NovelToon NovelToon
Ibu Susu Yang Tak Pernah Dipilih

Ibu Susu Yang Tak Pernah Dipilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / Duda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

Empat tahun Inara menjadi ibu susu bagi Zidan. Selama itu pula, ia mendapatkan cinta dari Reno, ayah Zidan, bahkan mereka berencana untuk menikah.

Namun semuanya berubah saat Zoya, mantan istri Reno sekaligus ibu kandung Zidan, kembali dengan niat menebus kesalahan. Sejak saat itu, kehidupan Reno dan Zidan perlahan berpusat pada Zoya. Sementara Inara justru merasa tersisih dan selalu menjadi pihak yang disalahkan.

Inara tidak pernah tahu di mana letak kesalahannya, hingga membuat Reno yang dulu mencintainya kini berubah dingin.

Apa yang sebenarnya terjadi? Akankah Inara memilih bertahan atau justru akan pergi karena merasa sudah tidak dipilih lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Mendengar Zidan sakit, tanpa berpikir panjang Inara langsung meraih tasnya. Semua keraguan, kemarahan, dan tekad yang selama ini susah payah ia bangun runtuh begitu saja dalam hitungan detik. Lagi dan lagi, naluri seorang ibu mengalahkan keinginannya untuk menjauh.

"Aku harus pergi, Pak," ucapnya buru-buru.

Altaf yang melihat kepanikan di wajah wanita itu hanya mengangguk mengerti. "Pergilah."

Inara bahkan tidak sempat berbicara lebih banyak. Ia segera beranjak dan meninggalkan lokasi syuting. Hal itu tentu saja tidak luput dari perhatian Baba yang sejak tadi diam-diam memperhatikan Inara dari kejauhan. Begitu melihat wanita itu pergi tergesa-gesa, bocah tersebut langsung berlari menghampiri ayahnya.

"Ayah, Tante Ara mau ke mana?" tanyanya penasaran.

Altaf melirik putranya sekilas sebelum menjawab santai, "Ke mana lagi? Dia mau menemui anaknya."

Mata Baba langsung membulat. Ia menepuk dahinya sendiri dengan ekspresi dramatis.

"Berarti ketemu Om Emosian juga?"

"Tentu."

"Astaga, Ayah." Baba menggeleng-gelengkan kepala. "Kenapa Ayah biarin Tante pergi sendirian? Nanti kalau Tante balik lagi sama Om Emosian gimana?"

Altaf mengernyit. "Gimana apanya?"

"Ya gimana kalau mereka balikan?"

"Kalau balikan berarti memang masih berjodoh."

Jawaban itu justru membuat Baba semakin tidak setuju. Bocah itu menghela napas panjang layaknya orang dewasa yang sedang menghadapi masalah besar.

"Pantas saja Ayah masih bujang lapuk."

Altaf yang sedang minum langsung menoleh tajam. "Apa kamu bilang?"

Baba refleks menyeringai kaku. "Gak, Yah. Aku bilang bangku itu udah lapuk."

Altaf mendecak pelan. Jelas sekali anak itu sedang mencari alasan. Namun Baba dengan cepat mengalihkan pembicaraan.

"Kalau Tante Ara kenapa-napa gimana? Ayah juga tahu Om Emosian itu galak banget."

"Kamu gak perlu mikirin yang aneh-aneh." Altaf mengusap rambut putranya asal. "Sekarang fokus saja sama pekerjaanmu. Kalau gak, lain kali Ayah gak izinin kamu ikut syuting."

Ancaman itu ternyata tidak terlalu berpengaruh. Alih-alih takut, Baba justru melipat kedua tangannya di depan dada sambil memasang wajah cemberut. Di dalam kepalanya hanya ada satu pikiran, Inara.

Ia masih ingat jelas bagaimana wajah wanita itu terlihat murung sejak pagi. Dan sekarang wanita itu pergi menemui Om Emosian yang menurutnya sama sekali tidak bisa dipercaya. Semakin dipikirkan, semakin berbahaya.

"Pokoknya Ayah harus anterin aku nyusul Tante," putusnya mantap. "Kalau gak, aku bakal merajuk."

"Baba..."

"Ayah."

"Baba."

"Ayah."

Altaf langsung memijat pelipisnya. Entah sejak kapan anaknya tumbuh menjadi bocah sekeras kepala ini. Dan yang paling menyebalkan, sebagian besar sifat itu ternyata sama seperti dirinya.

"Kamu tahu gak arti merajuk?"

"Tahu."

"Lalu?"

"Aku profesional."

Altaf menatapnya datar.

Baba membalas tatapan itu tanpa merasa bersalah sedikit pun. Beberapa saat kemudian, pria itu akhirnya mengembuskan napas panjang tanda menyerah.

"Baiklah."

Wajah Baba langsung berbinar mendengar persetujuan Altaf.

"Tapi setelah syuting selesai."

Senyum itu seketika menghilang.

"Kelamaan."

"Setelah syuting selesai."

"Kalau Tante diculik Om Emosian duluan gimana?"

Altaf hampir tersedak mendengar logika ajaib tersebut. "Itu rumah Reno, bukan markas penculik."

"Tetap aja."

"Baba."

"Ayah."

"Baba."

"Ayah."

Melihat putranya yang masih ngotot, Altaf akhirnya mengacak rambut bocah itu hingga berantakan. "Kamu benar-benar bikin pusing."

Baba terkikik kecil. "Itu artinya Ayah sayang aku."

"Tidak."

"Berarti sayang banget."

Kali ini Altaf tidak bisa menahan tawanya. Ia menggeleng pelan sambil menatap putranya yang tersenyum puas karena merasa menang. Akhirnya, setelah menemukan jeda syuting yang memungkinkan, Altaf benar-benar menuruti keinginan Baba untuk menyusul Inara.

***

Sementara itu, Inara akhirnya tiba di rumah Reno. Sepanjang perjalanan, pikirannya tidak pernah lepas dari Zidan. Berkali-kali ia memanjatkan doa dalam hati agar keadaan anak itu tidak memburuk. Bagaimanapun juga, meski hatinya terluka dan meski bocah itu pernah mengatakan membencinya, Zidan tetap menjadi anak yang selalu ia khawatirkan. Bahkan dalam setiap sujudnya, nama anak itu tidak pernah absen dari doa-doanya.

"Zidan!"

Begitu memasuki rumah, Inara langsung memanggil nama bocah itu. Namun rumah yang biasanya ramai justru terasa begitu sepi. Tidak ada suara tangisan, tidak ada kepanikan seperti yang dibayangkannya selama perjalanan. Hal itu membuat langkahnya semakin cepat. Dalam benaknya hanya ada satu kemungkinan, Zidan pasti sedang beristirahat di kamar karena kondisinya memburuk.

Tanpa membuang waktu, Inara segera menaiki tangga. Jantungnya berdetak semakin kencang seiring langkah yang terburu-buru. Namun begitu pintu kamar terbuka, tubuhnya langsung membeku di tempat.

Suara letusan konfeti terdengar nyaring di udara, diikuti potongan-potongan kertas berwarna yang berhamburan di sekelilingnya. Kamar itu dihiasi balon dan berbagai dekorasi sederhana yang tampak dipersiapkan dengan penuh semangat.

"Mama, celamat datang!" seru Zidan dengan wajah cerah. "Idan kangen Mama."

Untuk sesaat, Inara hanya mampu menatap bocah itu. Tidak ada wajah pucat, tidak ada tubuh lemas, apalagi tanda-tanda anak yang sedang sakit. Zidan justru terlihat sehat dan bahagia.

Pandangan Inara kemudian beralih pada Reno yang berdiri di samping putranya dengan senyum lebar seolah menunggu reaksi yang ia harapkan.

Saat itulah semuanya terasa begitu jelas, tidak ada anak yang sakit, tidak ada keadaan darurat. Semua ini hanyalah alasan agar ia datang.

"Apa maksud semua ini?" tanya Inara pelan.

Reno tampak tidak menyadari perubahan ekspresi wanita itu. Senyumnya bahkan semakin lebar.

"Inara, terima kasih sudah datang. Aku dan Zidan menyiapkan semua ini untuk menyambutmu."

Sesaat Inara menundukkan kepala sambil mengembuskan napas panjang. Selama perjalanan ia dihantui rasa takut yang luar biasa, membayangkan berbagai kemungkinan buruk yang bisa terjadi pada Zidan. Bahkan tanpa berpikir panjang ia datang menggunakan kendaraan apapun yang penting bisa segera sampai. Sekarang ia justru mengetahui bahwa semua kekhawatiran itu dibangun di atas sebuah kebohongan.

Perlahan Inara kembali mengangkat wajahnya. Tatapannya berpindah dari Reno lalu ke Zidan yang masih tersenyum polos tanpa memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.

"Kamu bilang Zidan sakit."

Kalimat itu membuat senyum Reno memudar.

"Inara, aku bisa jelaskan—"

"Kamu bilang Zidan sakit," ulang Inara dengan suara yang masih tenang, tetapi justru terdengar jauh lebih menusuk. "Kamu membuatku percaya kalau terjadi sesuatu pada dia."

Reno yang sejak tadi penuh harapan mulai kehilangan senyumnya. Ia bisa melihat sendiri bagaimana tatapan Inara berubah. Bukan marah, melainkan kecewa. Dan entah kenapa, itu terasa jauh lebih menyakitkan.

Inara tersenyum tipis. Namun senyum itu sama sekali tidak menyimpan kehangatan.

"Kamu benar-benar tega ya, menjadikan kesehatan anak hanya untuk hal semacam ini."

"Inara, aku melakukan ini cuma supaya kamu datang. Aku juga gak bohong kalau Zidan memang ingin bertemu denganmu," jawab Reno cepat.

"Tapi bukan dengan cara seperti ini."

Suara Inara tetap pelan, tetapi cukup membuat Reno terdiam.

Perlahan ia mengalihkan pandangannya pada Zidan yang sejak tadi berdiri di samping Reno. Bocah itu masih memegang sisa tabung konfeti dengan wajah bingung karena tidak mengerti kenapa suasana yang tadinya begitu menyenangkan tiba-tiba berubah.

"Zidan," panggil Inara lembut.

Bocah itu langsung mengangkat wajahnya.

"Kamu waktu itu sudah memilih Bunda Oya."

Wajah kecil Zidan seketika berubah pucat.

"Mama Ala..."

"Seorang laki-laki, meskipun masih kecil, harus memegang ucapannya. Kalau hari ini bilang ingin bersama seseorang, besok jangan berubah hanya karena keadaan sudah berbeda."

Mata Zidan langsung berkaca-kaca. Bocah itu menunduk dan meremas bajunya sendiri.

"Mama Ala..."

Melihat reaksi putranya, Reno spontan maju selangkah.

"Inara, bisa gak kamu jangan bikin Zidan ketakutan?" katanya dengan nada tidak suka. "Dia baru saja mengalami trauma karena Zoya. Jangan tambah lagi dengan emosimu."

Kalimat itu membuat Inara terdiam. Trauma?

Alisnya perlahan bertaut. Ia menoleh kepada Reno, hendak menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Namun sebelum satu kata pun sempat keluar dari bibirnya, suara ketukan hak tinggi yang menghantam lantai marmer terdengar dari arah tangga.

Tak.

Tak.

Tak.

Suara itu terdengar cepat dan penuh amarah. Baik Reno maupun Inara refleks menoleh ke sumber suara.

Beberapa detik kemudian, sosok Zoya muncul di ambang pintu. Wanita itu mengenakan gaun merah menyala dengan riasan yang masih sempurna, tetapi ekspresi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ketenangan. Yang lebih mengejutkan, salah satu tangannya sedang mengangkat ponsel dengan kamera yang sudah menyala dan mengarah lurus ke Inara.

1
Anonim
Thor buat nadia lebih pinter thor ,lebih tegas ,tau mana tipuan mana engga .jadikan dia wanita cerdas dan tegas 🤭
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: nadia siapa kak? 🤣🤭
total 1 replies
Anonim
Thor jangan tidur terus thor ,,cerita nya belum di lanjutin ini udah berapa purnama 🤭
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: 🤣🤣 autornya siap2 nanti malam update kakak, maafkan autor ini
total 1 replies
Anonim
Mampus kau inara jadi viral nanti di anggap pelakor lagi lu,lu masih percaya aja sama si reno,heran jadi perempuan ko bego
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: kasian ya
total 1 replies
Dew666
🍎🍎🍎🍎
Anonim
Jangan balikin inara sama reno y thor,ga rela aku 🤭 huss sana reno
Anonim
Enak aja lu reno,egois banget lu mau inara jadi pengasuh gretongan lagi
Run inara run
Agunk Setyawan
up nya lama pake banget
Soraya
lanjut
Soraya
mampir thor
falea sezi
😒 jangan balik kayak pengemis aja
falea sezi
😒 inara🤣 knp nama ini selalu goblok y
falea sezi
oon
falea sezi
males cwek bego😒 tinggal prgi aja ngapain ngemis kayak lacur aja menjijikkan
falea sezi
pergi Glblok
Dew666
💄💄💄💄
Anonim
Bagus inara jangan mau balik sama reno,orang egois kaya gitu belum jadi laki aja ribet g percayaan kek mana jadi suami nanti yg ada di jadikan keset terus
Anonim
Ambil aja reno sama kamu zoya,inara mah sama altaf aja.buat inara sama altaf thor biar bisa bareng baba
Anonim
Semangat inara tinggalkan reno,ayo gas altaf pepet terus inara
Anonim
Lanjut up thor banyakan dong seru ,semangat thor
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: siap kak, masih satu bab 1 lagi tapi review
total 1 replies
Dew666
🩵🩵🩵🩵
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!