpindah duduk ke depan Andin tanpa membenarkan kaitan bra yang sebelumnya ia buka.
Hans masih melihat wajah Andin dengan serius dan cukup lama sehingga membuat pipi Andin merona.
"Hei, lihat aku"
Perlahan Andin mengangkat pandangan nya namun kedua tangannya masih menyilang di dada.
"Orang orang menghajar mu karena uang itu?" Hans bertanya dengan tatapan yang serius.
Andin mengangguk pelan.
"Berapa banyak mereka?"
Hans masih menatap mata Andin yang mana itu membuat pipinya merona.
"Tak tahu.."
"Jika aku kembalikan, akan kamu pakai untuk apa?"
"Mengembalikan uang itu ke bi Miran, bukankah saat itu aku bilang uang itu uang pinjam..?"
"Bibi mu??"
Andin mengangguk.
🍵🍵🍵🍵🍵🍵🍵🍵🍵🍵
Pagi ini Andin di izinkan keluar sendirian oleh Hans, dia keluar dari villa megah itu dan menghentikan sebuah angkot, memang, awalnya ia tak tahu dimana lokasi villa itu, akan tetapi saat dirinya menerima uang itu Hans juga mengatakan dimana lokasi villa itu dan dari situlah Andin tahu dia akan kemana dan naik apa untuk tiba ke rumah bi Miran.
Entah apa yang membuat Hans yakin jika Andin akan benar-benar pergi mengembalikan uang itu, dia bahkan tak takut jika Andin berbohong dan malah pergi bersama Alvin atau melapor ke polisi atas tindakan nya kepada Andin.
----------
Rumah Bi Miran.
"Bii.."
Andin mengetuk beberapa kali sembari memanggil manggil Bi Miran.
Seseorang membuka pintu, ia tampak bahagia di balik senyum licik nya.
"Andin.."
Tanpa basa basi Bi Miran memeluk Andin, jujur itu membuat Andin terheran, ia teringat kejadian yang menimpanya semalam dan melepaskan pelukan itu perlahan.
"Bi Andin.."
Tak sempat dengan kalimat nya, Bi Miran langsung saja menggandeng Andin, dirinya duduk di sofa panjang, lalu menepuk nepuk sebelah nya mengisyaratkan agar Andin duduk juga.
"Kemari Andin, duduk dan santai saja.."
Andin masih berdiri, ia merasa heran dengan sikap Bi Miran yang tiba-tiba menjadi ramah begitu.
Ia memilih menggeleng sebagai jawaban.
"Bi, Andin mau kembalikan uang bibi..."
"Ck.. gadis ini benar-benar.."
Bi Miran menghampiri dan mencabut kasar uang itu dari tangan Andin, ia menghitung uang itu dan tak lagi menganggap kehadiran Andin.
"Ini masih belum cukup!!" Teriak Bi Miran.
Dengan kasar wanita itu membuang uang dari Andin, teriakan itu membuat tubuh Andin bergetar lantaran takut.
*Apanya yang kurang...? itu sudah benar!..., aku menghitung nya!, bagaimana bisa kurang...?
Bi Miran menarik kuat rambut Andin dan menatap nya tajam seolah akan menerkam habis Andin.
"Aa.. aakkhh.."
Mendengar itu keluar dari mulut Andin, Bi Miran menambah kuat tarikan nya.
"Dengar Andin!, sudah berapa lama kamu menghilang tak ada kabar?!.." Ujar nya lirih tapi penuh amarah.
"Maaf bi..."
Andin hanya mengatakan itu karena ia merasa sakit ketika Bi Miran tak melepaskan rambutnya.
"Kamu harus bayar 30 juta!!!" Teriak Bi Miran.
Andin memejamkan matanya ketika Bi Miran berteriak.
"Kamu fikir aku bodoh?!, aku berbelas kasihan kepada kamu dan malah menghilang bak di telan bumi begitu saja.."
"Maaf bi.."
Miran semakin geram karena menganggap maaf dari Andin hanyalah sandiwara.
"Cih!,"
Miran melepaskan tangan nya, ia kembali duduk dan menyeruput segelas teh di atas meja.
"Kalian!, habis kan gadis itu!"
Andin kebingungan, ia semakin takut ketika Bi Miran mengatakan itu.
Tak lama beberapa orang datang dari pintu masuk, mendengar langkah kakinya saja Andin sudah bersiap, ia memejamkan matanya kuat kuat.
Bbukk
Seseorang melemparkan uang ke kaki Andin.
"Itu uang yang kamu mau!"
Miran yang memejamkan matanya dan bersandar pada sandaran sofa kembali bersemangat dan mengambil uang itu dari dekat kaki Andin.
Andin membuka matanya merasakan rangsangan jikalau ada seseorang di bawahnya. Tanpa Miran sadari ia telah berlutut ke Andin demi mengambil uang itu.
Miran kembali berdiri dan menghitung uang itu.
"Nah gitu dong!.."
Miran melihat Andin dan ada beberapa orang di belakangnya.
"Hei kamu!!, siapa kamu!!, berani beraninya masuk kemari!!"
Teriak Bi Miran sembari menunjuk nunjuk Hans dengan jari telunjuk nya.
Bbukk
Hans kembali melempari Miran uang dan membuat Andin menoleh.
*Hans??... mau apa dia kemari??,
"Bisakah jika aku meminta waktu mu? aku sudah membayar banyak hanya untuk lima menit,,"
Miran mengangguk kuat dan bersemangat.
*Jika lima menit di bayar 10 juta, maka....
"Iya tak apa, ada perlu apa?" Mendadak menjadi begitu ramah.
Hans menyeringai. "Kalian!, aku sudah membeli waktunya!, masuk dan hajar dia!, aku dan istriku akan duduk melihat saja.. akan aku pastikan tepat lima menit!"
-------------------------
BERSAMBUNG...