NovelToon NovelToon
Nala

Nala

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Roh Supernatural / Horor
Popularitas:154.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nikodemus Yudho Sulistyo

Pada umurnya yang ketigabelas, Nala Turasih pernah sakit parah dan meninggal. Warga kampung menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri ketika gadis itu kembali hidup setelah baru saja dipocongi.

Novel ini terdiri atas beberapa Serat dan Hikayat yang jalan ceritanya berpusat pada tokoh utama, Nala Turasih:

Serat Grha Pamujan
Serat Bhumi Menungsa
Serat Jiwa
Serat Samudra Yudha
Serat Pamungkasan
Hikayat Sang Nayu
Hikayat Amin Kelaru

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nikodemus Yudho Sulistyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Serat Grha Pamujan - Altar Pemujaan

Pak Kuranji tak memiliki kesempatan untuk terkejut lagi. Tanpa melihat dua kali lagi pun, Pak Kuranji tahu bahwa sosok hantu yang mengambang di atas tubuh Nala Turasih yang melengkung mengejang dan berteriak-teriak kalut itu adalah Sudarmi, mendiang ibu mertuanya dan ibu kandung Nala Turasih sendiri yang lukisannya telah ia cabik-cabik tadi.

Pak Kuranji melaju cepat kemudian menarik tubuh Nala Turasih dengan keras. Tubuh ramping sang gadis dengan gampangnya Pak Kuranji angkat. Tubuh gadis itu begitu lemah, melemas setelah sebelumnya menegang dan kejang. Untungnya Pak Kuranji sudah mengangkat tubuh itu menjauh dari sang sosok.

Karambitnya terlepas dari tangannya dan terlempar ke sudut ruangan.

“Dek Nala, kamu tidak apa-apa?” ujar Pak Kuranji sedikit panik. Ia menepuk-nepuk pipi sang dara yang pucat dengan perlahan.

Sepasang mata indah Nala Turasih yang tertutup kini terbuka, tetapi pandangannya masih menunjukkan ketakutan yang sangat. Ia membeliak dan bola matanya bergerak-gerak liar. Begitu pula dengan nafasnya yang terengah-engah.

Sosok hantu tersebut masih mengambang, tapi kini lekat memandang ke arah Nala Turasih seakan-akan tak ada Pak Kuranji disana.

Nala Turasih akhirnya dapat memokuskan pandangannya ke arah Pak Kuranji. “Bang, abang Kuranji?” ujarnya lirih.

Pak Kuranji bernafas lega. Dengan begitu gesit dan seperti tanpa mengeluarkan tenaga saja ia membopong tubuh Nala Turasih di bahunya kemudian keluar dari ruangan tersebut. “Kita harus meninggalkan rumah ini, dek Nala,” ujarnya pendek.

Wajah Nala Turasih menggantung di punggung Pak Kuranji. Setengah sadar gadis itu berpaling dan melihat sang ibu dengan wajahnya yang pucat serta mata melotot semerah darah melayang menembus dinding mengejar ke arahnya. Kesadaran langsung menyentak di dalam dadanya. Nala Turasih berteriak, “Bang Kuranji. Ibu sedang mengejar kita!”

Pak Kuranji merutuk dalam hati. Ia mempercepat larinya, melangkahi tiga sampai empat anak tangga sekaligus.

Pak Kuranji berlari begitu kencang melewati pilar, ketika sosok sang hantu muncul menembus lampu gantung. Pak Kuranji semakin mempercepat langkahnya melompati kursi panjang dan meja jati untuk sampai ke pintu depan sampai kemudian ia tersentak dan hampir kehilangan keseimbangan tubuh ketika melihat sosok binatang besar berwarna hitam mencelat di depannya dan menghilang di sebuah lorong.

“Datuk?” gumam Pak Kuranji.

“Bang Kuranji, cepat bang. Hantu ibuku akan segera sampai. Ia tadi hampir membunuhku!” ujar Nala Turasih lemah.

“Sabar, dek Nala. Kita tidak akan bisa berlari dari kejaran arwah itu. Percaya dengan aku, dek Nala,” ujar Pak Kuranji masih membopong Nala Turasih.

Pak Kuranji membatalkan tujuannya. Ia berbalik dan berlari ke arah sosok hitam tadi berlari. Tak lama, tepat di depannya, seekor macan kumbang berwarna segelap malam memandang ke arahnya dan kembali berlari. Ini membuat Pak Kuranji yakin bahwa Datuk Macan Kumbang sedang memintanya untuk mengikuti arah kemana ia pergi.

Hanya dalam beberapa langkah kemudian sosok macan kumbang gaib tersebut hilang entah kemana bagaikan tak pernah benar-benar ada.

Nala Turasih bergerak, kemudian meminta diturunkan. Ia masih memerlukan bantuan Pak Kuranji untuk dapat berdiri tegak. “Bang, mengapa kita kesini? Megapa kita tidak cepat pergi dari rumah ini?”

“Aku juga tak tahu, dek Nala. Ada yang mengarahkanku ke tempat ini, tetapi aku tidak bisa dengan pasti mengerti tujuan dan maksudnya,” jawab Pak Kuranji masih memindai tempat itu, melihat kesana dan kemari.

“Bang Kuranji, apa yang abang maksud? Siapa yang mengarahkan abang ke ruangan keramat bapak? Kita harus pergi dari si ….”

“Ruangan keramat? Apa maksudnya, dek Nala?”

“Sudah lahbang, cepat, kita harus kembali ke pintu depan untuk segera pergi. Ruangan itu hanya berisi altar aneh. Aku dan pacarku dulu bercanda tentang mendiang bapak yang berdukun,” ujar Nala Turasih sembari menunjuk ke arah sebuah ruangan.

“Altar?” gumam Pak Kuranji. “Ikut aku masuk, dek Nala. Tolong percaya saja padaku,” ujar Pak Kuranji. Ia meraih tangan Nala Turasih dan membimbing untuk mengikutinya masuk ke dalam ruangan tersebut.

Nala Turasih yang masih dalam keadaan syok, takut dan bingung, pada akhirnya tetap mengikuti Pak Kuranji demi melihat kesungguhan di air muka sang abang ipar. Nala Turasih tak pernah melihat wajah Pak Kuranji sekeras dan setegang ini. Uniknya, sekalut apapun dirinya sekarang, di saat yang sama ia juga yakin Pak Kuranji pasti akan membantunya. Buktinya laki-laki itu tetap ada di sekitarnya, membantunya ketika ia sedang dalam sebuah keadaan yang luar biasa menakutkan.

“Tadi aku kemari, dek Nala,” ujar Pak Kuranji. Mahluk manusia kadal dengan mata banyak itu sudah tidak ada di tempat itu. Lantai, pilar, langit-langit, semua terlihat bersih. Pak Kuranji memandang sepasang mata Nala Turasih. “Tadi aku bertemu dengan sosok diri kamu yang mengajakku ke tempat ini.”

“Apa? Bukan aku, bang Kuranji. Tadi setelah berbincang-bincang, kita memutuskan untuk tidur. Maka aku masuk ke kamar,” protes Nala Turasih.

Pak Kuranji mengangkat dan mengibas-ngibaskan tangannya. “Iya, aku tahu, dek Nala. Mahluk itu menipu kita berdua.”

“Tapi, aku memang pernah masuk ke ruangan ini, bang. Waktu itu, aku masih berumur tiga belas tahun. Aku dan pacarku … ehm, melakukan hal yang tidak senonoh. Setelah itu, aku tak begitu ingat karena aku mendadak sakit keras. Orang-orang desa berkata bahwa aku sempat meninggal. Aku kemudian berpikir apakah itu karena aku, ehm … kami melakukannya di ruangan ini?” ujar Nala Turasih masih merasa tidak enak mengatakan mengenai kenakalannya di masa muda meski sekarang mereka dalam keadaan ketakutan pula.

“Tidak perlu merasa tidak enak seperti itu, dek Nala. Aku juga tadi melakukan hal cabul kepadamu di tempat ini,” ujar Pak Kuranji, tetapi hanya ia katakan di dalam hati. Ia benar tidak menyalahkan apalagi menghakimi sang adik ipar karena toh ia sendiri paham rasanya diselimuti hawa nafsu.

Hanya saja akibat penjelasan Nala Turasih tersebut Pak Kuranji mendapatkan pencerahan. Itu sebabnya Datuk Macan Kumbang membawanya kemari. Kamar ini adalah pusat kemudi rumah gaib, dimana lukisan tengah sang ibu adalah mesin yang menggerakkan segala kegiatan sihir di dalamnya.

“Aku ingat ketika aku dipancing mahluk yang meniru kamu, dek Nala, altar itu sama sekali tidak bergerak. Berbeda dengan bagian-bagian yang lain, seperti dinding, lantai sampai langit-langit,” ujar Pak Kuranji.

Nala Turasih mengernyit. “Maksud abang?”

“Nanti saja kujelaskan, dek Nala,” balas Pak Kuranji pendek. Ia berlari kecil mendekat ke arah altar dengan beragam benda di atasnya. Nala Turasih mengikutinya. Di paling tengah altar tersebut, ada sebuah benda dari batu serupa sebuah candi kecil.

Pak Kuranji tersentak. Ia memandang ke arah Nala Turasih yang ternyata juga menunjukkan mimik wajah yang sama.

“Aku tidak memerhatikan bahwa selama ini bangunan serupa tugu atau candi di makam bapak dan ibu sama persis dengan yang ada di atas altar ini, bang Kuranji,” seru Nala Turasih.

Pak Kuranji mengangguk setuju karena ia juga masih ingat betul dengan bentuk tugu peringatan di kompleks kuburan kedua mertuanya itu.

Suara geraman keras terdengar memantul di dinding ruangan.

Arwah Sudarmi menembus pintu kemudian pilar dan mengambang tepat di belakang Nala Turasih dan Pak Kuranji.

Sudarmi tidak terlihat setua waktu wafatnya. Jauh lebih muda bahkan. Wajahnya memang pucat dan mengandung raut wajah mengerikan, penuh penderitaan, dendam dan angkara murka. Rambutnya tergerai lurus tetapi melambai-lambai bagai ada angin yang menggerakkannya. Sepasang matanya melotot merah darah. Kecantikan yang serupa dengan garis-garis wajah Nala Turasih dan Tasmirah hampir tertutup seluruhnya dengan sejarah nafsu dan hasrat yang begitu gelap. Rasa sakit serta kekecewaan membayang dari sorot mata benci dendamnya.

1
☠️⃝ 😈BanNarXJeki👿
wowh mengerti tapi keren 👍
Ali B.U
lanjut
Ali B.U
next
Ali B.U
.next
Ali B.U
next
Ali B.U
lanjut
Ali B.U
kayak semdal sepatu
Ali B.U
.next
Ali B.U
.next
Ali B.U
next
Ali B.U
next.
Ali B.U
next
Ali B.U
next.
Ali B.U
.next
Ali B.U
next
〈⎳ 趙親王
keren
Nikodemus Yudho Sulistyo: ikuti terus ya..😁🙏🏻
total 1 replies
〈⎳ 趙親王
wow, apaan tuh?
〈⎳ 趙親王
visualisasi narasinya natural, runut, dan nyaman dibaca. 👍
Ida Trida
atau karna tidur sandek olo ya... habis baca ini novel qu di ganggu dalam mimpi.....
Nikodemus Yudho Sulistyo: oiya? 😲
total 1 replies
LɪᴢZʏ AᴜʀᴏRᴀ❷❶ℓ🔥
akhirnya setelah sekian purnama Dek Nala update lagi 😁

semangatt pak Nikodemus ✊

jadi ? Nala itu titisan Nara dan putri junjung buih?

kira-kira respon pak Kuranji gmna tuh, smakin insecure kah?

next pak Nikodemus 👌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!