Namaku Aliqa Mardika, setelah lulus SMA orangtuaku menjodohkan ku dengan putra dari sahabatnya, yang bernama Davin Aryasatya dia berprofesi sebagai seorang Dokter Spesialis di Rumah Sakit Swasta.
Dengan berat hati aku menerima perjodohan ini, dengan harapan seiring kita bersama cinta akan hadir dengan sendirinya.
Ternyata aku memasuki hubungan yang salah, pria yang di jodohkan dengan ku telah memiliki hubungan dengan wanita lain.
Akan kah pernikahan ini berjalan dengan semestinya?
Ini adalah novel pertama ku, mohon maaf jika mengalami kesalahan dalam penulisan, mohon koreksinya.
Ditunggu like, komen & vote nya ya reader.. terimakasih 🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divty Hardyfani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan
Sebenarnya Davin tak ingin meninggalkan Aliqa sendirian, Davin ingin bersamanya, menjadi sandaran untuk setiap tangisnya.
Namun Davin harus bersikap profesional tak boleh melibatkan perasaan yang akan menganggu pekerjaan. Terlebih Davin adalah seorang dokter, begitu banyak nyawa yang membutuhkan pertolongannya.
Sementara itu di tempat lain, Aliqa masih terus menangis di dalam kamarnya, wanita itu sudah mempersiapkan hatinya untuk bertemu dengan Davin, namun setelah bertemu dengannya luka itu kembali terasa.
Davin telah selesai dengan pekerjaannya, pria itu langsung menuju rumah Aliqa. Memasuki kamar yang penuh dengan kepiluan di dalamnya, Aliqa terbaring di atas ranjang dengan memajamkan matanya, wanita itu merasa lelah setelah menangis seharian.
Davin menatap Aliqa yang tertidur dengan memunggungi pintu, Davin menghampirinya membelai lembut rambutnya. Sehingga Aliqa terbangun karena merasa ada yang mengusiknya.
"Mas sudah pulang? Maaf aku ketiduran."
"Mas mau makan? Maaf aku belum memasak apapun untuk mu. Lebih baik Mas mandi dulu, biar aku siapkan airnya. Sementara Mas mandi biar aku siapkan makanan untuk mu."
Aliqa bersikap biasa seakan tak terjadi sesuatu di antara mereka, Aliqa tak suka memelihara luka lebih lama. Wanita itu akan bersusah payah melupakan hal yang melukainya meskipun luka itu masih terasa. Aliqa hendak turun dari ranjangnya, namun lengan kekar milik Davin menahannya.
"Al, kita harus bicara."
"Mas aku akan menyiapkan air untuk mu mandi," ucap Aliqa lalu melangkahkan kaki.
"ALIQA!" Davin berteriak seraya lengan miliknya mencengkram lengan Aliqa lebih kuat.
Aliqa menatap Davin nanar, tetes demi tetes air mata yang di bendungnya kini menderas.
"Maafkan aku, aku tak bermaksud membentak mu. Maaf." Davin membawa Aliqa masuk kedalam pelukannya, sementara Aliqa hanya berdiam diri di tempatnya.
"Apa kau akan menceraikan ku?" ucap Aliqa yang berada dalam pelukan Davin.
"Aku tak akan menceraikan mu, aku tak ingin berpisah dari mu. Jangan tinggalkan aku," ucap Davin lirih.
"Apa kau mencintaiku?"
Davin tak mengatakan apapun, bibirnya seakan tertutup rapat. Davin tak memberikan jawaban atas pertanyaan Aliqa.
Aliqa melepaskan pelukan Davin dan mundur satu langkah darinya.
"Bawalah Mila kesini, tak mungkin kau terus bolak balik untuk mengunjungi kami, dia sedang mengandung anak mu, kita akan tinggal bersama dan menjaganya bersama."
"Bagaimana dengan mu?"
"Suka tidak suka, mau tidak mau, semua sudah terjadi Mas. Aku hanya tinggal memelihara sabar dan ikhlas. Ajak Mila kesini Mas, akan ku siapkan kamar untuknya."
"Maafkan aku, terus menyakiti mu," ucap Davin lirih tanpa mendapatkan jawaban dari Aliqa.
Davin sudah tak mapu berkata-kata selain maaf, setiap perbuatan yang di lakukan nya telah membuatnya semakin merasa bersalah.
Sementara itu, hati Aliqa begitu nyeri mendapati kenyataan ini, wanita mana yang akan sanggup tinggal bersama dengan madunya dalam satu atap, terlebih Davin hanya mencintai Mila.
Aliqa tak pernah membayangkan kehidupan rumah tangganya akan seperti ini, harus berbagi suami bersama wanita lain. Suami yang kini dia cinta meski pria itu tak mencintainya.
"Mas pulanglah, Mila pasti akan mengkhawatirkan mu, besok kau bisa datang kembali bersama dengan Mila."
"Bagaimana dengan mu?"
"Apa mas lupa? Bukankah aku lebih sering Mas tinggalkan sendiri, pulanglah aku akan mempersiapkan kamar untuk Mila tinggal."
Aliqa hendak meninggalkan Davin, namun dengan sigap Davin meraih pinggang ramping Aliqa, sehingga mereka saling beradu pandang, "Maafkan aku," ucap Davin, ada ketulusan yang Aliqa rasakan.
Entah siapa yang memulai bibir mereka saling bersentuhan, ciuman mereka penuh dengan gairah. Mereka melepaskan ciuman mereka setelah dirasa kehabisan nafas dan menghirup udara dalam-dalam.
"Apa kau merasakan, bahwa aku mencintai mu Mas, maka dari itu setiap kesalahan selalu dengan mudah ku maafkan" batin Aliqa.
***
Sesampainya di kediaman Mila, tak menunggu waktu lama Davin langsung menemui Mila di dalam kamarnya.
Terlihat Mila sedang terduduk di depan meja rias dan menatap dirinya di dalam cermin.
"Sayang," ucap Davin, Mila beranjak dari duduknya dan memeluk Davin dengan manja.
"Besok kita akan pindah ke rumah yang di tempati Aliqa."
"Benarkah sayang? Aku merasa senang, memang sudah seharusnya aku tinggal di rumah itu bersama mu, membangun keluarga kecil kita di sana, dengan bahagia."
"Iya sayang, kita akan tinggal bersama dengan Aliqa, dia mengizinkan ku untuk berpoligami."
"Apa Vin? Kamu bercanda kan? Bagaimana dengan ku, aku sedang mengandung anak mu! Bukan kah kau berjanji untuk menjadikan ku satu-satunya?" Air mata Mila mulai menetes membasahi pipi.
"Aku tak akan meninggalkan mu, aku menyayangi mu dan anak di dalam kandungan mu, kita akan menjaga dan merawatnya bersama." Davin memeluk Mila untuk menyalurkan rasa sayangnya.
"Baiklah Vin." Meski dengan berat hati Mila menyetujui keinginan Davin.
Bagaimana bisa Davin mengingkari janjinya kepada ku untuk menjadikan ku satu-satunya miliknya, aku tak rela menyandang gelar sebagai istri kedua.
Aku tak rela harus membagi yang menjadi milik ku bersama Aliqa. Tapi aku bisa apa? Jika aku menolak keinginan Davin bisa saja pria itu yang akan meninggalkan ku.
Untuk saat ini aku harus menuruti setiap keinginannya.
***
Deru mobil memasuki halaman rumah milik Aliqa, wanita itu berlari menuruni tangga untuk membukakan pintu.
Aliqa telah mengetahui Mas Davin dan Mila akan mendatangi rumahnya siang ini.
"Mas." Aliqa meraih lengan milik Davin dan menciumnya takzim.
"Mila." Aliqa tersenyum ke arah Mila, sementara Mila membalas senyuman itu Malas.
Umur Aliqa dan Mila terpaut sangat jauh, namun rasanya Aliqa enggan memanggilnya dengan sebutan Mbak.
"Masuk Mas, Mila biar nanti aku siapin minum."
"Gak perlu Al, biar nanti Bi Atik aja nya bawain minuman."
Bi Atik menatap Aliqa dan mengangguk, "Ini Bi Atik yang bantuin Mila dirumah, sekarang akan kerja disini buat bantu-bantu." Jelas Davin.
"Terimakasih Mas." Ada rasa panas di dalam hati Aliqa, namun berusaha untuk di redam. Bagaimana bisa suaminya begitu membedakannya, Mila diberi pembantu rumah tangga, sementara Aliqa segala hal ia kerjakan sendiri.
"Mas, kamar mu dan Mila ada di lantai atas sebelah kiri, Sementara kamar mu dan aku tetap berada di samping anak tangga." Aliqa menjelaskan.
"Iya, Bi nanti bawa barang-barang Mila ke atas ya. Ke kamar yang sudah di tunjukan Aliqa."
"Baik tuan," ucap Bi Atik patuh.
"Sayang, aku tak mau tidur di tempat yang Aliqa tunjukan, aku mau kamar yang di dekat anak tangga, anak yang sedang ku kandung loh yang meminta." Nada bicara Mila dibuat dengan semanja mungkin.
"Tapi itu kamar Aliqa."
"Aku gak mau, pokonya mau kamar yang disitu."
"Baiklah, biar aku yang pindah. Seluruh pakaian ku biar aku pindah kan."
"Tak usah Al, biarkan Mila tidur di tempat yang telah kau siapkan." Bantah Davin. Terlihat mila mencebik kesal mendapati perlakuan Davin yang tak mengiyakan keinginannya.
"Akting yang menjijikan, umur setua itu manjanya benar-benar kelewatan. Tak apa aku mengalah, tidur dimana pun sama aja. Aku sedang tidak ingin ribut apalagi hanya masalah kamar," gumam Aliqa dalam hati.