NovelToon NovelToon
TUMBAL PESUGIHAN LANANG SEWU

TUMBAL PESUGIHAN LANANG SEWU

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Iblis / Tumbal / Misteri
Popularitas:855
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Dihimpit hutang dan keputusasaan, Agus, seorang pria penuh ambisi yang gagal, meyakinkan istrinya, Endang, untuk melakukan pesugihan Lanang Sewu, meskipun ritualnya menuntut pengorbanan keintiman yang sakral. Untuk mempertahankan kehormatan istrinya, Agus merencanakan penipuan tingkat tinggi: menyewa Sari, seorang wanita yang memiliki kemiripan fisik dengan Endang, dan menyamarkannya secara spiritual menggunakan sihir. Penipuan ini berhasil. Mereka hidup dalam kemewahan sementara waktu, menikmati hadiah dari Raden Titi Kusumo, entitas pesugihan yang karismatik tapi terluka secara emosional. Namun, kecerdasan spiritual Titi Kusumo perlahan mencium kepalsuan itu. Ketika penyamaran terbongkar, semua kekayaan lenyap, dan Titi Kusumo memulai pembalasan keji, menargetkan tidak hanya nyawa Agus dan Endang, tetapi juga orang-orang tak bersalah di sekitar mereka, memaksa pasangan itu menghadapi kebenaran pahit bahwa penebusan sejati tidak dapat dibeli.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penolakan dan Kepasrahan

Agus menyentuh setir, rasa lega dan kegembiraan membanjiri dirinya. Ia telah menemukan celah, dan celah itu, betapapun keji, terasa seperti udara segar bagi paru-parunya yang sesak karena keputusasaan finansial.

“Kau tidak mengerti betapa jeniusnya rencana ini, Endang,” kata Agus, suaranya bergetar karena adrenalin. “Ki Joladrang bilang dia butuh ‘ikatan spiritual yang tulus’ yang hanya bisa didapatkan dari istri sah. Tapi dia tidak pernah bilang dia tidak bisa diakali dengan sihir penyamaran. Kita akan memberikan Raden Titi Kusumo ilusi kesetiaan, Endang. Ilusi yang sempurna!”

Endang tidak merespons. Ia hanya duduk kaku, menatap lurus ke depan melalui kaca depan yang berdebu. Pemandangan pohon-pohon raksasa di lereng gunung kini mulai berganti dengan semak belukar yang lebih rendah, tetapi kengerian di hatinya tidak berkurang.

“Kau menyebut pengorbanan jiwa orang lain sebagai ‘jenius’?” tanya Endang, suaranya hampir tidak terdengar, dipenuhi rasa jijik yang dingin. “Kau sadar apa yang kau lakukan, Gus? Kita akan memaksa seorang wanita yang putus asa menjadi wadah untuk menampung kutukan iblis! Kau akan menyerahkan jiwanya kepada Titi Kusumo!”

Agus mendengus, menyalakan radio dengan keras, seolah ingin meredam suara nurani istrinya. Musik dangdut yang ceria terasa sangat sumbang di tengah kegelapan moral yang menyelimuti mereka.

“Jangan mendramatisir, Endang. Dia akan dibayar mahal. Kita akan menjamin masa depan keluarganya. Dia akan melakukan ini dengan sukarela,” balas Agus, mencoba menyederhanakan kekejaman itu menjadi transaksi bisnis yang biasa. “Dia akan memilih uang daripada kehormatan spiritualnya. Sama seperti kita memilih uang daripada kehormatan kita.”

“Tidak sama!” seru Endang, mematikan radio dengan sentakan kasar. “Aku adalah istrimu! Aku terikat oleh sumpah suci! Wanita itu tidak! Kita akan memaksakan ikatan itu padanya, ikatan yang akan menarik perhatian Titi Kusumo. Dan saat Titi Kusumo tahu dia ditipu—dan dia pasti akan tahu—dia tidak akan hanya mengambil uang kita. Dia akan mengambil seribu jiwa, Gus! Seribu jiwa! Kau dengar ancamannya!”

Agus memukul setir dengan tinjunya, geram karena Endang menolak melihat sisi positif dari kejahatan mereka.

“Lalu apa yang kau mau, Endang? Kita kembali dan bilang pada Ki Joladrang, ‘Maaf, kami berubah pikiran, kami lebih suka hidup miskin dan melihat semua yang kami bangun hancur’? Kau pikir kita bisa mundur setelah darah kita menetes ke mangkuk kuningan itu?” tantang Agus, matanya menyala. “Kita sudah mengikat janji dengan entitas yang membenci pengkhianatan spiritual. Mundur adalah kematian yang lebih pasti daripada maju dengan rencana ini.”

Keheningan kembali melanda. Endang tahu Agus benar tentang satu hal: mundur bukanlah pilihan. Mereka sudah menandatangani kontrak dengan neraka. Pilihan mereka kini terbatas pada seberapa banyak kehancuran yang mereka ingin tanggung.

Ia memejamkan mata, membiarkan air mata mengering di pipinya. Ia mengingat wajah Agus ketika ia dipecat, tatapan mata yang kosong dan malu ketika kartu kredit mereka ditolak di depan umum. Ia mengingat betapa sakitnya hidup dalam kemiskinan yang memalukan.

“Aku tidak bisa hidup melihat kau hancur lagi, Gus,” bisik Endang, suaranya patah. Itu adalah pengakuan yang menyakitkan. Ia tidak takut mati, tetapi ia takut kehilangan suaminya, betapapun rusaknya suaminya kini. “Tapi jika kita melakukan ini, kita bukan hanya menghancurkan diri kita sendiri. Kita menghancurkan orang lain. Orang yang tidak bersalah.”

Agus merangkul bahu Endang, gerakan itu terasa dingin dan manipulatif. “Tidak ada yang tidak bersalah di dunia ini, Endang. Hanya ada pilihan. Kita akan memberinya pilihan. Jika dia setuju, itu adalah pilihannya untuk membantu kita, untuk membantu keluarganya. Kita adalah penyelamatnya, Sayang. Kita memberinya uang untuk melepaskan diri dari kemiskinannya. Kita hanya meminjam ‘jasanya’.”

Endang menarik diri dari rangkulan Agus, tetapi ia tidak melawan kata-katanya. Ia mulai merasa lelah, lelah karena terus-menerus berjuang melawan ambisi gelap suaminya. Keputusannya untuk menolak secara moral telah runtuh, digantikan oleh kepasrahan yang berbahaya.

“Dukun itu,” tanya Endang, suaranya nyaris tanpa emosi. “Kuskandar... dukun seperti apa yang ia kenal? Apakah dia bisa benar-benar mengelabui Lanang Sewu?”

Senyum Agus melebar. Endang telah berhenti melawan.

“Dia bilang dia kenal yang terbaik. Dukun spesialis ‘Pelet Punggung’ dan ‘Penyamaran Sukma’,” jawab Agus, matanya kembali dipenuhi kilau ambisi. “Kita akan kembali ke kota, Endang. Kita akan mengurus Kuskandar, mencari dukun itu, dan yang paling penting... kita harus mencari wanita itu. Dia harus mirip denganmu, Endang. Identik, jika mungkin. Dia harus bisa menjadi bayanganmu yang sempurna.”

Agus menghidupkan mobil, menginjak gas, dan mereka melaju kencang, meninggalkan bau kemenyan dan aura mencekik Gunung Gumrebek. Mereka kembali ke kota, tempat di mana keputusasaan berlimpah dan tumbal mudah ditemukan.

“Kita harus mulai mencari di tempat-tempat gelap,” gumam Agus, fokus pada jalan. “Tempat di mana uang adalah dewa dan prinsip moral adalah lelucon. Tempat di mana wanita menjual lebih dari sekadar tubuh mereka.”

Endang menutup matanya lagi. Ia membayangkan wajah wanita yang akan mereka korbankan. Seorang wanita yang mungkin sama putus asanya dengannya, tetapi yang tidak memiliki suami yang tega mendorongnya ke jurang. Rasa bersalah mulai menggerogotinya, tetapi ia menekannya, menguncinya jauh di dalam hatinya.

Ia telah setuju. Dengan diamnya, ia telah memberikan restu pada jalan iblis suaminya.

“Kuskandar akan memberikan alamat Mbah Jari, dukun penyamaran itu,” kata Agus, nadanya kini berbisik penuh konspirasi. “Kita akan menemui dukun itu besok malam. Dia akan menjelaskan bagaimana kita bisa mentransfer auramu.”

Endang hanya mengangguk kecil, kepalanya terasa berat. Ia telah menjual jiwanya, bukan kepada Titi Kusumo, tetapi kepada ambisi Agus.

Sisa perjalanan itu terasa seperti perjalanan ke tempat eksekusi. Ketika mereka akhirnya mencapai pinggiran kota, lampu-lampu jalan tampak terlalu terang, terlalu biasa. Bagaimana mungkin dunia terlihat normal ketika mereka baru saja merencanakan kejahatan spiritual yang mengerikan?

Mereka tiba di rumah kontrakan mereka yang kumuh. Begitu Agus mematikan mesin, Endang segera keluar, membutuhkan udara.

“Aku akan menelepon Kuskandar sekarang,” ujar Agus, meraih ponselnya. “Aku ingin semua detail dukun itu sebelum tengah malam.”

Endang tidak menunggu. Ia berjalan menuju pintu rumah, kakinya terasa seperti timah. Ia membuka pintu, dan pemandangan pertama yang menyambutnya adalah tumpukan surat peringatan bank berwarna merah di meja dapur. Surat-surat itu seolah-olah berteriak, mengingatkannya mengapa ia harus menerima kengerian ini.

Agus masuk ke rumah, matanya tertuju pada surat-surat itu. Ia tersenyum sinis.

“Tiga hari lagi, Endang,” katanya, memungut surat paling atas dan meremasnya hingga menjadi bola kertas. “Tiga hari lagi dan kita tidak perlu melihat sampah ini lagi. Kita akan pindah ke vila. Kita akan memiliki segalanya.”

Ia mengambil napas dalam-dalam, lalu menatap Endang, matanya tajam dan penuh perhitungan.

“Aku harus pergi sekarang. Kuskandar bilang ada daerah lokalisasi yang jauh dari mata polisi, tempat kita bisa menemukan kandidat yang mirip denganmu,” kata Agus, mengenakan kembali jaketnya. “Aku harus bergerak cepat sebelum dukun itu mulai bekerja. Aku harus menemukan... tumbal itu.”

Endang menatap suaminya, rasa takut dan jijik bercampur aduk. “Malam ini, Gus? Kau akan pergi malam ini?”

“Ya. Lebih cepat, lebih baik. Lanang Sewu tidak suka menunggu,” jawab Agus, nadanya tergesa-gesa. “Kau tunggu di rumah. Aku akan kembali sebelum subuh dengan kabar baik.”

Agus berbalik dan berjalan menuju pintu. Endang mencoba memanggilnya, mencoba memohonnya untuk menunggu, tetapi kata-kata itu tertahan di tenggorokannya. Ia tahu jika ia menahannya, pertengkaran akan pecah lagi, dan ia tidak punya kekuatan untuk bertengkar.

Ia hanya bisa melihat punggung Agus yang menghilang dalam kegelapan malam.

Endang melangkah ke kamar mandi. Ia menyalakan keran dan mencuci wajahnya berulang kali, mencoba menghilangkan bau kemenyan yang masih melekat di kulitnya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya pucat, matanya bengkak.

Ia menyentuh ujung jari telunjuknya, tempat Ki Joladrang menyayatnya. Luka kecil itu sudah tertutup, tetapi ia bisa merasakan dinginnya ikatan spiritual yang kini menyegel nasibnya.

Tiba-tiba, ponsel Agus bergetar keras di meja makan. Agus pasti lupa membawanya. Endang ragu sejenak, tetapi dorongan rasa ingin tahu dan ketakutan menguasai dirinya. Ia meraih ponsel itu.

Ada pesan masuk dari Kuskandar.

Endang membuka pesan itu, dan jantungnya serasa berhenti. Pesan itu hanya berisi alamat dan nama.

Kuskandar: Alamat Mbah Jari ada di sana. Besok malam. Jangan tunda. Dan ini kontak PSK yang mungkin cocok. Namanya Sari.

Di bawah nama itu, Kuskandar mengirimkan satu foto buram. Foto seorang wanita muda, berdiri di bawah lampu neon jalanan, rambutnya diikat longgar, matanya tampak lelah dan sayu.

Endang menatap foto itu, dan ia terkejut. Wanita itu... wanita itu terlihat sangat, sangat mirip dengannya. Perbedaan yang ada hanya sebatas kelelahan yang terpancar.

Endang memegang ponsel itu kuat-kuat, gemetar. Ia menatap Sari, tumbal yang akan mereka korbankan.

Tiba-tiba, layar ponsel berkedip. Ada notifikasi baru: pesan dari Agus yang dikirim beberapa saat sebelum ia melupakan ponselnya.

Agus: Aku sudah di gerbang lokalisasi. Aku melihatnya. Dia sempurna. Aku akan mengambilnya.”

1
Mega Arum
msh lanjut, wlpn agak aneh sih crtanya...
Mega Arum
pesugihan yg krg bs di pahami beda dg novel2 tntg pesugihan lain
Mega Arum
kasihan Endang.. dilema
Mega Arum
pemakaian bahasa yg perlu berimaginasi thor... baguus
Mega Arum
semoga kedepanya menarik....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!