Aska seorang CEO tampan, dan juga cerdas. Sifatnya yang dingin dan juga datar membuat dia susah di dekati, apalagi sama yang namanya wanita.
Aska juga tidak pernah tersenyum, kecuali sama keluarga dan sahabat terdekatnya.
Akankah ada yang wanita yang bisa mendekati dan membuat dia tersenyum?
Yuk langsung kepo in.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon feby_mb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 28
Banyak pertanyaan yang ada dalam otak Aska. Kenapa si bawelnya tidak bekerja hari ini. Bukankah divisi mereka harus melakukan presentasi.
" Apa ada manager yang tidak hadir hari ini?" tanya Aska.
" Ada Pak, manager kami tidak bisa hadir" kata Willa.
" Apa alasan manager kalian tidak hadir?"
" Dia lagi di rumah sakit, Pak" jawab Willa.
Semua anggota divisi marketing kaget mendengar manager mereka masuk rumah sakit, begitu juga dengan Aska.
" Dia sakit apa?." Ingin rasanya Aska bertanya seperti itu, tapi dia urungkan. Dia tidak ingin orang lain berpikiran buruk pada Fira.
" Mari kita mulai presentasinya" kata Aska.
Satu persatu divisi mempresentasikan proposal mereka. Divisi bagian produksi mendapatkan giliran pertama untuk mempresentasikan proposal mereka.
Beberapa menit Aska masih bisa berkonsentrasi mendengarkan dengan jelas presentasi yang di sampaikan perwakilan dari divisi produksi.
Setelah 5 menit berlalu, Aska sudah tidak bisa berkonsentrasi mendengarkan presentasi yang di sampaikan divisi produksi itu. Pikirannya tertuju pada Fira.
" Meeting kita lanjutkan besok" kata Aska sambil berlalu pergi meninggalkan ruangan itu.
Semua orang yang ada di ruangan itu kaget, tak terkecuali Rendy sang asisten. Mereka baru pertama kali ini melihat CEO memberhentikan rapat di tengah jalan.
" CEO kenapa?" tanya salah satu karyawan yang ada di ruangan itu.
" Apa CEO sedang sakit, ya?"
" Mungkin, karena nggak biasanya CEO memberhentikan rapat di tengah jalan"
" Nggak apa-apa, kita bisa memperbaiki proposal kita"
Rendy pergi meninggalkan ruangan itu, dia berniat menemui sahabatnya itu. Sesampainya di ruangan sahabatnya, Rendy langsung masuk tanpa mengetuk pintu.
" Lo kenapa sih, main pergi aja?" tanya Rendy setelah duduk di sofa yang ada di sana.
" Bisa nggak sih kalau masuk itu ketuk pintu dulu" kata Aska.
" Nggak bisa, soalnya gue lagi penasaran"
" Ck.. penasaran"
" Iya, kenapa Lo pergi gitu aja dari ruang meeting"
" Karena gue nggak konsen"
" Nggak konsen kenapa?"
" Lo sekarang udah bawel kek ibuk-ibuk kos tau nggak"
" Eh!, mana ada ibuk-ibuk ngekos, yang ada itu anak-anak yang ngekos"
" Oh ya Ren, tolong Lo cari informasi tentang manager marketing"
" Untuk apa?"
" Banyak tanya banget si Lo"
" Jangan bilang Lo naksir ama tu cewek"
" Kagak, gue cuma ingin tau tentang karyawan gue"
" Ck.. bilang aja Lo kesemsem ama dia"
" Dasar asisten nggak ada akhlak lo"
" Gue mau lanjutin kerjaan gue dulu" kata Rendy.
" Jangan lupa yang gue suruh tadi"
" Kagak, habis dari sini gue langsung cari"
" Good. Satu lagi, cari di rumah sakit mana dia di rawat"
" Baiklah bos yang lagi falling in love " kata Rendy sambil menutup pintu ruangan Aska.
Sampai di ruangannya, Rendy langsung mencari informasi tentang manager marketing itu. Jari jemari Rendy begitu lincah menari di atas keyboard komputernya.
Tidak butuh waktu lama semua informasi tentang manager marketing itu sudah ada di dalam komputernya.
Rendy meprint informasi tentang manager marketing itu. Setelah selesai Rendy kembali keruangan bosnya, dengan membawa informasi tentang manager marketing itu.
Tok.
Tok.
Tok.
" Masuk"
Rendy masuk kedalam ruangan Aska.
" Gimana?"
" Ni, informasi tentang tu cewek" kata Rendy.
Aska membaca lembaran demi lembaran kertas yang berisikan informasi tentang manager marketing itu.
" Alice Zhafira Afsari, nama yang cantik seperti orangnya" gumam Aska yang masih bisa di dengar oleh asistennya.
" Alhamdulillah, ternyata teman gue masih normal"
" Maksud lo?" tanya Aska.
" Ternyata lo masih doyan cewek, bro"
" Jadi selama ini Lo pikir gue belok. gitu?"
" Hhmm" kata Rendy sambil menganggukkan kepalanya.
" Sialan Lo, bener-bener teman nggak ada akhlak lo" kata Aska sambil melemparkan pulpen kearah asistennya.
" Oh ia bro, yang masuk rumah sakit itu ternyata bukan tu cewek. Tapi ayahnya" kata Rendy.
" Ayahnya Fira maksud lo"
" Iya, masa ayah gue"
" Di rumah sakit mana?"
" Rumah sakit permata hati"
" Kenapa dia nggak bawa ke rumah sakit besar?"
" Dengar-dengar sih karena kondisi sang ayah yang harus segera mendapatkan penanganan medis, jadi dia membawa ke rumah sakit terdekat"
" Emang ayahnya sakit apa?"
" Di kertas itu kan sudah lengkap semua informasi tentang tu cewek, lo tinggal baca aja. Gue mau lanjut kerja dulu"
Aska membaca kembali kertas yang ada di hadapannya itu. Aska membaca informasi itu seperti membaca surat kontrak kerja.
" Sakit jantung?!"
" Benar"
Pasti si bawel sedih banget. Gue harus nemuin dia, serta memberikan dukungan untuk dia. Gumam Aska dalam hati.
" Ok, thank's ya bro informasinya"
" Cuma thank's doang?"
" Terus?" tanya Aska.
" Imbalannya bro. Gue mau jalan ni ntar sama cewek gue, jadi butuh dana"
" Mau kencan kok nggak ada modal"
" Makanya gue minta modal ama Lo"
Aska mengambil ponselnya, kemudian mentransfer uang ke rekening asisten sekaligus sahabatnya itu.
" Udah kan"
" Makasih bro, Lo emang teman yang baik"
" Ck.. ada maunya baru bilang gue baik"
" Ya nggak lah, Lo itu benar-benar baik"
" Ya udah, lanjutkan kerjaan Lo sana" usir Aska.
" Siap bos"
Rendy kembali ke ruangannya. Setelah sahabatnya itu pergi, Aska menyimpan informasi tentang Fira kedalam lacinya. setelah itu dia mengambil kunci mobil dan keluar dari ruangannya.
" Kalau ada yang mencari saya nanti, tolong bilang saya lagi keluar" pesan Aska pada sekretarisnya.
" Baik Pak"
Aska masuk kedalam lift, setelah itu pintu lift tertutup dengan sempurna. Lift bergerak turun kebawah membawa sang CEO tampan itu.
Ting.
Pintu lift terbuka. Aska berjalan dengan penuh wibawa. Para karyawan membungkukkan badan memberi hormat pada CEO mereka. Aska terus berjalan menuju parkiran khusus CEO.
Aska melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat ayah Fira dirawat. Sepanjang jalan Aska memikirkan alasan dia pergi ke rumah sakit itu.
Tanpa terasa mobil Aska sampai di rumah sakit permata hati. Setelah memarkirkan mobilnya, Aska langsung masuk ke dalam rumah sakit.
Semua mata orang yang ada di rumah sakit itu kaget dan juga terpesona dengan ketampanan Aska. Mereka melihat penampilan Aska dari atas sampai bawah, mereka yakin Aska adalah orang yang sangat kaya.
Aska tidak mempedulikan tatapan orang-orang itu. Dia berjalan menuju meja resepsionis.
" Permisi ada yang bisa kami bantu, tuan?"
" Saya mau tanya, ruangan pak Afsari dimana ya?"
" Maaf tuan ini siapanya bapak Afsari?, karena kami tidak boleh memberikan informasi pasien pada sembarang orang"
" Sa-saya ca-calon mantunya. Ya calon mantu" kata Aska.
" Sebentar saya carikan dulu"
Petugas resepsionis itu langsung mencari di dalam komputernya nama pasien Afsari.
" Ruang rawat pak Afsari di kompleks melati, nomor 23"
" Makasih mbak"
" Sama-sama"
Aska berjalan mencari kompleks melati. Dia membaca setiap tulisan yang dia temui. Aska heran kenapa nama-nama kompleks itu harus di namain dengan jenis bunga.
Akhirnya Aska sampai juga di kompleks melati, dia mencari nomor yang di berikan sama petugas resepsionis tadi.
Mata Aska menatap sosok yang sedang keluar dari kamar 23. Seketika tubuh Aska menghentikan langkahnya. Dia tidak tau apa yang harus di katakan pada gadis itu.
Aska mondar-mandir di sana, dia tidak tau harus bagaimana. Sekarang ini dia seperti orang bodoh.
Ayolah otak berpikir?"
" Pak Aska"
To be continue
Happy Reading 😚😚