Akira tewas terbunuh karena ledakan bom yang di pasang di mobilnya, oleh musuh. Namun keajaiban terjadi, dia terbangun di tubuh wanita bernama Elvira, seorang istri yang tak di anggap oleh suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Whidie Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 - Menyusup
Tak berselang lama mobil telah masuk basement AKR Corp, mereka pergi sesuai arahan yang diberikan penjaga keamanan.
Mereka turun setelah mobil terparkir rapi. Banyak orang-orang ternama yang juga hadir hampir bersamaan dengan kedatangan mereka.
Elvira dan Zavian mengantri untuk pemeriksaan keamanan, diikuti Bima dibelakang nya. Setelah memastikan tak ada hal mencurigakan dari sang tamu undangan mereka pun di persilahkan masuk.
Pintu kaca besar terbuka otomatis, menyambut mereka dengan aliran udara dingin yang beraroma campuran bunga mahal dan wangi parfum yang kuat. Suara percakapan riuh berpadu dengan alunan musik lembut langsung menyapa telinga begitu mereka melangkah masuk. Ruangan itu luas, dihiasi lampu gantung kristal yang berkilauan seolah menumpahkan ribuan bintang ke lantai marmer yang mengkilap. Di setiap sudut terpasang spanduk besar bertuliskan “AKR Corp: Berbagi untuk Sesama”, lengkap dengan daftar nama penyumbang yang dicetak dengan huruf emas.
Zavian berjalan tenang, pandangannya bergerak perlahan mengamati sekeliling tanpa terlihat menatap tajam. Di sampingnya, Elvira berjalan dengan sikap anggun—pakaian sederhana namun berkelas membuatnya tampak menonjol tanpa berlebihan.
Di belakang mereka, Bima berjalan agak menjauh sedikit, tetap waspada mengawasi setiap gerak-gerik orang yang lewat maupun yang berdiri berkerumun.
‘Lihatlah mereka, saling bersalaman, memuji, tersenyum manis seolah persahabatan ini abadi. Padahal mata mereka saling menakar, siapa yang lebih kaya, siapa yang lebih berkuasa,’ Elvira tersenyum tipis, senyum yang hampir tak terlihat. Matanya bergerak mengawasi orang-orang itu, memantau pergerakan mereka seperti cctv. Memindai penjaga keamanan, letak cctv dan lain sebagainya.
Zavian mengangguk samar membalas sapaan beberapa tamu yang melewati mereka dengan senyum yang tak sampai ke hati. “Inilah panggung sandiwara terbesar di kota ini, Elvira. Semua orang memakai topeng, dan tak ada yang berani membukanya lebih dulu.”
“Itu hal biasa Zavian, tak ada orang yang benar-benar jujur di dunia ini, termasuk kau sendiri,” balas Elvira, tangannya melingkar di lengan suaminya.
Zavian tersenyum tipis, “jika aku terlalu jujur, aku akan bangkrut dalam sekejap,” bisiknya di daun telinga Elvira.
Elvira diam tak menjawab. Matanya masih setia mengawasi sekitar.
“Aku ke toilet sebentar,” pamitnya, sambil melepas tangannya yang melingkar di lengan Zavian.
“Baiklah. Kau tahu letak toiletnya?”
Elvira mengangguk tanpa kata kemudian pergi. Namun bukan benar-benar pergi ke toilet, langkahnya berbelok menuju gudang tempat penyimpanan alat kebersihan.
Elvira melangkah hati-hati menyusuri lorong yang agak sepi, cahaya lampu yang agak remang membuat bayangannya tampak memanjang di lantai keramik yang mengkilap. Setiap kali mendengar suara langkah kaki mendekat, ia segera menempelkan punggungnya ke dinding dan menahan napas, menunggu sampai orang yang lewat itu hilang dari pandangan. Jantungnya berdegup kencang seolah hendak melompat keluar dari rongga dadanya—namun tekadnya tak goyah sedikit pun. Ia tahu, kesempatan ini tidak mungkin datang dua kali, mungkin dia bisa mendapatkan jawaban yang selama ini ia cari ditempat ini.
Sesampainya di depan pintu gudang alat kebersihan yang tertutup rapat, ia melirik ke kiri dan kanan untuk memastikan tidak ada siapa-siapa di sekitarnya. Gagang pintu itu berputar pelan tanpa menimbulkan bunyi berisik saat didorongnya masuk. Di dalamnya berbau sabun pembersih dan debu yang tertampung di sudut-sudut ruangan. Di rak-rak kayu berderet, tersusun rapi sapu, pel, ember, kain lap, hingga seragam petugas kebersihan berwarna cokelat kusam yang tergantung di gantungan besi.
Elvira segera memilih seragam yang ukurannya pas untuk tubuhnya, lalu mengenakannya dengan cepat di balik tumpukan kotak kardus tua agar tidak terlihat jika ada orang yang membuka pintu tiba-tiba. Ia juga mengambil topi kain untuk menutupi sebagian wajahnya, serta sepasang sarung tangan karet yang sedikit besar untuk tangannya. Sebagai pelengkap, ia mendorong troli berisi alat kebersihan, lalu berjalan keluar gudang seolah-olah ia memang petugas kebersihan yang sedang menjalankan tugasnya.
Kini penampilannya berubah total. Orang yang melihatnya sekilas pasti akan mengira ia hanyalah salah satu petugas yang biasa bekerja di gedung itu setiap hari. Ia berjalan dengan langkah yang lambat dan tenang, tidak terburu-buru agar tidak menimbulkan kecurigaan. Di benaknya, ia terus mengingat-ingat letak ruang keamanan. Lantai dua, tempat di mana pintu masuk ruang keamanan berada, di dekat tangga darurat yang jarang dilalui orang.
Di sepanjang jalan, beberapa karyawan yang lewat hanya menatapnya sekilas lalu berlalu begitu saja, tidak ada yang menanyakan apa-apa. Hal itu membuat rasa percaya dirinya sedikit bertambah, meski rasa takut masih menyelinap di setiap sudut hatinya. Saat mendekati persimpangan lorong yang diinginkannya, ia melihat dua orang petugas keamanan berdiri berbicara satu sama lain tidak jauh dari pintu ruang keamanan.
Elvira berhenti sejenak, berpura-pura sedang membersihkan noda di lantai dengan kain lapnya. Ia menundukkan kepala mendengarkan percakapan mereka tanpa berani menatap langsung.
"Kau yakin catatan rekaman hari itu sudah disimpan di tempat biasa?" tanya salah satu petugas dengan suara berat.
"Sudah, tapi ada perintah khusus—rekaman dari tempat itu tidak boleh dilihat siapa pun kecuali pimpinan," jawab yang lain dengan nada rendah. "Bahkan akses ke ruang rekaman tambahan saja sudah dikunci ganda sejak kemarin."
Hati Elvira berdesir mendengarnya. Jadi dugaannya benar—ada sesuatu yang disembunyikan di sana, sesuatu yang cukup penting hingga dijaga seketat ini. Ia menunggu sampai kedua petugas itu berpisah dan berjalan menjauh, masing-masing menuju arah yang berbeda. Saat lorong itu kembali sepi, ia bergerak perlahan mendekati pintu ruang keamanan.
Pintu itu terbuat dari logam yang kokoh, dengan satu tombol panggil dan pembaca kartu akses di sampingnya. Elvira mengerutkan kening—ia tidak memiliki kartu akses apa pun. Namun saat matanya berkeliling mencari jalan lain, ia melihat ada celah kecil di sisi jendela kaca kecil di bagian atas pintu yang tidak tertutup rapat. Di sampingnya, tergantung papan pengumuman yang sudah agak usang, dan di bawahnya tergeletak sebatang kawat tipis yang terjatuh dari ikatan kabel.
Elvira menaruh troli kebersihannya perlahan-lahan, lalu mengambil kawat itu dengan hati-hati. Ia menatap sekeliling sekali lagi, memastikan tidak ada mata yang mengawasi, sebelum mencoba memasukkan kawat itu melalui celah kecil tersebut. Tangannya sedikit gemetar, namun ia berusaha menstabilkan gerakannya sambil mengingat apa yang pernah dipelajarinya tentang cara kerja kunci pintu itu saat masih kecil.
Saat kawat itu menyentuh sesuatu di dalam, terdengar bunyi kecil—klik—yang nyaris tak terdengar. Pintu itu sedikit tergeser ke depan. Napas Elvira tertahan. Ia berhasil membukanya sedikit, cukup untuk menyelinap masuk tanpa menimbulkan bunyi berisik.
Di dalam ruangan itu, udaranya terasa dingin dan berbau kabel yang terbakar sedikit. Dindingnya dipenuhi rak-rak layar yang menampilkan gambar dari berbagai sudut gedung, serta tumpukan kotak penyimpanan rekaman yang berjejer rapi di sudut ruangan. Di tengah ruangan, ada meja kerja yang kosong, namun layar komputernya masih menyala perlahan.
Elvira melangkah masuk perlahan, menutup pintu kembali dengan hati-hati agar tidak ada yang tahu ruangan itu telah dimasuki orang lain. Ia melepas topinya sebentar agar bisa melihat lebih jelas, matanya menyapu setiap sudut ruangan mencari petunjuk. Namun tiba-tiba, ia mendengar suara langkah kaki mendekat dari luar pintu—semakin dekat, semakin cepat.
Elvira menoleh ke sekeliling dengan panik. Satu-satunya tempat persembunyian yang terlihat adalah di balik tumpukan kotak besar di sudut ruangan. Ia segera berlari kecil ke sana dan bersembunyi di baliknya, menahan napas sekuat tenaga saat gagang pintu mulai berputar perlahan.
ikutan tegang
😍😍💪💪🙏🙏
😍😍😍😍💪💪💪💪🙏🙏🙏
apa selama ini akira jga memanipulasi dana amal?
😍😍😍😍💪💪💪💪
🤣🤣🤣🤣🙏🙏😍😍💪💪
gk nyangka kalo hub akira dan calvin seperti itu awqlnya..
gk krtebak.
🙏🙏🙏😍😍😍😍😍💪💪💪
akankah mereka saling jatuh hati saat caviar tau kalo ebelyn adalah dori nya alias akira.?
🤣🤣😍🙏🙏💪💪
😍🙏🙏💪💪
penuh misteri..
seruu..
😍🙏🙏💪💪💪
🤣🤣💪🙏😍😍
jadi dia masih ngitilin elvira..
jadi tau saat elvira brkanja senjata ...
🤣🤣💪🙏😍
🤣💪🙏😍😍😍😍
rencana raisa kalah telak sama elvira
daripada raisa..
🤭😄😄💪💪🙏🤣🤣😍
tambah seru..
apa yg akan raisa lakukan...
bagaimna zavian menaggapi ..
apa yg akan akira lakukan..
🤣🤣😍😍🙏🤣🤣🤣😍😍😍
biar zelda kapok..
🤣😍😍🙏🙏💪💪
mulai..
🤣😍🙏🙏💪💪
jgn2 mantan tunangan Zavian...
😍😍😍😍🙏🙏💪
kerjaan elviraaa..
🤣🤣😍😍🙏💪💪