Ini kisah seorang gadis cantik, Sheilla Abraham namanya. Seorang gadis nakal, pembuat onar yang akhirnya memutuskan untuk berubah.
Namun, ternyata keputusan Sheilla untuk berubah malah membuat nya menjadi bahan bullyan di sekolah baru nya.
Lalu, akankah Sheilla melawan? atau membiarkanmu dirinya menjadi bahan bullyan murid-murid di SMA Raharja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizkook lovers, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Twenty Nine
...Tidak ada yang abadi dalam hidup ini. Sesuatu yang bernyawa, pasti akan mati. Itu sudah menjadi hukum alam. Tidak ada yang bisa kita lakukan sebagai makhluknya, kita hanya bisa mengikhlaskan dan berdoa semoga yang pergi dapat di Terima di sisi yang kuasa....
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Sheilla pikir, setelah malam itu, ibunya akan berubah. Menjadi lebih memperhatikan ia dan saudaranya. Namun nyatanya apa yang Sheilla pikirkan salah.
Orang tuanya masih tetap sibuk dengan pekerjaan mereka, tak jarang mereka meninggalkan acara tahlilan untuk oma hanya karena meeting dan apapun itu yang menyangkut pekerjaan mereka.
Sheilla tidak habis pikir, tahlil itu cuma tujuh hari, namun mereka sama sekali tidak bisa menghadiri.
Pernah sekali mereka hadir, itupun hanya di hari pertama saja, dan seterusnya mereka tidak pernah hadir.
Sheilla lebih kecewa dengan sang daddy dari pada mommy nya. Ini adalah acara tahlilan untuk ibu daddy nya itu, namun daddy nya seolah tak peduli. Bolehkah jika Sheilla menganggap daddy nya sebagai anak durhaka?
Namun, tanpa Sheilla ketahui, orang tuanya ternyata menyelenggarakan acara tahlilan sendiri di kantor mereka. Karena mereka berpikir, jika mereka menyelenggarakan juga di kantor, maka akan ada lebih banyak orang yang mendoakan oma.
Sheilla masih berharap jika kali ini orang tuanya akan datang, karena ini adalah hari terakhir atau bisa kita katakan masal.
Syifa sadar dengan pandangan Sheilla yang selalu menatap pintu rumahnya, ia pun memeluk gadis itu dari samping. "Kali ini mereka akan datang, percaya dengan mommy."
Sheilla tersenyum, ia juga berharap begitu. "Yah, semoga saja."
Syifa tahu, pasti Sheilla sangat kecewa dengan orang tuanya. Jina yang ada di sana juga langsung memeluk Sheilla.
"Hey, cantik nya mama kok sedih sih. Jangan sedih lagi dong sayang."
Sheilla memeluk Jina, melepaskan pelukan nya pada Syifa.
Jina mengusap bahu Sheilla pelan, "Disini sudah ada Mama, mommy Syifa, Daddy Reno, Papa, Ryan sama uang lainnya. Sheilla jangan sedih ya."
"Tapi kenapa mereka tidak datang? ini tahlilan untuk oma, seharusnya mereka datang hiks..." Sheilla mulai berani buka suara.
Ryan hanya bisa diam di sana, kini yang Sheilla butuhkan bukan lah dirinya, namun sosok orang tua yang bisa menjadi tempatnya nya mencurahkan isi hati.
Reno dan Rendy mendekat, mereka mencurah seluruh kasih sayangnya untuk Sheilla supaya gadis itu tidak merasa jika tidak ada yang menyayanginya lagi setelah sang oma tiaada.
Sadar jika di sana ada Alena dan Nathan yang juga butuh kasih sayang, Syifa pun meminta mereka untuk mendekat.
Alena dan Nathan pun mendekat dengan senang hati, mereka berpelukan dengan erat. Ryan tersenyum melihat nya, mereka semua terlihat bahagia.
Netra hijau Ryan tak sengaja melirik ke arah pintu, ternyata di sana sudah berdiri kedua orang tua Sheilla dengan baju kantor lengkap.
Mereka hanya terdiam melihat ke tiga anaknya memeluk orang lain dengan erat, melihat bagaimana anak-anak mereka mendapatkan kasih sayang yang seharusnya di dapat kan dari mereka.
•
Tahlilan selesai, Victor dan Riana berjalan mendekat, namun baik Sheilla, Alena, maupun Nathan bersikap seolah mereka tidak ada.
Mereka tidak peduli jika orang tuanya ada di sana, mereka sudah terlanjur kecewa.
Bahkan Alena dengan sengaja bersikap manja kepada Jina di depan Riana, "Mama, Alena lapar, suapin ya."
Jina yang tidak mengerti pun hanya bersikap seperti biasa, meladeni kemauan Alena dengan lembut dan sepenuh hati.
Ia menyuapi Alena, membuat Riana sedikit cemburu. Ya, ia cemburu ketika anaknya bisa bebas bermanja kepada orang lain. Namun ia juga sadar diri bahwa semua ini adalah salah nya.
Victor hanya diam ketika Reno dan Rendy menghampiri dan mengajak ia mengobrol. Awalnya mereka hanya membahas pekerjaan seperti bapak-bapak pada umumnya. Namun Reno tiba-tiba menyinggung soal Sheilla.
"Sheilla cantik ya, pantes aja anak saya bucin banget. Tiap hari yang di omongin Sheilla mulu, mau tidur aja harus sleep call," Puji Reno.
Rendy mengangguk setuju, "Alena juga cantik banget, tapi dia punya gaya yang unik dan berani."
"Nah iya, Nathan juga ganteng banget, anaknya pinter dan dewasa."
Keduanya tertawa, sedangkan tuan Victor? ia hanya diam. Namun diam-diam, ia juga merasa bangga dengan anak-anak nya. Mereka anak-anak yang bukan hanya paras nya saja yang unggul, tapi mereka memiliki kemampuan yang unik. Seperti Sheilla dengan suara dan kecerdasan nya, Alena pemain basket yang hebat, dan Nathan, terlihat sekali ia memiliki keahlian dalam dunia bisnis.
Namun sayang sekali, gengsi nya terlalu besar hingga menutupi segala cinta dan rasa bangganya pada sang anak.
•
•
Pemandangan malam itu menyadarkan kedua orang tua Sheilla pada satu hal, ternyata mereka telah sejauh itu dengan anak-anak mereka.
Dulu Sheilla selalu bisa mencurahkan seluruh keluh kesahnya kepada mereka dengan begitu bebas, namun sekarang? Hal itu terasa mustahil.
Dulu Alena selalu manja, mereka meminta ini dan itu kepada mereka, namun sekarang? Gadis itu tidak lagi bersikap manja, namun kasar.
Lalu si sulung Nathan, anak laki-laki yang dulu selalu meminta bantuan untuk menyelesaikan masalah nya, kini anak laki-laki itu telah tumbuh hebat. Ia sudah tidak membutuhkan bantuan siapapun lagi untuk setiap masalah yang ia hadapi.
"Dad... mommy jadi merasa bersalah." Malam indah itu di habiskan Riana dan Victor untuk merenungi kesalahan mereka.
Victor menghela nafas, "Daddy lebih merasa bersalah. Padahal di rumah ada tahlil yang di selenggarakan untuk mama, namun daddy tidak pernah hadir. Anak macam apa daddy ini."
Riana memeluk suaminya, mengusap lengan kekar itu dengan pelan. "Tapi daddy masih ngedoain mama dari kantor, bahkan buat acara tahlilan sendiri."
"Tapi tetap saja daddy merasa bersalah. Daddy gagal menjadi anak dan ayah yang baik."
Ya, mereka benar-benar gagal hingga orang lain saja lebih bisa menyayangi anak-anak mereka daripada mereka sendiri.
•
•
Jam sudah menunjukkan pukul 00.46 namun Sheilla masih saja belum bisa tidur.
Gadis itu duduk di atas ranjang kamarnya sambil menatap foto dirinya dan sang Oma, foto ketika ia masih kecil dulu.
"Oma, Sheilla kecewa oma, Sheilla kecewa banget sama mereka. Kenapa mereka bisa sejahat ini sama oma? kenapa?"
Sheilla menggigit bibir bawahnya, mati-matian menahan air matanya untuk tidak lolos. Namun sayang, itu tak bertahan lama karena sungguh, Sheilla tidak bisa menahan perasaan nya lagi.
"Oma hiks... Sheilla kangen oma... Boleh gak kalau Sheilla ikut oma? Sheilla kangen."
Pikirannya mulai kacau, tangisan Sheilla semakin tidak terkendali.
Sheilla ingin berteriak, namun ia masih sadar untuk tidak membuat orang-orang rumah terbangun di tengah malam.
•
•
Pagi ini Riana berinisiatif untuk memasakkan sarapan untuk seluruh anggota keluarga nya.
Ia memasak semua makanan yang anggota keluarga nya sukai, semua makanan sudah tersaji di meja makan, kini ia tinggal menunggu yang lain turun.
"Pagi Alena, ayo makan, mommy udah masakin makanan kesukaan kamu lho."
Alena mengangkat satu alisnya, berjalan mendekati meja makan dengan langkah pelan. "Mommy masakin kami sarapan? beneran?" Tanyanya ragu.
Riana mengangguk dengan senyuman manis, ia menarikan kursi untuk Alena duduki dan mengisi piring untuk Alena.
"Ini ada telur, nasi goreng, udang sama sosis kesukaan kamu."
Alena masih menatap wajah sang mommy bingung, ini beneran kan? Alena gak lagi mimpi kan?
"Mommy sakit ya?" Pertanyaan Alena yang di balas kekehan oleh Riana. "Nggak lah sayang, mommy sehat kok."
Riana kembali duduk di tempat nya, "Kamu mah makan sekarang atau nunggu yang lain?"
"Nunggu yang lain aja, lagipula nanti Alena daring, jadi gak berangkat sekolah."
Riana mengangguk faham, ia terus tersenyum sambil menatap Alena. Alena jadi merinding dibuat nya.
Tak berselang lama, Nathan pun turun di susul sang daddy. Riana juga langsung melayani anak sulung dan suaminya itu dengan baik membuat Nathan terheran-heran.
Saat Sheilla turun, Riana juga memanggilnya untuk sarapan, namun... "Lala sayang, ayo sarapan, mommy masakin makanan kesukaan kamu lho."
"Maaf, Sheilla mau pergi jalan sama mommy Syifa."
Sheilla berlalu begitu saja tidak menghiraukan seluruh keluarga nya, entahlah, ia sedang tidak dalam suasana hati yang baik sekarang.
"Udah mom, Sheilla mungkin masih kecewa sama kalian." Nathan mengerti, pasti sang mommy sedang sedih.
"Ya jelas lah kak Sheilla kecewa berat, orang kelakuan kalian aja gitu."
"Alena!" Tegur Nathan.
Alena mendengus sebentar sebelum meminta maaf atas ucapannya. Riana pun dengan senang hati memaafkannya, lagipula apa yang Alena katakan memang benar.
ikutan sedih,,,soal ny penjahat asli ny lom tahu ad dendam ap sma sma sheilla trus kn kayak sembunyi d balik layar gthu,,,,
ryan keren,dh kayak pangeran berkuda besi ajj,,,🤭🤭🤭