Ilyar Justina dijatuhi hukuman pengasingan setelah dituduh merencanakan pembunuhan terhadap ayahnya sendiri, Raja Tyraven. Ia dikirim ke Dakrossa—penjara paling kejam di Kekaisaran Eldrath, tempat para penjahat paling berbahaya dibuang. Semua orang yakin gadis lemah lembut yang bahkan tak bisa bertarung itu tak akan bertahan lama di sana.
Namun, tahun-tahun berlalu, dan Ilyar kembali. Bukan sebagai sosok yang sama, melainkan seseorang dengan aura dingin dan kegilaan yang mengendap di balik senyumnya. Di hadapan saudara-saudaranya yang dipenuhi kebencian, ia hanya tersenyum tipis. “Sepertinya kalian sangat senang dengan kepulanganku.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Lantai sebelas, Ruang Penjara Nomor Sembilan, Nama Penghuni: Vyr-Rubah Merah Ekor Sembilan.
Ilyar sudah hapal papan informasi yang tergantung di depan pintu ruang tahanan yang hampir sebulan ini tak kunjung putus dia datangi untuk mengantar makanan.
Ada sembilan hewan magis di lantai sebelas, di antaranya seekor naga, burung api, basilisk, chimera, rubah, dan sisanya tidak Ilyar ketahui karena mereka bersembunyi di balik sudut gelap ruang tahanan.
Hal paling mengejutkan ketika masuk penjara mereka adalah ukurannya sangat besar. Padahal lantai sebelas terlihat kecil dan Ilyar berpikir itu semua karena teknik dan sistem sihir. Semacam domain khusus yang diciptakan untuk menyegel makhluk-makhluk mengerikan ini.
Sudah sebulan, tapi mereka semua sangat dingin dan hanya tertarik pada makanan. Berbeda dengan Vyr yang lucu dan selalu menatapnya menggunakan mata amber besar menggemaskan ketika makan sehingga terkadang Ilyar lupa waktu dan memilih berdiam diri di sana lebih lama.
Di tengah ruang batu bercahaya remang biru yang menjadi lokasi Vyr disegel terdapat sepetak bundaran altar kuno dengan lingkaran-lingkaran konsentris. Pada bagian luar altar diselubungi energi transparan berbentuk kubah, jika diperhatikan lebih detil permukaannya dipenuhi mantra-mantra kuno, bergerak seperti gelombang. Kemudian, pada sudut tertentu ada celah, semacam lubang untuk menelusupkan makanan. Segel berlapis pertahanan tingkat tinggi, pantas saja Vyr itu tidak bisa keluar dari altar karena leher, kaki, dan tangannya bahkan dijerat borgol sihir.
Ilyar harus membawa makanan ke sana, menaiki tiga anak tangga dan sekarang dia duduk di anak tangga pertama dari atas sambil mengeluh di sekitar altar, di mana Vyr duduk sambil menyantap makanan.
"Di sini sangat membosankan, Vyr. Aku tidak punya teman bicara dan kamu satu-satunya yang paling ramah," kata Ilyar agak jenuh.
Kiyaaahhh!
Mulut mungil bertaring kecil Vyr terbuka seiring suara imut panjang terdengar. Ilyar meliriknya gemas lalu menopang wajah, menatap Vyr lebih lekat.
"Kamu menunjukkan ketertarikan padaku, tapi sebenarnya yang paling kamu inginkan saat ini adalah terbebas dari Dakrossa. Maka dari itu, kamu mencoba menggodaku," kata Ilyar, senyum gemas yang ditunjukkan pada Vyr berubah jadi senyum agak dingin.
Vyr tersentak kemudian beringsut kaku sambil menutupi separuh wajah dengan ekor panjang lebat yang bergerak agak gemulai.
Ilyar mendesah kasar dan bangkit berdiri.
"Belum saatnya. Aku harus menaklukkan bukan menjinakkannya."
Setelah berkata demikian, Ilyar akhirnya meninggalkan ruang tahanan Vyr. Keduanya sama-sama memiliki ketertarikan, tapi terdapat perbedaan. Vyr tertarik pada Ilyar, tapi lebih mendambakan kebebasan terlebih dahulu jadi bersikeras menggoda gadis itu agar melewati batas segel, menyanderanya. Sedangkan Ilyar, membutuhkan Vyr sebelum bebas dari Dakrossa. Hanya masalah waktu, usaha, dan peluang untuk menentukan pemenangnya.
Waktu terus bergulir dari pekan menjadi berbulan-bulan kemudian berubah jadi tahun. Dari tugas yang hanya memberi makan, Ilyar tidak menduga bahwa dia harus menghadapi momen-momen di mana makhluk magis di ruang tahanan mengamuk dan mulai membangkang ketika merasa jenuh.
Dia harus bertahan hidup ketika terjebak di ruang tahanan saat mereka mengamuk. Melakukan perlawanan dan sebagainya, jauh lebih memuakkan dan sulit ketimbang bertarung dengan tahanan lantai sepuluh. Bahkan tidak cukup layak dibandingkan.
"Katanya dia akan membebaskanku dalam waktu dekat. Sudah lima tahun berlalu sejak itu dan tidak ada tanda-tanda aku akan keluar dari sini."
Senyum Ilyar merekah jengkel.
Dia menggerutu di sepanjang lorong dengan penampilan agak berantakan. Rambut merah panjang yang dikepang sedikit awut-awutan, sementara kaus linen pada bagian lengannya koyak.
Dia baru saja memberi pelajaran pada anjing berkepala tiga yang lebih tertarik padanya ketimbang makanan yang disodorkan saat sedang kelaparan. Alhasil, dia memberinya pelajaran lewat pukulan penuh cinta.
"Hm... haruskah aku kabur?" Ilyar menyentuh dagu, dahinya mengerut keras.
Tapi tidak lama bayangan besar memayunginya dan dia menyadari siapa sosok yang kini berdiri di balik punggungnya. Sambil menoleh diiringi cengiran kikuk, Ilyar mengarahkan telunjuk sendiri di depan wajah. "Apa aku mengatakan sesuatu?"
Solomon mendengkus lalu menjewer telinga Ilyar, menariknya untuk duduk di kursi jaga yang terletak tidak jauh dari pintu masuk lantai sebelas.
"Lepaskan, Paman!" Ilyar menyingkirkan tangan Solomon lalu menggosok-gosok telinga yang terasa panas.
"Siapa suruh kamu punya pikiran seperti itu."
Ilyar mendengkus. " Umurku sudah 26 tahun, jangan perlakukan aku seperti bocah."
"Siapa pun yang melihatmu pasti berpikir kamu masih seorang bocah."
Ilyar mendengkus dan melipat tangan depan dada. Tidak banyak perubahan darinya kecuali wajah dan tubuh yang terlihat agak lebih dewasa. Yah, itu yang tampak dari luar saja, penampilannya. Akan tetapi, berbeda jika kamu melihatnya dari sisi lain, yakni kemampuan dan kekuatannya. Anak itu... Solomon sampai menahan senyum ngeri merasakan energi yang menguar dari Ilyar.
Anak itu bahkan mampu bersanding dengan ener para makhluk magis di lantai sebelas seolah dia salah satu dari mereka. Berkeliaran bebas di sini.
"Ayahmu sudah sadar," kata Solomon.
Saat itu pula Ilyar menahan napas, matanya terbelalak, tapi hanya seperkian detik raut tersebut dipertahankan. Sekarang raut wajahnya jadi lebih tenang dan tampak tidak terlalu peduli. "Sejak kapan?"
"Enam bulan lalu."
"Dan Paman baru memberitahuku?" Nada suaranya jadi lebih rendah seiring raut wajah berubah agak marah.
"Banyak hal yang terjadi setelah ayahmu bangun."
Sudut bibir Ilyar berkedut seiring delikan tajam menghunus sepasang mata Solomon. "Aku tahu kalian membantuku untuk menjadi kuat, membuatku fokus sampai tidak perlu mencemaskan hal-hal di luar sana, tapi itu justru membuatku seperti orang bodoh. Kemudian biar kutebak, sebenarnya aku sudah bisa bebas sejak lama, kan?"
Lidah Solomon terasa kelu. Yah, itu benar.
Seharusnya Ilyar sudah bisa bebas tiga tahun lalu karena bukti sudah ditemukan. Meski hasilnya tidak memuaskan karena mereka tidak bisa menangkap pelaku sesungguhnya. Lagi-lagi dalang utama berhasil menjadikan boneka-bonekanya sebagai kambing hitam, tapi setidaknya dari bukti menunjukkan tidak ada keterlibatan Ilyar pada kasus pembunuhan berencana terhadap Agor menggunakan racun.
Ilyar mengeraskan rahang, memalingkan wajah agak kecewa. Yah, mungkin karena dia dianggap belum siap, tapi tetap saja itu membuatnya terluka.
"Kamu sudah bekerja keras selama di Dakrossa. Aku akan mengabulkan satu keinginanmu sebelum hari kebebasan itu."
Ilyar menahan seringai dan menatap Solomon dengan mata melotot dipenuhi semangat, membuat kepala sipir tersebut tersentak. Mudah sekali membujuk Ilyar, tapi sekarang perasaannya tidak enak.
basi. "Berikan Vyr untukku," kata Ilyar tanpa basa-
"Ya?" Solomon nyaris tersedak ludah sendiri.
"Itu berbahaya!" Jaise berseru.
Dia baru saja tiba bersama Haimer dan terkejut mendengar permintaan Ilyar.
Ilyar mengusap wajah kasar lalu berkacak pinggang. "Ayolah, selama lima tahun terakhir ini kalian tidak bekerja keras karena aku mengurus lantai sebelas dengan baik. Tidak bisakah kalian membiarkanku kali ini?"
Haimer memejamkan mata, menggelengkan kepala seiring telunjuk terangkat depan wajah dan digerakkan kanan kiri. "Tetap tidak boleh, lagi pula itulah bakti seorang murid."
Ilyar tersenyum manis. Jika sudah ditolak sekali, dia tidak akan melontarkan permohonan untuk kedua kalinya, tetapi bukan berarti dia akan berhenti sampai di sana.
"Ya, sudah. Kalau begitu kapan waktunya?" tanya Ilyar.
Solomon memiringkan kepala seraya berkacak pinggang. Bola matanya agak bergulir ke atas seiring senyum sarkas terulas, mengolok reaksi seperti apa yang akan ditunjukkan para musuh hari ini setelah melihat penguasa Tyraven tiba-tiba sadar dan menyambut semua rakyatnya.
"Mungkin lusa," jawab Solomon.
Dan di waktu bersamaan, kehebohan telah menggemparkan Tyraven. Agor Thorn Valgard berdiri di balkon utama Istana dan menyapa rakyat yang sudah menyesaki alun-alun kerajaan. Kabarnya belum sampai ibukota kekaisaran, tapi mata-mata dari pihak tertentu telah melesat untuk melapor.
"Rakyatku..."
Suara Agor yang terdengar masih lemah lewat alat sihir segera meredam kebisikan para rakyat.
"Setelah terbaring cukup lama, akhirnya aku bisa kembali berdiri untuk melihat kalian semua. Aku yakin ini semua berkat doa kalian serta keberkahan dari tanah kita, Tyraven!"
Kebisingan segera pecah menjadi sorak-sorai yang membuat langit bergemuruh. Mereka menyerukan kata-kata 'Hidup sang Raja!' secara berulang kali.
Agor tersenyum sejenak sembari menyentuh pinggiran pagar balkon dengan kedua tangan dan ajudan serta penasihat kerajaan yang senantias berada di dekatnya berdiri tegap ketika Agor kembali membuka suara dengan raut wajah tertanam sedikit kemarahan.
"Namun!"
Seruannya membuat kehebohan tadi perlahan memudar. Mereka menatap sang raja dengan serius.
"Aku tidak menduga orang-orang yang berani melakukan ini padaku telah menempatkan darah dagingku sebagai kambing hitam! Menuduhnya sebagai pengkhianat! Putriku... Ilyar Justina Valgard tidak bersalah!"
Kini, bisik-bisik mulai terlepas perlahan. Ada keraguan diraut wajah mereka dan Agor menyadari hal itu sehingga kembali berkata, "Sidang Pembuktian akan digelar dan setelah itu kalian akan melihat bagaimana para pelaku menerima ganjaran atas pengkhianatannya!"