Disclaimer: Konflik di cerita ini mungkin sedikit tidak masuk akal dan memusingkan. Othor sudah memperingatkan dari awal.
Thalia Halley Anggara dan Thalita Halley Anggara adalah gadis kembar identik yang memiliki sifat berbeda.
Thalia Halley yang merasa tertekan dengan sikap posesif sang kekasih, yaitu Zayn Arsenio Abraham memutuskan untuk kabur sejenak dan mencari ketenangan, beberapa hari sebelum pertunangannya dengan Zayn.
Di saat bersamaan, Thalita Halley yang baru pulang setelah menempuh pendidikan selama empat tahun di luar negeri, hendak memberi kejutan pada keluarganya.
Thalita sengaja tidak memberikan kabar kalau dirinya pulang hari itu.
Namun naas bagi Thalita, karena saat baru keluar dari bandara kota, tas yang berisi ponsel serta semua kartu identitasnya dijambret oleh orang tak dikenal.
Disaat bersamaan, Zayn yang sedang berada di bandara kota, tak sengaja melihat Thalita yang kebingungan dan mengira kalau Thalita adalah Thalia.
Sejak detik itu, semua orang mengira kalau Thalita adalah Thalia dan tidak ada satupun yang percaya dengan pengakuan Thalita termasuk Mom Belle dan Dad Devan.
Bagaimana akhirnya nasib Thalita yang terpaksa berganti peran menjadi Thalia yang menghilang tak tahu rimbanya?
Apakah akhirnya Thalia akan kembali pulang dan menjelaskan pada semua orang tentang kekeliruan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MEMBINGUNGKAN
Thalia terkesiap tak percaya saat mendapati logo perusahaan milik keluarga Abraham yang bersanding juga dengan logo perusahaan Halley Development dan beberapa perusahaan lain, terpampang nyata di depan pintu masuk gedung tempat berlangsungnya pesta malam ini.
Tidak!
Tidak mungkin Zayn, Mom, serta Dad ada di dalam sana, kan?
Tapi bagaimana kalau merrka benar-benar ada di dalam sana?
Thalia tidak bisa masuk ke dalam gedung itu sekarang. Thalia belum siap mendapat murka dari semua orang.
"Ayo, Sayang! Kenapa melamun?" Tanya Daniel pada Thalia yang terlihat ragu dan gelisah. Gadis itu juga berulang kali menggigit bibirnya sendiri.
"Eeee, Daniel! Aku mendadak sakit perut," Thalia memegangi perutnya sendiri yang sebenarnya tidak sakit.
"Tapi tadi kau baik-baik saja, Tha?" Tanya Daniel tak mengerti.
"Iya ini aku juga tidak tahu kenapa bisa mendadak sakit," Thalia pura-pura meringis demi meyakinkan Daniel kalau dirinya benar-benar sedang sakit perut.
"Tapi aku harus masuk ke dalam dan mengucapkan selamat pada tuan rumah, Tha! Aku harus mewakili Arthur Company," Daniel sepertinya merasa dilema sekarang.
"Maafkan aku, Daniel," ucap Thalia penuh rasa bersalah.
Tentu saja Thalia merasa bersalah karena dirinya yang sudah berpura-pura sakit perut demi menghindar dari pertemuan dengan orang-orang yang belum siap untuk Thalia temui.
"Begini saja!" Daniel merengkuh kedua bahu Thalia yang malam ini mengenakan dress warna lilac.
"Kau kembali dulu ke mobil, dan aku akan masuk ke dalam untuk memberi ucapan selamat dan sedikit menyapa tuan rumah. Aku akn secepatnya menyusul kau ke mobil." Ujar Daniel memberikan usul.
"Baiklah, aku mengerti. Aku akan menunggumu di mobil," jawab Thalia cepat menyetujui usulan Daniel.
"Baiklah, hati-hati!" Pesan Daniel sebelum mengecup singkat bibir Thalia.
Daniel melangkah masuk ke dalam gedung, sementara Thalia sudah berbalik untuk segera menuju ke tempat parkir. Namun belum juga sampai ke tempat parkir, seorang wanita paruh baya yang tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Thalia membuat Thalia membeku di tempatnya.
Oh, tidak!
Katakan kalau itu bukan Tante Hanni dan Om Hans.
"Kenapa di luar sendirian, Thalia? Zayn mana?" Tanya Tante Hanni menyapa Thalia denagn hangat.
Ya, Mama dari Zayn ini memang selalu bersikap hangat pada Thalia.
Tapi tunggu!
Apa maksud tante Hanni yang bertanya dimana Zayn?
Apa Zayn juga datang malam ini bersama Thalia?
Tapi Thalia ada disini, jadi siapa yang bersama Zayn kalau begitu?
"Thalia!" Teguran dari Om Hans membuyarkan lamunan Thalia.
"Eh, iya, Om!" Jawab Thalia tergagap.
"Om? Bukankah kemarin - kemarin kau sudah setuju memanggil mama dan papa? Kenapa sekarang berubah lagi?" Tanya tante Hanni seraya tergelak.
Hah?
Apa?
Kapan Thalia setuju memanggil kedua orangtua Zayn ini dengan sebutan mama dan papa?
"Ayo, masuk! Mama akan memarahi Zayn karena sudah meninggalkanmu sendirian disini," ajak mama Hanni seraya merangkul Thalia dan membimbing gadis itu untuk masuk ke dalam gedung.
Thalia menelan ludahnya dengan susah payah dan berusaha menetralkan degup jantungnya yang tak beraturan.
Mati kau Thalia!
Semua akan tahu kebohongan yang sudah kau buat.
Kau tidak bisa kemana-mana lagi sekarang.
"Mama pikir kau mengenakan gaun warna maroon tadi saat di hotel. Kenapa sekarang gaunmu sudah berubah warna dan model? Apa Mama salah lihat, ya?" Mama Hanni sedikit terkekeh dan masih merangkul Thalia masuk ke dalam gedung.
Thalia hanya tersenyum kaku.
Sejak dari villa Thalia hanya mengenakan gaun lilac ini. Jadi siapa sebenarnya yang tante Hanni lihat?
Siapa yang datang bersama Zayn?
Tidak mungkin itu adalah Thalita, kan
Thalita masih di Paris!
Ruangan itu sudah penuh dengan orang-orang yang berpenampilan glamour malam ini. Thalia mengedarkan pandangannya sejenak menyapu setiap sudut ruangan, dan netranya langsung bisa menangkap Daniel yang masih mengobrol dengan seseorang di salah satu sudut ruangan dengan posisi yang membelakangi Thalia.
"Nah itu Zayn disana!" Ucap mama Hanni menunjuk ke satu arah dan Thalia langsung mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk mama Hanni. Zayn yang melihat Thalia datang bersama mama Hanni dan papa Hans terlihat mengernyitkan kedua alisnya dan sedikit merasa bingung.
Pria itu sudah berjalan mendekat ke arah Thalia dan kedua orangtuanya. Namun Zayn belum tiba di dekat Thalia yang sekarang lupa caranya bernafas saat sebuah sapaan membuat Thalia dan kedua orang tua Zayn menoleh.
"Thata! Kenapa kau kesini? Bukankah katamu tadi kau sedang sakit perut?" Tanya Daniel yang langsung melingkarkan lengannya ke pinggang Thalia yang hanya mematung.
Mama Hanni dan Papa Hans juga ikut mematung karena calon menantu mereka yang tiba-tiba sudah dirangkul oleh seorang pria asing.
"Tuan dan Nyonya Abraham, selamat malam!" Daniel menyapa mama Hanni dan Papa Hans dengan sopan.
"Perkenalkan saya Daniel, asisten dari Kyle Arthur. Saya mewakili Arthur Company malam ini," lanjut Daniel lagi memperkenalkan dirinya sendiri.
"Thalia apa-apan ini?" gertak papa Hans meminta penjelasan dari Thalia atas semua kejadian ini.
"Kau sedang apa dengan pria asing ini, Thalia? Dan kenapa gaunmu sudah berubah warna? Bukankah kau tadi memakai gaun warna maroon?" Zayn yang sudah sampai di dekat Thalia dan kedua orang tuanya ikut-ikutan mencecar Thalia dengan berbagai pertanyaan.
"Maaf, pria asing yang mana yang anda maksud, Tuan Abraham? Saya kekasih Thalita," ujar Daniel membuat pengakuan.
"Thalita? Siapa Thalita? Dia Thalia, tunanganku! Dan singkirkan tanganmu yang tidak sopan itu dari pinggang tunanganku!" Gertak Zayn galak seraya menarik Thalia ke dalam pelukannya.
"Tha! Jelaskan pada pria ini kalau kau Thalita dan bukan Thalia! Kau kekasihku!" Ucap Daniel bersikeras seraya menunjuk-nunjuk ke arah Zayn.
"Dia Thalia calon menantuku! Jadi jangan mengaku-ngaku sebagai kekasihnya!" Papa Hans ikut angkat bicara dan ganti menuding ke arah Daniel.
"Daniel, aku Tha-"
"Zayn, ada apa ini?" Suara yang mirip dengan suara Thalia terdengar dari balik punggung Zayn.
Semua orang sontak menoleh ke arah gadis bergaun maroon yang tampil dengan sangat anggun malam ini. Dan tentu saja, kelima orang itu merasa kaget karena mendadak ada dua gadis dengan wajah yang sama berdiri dihadapan mereka.
"Thalia!" Gumam Thalita yang langsung menghampiri saudara kembarnya itu.
"Kau kemana saja?" Thalita mengguncang bahu Thalia demi meluapkan rasa kesalnya karena ulah Thalia yang sudah membuat Thalita terjebak dalam identitas Thalia selama dua bulan terakhir.
"Thalita? Kapan kau pulang? Bukankah seharusnya kau masih di Paris?" Tanya Thalia merasa linglung karena mendadak Thalita sudah berada di hadapannya.
"Aku pulang untuk memberimu kejutan! Tapi kau malah kabur dari pertunanganmu! Dan lihatlah sekarang! Kau membuat semua orang jadi salah paham dan mengira aku adalah dirimu!" Tutur Thalita meluapkan semua emosi dalam dirinya.
"Apa maksudmu, Sayang? Siap yang kabur dari pertunangan dan siapa yang salah paham?" Zayn yang merasa bingung meraih pundak Thalita dan minta penjelasan.
"Adakah yang bisa menjelaskan semua hal membingungkan ini?" Tanya papa Hans yang sepertinya ikut bingung.
"Siapa diantara kalian berdua yang bernama Thalita?" Daniel ikut-ikutan melontarkan pertanyaan.
Thalita tentu saja terkejut saat mendapati Daniel yang ternyata juga ada di tempat ini.
"Daniel?" Thalita menghampiri Daniel dan menatap lekat-lekat wajah pria yang menjalin hubungan jarak jauh dengannya itu setahun ini.
"Kau?"
"Aku Thalita!" Jawab Thalita cepat.
"Tidak! Bukan! Kau adalah Thalia!" Zayn ganti menarik Thalita dari dekat Daniel dan membawanya menjauhi pria itu.
"Kau tadi yang datang bersamaku! Jadi kau adalah Thalia!" Sambung Zayn lagi merasa yakin.
"Aku Thalita, Zayn!" Sanggah Thalita cepat.
"Kau memakai cincin pertunangan, Thalia! Jadi kau pasti Thalia!" Sahut mama Hanni menunjuk ke arah cincin pertunangan yang melingkar di jari manis Thalita.
"Ini... ini..." Thalita terlihat kebingungan.
"Kau bertunangan dengan Zayn, Thalita?"
Pertanyaan dari Thalia membuat semua orang menatap gadis itu penuh pertanyaan.
"Mama akan memanggil Pak Devan dan Bu Belle!" Cetus mama Hanni tiba-tiba yang membuat Thalia refleks melontarkan pertanyaan.
"Mom dan Dad ada di sini?"
.
.
.
Othor bingung sendiri 😂😂
Tolooong!
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.
baca terus ini. dari awal mom Belle, Theo, Nick, Hans dan skg anak2nya urut 😍😍😍👍👍👍
TERUS BERKARYA BUNDEW...👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻❤❤❤❤❤❤❤🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
RENATA JUGA BGITU, SETELH KGUGURN RAHIMNYA ADA LUKA, JDI TDK BOLEH HAMIL DLU SMPE RAHIM NYA BNAR2 SEHAT..