NovelToon NovelToon
Pijar Hati

Pijar Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:243
Nilai: 5
Nama Author: Isshabell

Dimas Anggara laki-laki yang berusia sekitar 33 tahun, nama dan wajahnya akan selalu membuat hati seorang Ratih terhenyak betapa tidak karena sudah lebih dari sepuluh tahun ini orang yang selalu mengisi hari-hari nya itu tiba-tiba pergi begitu saja meninggalkan dirinya tanpa ada salam dan kata perpisahan untuknya.

Dan kini di tengah Ratih sudah mulai bangun dari kerapuhan hatinya tiba-tiba saja dia bertemu kembali dengan Dimas Anggara.

yuk baca kisahnya di sini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.27 meminta penjelasan Ibu

Ratih luruh di lantai gudang tempat barang-barang bekas itu. Dia kembali menangis hatinya terasa perih sekali. Karena dia sudah berprasangka buruk pada orang yang sangat dia cintai. Tangisan penyesalan dan sekaligus tangis haru karena Dimas tidak mempermasalahkan lagi soal suratnya yang tidak sampai ke tangan Ratih dan malah di simpan oleh Ibunya sendiri selama bertahun-tahun.

"Ibu....kenapa selama ini malah ibu yang menyembunyikan surat itu dan kenapa Ibu merahasiakan semuanya. Ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi?" Air mata Ratih tumpah lagi mengingat semua peristiwa yang dia alami selama sepuluh tahun lalu itu.

Ratih kemudian berdiri dan berjalan menuju ke arah pintu gudang yang masih terbuka, dia keluar dari gudang itu dan berjalan menuju ke ruang tengah mencari Ibunya.

Setelah sampai di ruang tengah, Ratih melihat Ibunya tengah duduk terpekur sendiri. Dari wajah Bu Dewi terlihat ada gurat penyesalan yang mendalam setelah dia mengetahui Ratih menemukan surat dari Dimas sepuluh tahun yang lalu itu.

Ratih berjalan mendekat ke arah Ibunya, Dengan mata yang sembap namun tatapannya tajam, Ratih meletakkan surat usang milik Dimas di atas meja di hadapan ibunya.

"Kenapa, Bu? Kenapa Ibu setega ini sama Ratih dan Dimas? Sepuluh tahun Ratih hidup dalam benci dan mengira Dimas egois, ternyata Ibu yang menahan surat ini."

Bu Dewi kembali menangis, memegang tangan Ratih yang terasa dingin.

"Maafkan ibu Rat," ucap Bu Dewi sambil menangis.

"Kenapa Bu?" Ratih meminta penjelasan rinci tentang alasan surat itu di tahan dan di sembunyikan oleh Ibunya.

Bu dewi pun mulai menceritakan detail kekejaman Regan sepuluh tahun lalu yang belum sempat terucap semuanya.

"Saat perusahaan Ayah bangkrut, Regan datang bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai rentenir yang licik. Regan mengancam jika kamu tidak memutuskan Dimas dan menjadi tunangannya, Regan akan menjebloskan Ayah ke penjara dan menyita rumah satu-satunya tempat tinggal kita." Bu Dewi menjeda perkataannya, Dia menarik napas sejenak berusaha mengumpulkan kekuatannya untuk melanjutkan ceritanya.

"Lalu Bu?" buru Ratih tidak sabar menunggu kelanjutan cerita Ibunya.

"Ibu takut, Rat... Ayahmu waktu itu sakit jantungnya parah. Kalau sampai Ayahmu tahu kita diusir dan dia dipenjara, Ayahmu bisa meninggal malam itu juga. Ibu terpaksa memilih menyelamatkan nyawa Ayahmu, meskipun Ibu tahu Ibu harus mengorbankan perasaanmu."

Ratih merosot berlutut di depan ibunya. Hatinya hancur mendengar kenyataan bahwa keluarganya telah "dijual" secara halus kepada Regan.

"Tapi cara Ibu salah... Ibu membiarkan Ratih hidup di neraka bersama Regan. Pria itu psikopat, Bu! Dia mengontrol seluruh hidup Ratih, bahkan hari ini dia memaksaku keluar dari kerjaan karena dia takut kedoknya dibongkar Dimas!"

Mendengar anaknya menderita sejauh itu di bawah bayang-bayang Regan, sang ibu shock dan sangat menyesal. Ibu menyadari bahwa uang bantuan Regan selama ini adalah racun yang mengurung anaknya.

Bu Dewi menangis pilu dan merasa sangat bersalah sekali setelah mendengar cerita Ratih yang sangat menyakitkan itu. Dia tidak menyangka kalau ternyata selama ini Regan telah memperlakukan putrinya dengan kejam.

Melihat tangisan penyesalan ibunya, kemarahan Ratih perlahan melunak menjadi rasa iba, namun tekadnya justru mengeras. Ratih menggenggam tangan ibunya dan meminta satu hal yaitu dukungan untuk dirinya dan Dimas untuk mengungkap kebusukan Regan selama ini.

"Kalau Ibu memang menyesal, tolong bantu Ratih kali ini. Ratih dan Dimas sedang mengumpulkan bukti kelicikan Regan untuk menyeretnya ke hukum. Ibu harus kuat, kita tidak boleh takut lagi pada ancaman saham atau uangnya."

Dengan sisa keberaniannya, akhirnya Bu Dewi mengangguk mantap," Ibu merestui hubungan kamu dan Dimas, serta berjanji akan memberikan informasi apa saja yang Ibu ketahui tentang dokumen-dokumen lama keuangan Ayah yang pernah Ibu ingat."

Air mata Ratih tumpah tak terbendung lagi, Dia sangat sakit hati setelah mendengar penjelasan rinci dari Ibunya. Tapi dia juga tidak bisa menyalahkan Ibunya karena dia tahu betapa berat masalah yang sedang di hadapi Ibunya waktu itu. Di satu sisi Ibu takut kalau Ayah meninggal tapi di sisi lain Ibu juga tidak mau kalau anaknya yang jadi korban.

Ratih kemudian memeluk Ibunya penuh haru dan akhirnya Ibu dan anak itupun saling berpelukan menyelesaikan luka di masa lalu. Dan setelah melihat Ibunya tenang Ratih pamitan pada Ibunya untuk kembali ke kamarnya.

"Bu. Kalau Ibu capek, Ibu istirahat saja. Aku juga mau istirahat," ucap Ratih lembut pada Ibunya.

"Iya Rat. Ibu masuk dulu, Kamu juga istirahat ya," pesan Bu Dewi sebelum beranjak dari tempat duduknya.

"Iya Bu," Ratih tersenyum. Dari tempat duduknya Ratih terus mengawasi Ibunya sampai masuk ke dalam kamar.

Dan setelah itu Ratih pun bangkit dari duduknya, Dia melangkah menuju ke arah kamarnya juga.

Ratih membuka ponselnya. Dia mengirim pesan ke Dimas,"Dim, Ibu sudah menceritakan semuanya dan Ibu mendukung kita. Langkah apa yang harus kita lakukan sekarang untuk menjebak Regan?"

...----------------...

Dimas yang sedang duduk di ruang kantornya dan memeriksa beberapa berkas proyek itu tiba-tiba saja di kejutkan oleh pesan yang masuk ke nomor rahasianya.

Dimas melihat ke layar ponselnya dan di sana tertulis nama Ratih yang sudah mengirim WhatsApp padanya.

Dengan sigap Dimas meraih ponselnya itu dan mulai membaca WhatsApp dari Ratih. Hati Dimas sedikit lega karena Ibunya Ratih sudah bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi.

"Iya Rat. Untunglah Ibu mau mendukung kita.Kamu sabar dulu ya, Aku akan tanyakan Kenzo untuk langkah-langkah selanjutnya. Sebab yang kita butuhkan saat ini adalah bukti-bukti yang kuat yang dapat menjerat Regan masuk ke penjara."

"Iya Dim. Aku tunggu info dari kamu ya. Kamu hati-hati ," ucap Ratih sebelum menutup pembicaraannya dengan Dimas.

Ratih menutup ponselnya dan meletakkan di nakas yang berada di samping tempat tidurnya. Tak lama kemudian Ratih pun merebahkan tubuhnya di atas kasur itu.

"Ya Tuhan...terimakasih banyak atas segala jalan kemudahan yang engkau berikan kepada kami," Ratih berdoa pada sang pencipta sebelum akhirnya dia benar-benar mengantuk dan tertidur di kasur itu.

...----------------...

Sementara itu di tempat lain, setelah memastikan Ratih memutuskan sambungan telepon, Dimas tidak lantas mengistirahatkan tubuhnya. Dia meletakkan kembali berkas proyek ke atas meja, lalu beralih menatap tajam ke arah luar jendela ruang kerjanya yang menampilkan gemerlap lampu kota malam hari.

Beban berat yang selama sepuluh tahun ini menghimpit dadanya mendadak menguap begitu saja. Mengetahui bahwa Ratih tidak pernah membencinya, dan kini ibu Ratih berada di pihak mereka, memantik api semangat baru di dalam diri Dimas. Dia tidak boleh membuang-buang waktu lagi.

Dimas kembali mengambil ponsel rahasianya, lalu mengetik sebuah pesan cepat ke nomor Kenzo.

"Ken, malam ini juga kita harus matangkan rencana. Ibu Ratih sudah memberikan restu dan siap membantu memberikan dokumen lama milik ayahnya. Cari celah hukum paling aman agar Regan tidak bisa berkutik lagi."

Tidak butuh waktu lama, ponsel Dimas bergetar membalas pesannya. "Bagus. Besok pagi kita bertemu di tempat biasa. Kali ini, kita akan buat harimau itu masuk ke dalam jebakannya sendiri."

Dimas tersenyum dingin menatap layar ponselnya. Matanya memancarkan tekad yang tak tergoyahkan. Waktu kebebasan Ratih sudah dekat, dan Dimas akan memastikan Regan membayar setiap air mata yang telah jatuh selama sepuluh tahun ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!