"Menikahlah dengannya, atau kamu pergi dari rumah ini tanpa membawa apa pun!"
Tepat dua hari sebelum pernikahan adiknya, Aira dipaksa menikah dengan pria kusam dari ujung desa demi membuang sial. Dewa, pria yang hanya bermodalkan motor tua dan pakaian lusuh, menjadi suaminya dalam semalam.
Aira sudah bersiap hidup melarat. Namun, saat ia mulai tulus mencintai sang suami di tengah kemiskinan, sebuah iring-iringan mobil mewah datang menjemput.
Siapa sangka, pria yang dihina keluarganya sebagai fakir itu ternyata pemegang tahta tertinggi di kota ini. Saat topeng terbuka, mampukah Aira bertahan di dunia suaminya yang penuh intrik, atau justru ia yang akan berbalik meninggalkan kemewahan itu?
Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Sultan Desa.
By - Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Beberapa hari kemudian, Aira memutuskan untuk menjenguk Papa Surya di rumah sakit. Dewa bersikeras mengantarnya, meskipun Aira bilang ia bisa pergi sendiri dengan Pak Bambang.
Di depan pintu ruang perawatan, Aira sempat ragu. Kenangan akan teriakan Papa Surya yang mengusirnya dari rumah masih membekas. Namun, Dewa menggenggam tangannya erat. "Aku tunggu di sini. Masuklah. Dia tetap ayahmu."
Aira masuk perlahan. Di dalam, Papa Surya tampak sangat lemah. Wajahnya yang dulu angkuh kini tampak tirus dan kuyu. Siska sedang duduk di samping tempat tidur, tampak sedang membacakan sesuatu. Begitu melihat Aira, Siska berdiri dengan canggung.
"Ai... kamu datang?" ucap Siska lirih.
Papa Surya membuka matanya perlahan. Saat melihat Aira, bibirnya bergetar. "Aira..."
Aira mendekat, ia duduk di kursi samping tempat tidur. Ada keheningan yang panjang di antara mereka.
"Pa... Aira ke sini cuma mau lihat kondisi Papa," ucap Aira lembut.
Papa Surya meraih tangan Aira dengan tangan yang bergetar. Air mata mengalir dari sudut matanya yang keriput. "Maafkan Papa, Nak. Papa sudah buta karena harta sampai Papa menyia-nyiakan anak Papa sendiri yang paling tulus."
Hati Aira yang sekeras batu selama ini mendadak mencair. Bagaimanapun, pria di depannya ini adalah orang yang memberikan namanya. Aira terisak pelan. "Sudahlah, Pa. Yang penting Papa sekarang fokus sembuh dulu. Aira sudah maafkan Papa."
"Aira... Papa dengar dari Siska, kamu... kamu sedang hamil?" tanya Papa Surya dengan suara serak.
Aira mengangguk, ia menuntun tangan ayahnya untuk menyentuh perutnya yang masih rata. "Iya, Pa. Cucu Papa."
Papa Surya menangis sesenggukan. Ia merasa sangat tidak pantas mendapatkan kebaikan ini. Di saat ia mencoba menghancurkan pernikahan anaknya, anaknya justru datang membawa kabar bahagia dan membiayai hidupnya.
Siska yang melihat itu juga tak kuasa menahan tangis. Ia mendekati Aira dan memeluk adiknya itu. "Maafkan aku, Ai. Aku benar-benar kakak yang buruk."
Aira membalas pelukan Siska. "Kita mulai dari awal lagi ya, Sis."
~~
Sore harinya, setelah kembali dari rumah sakit, Dewa dan Aira duduk di balkon kamar mereka. Matahari terbenam memberikan warna keemasan pada langit Jakarta.
"Terima kasih sudah mau menemani aku tadi, Mas," ucap Aira sambil menyandarkan kepalanya di bahu Dewa.
"Itu sudah kewajibanku, Ai. Aku senang melihat beban di pundakmu berkurang karena sudah memaafkan mereka," sahut Dewa.
Dewa kemudian merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah brosur kecil. "Aku punya rencana. Setelah anak kita lahir, aku ingin kita mengambil cuti panjang. Aku ingin membawa kamu dan anak kita keliling dunia. Kita mulai dari tempat-tempat yang dulu cuma bisa kita lihat di kalender kontrakan."
Aira tersenyum lebar. "Boleh. Tapi syaratnya, Mas tidak boleh bawa laptop! Tidak boleh ada rapat Zoom!"
"Janji," Dewa mengangkat jari kelingkingnya. "Dan satu lagi... aku sudah menyiapkan kamar bayi di sebelah ruangan hobi kita. Aku ingin dindingnya digambar dengan motif bunga matahari, persis seperti tas bekal yang sering kamu bawa ke kantor."
Aira terharu mendengarnya. Dewa benar-benar mengingat setiap detail kecil yang bermakna bagi mereka. "Mas... aku masih tidak percaya kita ada di posisi ini. Dari kontrakan yang bocor kalau hujan, sampai ke rumah ini."
Dewa menarik Aira lebih dekat, mencium keningnya dengan penuh khidmat. "Rumahnya bisa berubah, Ai. Dulu rumah kita sempit, sekarang luas. Tapi penghuninya tetap sama. Kamu adalah rumahku yang sebenarnya. Tanpa kamu, istana ini cuma bangunan kosong yang dingin."
Malam pun jatuh di Jakarta. Di bawah gemerlap lampu kota, dua jiwa itu saling berpelukan, menyambut babak baru dalam hidup mereka. Bukan tentang siapa yang terkaya atau siapa yang paling berkuasa, tapi tentang sebuah kesetiaan yang diuji oleh kemiskinan dan dikuatkan oleh kemewahan.
Aira menatap perutnya, berbisik pelan dalam hati, "Tumbuhlah dengan sehat, Nak. Kamu punya Papa yang hebat, dan kita akan punya cerita yang sangat panjang untuk diceritakan nanti."
Dewa menatap istrinya, lalu menatap langit malam, bersyukur pada Tuhan atas mahar seratus ribu rupiah yang telah membawanya pada kebahagiaan sejati yang tak terhingga harganya.
...----------------...
To Be Continue ....
yg di paksa menikah karena adik ny sisia mau menikah duluan. dan melangjahi kakak ny oamali.
tapi sekarang kok siska yg jd kakak.
aneh ny..
di buang klrga, sendiri, tak di skui klrga susmi
dan detik berikut q di bua deg"n oleh othor, apa kebahagiaan mereka akan hancur dengan kedatangan masa lalu Dewa