NovelToon NovelToon
Hanya Bisnis, Sayang

Hanya Bisnis, Sayang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Action
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Vanessa_Write

"Ingat posisi kita, Elena. Di luar kita adalah pasangan sempurna, tapi di dalam rumah ini, kita adalah dua orang asing yang kebetulan berbagi satu atap. Jangan pernah lupakan itu."

Elena adalah CEO Luminous Beauty yang ambisius. Baginya, hidup adalah tentang citra dan kesempurnaan visual. Namun, sebuah pengkhianatan di dewan direksi memaksanya bersekutu dengan pria yang paling ia benci, Adrian ,
sang penguasa Arsa Food Group yang dingin dan praktis.

Namun, di balik kemewahan hidup mereka, ada rahasia gelap yang terkubur. Saat dinding kebencian mulai runtuh oleh sesuatu yang tak terduga, Elena menyadari bahwa Adrian mungkin bukan hanya rekan bisnis/suaminya, melainkan dalang di balik tragedi masa lalu keluarganya.

Di dunia mereka, cinta adalah kelemahan, dan pengkhianatan adalah strategi. Saat kontrak mulai melanggar logika hati, siapakah yang akan hancur lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanessa_Write, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Meloloskan Diri

Suara sirine mobil otoritas hukum meraung-raung di kejauhan, membelah keheningan fajar di sekitar kompleks pabrik pusat Arsa Food Group. Lampu-lampu rotator berwarna merah dan biru berkelebat bergantian di balik dinding kaca, memantulkan bayangan kecemasan di dalam ruangan. Sektor luar tempat ini telah sepenuhnya dikepung rapat. Unit taktis yang telah disuap oleh faksi atas Syndicate bergerak dengan barikade penuh, mengunci setiap gerbang keluar-masuk dengan persenjataan lengkap. Mereka tidak datang untuk menjemput tahanan secara damai, mereka datang untuk melumpuhkan sang predator.

Di dalam ruang perawatan darurat yang remang-remang, Hendra dengan cekatan menghapus seluruh jejak digital dari komputer tabletnya. Jari-jarinya bergerak cepat di atas layar sebelum akhirnya mencabut kartu memori enkripsi utama. Langkah kakinya terdengar tergesa-gesa saat ia mendekati Adrian dan Elena yang masih berdiri berdampingan di dekat meja operasi.

"Tuan, jalur evakuasi bawah tanah di sektor pembuangan limbah adalah satu-satunya jalan yang belum terdeteksi oleh radar luar," bisik Hendra dengan nada mendesak, menunjuk ke arah peta cetak fisik yang sengaja ia bentangkan di atas meja marmer. "Namun, kita harus bergerak sekarang sebelum mereka mendapatkan izin geledah paksa dari Otoritas Pengawas Finansial yang baru. Begitu surat itu keluar, mereka punya legalitas hukum untuk menghancurkan tempat ini."

Elena menatap peta tersebut, lalu mengalihkan pandangannya ke arah monitor televisi yang masih menyiarkan berita pembunuhan karakter terhadap suaminya. Mengingat kembali bagaimana dokumen tuntutan hukum itu dirilis dengan begitu rapi dalam hitungan jam, sepasang mata indahnya menyipit tajam. Pikiran taktisnya mulai bekerja, menghubungkan titik-titik kekuatan musuh yang baru saja menghantam mereka dalam semalam dengan skala yang begitu masif.

"Adrian, kita harus memetakan ulang kekuatan mereka," kata Elena, suaranya terdengar dingin dan teratur, mencoba sekuat tenaga menekan debaran jantungnya yang berpacu cepat. "Kemarin di pelabuhan barat, mereka menggunakan Vanguard Maritim untuk memblokir kapal kargo kita. Dan pagi ini, korporasi yang sama meluncurkan tuntutan hukum lewat jaringan media internasional mereka. Sebenarnya seberapa jauh gurita bisnis perusahaan itu masuk ke dalam faksi atas?"

Adrian yang sedang mengenakan kembali kemeja hitamnya dengan bantuan tangan kiri, melirik ke arah Elena. Tatapan matanya yang gelap tampak begitu pekat, memancarkan aura predator yang sama sekali tidak terusik oleh kepungan ratusan personel bersenjata di luar sana.

"Vanguard Maritim bukan sekadar perusahaan pelayaran biasa, Elena," sahut Adrian, suara baritonnya yang berat terdengar menggema rendah di dalam ruangan, memberikan ketenangan magis yang aneh di tengah situasi darurat. Pria itu melangkah mendekat, berdiri di sisi Elena sembari menatap peta fisik di meja. "Di bawah kendali faksi atas Syndicate, mereka menguasai hampir tujuh puluh persen jalur transportasi logistik global. Mereka memiliki satelit komunikasi militer sendiri, jaringan media hukum di berbagai wilayah netral, dan yang paling berbahaya, mereka adalah penyokong dana utama bagi para pejabat korup di dalam KTI."

Elena mengembus napas tajam, menyadari betapa raksasanya lawan yang sedang mereka hadapi di Konflik Kedua ini. "Artinya, menyerahkan bukti ke KTI pusat lewat jalur biasa adalah tindakan bunuh diri. Siapa pun yang memegang jabatan tinggi di sana saat ini, kemungkinan besar sudah berada di bawah pengaruh dana tak terbatas milik Vanguard."

"Benar. Karena itu, kita tidak akan lagi bermain sesuai aturan mereka," sudut lipatan bibir Adrian terangkat tipis, membentuk sebuah senyuman kejam yang sarat akan dominasi absolut. Ia mengulurkan tangan kirinya, mencengkeram jemari tangan Elena dengan remasan yang kuat, menyalurkan rasa aman yang protektif di tengah situasi genting. "Mereka mengira telah mengunci kita di dalam pabrik ini. Mereka tidak tahu kalau singa justru paling berbahaya saat sudut ruangnya mulai dipersempit."

DUG! DUG!

Pintu koridor luar gedung perawatan terdengar mulai digedor secara paksa dari arah depan. Suara gesekan sepatu bot militer yang berat mulai terdengar menggema di lorong, diikuti oleh teriakan peringatan agar seluruh penghuni gedung tiarap.

"Mereka sudah menjebol gerbang depan, Tuan! Unit taktis faksi atas sudah masuk ke koridor utama!" seru Hendra dengan wajah yang mulai memucat akibat tekanan.

"Hendra, bawa seluruh data cadangan tingkat tiga dan bergerak lewat jalur evakuasi B sekarang juga. Jangan biarkan dirimu tertangkap, karena kamu adalah saksi kunci kita untuk membalikkan keadaan nanti. Kita bertemu di pangkalan titik aman sektor timur," perintah Adrian tegas tanpa bantahan.

"Baik, Tuan! Semoga keberuntungan bersama Anda berdua," Hendra membungkuk hormat sekilas, lalu dengan cepat menyelinap keluar melalui pintu rahasia di balik lemari penyimpanan medis yang terhubung ke lorong utilitas udara.

Kini, hanya tersisa Adrian dan Elena di dalam ruangan yang makin bising oleh suara langkah kaki yang mendekat. Adrian membalikkan tubuhnya menghadap Elena, menatap lekat-lekat wajah cantik istrinya yang tidak memperlihatkan setitik pun keraguan atau histeria khas wanita lemah.

Tangan kiri Adrian bergerak naik, menyelipkan beberapa helai rambut hitam Elena ke belakang telinganya yang dingin, sebelum jemarinya turun untuk menangkup rahang tegas wanita itu.

"Siap untuk menjadi buronan bersamaku, Nyonya Arsa?" bisik Adrian rendah. Tatapan matanya begitu intens, dalam, dan posesif, seolah-olah dunia luar yang sedang runtuh dan kepungan senjata itu sama sekali tidak penting baginya selama Elena berada di dalam jangkauan tangannya.

Elena tersenyum menantang, sebuah senyuman elegan yang mempertegas keberaniannya sebagai seorang keturunan Alexander yang sejati. Tangan kirinya bergerak naik, menggenggam pergelangan tangan kiri Adrian yang sedang menangkup wajahnya dengan erat. "Aku tidak pernah berencana untuk kalah dari organisasi bayangan mana pun, Tuan Arsa. Pimpin jalannya."

Adrian menarik Elena ke dalam dekapannya selama satu detik yang singkat namun penuh dengan emosi nyata yang makin mengikat mereka, sebelum akhirnya melepaskannya dan meraih sebuah pistol laras pendek kaliber sembilan milimeter dari balik rompi taktisnya.

Dengan gerakan yang lincah dan senyap, Adrian menuntun Elena melangkah menuju jendela sudut yang terhubung langsung dengan atap beton jalur pembuangan limbah pabrik. Tepat saat pintu ruang perawatan darurat itu didobrak hingga hancur oleh tiga personel taktis bersenjata lengkap, Adrian dan Elena sudah melompat turun ke arah tangki pembuangan bawah yang gelap.

DOR! DOR! DOR!

Rentetan peluru menyalak menghantam bingkai jendela yang baru saja mereka tinggali, memercikkan serpihan kaca tajam ke udara. Namun, di bawah temaram langit fajar yang mulai memerah, sang power couple berhasil mendarat di atas permukaan pipa beton raksasa.

Medan di dalam jalur limbah bawah tanah itu sangat licin dan dipenuhi oleh uap panas dari mesin penyaringan pabrik yang masih bekerja. Adrian, dengan kondisi lengan kanan yang baru saja dijahit ulang, terpaksa harus menahan beban tubuhnya menggunakan tangan kiri saat membimbing Elena berjalan menyusuri tepian pipa yang sempit. Setiap kali kakinya terpeleset, luka di lengan kanannya berdenyut perih luar biasa hingga membuat pelipis Adrian dibanjiri keringat dingin, namun ia sama sekali tidak melepaskan cengkeramannya pada pinggang Elena.

"Adrian, lenganmu berdarah lagi!" bisik Elena tertahan saat melihat cairan merah mulai kembali merembes di balik kemeja hitam suaminya akibat guncangan saat melompat tadi.

"Abaikan lengan ini, Elena. Terus berjalan ke depan," desis Adrian rendah, suaranya sarat akan otoritas yang tidak menerima perdebatan. Ia menarik tubuh Elena lebih dekat ke dinding pipa saat mendengar suara gema langkah kaki dari unit pengejar yang mulai turun ke dalam jalur gorong-gorong di belakang mereka.

Mereka terus bergerak dalam kegelapan yang pekat, hanya dipandu oleh insting taktis Adrian dan cahaya redup dari lampu indikator pipa. Ketegangan fisik yang luar biasa ini justru memicu sesuatu yang berbeda di dalam dada mereka. Di tengah ancaman kematian dan kehancuran reputasi, mereka menyadari bahwa mereka kini tidak lagi terikat oleh kontrak bisnis di atas kertas. Mereka adalah dua jiwa yang saling mengandalkan hidup dan mati pada satu sama lain.

Setelah berjalan hampir dua puluh menit menembus labirin bawah tanah, mereka akhirnya sampai di sebuah lubang keluar yang tertutup semak belukar lebat di pinggiran hutan sektor timur kompleks pabrik. Adrian mendorong penutup besi itu dengan bahu kirinya, lalu membantu Elena keluar terlebih dahulu sebelum dirinya sendiri merangkak naik ke atas tanah yang basah oleh embun pagi.

Di balik rimbunnya pepohonan, sebuah mobil SUV hitam tanpa pelat nomor sudah terparkir rapi, kendaraan pelarian darurat yang selalu disiapkan Adrian untuk skenario terburuk.

Adrian membukakan pintu penumpang untuk Elena, memastikannya masuk dengan aman sebelum ia sendiri memutari bumper dan duduk di kursi kemudi. Dengan menggunakan tangan kirinya, ia menyalakan mesin yang menderu halus, lalu menginjak pedal gas dalam-dalam, membawa mereka melesat pergi meninggalkan kompleks pabrik yang kini dipenuhi kepulan asap dan sirine.

Mereka resmi menjadi buronan wilayah pagi ini, namun di dalam kabin mobil yang melaju membelah kabut fajar, sepasang mata Adrian dan Elena saling bertemu dengan kilatan determinasi yang sama. Syndicate dan Vanguard Maritim mengira mereka telah menang, tanpa menyadari bahwa mereka baru saja membangunkan sisi predator terdalam dari pasangan penguasa bisnis tersebut.

......BERSAMBUNG......

1
Bu Dewi
seru kak alur ceritanya😍😍😍👍
VanessaJournal: terima kasih atas support nya kak! 😊🙏🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!