Dia tidak pernah terlihat.... tapi selalu ada.
“Kalau abang serius… kamu mau kenalin abang ke dia?”
Hanif tidak pernah benar-benar muncul di depan Riyani. Namun ia tahu banyak tentangnya—lebih dari yang seharusnya.
Dari kebiasaan kecil, cara berbicara, hingga senyum yang diam-diam ia tunggu.
Melalui adiknya, Hanif memilih jalan yang tidak biasa: mendekati Riyani tanpa pernah benar-benar “hadir” sebelumnya.
Tapi…
bisakah seseorang menerima cinta dari orang yang hampir tidak pernah ia sadari keberadaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocoday, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendukung Sepenuhnya Untuk Berkembang
Hanif terkekeh mendengarnya. Ia cubit pipi riyani gemas. "Aa cuman keinget aja kamu suka es krim. Makanya Aa beliin."
"Gak baik tau curiga sama suami begitu."
Riyani terkekeh sembari membuka es krimnya. Ia berjalan masuk menuju sofa ruang tengah, disusul Hanif yang tersenyum menatap istrinya penuh cinta.
Seperti layaknya anak kecil, wanita itu menyilang kakinya di sofa sembari menikmati es krim yang sudah ia dambakan sejak lama.
Hanif mengusak rambutnya, "jangan dihabisin sekaligus ya! Nanti kamu sakit perut. Besok sambung lagi, kalau udah kenyang."
Riyani hanya mengangguk.
Sementara Hanif masuk ke kamar untuk bersih-bersih dan berganti pakaian.
...----------------...
Malamnya, Riyani mengajak suaminya untuk makan malam lebih dulu sebelum sholat isya.
"Kenapa gak sholat isya dulu baru makan?" tanya Hanif.
"Kan kalau makan berat, Neng gak bisa bobo jam 10 dong kalau makannya jam 8 malem lebih,"
"Kenapa coba?"
"Kan usahain gak makan berat 3 jam sebelum bobo," jawab Riyani.
Hanif tersenyum. Lagi-lagi ia mengusak kepala istrinya pelan.
Selesainya, mereka berdua memilih untuk menonton televisi sebentar.
Sembari merangkul istrinya, Hanif bertanya, "sayang, tadi kamu bilang kalau abang pinjem uang? Terus gimana kelanjutannya?"
"Dia tetep paksa tadi, A. Terus Neng matiin aja notifikasinya biar gak berisik," jawab Riyani.
"Terus mau pinjemin?"
Riyani menggeleng. "Gak usah. Abang bukan orang yang baik buat hutang dirinya sendiri."
Wanita itu mendongak pada suaminya, "jangan sesekali Aa pinjemin dia uang ya! Awas aja."
"Dia kan abang kamu. Kamu gak mau bantu?"
"Bukan masalah abang, A. Tapi Neng gak mau aja berurusan sama mereka tentang uang. Apalagi ini 3 juta bukan 30 ribu."
Hanif terkekeh mendengarnya, "ya lagian kalau cuman 30 ribu, abang kamu pinjamnya pasti ke bapak."
"Ya makanya. Nanti kalau kita perlu uangnya, dia pasti ada aja alasan buat marah-marah karena ditagih,"
"Iya, iya.... Aa gak bakal pinjemin," ucap Hanif.
...----------------...
Di hari berikutnya, bukannya menyerah untuk meminjam dari Riyani. Bang Ardi malah datang ke rumah adiknya untuk meminjam uang secara langsung.
Ketukan pintunya cukup kencang, sampai mengganggu tetangga riyani yang baru saja memiliki bayi.
Bang Ardi terlihat dimarahi dan tidak lama setelahnya lelaki itu pergi meninggalkan rumah riyani.
Sekalipun enggan rasanya untuk menghubungi keluarga yang sudah berjauhan sekarang. Riyani memilih menghubungi bapak untuk menanyakan keuangan Bang Ardi saat ini.
Setelah mendengar cerita bapak, Riyani sempat terkejut, "beneran, Pak?"
(Beneran, Neng. Dia sekarang luntang-lantung gak jelas. Gak ada kerjaan dan pemasukan)
"Terus kalau tinggal sama bapak, kenapa pinjam uang sama neng? Buat apa?"
(Bapak juga kurang tau. Katanya sih buat modal cari kerjaan baru)
"Istrinya kan ada. Bukannya gajinya besar, masa buat biaya cari kerjaan harus pinjam ke yang pengangguran. Aneh banget,"
(Maaf ya Neng kalau abang kamu ganggu)
"Bukan Neng yang terganggu, Pak. Tapi tetangga, dia baru aja punya anak, terus Abang gedorannya udah kayak orang penagih utang,"
(Nanti bapak bakal kasih tau dia)
"Gak usah, Pak. Biarin aja, mungkin setelah ini dia bakal nyerah,"
(Kamu—)
"Udah dulu ya, Pak. Neng lagi kerjain sesuatu."
Riyani langsung memutus panggilannya begitu saja.
Sorenya, sepulang dari rumah sakit. Hanif mengajak Riyani untuk bertemu dengan Yanuar dan Velia. Sesuai dengan apa yang Hanif bicarakan sebelumnya.
Hanif menggandeng tangan istrinya untuk masuk pada restoran yang cukup terkenal baru-baru ini. Sudah ada Yanuar dan Velia di dalam.
Riyani tersenyum pada keduanya sebagai sapaan lalu duduk bersama suaminya. Hanif membuka buku menunya lalu bertanya, "mau makan apa?"
"Pengen nasi goreng ayam aja," jawab Riyani diangguki suaminya dengan cepat.
Sembari menunggu pesanannya, Yanuar mengajak berbicara—membicarakan maksudnya bertemu dengan Riyani seperti yang Hanif bicarakan.
"Kamu punya usaha kue dan catering kan?" tanya Yanuar.
"Bukan usaha aku sih, Kak. Usahanya nenek," jawab Riyani.
"Kirain usaha kamu,"
"Emang ada apa sih Lo tanya begitu?" tanya Hanif.
"Jadi gini, gw kan kerja di perusahaan yang berkecimpung sama pernikahan. Nah ceritanya gw mau ajak join istri lo biar sama-sama untung lah istilahnya," jelas Yanuar, "gimana Ri? Mau gak?"
"Emang perusahaan Kak Yanuar itu apa?" tanya Riyani penasaran.
"Dia buka butik pengantin, Sayang," jawab Hanif.
Riyani sedikit terkejut. Pasalnya, ia baru mengetahui hal ini.
"Jadi Kak Yanuar ini pengusaha?" tanya Riyani.
"Bukan, Yanuar ini yang jadi kepala toko butik di sini. Sebelumnya dia kerja di kota asalnya," jelas Hanif.
Riyani mengangguk paham.
"Sebenernya bukan sekedar gaun pengantin yang kita tangani. Ada beberapa juga, kayak misalnya WO sama vendor-vendor lainnya. Jadi pengantinnya tinggal serahin uang aja, nanti sesuaikan sama dia. Kita nyari yang vendornya," jelas Yanuar.
"Saya kan baru di sini. Makanya kemarin sempet ngobrol sama Hanif, terus dia rekomendasi istrinya buat join."
"Kamu setuju gak kira-kira kalau join?"
Riyani menoleh pada suaminya.
Hanif menggenggam tangannya. "Aa bakal dukung apapun keputusan kamu."
"Kalau neng join emangnya gak apa-apa? Aa bolehin?" tanya Riyani.
"Kalau Aa gak bolehin kamu join sama Yanuar, dari kemarin sama Aa gak bakal dikasih tau dong," jelas Hanif.
Riyani menoleh pada Yanuar. "Kalau mau mikir dulu boleh gak?"
Yanuar terkekeh. "Boleh dong. Tapi usahain besok udah ada jawabannya ya!"
Riyani mengangguk mengiyakan.
...----------------...
Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, Hanif bersama Riyani baru saja kembali ke rumah setelah mengobrol cukup lama dengan Yanuar dan Velia. Apalagi pasangan ini juga akan segera melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat.
Riyani sempat menghubungi neneknya membicarakan kerjasama dengan Yanuar. Nenek setuju, apalagi memang sudah saatnya ia melanjutkan bisnis neneknya yang ia sendiri sudah tekuni sejak dulu.
Sebelum beristirahat, Riyani duduk menghadap suaminya yang kini bersandar pada ranjang.
"Aa.... kalau Neng kerjasama sama Kak Yanuar gimana?" tanya Riyani.
"Aa dukung, Sayang."
Hanif menggenggam tangan istrinya.
"Kamu kan udah tekuni lama, belajar sama nenek dari dulu. Sayang kalau kamu gak berkembang cuman karena kehalang udah punya suami. Aa gak mau jadi penghalang kamu buat kembangin semua yang kamu impikan dari dulu."
"Kata nenek, dulu kamu pernah mimpi pengen punya toko kue dan usaha catering kayak nenek. Bener kata nenek, kalau kamu masih mempertimbangkan orang lain, kamu gak akan membuka sayap kamu sendiri."
"Aa dukung kamu sepenuhnya, apapun keputusan kamu. Mau seutuhnya jadi ibu rumah tangga, Aa mampu biayain kamu sama anak-anak kita. Atau mau kembangin usaha dan hobi kamu, Aa juga gak bakal halangi."
Riyani tersenyum mendengarnya. Ia peluk erat suaminya, "makasih ya Aa."
"Sama-sama, Sayang."
(Apapun yang kamu mau, Aa usahakan kamu bahagia dan selalu menjadi diri kamu sendiri)
...----------------...
Hari berganti, Riyani sudah bersiap untuk pergi ke butik yanuar.
"Tunggu! Mau kemana kamu udah rapih begini?" tanya seseorang yang sudah menunggunya di depan rumah sejak lama.