(PERHATIAN!! bacaan ini akan membuat mu geram... skip saja bagi yang tidak kuat membaca, tentang perselingkuhan 😊🙏)
aku Adam Riansyah, pria berusia 32 tahun.
seorang operator alat berat, yang harus bekerja di kota yang jauh. dan terkadang berpindah dari satu kota ke kota yang lain.
meninggalkan seorang istri yang baru ku nikahi empat tahun yang lalu, juga seorang anak berusia tiga tahun.
kata orang hidup di perantauan itu mudah, benarkah begitu?
aku rasa tidak!
apalagi aku adalah pria yang sudah menikah, berusaha menahan hasrat berbulan-bulan sangatlah sulit bukan. godaan demi godaan sering datang menghampiri, dimana teman-teman ku bahkan lebih memilih untuk menikah diam-diam atau mungkin menyewa wanita demi memenuhi hasratnya.
hingga akhirnya aku bertemu dengan Andini, seorang janda yang baik hati serta ramah. wanita yang bekerja sebagai penjual nasi dan kopi di tempat ku bekerja. membuat ku merasakan kenyamanan saat di dekatnya...
di sinilah kesetiaan ku mulai di uji...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon picisan imut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
keinginan gila Adam Riansyah
Dalam perjalanan pulang, hujan deras pun turun. Membuat Adam memutuskan untuk menepi sejenak untuk berteduh di sebuah bedeng kosong, sepertinya hanya terisi di saat siang hari. Karena di sekeliling ada lahan singkong dan jagung.
Di depan bedeng keduanya mengusap-usap lengan masing-masing, karena basah.
"Baju mu basah tidak, Dini?" Tanya Adam.
"Lumayan mas... Ya ampun, hujannya jadi deras begini. Mana sepi lagi."
Adam tersenyum. "Kenapa, takut ya?"
"Sedikit." Jawab Andini tanpa menoleh, ia masih fokus menatap hujan yang turun dengan derasnya.
"Jangan takut, kamu kan tidak sendirian. Ada aku." Menyentuh tangan Andini, namun wanita itu menepisnya.
"Jangan pegang-pegang tangan Dini dong mas,"
"Kenapa?" Tanya Adam.
"Tempat ini terlalu sepi, dan yang ku takutkan itu kamu malah, bukan hantu." Terkekeh.
"Enak saja... Kamu pikir aku lebih menakutkan dari pada hantu ya?" Tanya Adam.
"Iya..." Tergelak.
"Minta di kasih pelajaran kamu ini."
"Hahaha, nggak mas... tapi benar kan Kamu lebih mengerikan dari pada hantu, karena kamu bisa membuat iman ku goyah." Dini meraih air yang jatuh dari genting seng itu lalu mencipratkannya ke wajah Adam yang langsung terkesiap kaget.
"Dasar kamu ya." Adam membalas itu ke Andini membuat keduanya tertawa bersama dalam bedeng yang cukup gelap itu. Dini pun berjalan masuk menghindari Adam, sembari menggosok-gosok kedua telapak tangannya menghalau dingin. lalu duduk di salah satu bangku panjang yang terbuat dari kayu di sana. Diikuti Adam yang langsung duduk di sebelahnya.
"Kamu kedinginan? Mau ku peluk?"
"Jangan macam-macam deh..."
"Kenapa sih? Aku juga kedinginan loh." Kedua tangan Adam sudah melebar hendak memeluk Andini namun gadis itu menghindar, seraya mendorong dada bidang Adam membuatnya terkekeh.
"Jangan peluk-peluk, nggak mau."
"Kenapa sih? Biar hangat."
"Hangat, yang ada panas nanti. Jaga jarak sana."
"Nggak mau." Mas Adam meraih kedua tangan Andini dan meletakkan telapak tangan itu di kedua pipinya. Membuat Andini gugup, dengan debaran jantung yang semakin tak beraturan.
'duh, kenapa dia membuat ku jadi seperti ini sih.' batin Dini yang semakin tak karuan.
"Hangat tidak?" Menatap mata Andini dalam-dalam.
"Hangat, tapi nggak nyaman akunya."
"Kenapa?" Terkekeh. Kedua tangan Adam masih menahan kedua tangan Dini yang sudah berusaha melepaskan diri.
Hingga Adam pun menurunkannya lalu menarik gadis itu hingga masuk kedalam pelukannya. "Kena kamu. Hahaha."
"Mas... Lepas tidak. Jangan seperti ini." Dini berontak, sementara Adam hanya tergelak.
"Kenapa sih?" Masih terkekeh.
"Mas lepas. Jangan peluk-peluk begini. Kita jadi kaya... Emmmm lupakan."
Adam tersenyum. "Kaya apa? Ayo teruskan." Adam masih menahan pada posisi itu, hingga keduanya hening dalam suasana canggung sembari saling tatap.
"Kamu cantik Andini. Aku?" Adam mendekati bibir Andini pelan, malam yang dingin, di tambah suasana yang sepi dan sedikit gelap itu membuatnya hilang akal, sehingga dia tidak lagi mengingat Vanesa. karena yang membuatnya berdebar-debar saat ini adalah Andini, hingga satu Senti lagi bibir mereka akan menyatu, Dini pun memalingkan wajahnya menghindari kecupan Adam. Pria itu pun paham, dia lantas tersenyum.
'kenapa pria ini tampan sekali, dan sangat membuat ku nyaman sih?' batin Dini yang mulai tidak bisa mengontrol dirinya, namun dia langsung menggeleng cepat.
"Andini?" Adam mengusap wajah ayu di hadapannya dengan punggung jari-jarinya, serta menyentuh bibir yang sudah sangat menggodanya itu. "Aku ingin menjalin hubungan lebih dengan mu? Kamu mau kan?" Tanya Adam menawarkan. Sementara Dini hanya terdiam sesaat menatap mimik keseriusan di wajah Adam. Seperti biasa Dia pun hanya terkekeh kemudian seraya Mendorong dada Adam pelan.
"Nggak..." Jawabnya tegas.
"Kok nggak? Sebenarnya kamu suka aku tidak sih?" Meraih tangan Andini, lalu mengecupnya. Gadis itu pun semakin berdebar-debar, namun dia masih mengontrol diri.
"Suka.... Aku suka kamu mas." Jawab Andini jujur. "Siapa yang nggak suka sama pria tampan, pendiam dan baik hati seperti mu mas Adam, apa lagi kamu ini mapan." Dini geleng-geleng kepala, dia pun menarik tangannya sendiri melepaskannya dari genggaman Adam, namun kembali tangan itu di raihnya dan di genggamannya semakin erat dengan kedua tangan Adam.
"Itu kamu mengakui kan? Kalau begitu kenapa tidak mau menjalin hubungan lebih dengan ku? Oh atau mau ku nikahi saja? Aku siap.... Bahkan bila perlu malam ini juga."
"Nggak... Nggak... Kamu tuh punya istri ya mas. Jangan macem-macem deh."
"Nggak apa-apa kita nikah diam-diam di sini. Ketika aku pindah tugas pun, kamu akan tetap ku datangi dan ku nafkahi Andini. Akan ku beri jatah libur ku dengan adil, dua Minggu bersama mu, dan dua Minggu bersama Nesa."
"Nggak...!"
"Kok nggak sih?"
"Ya nggak mau, kamu kan tahu mas? Aku tidak mau jadi madu siapapun."
"Katanya kamu ada rasa terhadap ku. Lalu kenapa kamu tidak mau berusaha buat merebut ku dari Nesa... Toh aku juga menyukai mu. Bahkan mungkin kalau kau mau, aku meninggalkan Nesa? Itu akan aku lakukan." Dengan egoisnya Adam berbicara seperti itu, membuat Andini geleng-geleng kepala tidak habis pikir. "Andini? Jujur ya, perasaan ku ini lebih berat kepada mu ketimbang Nesa."
"Hahaha... Manisnya ucapan pria ini ya. Ckckckck."
"Kamu tidak percaya?" Tanya Adam.
"Ya nggak lah... Ngapain percaya dengan pria yang mudah mengucapkan kalimat seperti itu kepada seorang wanita, sedangkan sendirinya sudah berkeluarga."
"Aku serius Andini... Aku tuh benar-benar menyukai mu. Bahkan akhir-akhir ini aku mulai jarang menghubungi Nesa. Semua karena kenyamanan ku sudah ada di sini, bukan di sana lagi."
"Ya ampun mas Adam.... Kamu tuh jahat sekali ya mas. Sumpah...!" Andini melepaskan tangannya lagi namun sepertinya semakin erat Adam menggenggamnya.
"Kenapa kamu bilang jahat?" Adam bertanya dengan serius.
"Iya... Kamu jahat. Nggak ada bedanya dengan pria-pria yang lain. Sudah punya istri, namun masih mau menikahi wanita lain lagi. Tanpa peduli perasaan istri mu di sana, dan bilang kenyamanan mu sudah ada di sini, bagaimana perasaan istri mu jika tahu suaminya berkata seperti ini pada wanita lain?"
"Andini... Kenapa kamu terlalu peduli perasaan Nesa sih? Yang penting kan kebahagiaan kamu, aku akan membuat mu bahagia ketika kita bersama."
"Benar ya... Memang tidak ada laki-laki yang bisa di pegang kesetiaannya."
"Kok kamu bilang gitu, aku selama ini setia kok. Kamu kan tahu, selama aku menjalani hubungan pacaran sampai menikah. Aku tidak pernah menduakan Nesa. Aku tidak pernah selingkuh."
"Dan sekarang? Kau mau coba-coba mas?" Hunus Andini membuat Adam bungkam. "Kau mau coba-coba selingkuh, bahkan ngerinya kau mau berpoligami diam-diam? Yakin kah sanggup untuk menerima konsekuensinya?"
"Maksudnya?" Tanya Adam.
"Ada nggak sih? Sebuah hubungan gelap yang mulus tanpa terendus?" Andini terkekeh, saat Adam hanya diam saja. "Kamu nggak bisa jawab kan mas?"
"Aku tahu itu Dini... Namun?"
"Aku tidak ingin menjadi bara di pernikahan mu dan istri mu... Kau punya anak perempuan mas. Dia bisa terluka saat dewasa nanti, ketika kedua orang tuanya harus berpisah karena ayahnya yang tidak setia." Dini melepaskan tangannya pelan, kali ini Adam tidak menahan itu.
"Ayo pulang mas, ini sudah semakin malam. Hujan juga sudah reda." Andini beranjak lebih dulu. Sementara Adam pun menghela nafas panjang, dia mengepalkan tangannya menahan geram. setelah itu beranjak menyusul langkah Dini yang sudah ada di depannya, untuk kembali menahannya karena pembicaraan ini belum selesai baginya.
Bersambung...