Semua persiapan telah disusun sedemikian rupa. Namun sang calon suami tidak datang ke acara pernikahan. Untuk menjaga kehormatan, suami pengganti pun di cari.
Kehidupan mereka setelah menikah dibumbui dengan adu argumen dan kekonyolan. Saat cinta itu mulai tumbuh, masa lalu datang.
Akankah mereka bisa bertahan?
Kuy baca aja!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sripujiayu620, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 28
Hari-hari telah dilewati, tidak terasa liburan kali ini harus berakhir. Kerinduan suasana kampung yang begitu membekas dalam benak Deniel, namun keluarga kecil itu harus segera pulang dikarenakan kerjaan Deniel yang tidak boleh ditinggalkan.
Aktivitas hari ini kembali normal. Pembantu dan supir yang sudah kembali membuat suasana rumah tidak sepi lagi.
Kali ini Dinda akan menjemput jagoannya di sekolah. Ia sudah menunggu di depan pagar menunggu anak laki-laki itu keluar.
"Kamu Dinda kan?" tanya seorang wanita ramah.
Dinda yang tadinya sibuk dengan ponsel langsung mengalihkan pandangannya pada wanita yang sedang tersenyum pada dirinya.
"Iya, ada apa?" tanya Dinda mengenali wanita tersebut.
Dia adalah Sonya, ibu kandung dari Gio.
"Aku…"
"Mama!!" seru Gio membuat kalimat Sonya terpotong.
Gio langsung memeluk erat pada ibu sambungnya. Dinda menghujani jagoannya itu dengan ciuman di wajah Gio hingga anak laki-laki itu menjadi geli.
"Ma,udah dong nyiumnya. Nanti lipstiknya nempel di muka aku lho." Keluh Gio geli.
"Habisnya kamu gemesin sih, anak siapa sih?" Dinda mengacak-acak jambul sang putra saking gemasnya.
"Anak Mama sama Papa lah," jawab Gio dengan wajah sok imutnya.
Sonya yang melihat kebersamaannya hanya menampilkan seulas senyumnya. Ingin rasanya ia dipeluk oleh sang putra.
"Gio, ayo salim dulu sama Mama Sonya." Dinda menyuruh sang Putra untuk menghampiri Sonya yang tidak jauh dari tempat tersebut.
"Mama?" bingung Gio menatap heran pada wanita yang sedang tersenyum pada dirinya.
"Iya Sayang, ini Mama kamu juga." Dinda menarik pelan tangan Gio untuk berjalan menghampiri Sonya.
"Jadi mama aku dua?" Gio masih bingung sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Wajar, bocah itu tidak mengenal ibu kandungnya. Waktu itu Gio masih bayi saat perceraian kedua orang tuanya. Ia dibesarkan hanya dengan Deniel, orang tua tunggal.
"Iya, mama kamu ada dua Gio." Ucap Dinda. "Ayo Gio, salim sama Mama Sonya." Pinta Dinda lagi.
Gio pun menurutinya. Ia mencium punggung tangan wanita itu. Sonya menyamakan tinggi Gio dan langsung memeluk erat anaknya.
"Mama?" lirih Gio menatap lekat pada orang yang menurutnya asing.
"Iya, ini Mama sayang. Mama kangen banget sama kamu. Ternyata anak Mama udah besar rupanya." Sonya mengusap kepala sang anak dan tanpa disadari bulir-bulir air matanya menetes begitu derasnya.
Dinda juga ikut kalut dalam kesedihan. Ada rasa iri kala melihatnya, namun Dinda sadar diri jika dirinya hanyalah ibu sambung.
"Din, sadarlah kamu itu hanyalah ibu tiri." Batin Dinda pada dirinya sendiri.
Ttttrrrrreeeeeett!
Suatu mobil terbilang mewah mengagetkan semuanya. Mobil berhenti tepat di depan mereka. Perlahan pintu mobil dibuka dengan perlahan dan keluarlah seorang pria dengan pakaian formalnya.
"Ayo, pulang sekarang juga!" pria itu adalah Ihsan, ia langsung menarik paksa tangan Sonya.
"Tidak! aku tidak mau pulang!! aku ingin bersama anakku! " bentak Sonya menghempaskan genggaman tangan suaminya.
"Jangan membuat aku berlaku kasar padamu." Ihsan menatap tajam pada Sonya dengan amarah yang sudah berapi-api dalam hatinya.
"Ayo!!" Dengan kasarnya Ihsan menarik tangan Sonya.
"Hei, bisakah jangan berlaku kasar pada wanita heh?" bentak Dinda berusaha melepaskan genggaman erat tangan Ihsan pada Sonya.
"AAArrrhhhhh, minggir!" Ihsan mendorong Dinda hingga tersungkur dengan kerasnya pada tanah.
Siku Dinda langsung terluka dan mengeluarkan darah yang lumayan deras.
"Mama!!" teriak Gio histeris melihatnya. Ia langsung menghampiri Dinda.
"Nyonya!" supir yang tadi berada di dalam mobil langsung menghampiri istri majikannya.
Ihsan langsung memasukan Sonya dengan paksa ke dalam mobil. Mobil mewah itu dengan kecepatan tinggi meninggalkan tempat tersebut.
"Hiks…hiks…" Gio menangis sambil memeluk Dinda begitu eratnya.
"Gio, kenapa nangis gitu sih. Udah deh Mama gak papa." Dinda mencoba menenangkan sang anak yang masih menangis dengan nyaringnya.
"Nyonya, ayo kita ke rumah sakit." Usul sang supir.
"Tidak usah Pak, lebih baik kita pulang saja. Biar ini diobatin di rumah aja." Dinda langsung.
"Udah jangan nangis lagi, ayo kita pulang." Ajak Dinda.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang menuju perumahan.
Hai-hai! udah dua hari yah author amatiran gak up. Kangen gak nih? Oh iya author amatiran udah bikin cerita baru loh, yuk sempatkan waktunya buat baca "REMBULAN."